
"Malam ini saya akan tidur di luar saja...." Ucap Willy sembari bergegas keluar kamar. Melihat Tirani begitu ketakutan tiap kali melihatnya menjadikannya tidak tega. Mungkin dia merasa bersalah atas apa yang telah di perbuat. Terkadang emosi bisa menjadikan diri seseorang lupa akan kesadaran, sampai tindakan kita kerap kali menyiksa diri sendiri. Emosi juga bisa menghancurkan ribuan cinta, karena cinta begitu terluka akan hancur bagai debu.
Semenjak pagi hingga malam Tirani tidak membuka mulut depan Willy. Ingin sekali rasanya pergi sejauh mungkin agar tidak lagi berurusan dengan pria paranoid itu, akan tetapi dirinya harus menerima kenyataan bahwa seluruh kehidupan telah di beli oleh pria tersebut. Melihat dari sikap Willy yang berubah ubah sepertinya dia mempunyai dua karakter berbeda, setiap saat perasaannya bisa berubah ubah. Tidak ada seorang pun bisa menebak akan seperti apa moodnya di pagi hari dan siang akan seperti apa.
Dalam diam Tirani menekuk lututnya seatas dada, wajah manisnya tenggelam dalam sela lutut, dan air mata mulai berjatuhan. "Aku lelah seolah ingin menyarah. Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir......" Lirihnya sembari terisak. Masalah kian hari kian bertambah membuat Tirani hampir putus asa, dan ingin segera mengakhirinya. Namun, dia kembali teringat pada kedua bayi kembar. Tidak mungkin dia meninggalkan kedua buah hatinya tanpa satu pun keluarga. "Kalau bukan karena anak anakku maka sudah lama aku mengakhiri hidup ini" Sempat terpikir olehnya untuk mengakhiri semua secara instan, tapi kembali lagi pada kelangsungan hidup si buah hati.
"Nasibku terlahir ke dunia tanpa kehadiran kedua orang tua, aku pun mempunyai anak tanpa seorang suami. Begitu kejam takdir ini" Tangis kesedihan tak lagi berarti ketika Takdir sudah menentukan jalannya sendiri. Hanya satu yang dapat Tirani lakukan sekarang menjalani semua dengan apa adanya.
"Sial kenapa juga saya bisa berbuat ceroboh seperti itu..."Kesal Willy sembari menghempaskan diri ke atas sofa.
"Lho kok Tuan Willyam tidur di sofa ruang tamu ya, pasti nona muda marah sama dia..." Bibi bertubuh gempal mengintai dari balik pintu dapur, karena dia mendengar seperti suara benda jatuh, dan ternyata majikannya tengaj melempar bantal ke segala penjuru. Jelas dia merasa kesal harus menghadapi situasi seperti sekarang, jauh dari wanitanya.
"Mungkin mereka bertengkar lagi, Jum" Tiba tiba saja seseorang berada di belakang Juminten, membuatnya terkejut.
Plak....
"Kamu itu bikin kaget saja sih. Gimana kalau aku jantungan emang kamu bisa bauar biaya pengobatannya?" Ketusnya sambil menepuk lengan seorang pria berkumis yang tidak lain adalah satpam rumah itu. Tadinya dia ingin minta di buatkan kopi sebagai teman jaga malam.
__ADS_1
Menurunkan nada bicara "Aduh jum sakit tau..." Mengusap lengan kiri akibat tepukan Jumi.
"Lagian pak satpam ngagetin begitu emang ada apa sih ganggu orang lagi nguping saja..." Kembali mengintai sosok majikan, tapi pak satpam menarik tangannya "Ngapain sih nguping pak bos bagaimana kalau sampai dia tau bisa berabe jatuhnya nanti. Mending bikinin kopi gih buat mamasmu ini" semyum melebar bagai bulan sabit sambil sesekali menaik turunkan alis.
Sumi bergigik sambil berkata "Dih mamas....huek. Ogah kali aku punya mamas macam beginian, tipe aku itu seperti tuan Willyam udah gagah, cakep, kaya lagi"
Pak Satpan menyentil jidat Sumi "Dianya yang kagak mau sama kamu, sum. Udah nggak usah mengkhayal ketinggian nanti jatuh kempes tuh perut, mending bikinin kopi gih cepat" Mendorong Sumi supaya cepat membuatkan kopi untuknya.
Drttttt...
Malam mulai larut sudah tidak ada lagi kegiatan di rumah itu, hanya sunyi menyelimuti keheningan malam. Berulang kali Willy berusaha memejamkan mata meski begitu sulit baginya untuk tidur dalam perasaan bersalah. Ia juga sempat menyalakan tv tapi kemudian kembali di matikan, sepertinya malam ini dia dalam kondisi hari yang kacau.
"Astaga, kenapa saya tidak bisa tenang ya, lebih baik saya tidur di kamar saja pasti jam segini dia sudah tidur" Tak bisa jauh dari Tirani sehingga dia memutuskan untuk diam diam masuk kamar.
Dengan langkah pelan ia berhasil masuk "Sepertinya dia sudah tidur" Lirihnya sembari menatap punggung Tirani. Sangat pelan ia berusaha naim ranjang. Sebenarnya Tirani belum tidur tapi mendengar langkah kaki Wilky ia pun pura pura tertidur.
"Maafkan saya karena membuat kamu banyak menderita, bukan maksud saya menyiksamu tapi saya hanya tidak bisa melihatmu dekat dengan wanita lain" Lirihnya sembari menyentuh kepala Tirani "Saya hanya tidak ingin kamu menjadi milik orang lain...." mencium kepala Tirani. Malam ini Willy harus manahan hasratnya sebab bebarapa hal tidak harus dia paksakan dengan kondisi Tirani sekarang.
__ADS_1
"Mungkin lain waktu saja" Mengurungkan hasrat dalam dirinya.
"Kenapa kamu menyakiti Fahmi?"Tiba tiba saj Tirani membuka mukut skaing tidak tahan lagi atas perbuatan Willy.
Sontak saja Willy membalikkan badan Tirani. Mefeka saling menatap bebetapa saat "Fahmi? Saipa itu Fahmi?" Ucapnya ssolah tidak punya rasa bersalah.
Tirani memposisikan badan "Jangan pura pura tidak tau, Pria yang hampir mati di tabgan kamu itu ketika kita berada di mall. Apa sih mau kamu sebenarnya? Kenapa sampai kamu mengirim orang untuk memata matai dan mencelakai Fahmi, apa salah dia sama kamu?" Air mata perlahan menetes deras. "Kalau kamu mau silahkan ambil nyawaku, tapi jangan pernah sakiti orang tak bersalah"
Mengepalkan kedua tangan "Oh....jadi sebegitu besar cinta kalian sampai kamu membela dia seperti sekarang?"
"Iya, memang kenapa?" sengaja Tirani berbohong untuk membakar api di dalam hati Willy.
"Tidak bisa kamu hanya milik saya, tidak ada yang boleh memiliki kamu selain saya" Tegas Willy.
"Mungkin kamu bahwa aku adalah kupu kupu malam, cintaku kepada semua pria bukan untuk satu orang saja. Dan kamu harus ingat meski kamu sudah membeliku sekali pun tapi kamu tidak akan bisa membeli cintaku" Dengan nada meninggi Tirani kembali membuat Willy hampir mangangkat tangan. Namun, belum sempat menampar tiba tiba dia mengurungkan niatnya.
"Jelas saya berhak atas kamu karena saya mencintai kamu,begitu pun kamu harus mencintai saya"
__ADS_1