Terjebak Ciuman Pertama.

Terjebak Ciuman Pertama.
17. Sang Penolong.


__ADS_3

Richard yang seketika terhipnotis dengan kecantikan Intan, sampai lupa memutuskan sambungan telepon, walaupun orang yang ditelpon sudah ada di depan mata. Dia masih menempelkan ponsel pada telinga, sambil menatap Intan tanpa berkedip. Tapi Intan yang melihatnya malah kesal. Karena dia tidak menyadari kalau orang yang sedang ditelpon oleh Richard adalah dirinya.



"Mas,, lagi nelpon siapa?" tanya Intan tapi Richard sama sekali tidak menjawab. Pria dingin itu sudah seperti orang hilang akal.


"Mas... Siapa yang kamu telepon?? Mau ke acara nggak??" Intan langsung menaikan nada suara, yang membuat Richard tersadar dan seketika salah tingkah.


"Saya,, saya lagi menghubungi Kevin," jawab Richard sambil berusaha menghindari kontak mata dengan gadis cantik itu.


"Ayo kita pergi!" serunya dan langsung memasuki mobil yang sedang terparkir.


Seperti biasa, Richard si beruang kutub hanya fokus menyetir, tanpa ada sedikitpun niat meminta maaf pada Intan atas kejadian tadi. Sikapnya semakin membuat Intan kesal. Dan karena tidak ingin dipengaruhi apa yang ada di dalam pikirannya, Intan pun memilih untuk menikmati musik kesukaannya. Baru saja musik terdeng, Richard sudah menatap ke arahnya hendak bersuara. Tapi belum sempat dia membuka mulut, suara Intan sudah duluan menggelegar, menyanyikan lagu Umbrella, mengikuti penyanyi aslinya yakni Rehanna.


Richard akhirnya pasrah dengan apa yang terjadi. Sesekali dia menggelengkan kepala melihat Intan yang sudah seperti seorang penyanyi profesional, membawakan lagu Umbrella dengan suara yang benar-benar tidak enak didengar. Ternyata Intan sang selebriti ternama itu memiliki suara yang begitu buruk saat bernyanyi. Tapi kekurangan itu, tidak mengurangi sedikit pun rasa percaya dirinya. Dan Richard yang sudah tak sanggup berada terlalu lama dalam situasi itu, langsung menambahkan laju mobilnya tanpa bersuara.


"Matikan musiknya! Kepala saya sampai pusing mendengar nyanyian kamu," seru Richard, setelah mobil mereka hendak memasuki pekarangan sebuah gedung tempat acara dilangsungkan.


Intan yang hampir kehabisan nafas bernyanyi dengan nada yang tidak teratur, segera menuruti perintah Richard, dan menyandarkan tubuh pada sandaran kursi mobil tanpa bisa berkata-kata. Kekesalannya terhadap Richard, akhirnya bisa tersalurkan dengan bernyanyi sejak dalam perjalanan beberapa menit yang lalu. Dan dia sama sekali tidak perduli dengan penilaian Richard atas nyanyiannya, yang dia sendiri sadari begitu buruk untuk dijadikan hiburan.


Baru saja menuruni mobil, Intan dan Richard sudah di sambut begitu banyak wartawan, yang baru saja selesai mewawancarai Aldo sang aktor ternama yang dikenal begitu dekat dengan Intan.


"Mbak Intan,, minta waktunya sebentar," ucap salah satu wartawan, sembari mendekatkan alat perekam ke arah Intan.


"Apa calon suami Mbak Intan ini adalah pilihan yang tepat? Karena yang diketahui banyak masyarakat, kalau Mbak Intan juga dekat dengan Mas Aldo."


"Oh iya, aku dan dia memang dekat. Tapi hanya sebatas rekan kerja. Dan kalau mengenai calon suami aku ini, sudah pasti dialah pilihan yang tepat buat aku. Karena tidak ada wanita, yang salah memilih laki-laki setampan dan sehebat dia. Jadi tidak ada alasan untuk aku mengatakan nggak tepat." Jawaban Intan begitu jelas.

__ADS_1


"Kalau gitu kita mau tanya sama calon suaminya."


"Apa Pak Richard nggak takut ada saingan? Secara kan, Mbak Intan ini sangat cantik, dan diidolakan banyak orang. Bisa saja Mbak Intan nya terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya."


"Nggak. Saya tidak pernah takut dengan apapun." Jawaban Richard sudah seperti seorang mafia saat ditanya pihak kepolisian.


b"Oh,, iya Pak. Baik kalau gitu. Terimakasih atas waktunya." Para wartawan seketika merinding mendengar jawaban Richard, juga melihat ekspresinya.


Selama tiga jam acara berlangsung. Intan yang sedang duduk berdampingan dengan Richard, tiba-tiba didatangi Toni asisten Aldo. Pria itu memintanya untuk ikut bersamanya. Dan Intan pun langsung mengikutinya, tanpa memberitahukan Richard, yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa klien bisnisnya.


