Terjerat Cinta Pria Bertopeng

Terjerat Cinta Pria Bertopeng
Episode 22


__ADS_3

Willy begitu senang bisa menemukan kembali sang wanita, meski ia tidak mengharapkan kedua bayi kembar tersebut. Sesekali pandangan terarah kepada dua bayi tergeletak di atas ranjang rumah sakit, hatinya sempat tergerak namun lagi lagi trauma membuatnya sakit kepala.


"Willy....kamu kenapa, Nak?" sang ibu langsung mengahmpiri putranya yang kala itu hampir tumbang akibat serangan sakit kepal mendadak.


"Saya baik baik saja" berusaha mengontrol diri dari trauma berkepanjangan. Begitu menakutkan ketika melihat seorang bayi meski ia tau bayi tak berdosa tidak mempunyai salah apa pun. Trauna datang dengan sendirinya dan hilang entah dengan cara seperti apa.


Sang ibu tetap memegang lengan sanng putra "Mama tau kamu sedang tidak baik baik saja. Sekarang kamu duduk dulu" Meminta Willy duduk di sebalah kedua bayi kembarnya. Pergilatan antara hati dan pikiran. Jujur dalam lubuk hati terdalam ingin sekali menatap dan memberi kecupan pada kedua bayi tersebut, namun bagaimana lagi trauma membuatnya membenci seorang bayi.


Ketikahendak duduk Tirani langsung mendorong Willy "Pergi kamu, jangan pernahsentuh anakku. Jika kamu menganggap diri kamu sebagai seorang ayah lalu kenapa kamu tidak mengakui mereka sejak awal? Padahal kamu sudah bahwa mereka adalah darah dagingmu sendiri" Mencengkeram kemaja yang di kenakan Willy sehingga terpaksa Willy bangkit. "Pria dua tahun lalu yang sudah merampas kehormatanku dengan paksa dan meninggalkan begitu banyak penderitaan" Semakin mencengkeram erat "Apa kamu pernah berpikir bagaimana selama ini aku berjuang melawan takdirku sendiri hanya karena perbuatan kamu itu" Melepas dengan sedikit mendorong hingga memberi jarak antara mereka.


"Ma, lebih baik kita keluar dulu biar mereka selesaikan masalah mereka" Tuan Fernandes mengajak sang istri keluar, begitu pula dengan Fahmi. Mereka keluar ruangan karena masalah antara Willy dan Tirani hanya mereka berdualah yanh sanggup menyelesaikannya.

__ADS_1


Ucapan Tirani seolah membuat hatinya lemah. Hati bergetar mendengar gelegar kata dari sang wanita pujaan hati.


Menyentuh kedua lengan Tirani sambil menatapnya dengan penuh kelembutan "Saya akui memang saya salah, tapi saya sangat mencintai kamu. Jujur untuk saat ini memang saya belum bisa menerima mereka karena sesuatu di masa lalu telah menghancurkan hidup saya"


Menepis tangan Willy "Jangan jadikan alasan masa lalu untuk menutupi rasa bersalahmu...." Kembali mendorong hingga tanpa sengaja badan Willy terpeanting dan hampir menindih kedua bayi kembar. Sontak saja kerua bayi terkejut lalu menangis sekencang mungkin.


"Arrrgghhhh....." Membungkam telinga saking tidak kuasa menahan rasa sakitnya.


Semakin lama tangis semakin kencang sehingga Willu tidak tahan lagi, ia memutuskan keluar dati ruangan. Tentu hal tersebut membuat Tirani semakin yakin bahwa dia bukan sosokpria bertanggung jawab "Bagaimana dia bisa mengaku sebagai ayah dari mereka jika mendengar tangisannya saja dia sudah tidak tahan. Ayah macam apa seperti itu" Sambil mengambil salah satu bayi kembar lalu menimang nimang perlahan.


"Willy...." Kedua orang tua Willh segera membantu putranya yang nampak kurang sehat. Bibirnya begitu pucat, badan lemas, dan keringat dingin berbuaij bagai butiran jagung.

__ADS_1


"Pa, dia kenapa?" tiba tiba saja dalam Willy jatuh pingsan sehingga membuat kedua orang tuanya panik.


"Suster tolong bantu anak saya"Teriak Tuan Fernandes memangsil para medis. Tak lama setelah itu mereka menuju ruangan untuk melakukan pemeriksaan.


Dalam kondisi sekarang orang paling terpukul adalah Fahmi. Dia merasa berkecil hati ketikatau saingannya adalah pemilik mafia terbesar sedunia. Bahkan untuk bersaing ia merasa tidak akan bisa menang.


Dukkk....


Dengan keras Fahmi memukul tembok hingga berberapa kali, sampai tangannya memerah.


"Kenapa harus dia"

__ADS_1


__ADS_2