
"Kalian harus cari tau pria itu, dari mana asalnya, latar belakang keluarganya, dan apa hubungan dia dengan wanitaku" Titah Willy kepada anak buahnya. Mengingat kedekatan mereka begitu intim membuat hati tidak tenang. Setiap saat bayangan buruk terus menghantuinya. Ia takut antara mereka dulu pernah terjalin cinta yang mana bisa menghalangi cintanya.
Ya, Willy terjebak dalam cinta satu malam. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu ada percikan rasa, dan seiring waktu percikat itu menjadi gumpalan rasa cinta. Willy tidak bisa mengelak bahwa dia begitu mengagumi diri Tirani meski dia tau wanita yabg di kagumi hanyalah seorang kupu kupu malam, keindahan yang di tawarkan hanya kepalsuan. Namun, cinta telah menjatuhkan pilihan. Awalnya hanya sebuah kebetulan belaka, pada malam hari ketika ada sebuah pesta tiba tiba seluruh badan Willy terasa panas dan ingin rasnaya melucuti seluruh pakaian, tak lama ia sadar bahwa ada obat perangsang dalam minumannnya. Akhirnya dia pun memilih meninggalkan tempat pesta, lalu entah kenapa rasa panas terus menjalar hamour sekujur tubuhnya, dia pun berhrnti di tepian jalan saking tidak kuasa menahan gejolak dalam dirinya. Pada situasi paling genting dia melihat ada seorang gadis membawa sebuah tas besar lewat di samping mobilnya, tak mau tunggu lama dia pun menarik gadis tersebut dan terjadilan sesuatu yang tidak di inginkan. Setelah satu tahun lebih beberapa bulan kemudian, Willy kembali melihat sang gadis bersama seorang Pria sedang memasuki tempat hiburan malam. Willy merasa heran bukankan pertama kali dia melakukan si wanita itu masih gadis dan polos, tapi ternyata sekarang menjadi wanita malam. Sejak saat itulah Willy selalu menjadi pelanggang utama Tirani.
"Baik, Tuan. Kami akan melaksanakan perintah Tuan" Beberapa orang bertubuh tinggi besar langsung bergerak cepat mencari tahu siapa pria di mall tersebut, dengan menyelidiki Cctv Maal. Bagi Willy apa pun bisa ia lakukan, sebab dia punya uang. Dalam dunia ini uang adalah raja. Seburuk apa punseseorang kalau mempunyai banyak uang maka dia akan menjadi unggul dari yang lain.
Sekarang Willy tengah gelisah melihat wanitanya terbaring lemas dengan jarum infus di tangan kanannya. Di sisi lain, ia juga khawatir akan satu hal, pria itu memiliki kedekatan intim yang membuatnya cemas akan hubungan mereka terdahulu. "Semoga saja pria itu bukan ayah dari anak Tirani" Kecemasan Willy menyangkut ayah biologis kedua bayi kembar Tirani. "Kenapa juga saya harus memikirkan hal bodoh, mau dia ayah dari mereka atau bukan itu bukan urusan saya. Lagi pula saya juga tidak perduli dengan masa lalu Tirani" Seketika pandangan tertuju pada sosok wanita cantik tengah terbaring lemas di atas ranjang. Sengaja Willy tidak membawa Tirani ke rumah sakit karena dia mempunyai dokter kepercayaan.
"Aww....." Pekik Tirani sembari menyentuh bagian kepala. Setelah sekian lama Tirani akhirnya ia tersadar juga. Ia melihat sekeliling seperti semua berputar putar.
Menghampiri Tirani "Kamu sudah sadar?" samar terdengar suara Willy meski wajahnya belum nampak begitu jelas. Berulang kali Tirani berusaha memejamkan mata beberapa kali untuk menghilangkan pusing di kepalanya.
Menyentuh tangan Tirani seraya menciuminya "Maafkan saya bukan maksud saya ingin mencelakai kamu, hanya saja saya tidak bisa melihatmu bersama laki laki lain"
__ADS_1
Tirani merasa pusing hingga mual pun tak dapat tertahankan. Tanpa sengaja Tirani muntah dan mengenai bajunya. Tirani mengira dia akan marah dan memukulnya lagi, tapi ternyata justru dia tidak mempermasalahkan. "Kamu istirahat saja dulu jangan banyak gerak. Biar saya suruh bibi buatkan air hangat untukmu, saya juga mau ganti baju dulu" Bergegas pergi meninggalkan Tirani.