Toni membawa Intan ke sebuah ruangan ruangan yang memang sudah dipersiapkan untuk pertemuan Intan, Aldo, dan beberapa orang lainnya. Setelah menyapa semuanya, gadis cantik itu segera duduk tepat di antara Aldo dan seorang pria. Mereka membahas tentang kerja sama selama hampir satu jam.


Richard yang saat itu baru menyadari kepergian Intan, mulai menatap ke sana kemari dengan ekspresi yang tak dapat ditebak, antara marah, khawatir, ataupun bingung. Dan tidak berapa lama, dia dihampiri Alif, yang datang untuk menanyakan keberadaan Intan. Sementara Intan yang masih berada di ruangan lain, mulai kebingungan karena Aldo belum juga kembali dari toilet sejak beberapa menit yang lalu. Saat itu dia sedang duduk bersama beberapa orang dari pihak agency yang menawarkan kerja sama.


"Pak Bos,, Intan dimana ya?" tanya Alif.


"Coba kamu telepon!" seru Richard.


"Nggak aktif Bos." Jawaban Alif, yang membuat Richard mulai berpikir tentang pesan masuk di ponsel Intan.


"Oke,, mungkin dia nggak ingin diganggu," ujar Richard sembari berbalik menghadap para klien bisnisnya. Dan Alif pun langsung kembali ke tempatnya.


Intan yang sedang menunggu kedatangan Aldo mulai khawatir, saat melihat keadaan beberapa pria yang sedang bersamanya. Mereka yang sedang meminum beberapa botol minuman, mulai membicarakan hal-hal kotor.


"Mbak Intan, ada nggak rekam artis yang bisa di pakai untuk satu malam?" tanya salah seorang pria, yang kira-kira berusia 45 tahun.


"Saya, saya juga nggak tahu Pak," jawab Intan gugup.

__ADS_1


"Kalau Mbak Intan bisa nggak?" tanya yang lainnya.


"Nggak,, nggak bisa Pak. Saya, saya sudah punya calon suami." Intan semakin ketakutan, melihat tatapan beberapa orang pria di hadapannya.


Merasakan situasi mulai tidak kondusif, Intan segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas, dan menghubungi Richard. Tapi belum sempat telepon tersambung, seorang pria yang duduk dekat dengannya, sudah menariknya hendak menciumnya.


"Jangan Pak... Apa-apaan Bapak ini?? Aku bukan wanita yang seperti kalian bicarakan." Intan segera menarik tangannya, tapi pria itu malah memeluknya, yang membuat ponselnya terlempar ke bawah meja.


"Jangan... Lepaskan... Mas.. Mas Richard tolong aku..," teriak Intan sambil menangis, meneriaki nama Richard.


Pria itu makin mengencangkan pelukannya dan kembali berusaha mencium Intan. Sementara beberapa rekannya yang lain, hanya duduk pada tempat masing-masing sambil tertawa. Tapi tiba-tiba, pintu yang terkunci, ditendang dengan sangat kencang oleh seseorang. Dan orang tersebut tidak lain adalah Richard. Sejenak Richard terdiam, menatap apa yang terjadi.



"Pak Richard.. Anda,, anda juga ada disini?" tanya pria yang ingin melecehkan Intan. Buru-buru dia melepaskan Intan dan memundurkan posisi untuk menjauh.


Tanpa menjawab apapun, Richard langsung melangkah maju dan menghajar pria itu tanpa ampun. Berulang-ulang pukulannya mendarat di wajah, dan terakhir di bagian perut, yang membuat pria itu tersungkur di lantai dengan wajah berlumuran darah. Sementara beberapa pria lainnya, segera bersujud memohon ampun pada Richard. Dan saat itu juga, datang Aldo bersama Alif dan lainnya.


"Ampun Pak Richard,, kita tidak tahu kejadiannya akan seperti ini," ucap beberapa orang pria itu secara bersamaan. Namun Richard yang sudah dikuasai amarah, malah melabrak mereka sampai terlentang tak berdaya secara berderet di atas lantai.


"Intan,, ada apa ini??" tanya Aldo kaget.


"Mereka hampir memperkosa ku, saat kamu ke toilet. Mengapa kamu nggak bilang kalau pergi selama ini?? Jangan-jangan kamu yang sudah menjebak ku??" tanya Intan dengan bercucuran air mata, berdiri menghadap Aldo.


"Aku,, aku nggak tahu apa-apa Tan. Tolong jangan salah faham," ucap Aldo sembari meraih tangan Intan. Tapi dengan cepat Richard menghalanginya.


"Jangan ganggu dia, kalau kamu tidak mau bernasib sama seperti mereka." Pria dingin itu segera merangkul pundak Intan, dan melangkah pergi diikuti para asisten.

__ADS_1


__ADS_2