Terjerat Cinta Pria Bertopeng

Terjerat Cinta Pria Bertopeng
Episode 16


__ADS_3

Setelah kejadian pada malam itu gosib tidak sedap mulai muncul ke permukaan. Semua warga desa berbondong bondong menuju tempat tinggal Tirani yang sekarang di tinggali oleh Ibu Siti beserta dua bayi kembar milik Tirani. Semua warga telah sepakat untuk mengusir Tirani beserta bayi tak berdosa keluar dari kampung mereka. Tentu saja mereka tidak mau kampung halaman menjadi tercoreng karena pekerjaan Tirani sebagai wanita komersial. Setelah mendapat begitu banyak bukti tentang pekerjaan haram yang di tekuni Tirani membuat mereka geram dan tidak ingin melihatnya barada di kampung mereka lagi. Hampir setiap warga menjadikan gunjingan atas pekerjaan Tirani, begitu banyak warga nampak murka, tidak terkecuali perangkat desa setempat.


"Kita harus usir mereka dari kampung kita...." Lantang salah seorang pria, sepertinya dia adalah akar dari semua masalah. Memang benar pria tersebut adalah suruhan pria berkumis yang tidak lain adalah kepala desa. Setelah malam itu kepala desa mengalami petah tulang lengan kiri dan beberapa memar di sekujur tubuhnya. Dia harus mendapatkan perawatan selama berhari hari. Wajahnya nampak memar kebiruan. Untung saja para mafia itu memberi pengampunan kalau tidak hari ini dia tidak akan selamat. Namun, bukannya jera justru kepal desa ingin mrmbalas dendam terhadap Tirani, dengan menyebarkan gosib tentang pekerjaannya maka semua warga mulai terhasut dan akan mengusirnya dari desa.


Kebanyakan orang akan percaya dari mulut ke mulut di banding mencari tau terlebih dahulu. Memang manusia paling mudah di hasut oleh hal hal jahat, karena hati manusia begitu lemah.


"Betul, usir saja mereka, usir dati desa kita" Seru beberapa orang lainnya.


Seluruh warga berteriak semau mereka. Hampir sepanjang jalan para warga mengatai Tirani dan kedua bayi tak berdosa itu dengan kata kata kotor "Anak haram itu juga harus pergi dari desa kita, kalau tidak maka dampaknya akan buruk bagi kita semua" Sambung salah seorang warga.


Dari dalam rumah Ibu Siti mengintip dari balik jendela rumah. Sambil mendekap salah satu bayi kembar beliau merasa gemetaran, warga semakin berteriak keras sampai ada beberapa orang melempari rumah menggunkan batu dan benda apa pun yang ada di dekat mereka.


"Ya Tuhan, kenapa para warga jedi anarkis begini? Selamatkan kami Tuhan" Baru pertama kali beliau melihat kemarahan warga sekitar, membuatnya ketakutan. Beberapa hari lalu sempat terdengar isu miring tentang Tirani. Mereka bergosib kesana kemari tentang latar belakang Tirani dan juga Ayah dari si kembar. Ibu Siti hanya diam karena tidak tau menahu masalah jati diri juga asal usul Tirani, bahkan ayah dari kedua bayi kembar yang sekarang beliau rawat sekali pun tidak pernah tau keberadaan sang ayah.


"Ibu Siti keluar kamu, kami ingin ibu Siti membawa kedua bayi haram milik Tirani itu keluar dan suruh wanita si kupu kupu malam itu pergi dari kampung ini, atau ibu Siti akan kami usir juga seperti mereka" Ancam seorang pria suruhan pak kades. Ia nampak berkacak tangan sambil berdiri tepat di depan pintu kayu.


"Ya Tuhan saya harus bagaimana ini...." dengan gemetaran ibu Siti terus melihat kerumunan warga. Beliau tidak tau harus berbuat seperti apa sehingga sesuatu mengalihkan perhatian beliau "Benar juga saya harus kasih tau mbak Rani" meraih ponsel lalu menghubungi Tirani.


Mendengar kabar kurang baik membuat Tirani turun tangan serta segera menuju desa tempat kedua bayi kembarnya berada. Sebagai seorang ibu jelas dia tidak mau hal buruk terjafi kepada kedua putrinya "Sabar sayang mama akan segera menjemput kalian" Tirani terpaksa meminta orang rumah mengantarnya ke tempat tujuan.


(Nona muda sedang menuju ke desa parang, bos) Isi pesan singkat pak supir kepada Willy selaku majikannya.


Brak....


Seseorang mendobrak pintu rumah Tirani "Usir saja mereka...." Ucap beberapa orang dari luar rumah.


Salah satu orang langsung memegangi tangan ibu siti "Di mana wanita malam itu berada? Dia dan kedua bayi haram ini harus pergi dari desa kami. Secepatnya mereka harus pergi, bikin kotor kampung saja" Celetuk beberapa orang tanpa berpikir panjang mereka menerobos masuk mencari keberadaan Tirani. Ketika tak mendapatkan keberadaan Tirani mereka langsung meminta paksa kedua bayi kembar tersebut lalu mengunci ibu siti dalam rumah. Mereke tanpa belas kasihan membawa keduanya menuju rumah pak kades untuk memancing Tirani keluar dari persembunyian.

