Terjerat Cinta Pria Bertopeng

Terjerat Cinta Pria Bertopeng
Episode 13


__ADS_3

"Sekarang apa yang harus saya lakukan? Tidak mungkin saya mempunyai seorang bayi, tidak saya tidak mungkin" mondar mandir dengan begitu banyak beban di pikirannya. Setelah mengetahui bahwa kedua bayi kembar tersebut adalah anak kandungnya jelas dia belum siap menerima kenyataan itu. Dengan perasan berkecamuk Willy terus memikirkan satu hal. Dia pun langsung pergi untuk beberapa hari. Saat ini dia butuh ketenangan diri, setelah semua jawaban atas pertanyaan.


"Kenapa lagi? kamau kamu sudah datang ke sini pasti kamu sedang banyak masalah" Seorang Pria berkumis tipis tengaj membawa satu botol wine "Katakan apa yang mengganggu pikiramu?" Menuangkan segelas wine lalu memberikannya kepada Willy.


Bersandar pada bahu kursi dengan wajah menengadah ke atas, pikiran dan hati sedang dalam kondisi tidak seimbang. "Masalah besar telah menimpa saya"


Robby, sang pria berkumis tipis memicingkan mata "Sejak kapan ketua mafia besar bisa dalam masalah? Seingat saya kamu itu tidak takut darah bahkan kematian sekali pun. Lalu hal apa yang membuatmu begitu khawatir, sobat?"Mereka berteman sejak di bangku kuliah, jadi Robby paham betul bagaimana perasaan Willy. Willy tidak akan meluangkan waktu untuk pergi ke klub malam miliknya hanya sekedar berbasa basi saja.


"Saya punya anak" Ucapnya berat hati.


Sontak saja Robby terkejut "What? Anak? Jangan sembarang kamu Wil bagaimana bisa kamu memilik anak sedangkan kamu tidak pernah mau bersentuban dengan wanita" Heran Robby. Sejak mereka berteman tidak sekali pun Willy mempunyai kekasih, bukan tidak suka lawan jenis hanya saja dia tidak mau berurusan dengan namnya Cinta.


Wajah Willy terlihat begitu kusut "Benar, saya mempunyai anak dri seorang wanita yang tidak saya kenal"


"Tunggu, tunggu, maksud kamu bagaimana sih?"


Menghela nafas panjang "Beberapa tahun silam ketika saya menghadiri opening club kamu ini, entah kenapa ada sesuatu menjalar dalam diri saya sehingga saya tidak bisa mengandalikan diri. Pada saat perjalan pulang badan terasa tidak nyaman dan saya memutuskan menepi sejenak, di saat bersamaan entah kenapa saya menarik seorang wanita dan kami melakukan hal tak terduga. Semua terjadi begitu saja seolah pikiran saya tengah di kendalikan oleh sesuatu." Ucapnya penuh keseriusan.


Mulut Robby mengangga membentu huruf O. Betapa terkejutnya dia ketika mendengar pengakuan dari sahabatnya "Astaga....jadi kamu main ambil wanita dari jalan tanpa kamu tau wanita seperti apa dia itu? Bagaimana kalau dia mempunyai penyakit menular? Terus bagaimana kalau ternyata wanita ibu buruk rupa, atau mungkin tuna rungu mungkin" Bukannya menyelesaikan masalah justri Robby semakin menakutinya.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Wanita itu memang tidak begitu cantik tapi dia masih virgin, dia juga begitu lugu dan manis. Sepertinya dia berasal dari kampung. Dari cara dia berpakaian, saya menduga dia tidak berasal dari kota besar" Jelas Willy sembari menenggak satu botol wine.


"Wah.....beruntung sekali kamu bisa mendapatkan gadis Virgin" Dengan wajah antusias.


"Itu semua terjadi gara gara kamu, Rob. Pasti pada malam itu kamu yang sudah menambah sesuatu di minuman saya, kan?"