Tidak lama kemudian seorang wanita bertubuh gempal membawakan segelas air hangat "Permisi non bibi sudah bawakan minuman hangat untuk non" meletakkan segelas air hangat lalu membantu Tirani duduk.
"Terima kasih banyak bi, maaf ya saya banyak merepotkan bibi" Ucapnya sambil meringis kesakitan.
"Kalau begitu bibi permisi dulu non" Berbalik badan hendak pergi, namun Tirani menggapai tangan Bibi "Kalau boleh saya tau siapa nama pria itu, bi?" Tanya Tirani berharap mendapat jawaban atas pertanyaannya selama ini.
Belum sempat bibi menjawab Willy sudah lebih dulu masuk "Ehem.... Kalau sudah selesai bibi boleh pergi"
"Bagimana kondisi kamu sekarang? Sudah jauh lebih baik, kan?" Berusaha menyentuh wajah Tirani, namun tiba tiba Tirani menjauhkan dirinya. Rasa trauma menbuatnya tidak ingin begitu dekat denganya.
"Kenapa? Apa kamu masih takut dengan saya?" Jujur dalam lubuk hati terdalam, Willy begitu menyesal telah berbuat hal sejahat itu padanya. Entah kenapa ketika marah seseorang bisa lepas kendali, seperti yang Willy lakukan kepada Tirani.
__ADS_1
"Jangan ssntuh saya" meringkuk ketakutan sambil menutup kedua telinga saking trauma membuat Tirani terus mengingat kekejaman itu.
"Tapi saya berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi padamu, sekarang saya akan memperlakukan kamu sebaik mungkin"
Percuma saja Tirani tetap masih ketakutan melulihat sosok Willyam. Akhirnya Willy kembali keluar kamar dan langsung menghubungi dokter. Setelah mendengar penjelasan dari sang dokter ia baru paham bahwa sekarang mental Tirani tengah terguncang dan itu karena dirinya.
Di sisi lain Tirani hanya bisa terus menangis ketakutan. Seluruh badannya terasa lemas ketika mengingat hampir saja kehilangan nyawa.
"Kenapa dia memperlakukanku secara tidak manusiawi? Apa salahku kepadanya?" air mata terus menetes tanpa henti. Seumur hidup tidak pernah sekali pun terpikir olehnya akan menghadapi kehidupan terberat. Memukul pelan tepi ranjang sembari meremasnya "Haruskah wanita sepertiku tidak berhak hidup bahagia..."
Di sisi lain Fahmi berusaha keras mencari keberadaan Tirani. Entah kenapa dia merasa hal buruk telah terjadi padanya. Hampir seluruh kota telah ia telusuri tapi tidak mudah baginya menemukan Tirani "Di mana kamu Tirani? Siapa pria itu? Apa hubungannya denganmu? Kalau pun kekasihmu tapi kenapa dia begitu kasar sekali" Sepanjang jalan pikiran fahmi terus tertuju pada teman masa kecilnya itu.
Tinnnñ......
__ADS_1
Tiba tiba ada sebuah mobil menghadang jalan Fahmi sehingga ia harus mengerem mendadak. "Astaga, siapa mobip di depan kenapa dia memotong jalan begitu saja?" Melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Baru saja handak turun dia sudah di sambut oleh beberapa orang dan langsung mengahampirinya. Tanpa persiapan mereka langsung menyerang Fahmi begiti saja, dia tidak sempat melawan karena serangan secara tiba tiba. Yang dia bisa hanyalah cara melindungi wajah dari serangan orang tak di kenal tersebut.
Setelah Fahmi rubuh mereka masih menendang perut beberapa kali sampai Fahmi hilang kesadaran. Adegan tidak pantas terjadi di tengah jalan. Namun herannya tidak ada satu orang pun berani melerainya, kecuali seorang petugas yang kala itu kebetulan tengah bertugas. Sialnya begitu melihat polisi segerombolan orang tak di kenal itu langsung pergi meninggalakn Fahmi.