Robby hampir tesedak wine yang baru saja ia tenggak "Mana berani saya menaruh obat perangsang dalam muniman kamu, jelas bukan saya dong"


Willy mencongkondan badan seraya menatap mata Robby "Saya tidak bilang obat perangsang tapi sesuatu dalam minuman saya, sekarang jelas kalau semua perbuatan kamu"


Robby pun hanya bisa menyeringai karena mamang itu adalah ulahnya. Dia hanya ingian sahabatnya itu menikmati masa mudanya dengan berpesata dan beraain wanita, namun dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini "Sorry deh saya ngaku sekarang memang saya yang taruh obat itu dalam minuman kamu, tapi sumpah saya hanya ingin kamu menikmati pesta dengan para wanita yang sudah saya siapkan, ternyata kamu hebat juga bisa dapat Virgin lagi" Celetuk Robby.


"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan pada bayi dan ibu bayi itu?"


"Entahlah" Melonggarkan dasi dan membuka satu kancing kemaja. Terlihat ia begitu bingung harus berbuat seperti apa. Di sisi lain bayi itu adalah miliknya di lain sisi rasa traumanya terhadap bayi begitu menyakitkan.


Salah seorang menepuk pundak Willy "Mudah saja tinggal nikahi saja dia, beres kan?!" Seseorang berdiri tepat di belakang Willy. Dia adalah Tomi salah satu sahabat mereka juga.


"Tidak, saya tidak akan pernah mau menikah. Karena saya begitu menbenci pernikahan" Jawab Willy tegas.

__ADS_1


Kedua sahabatnya saling melempar pandang "Lalu?" Ucap mereka serempak.


Kembali menyandarkan diri "Saya memang mencintai wanita itu tapi tidak pada kedua bayi itu"


"Kedua bayi? Maksud kamu bayi kembar?"


"Ya, bayi kembar yang saya belum tau jenis kelaminnya."


Tomi langsung melempar jas miliknya tepat ke wajah Willy "Gila kamu Wil mau emaknya kagak sudi sama anaknya, lah kamu kan ayah kandung mereka...."


"Pokoknya saya tidak mau ada seorang bayi dalam hidup saya ini,titik."


Kedua sahabatnya nampak bingun juga sedikit aneh di buatnya, seorang ayah tidak mau menerima darah dagingnya, meski dia sudah tau bahwa bayi itu adalah miliknya. "Wah....gila kamu Wil, masa sama anak kandung sendiri saja begitu apa lagi sama orang lain. Di luar sana banyak banget orang pengen punya anak tidak bisa, lah ini malah menolak punya anak, emang aneh" Celetuk Tomi tanpa basa basi.


"Mending tahan dulu sebelum ambil kesimpulan. Memang kamu sudah yakin dia darah daging kamu?" Sambung Robby.


Setelah perddbatan panjang kini Willy baru sadar, kenapa tidak terpikir melakukan tes pada bayi tersebut "Untuk apa saya melakukan tes? Mau anak saya atau bukan tidak akan pernah merubah bahwa keputusan saya, sampai tua sekali pun saya tidak membutuhkan anak" Ucap Willy enten. Ia seolah bisa hidup sendiri tanpa memikirkan bagimana kedepannya. Manusia adalah makhluk sosial suatu saat pasti membutuhkan bantuan orang lain.


Kedua sahabatnya tidak habis pikir atas pemikiran Willy "Astaga....saya tidak tau harus merubah pola pikirmu dari mana, yang jelas kamu akan menyesal jika tidak mau melakukan tes Dna. Lagi pula kamu percaya begitu saja kalau ada wanita bilang dia mengandubg anak kamu? Di tanbah lagi kamu menemukan dia di jalan lho" Tegas Robby berusaha keras melunakkan pola pikir Willy.

__ADS_1


"Sudahlah Rob biarkan saja, emang susah bicara sama kepala besi" Sambung Tomi mulai kesal.


__ADS_2