__ADS_1


Pada sore hari sampailah Tirani di desa, ia langsung berlari ke arah pintu "Ibu Siti, ibu di dalam tidak" mengetuk berulang kali dengan cepat karena gugup takut kedua putrinya kenapa napa.


Dari dalam Ibu Siti menggedor pintu sampai Tirani sadar bahwa beliau terkunci dari dalam.


"Pak tolong bantu dobrak pintu ini" Titah Tirani pada pak supir. Setelah pintu berhasil terbuka nampak ibu siti berlari mengmapiri Tirani dengan berderai air mata. Beliau mengatakan semua yang telah terjadi "Maafkan saya mbak saya tidak bisa menjaga si kembar dengan baik. Mereka telah mengambil paksa mereka dari tangan saya" Air mata terus keluar mengiringi isak tangis beliau.


Tirani langsung membawa ibu Siti keluar dan mereka masuk ke dalam mobil "Ibu Siti tenang dulu aku tau pasti mereka sengaja membawa anakku demi memancingku keluar. Sudah saatnya mereka tau siapa sebenarnya aku ini"


Ibu Siti nampak menatap dalam penuh pertanyaan "Jadi benar kalau mbak Rani bekerja sebagai kupu kupu malam?" Ucap belua berterus terang.


Tanpa di turup tutupi Tirani menjawab semua keraguan di hati ibu siti,ia mengaku bahwa memang benar dia berprofesi sebagai kupu kupu malam alias wanita komersial "Semua saya lakukan demi kedua bayiku,buk. Andai saja keadaan tidak memaksaku seperti ini maka kedua putriku tidak akan menerima dampak buruknya" Tirani menyesali semua perbuatannya. Namun, semua hanya sia sia sajatidak ada lagi yang bisa di rubah.


Ibu siti terlihat syoldan membungkam mulutnya "Astaga, jadi benar semua gosib tentang mbak Rani selama ini?" air matanya kembali berjatuhan.


Tirani hanya bisa menunduk lemas sambil mengusap air matanya "Apa pun itu saya minta maaf sama ibu sudah menciptakan masalah besar dalam hidup ibu Siti"


Menyentuh tangan beliau "Untuk semuanya saya minta maaf, Buk. Saya janji setelah semua yang terjadi saya tidak akan melibatkan ibu lagi. Saya sangat berterima kasih kepada ibu siti yang sudah berkenan merawat bayi kembar saya sampai sekarang" Lirihnya sembari memeluk beliau.


Beberapa saat kemudain sampailah mereka di depan balai desa. Di sana sudah ada banyak warga berkumpul. Ketika ia baru saja turun dari mobil sudah ada warga berani melemparinya dengan telur busuk "Wuu.....dasar pelac*r" Tidak hanya telur busuk malainkan juga air keruh mereka melamparkan ke wajah dan seluruh badan Tirani.


Ibu Siti tidak berani keluar dari mobil karena takut atas keganasan warga sekitar "Pak, tolong selamatkan mbak Rani lakukan apasaja demi melindunginya" Ucap Ibu siti kepada pak supir.


Tidak tinggal diam pak supir langsung merekam kejadian tersebut dan lalu mengirimkan kepada Willy.


"Sial....siapa yang berani memperlakukan wanitaku seperti itu?" Kesal Willy sembari menggenggam erat ponsel miliknya.


"Kita bergerak sekarang" Tirahnya kepada anak buah mafia.

__ADS_1


Semua mafia besar berkumpul menjadi satu. Mereka menuju desa tersebut melalui jalur udara.


"Sekarang juga kalian harus pergi dari desa ini. Kami tidak sudi menerima pelacu* seperti kamu" Seruan para warga membuat nyali menciut seketika. Bagai terkuliti di depan umum ketika harga dirinya mulai di pijak oleh para warga. Tanpa mendengar penjelasan mereka begitu saja meruncingkan bibir mereka untuk menyakiti hati Tirani.


"Saya kira dia wanita baik baik eh tidak taunya palac** kelas kakap" sebuah sandal hampir meneganai wajah Tiranu tapi tiba tiab saja seseorang berhasil menangkap sendal tersebut.


"Berani sekali kalian menghina wanitaku" tatapan mematikan tentu membuat para warga terdiam membisu. Begitu bantak pria berbaju hitam sudah berbaris rapih di belakang para warga. Mereka seperti siap melaksankan tugas meraka "Sekali saja kalian sentuh wanitaku maka saya jamin desa ini akan rata dengan tanah, kalau perlu kalian ssmua akan saya timbun di bawahnya" Ancaman Willy tidak main main, sebagai kepala mafia mudah baginya menggerakkan anak buah untuk melakukan apa saja.


"Siapa kamu berani mengancam kami? Memang ini tempat nenek moyang situ?" Lantang pria suruhan kepala desa.


Kedua tangan mengepal sempurna, tatapan mematikan hampir melukai lawan bicara "Kamu may tau siapa saya?" Perlahan langkah kaki mendekat.


Pria tersebuh nampak gentar sampai memundurkan langkah "Kenapa kalian diam saja? Kita berkuasa di tanah kita sendiri kenapa kalian takut?" Berusaha menghasut para warga supaya dapat membangunya. Namun, tidak satu pun mau membantunya karena takut dengan para pria berbadan kekar berbaju serba hitam. Jumlah warga setempat kalah jauh dari jumlah mafia tersebut, jadi mereka tidak berani berkutik sedikit pun.


"Saya tidak suka milik saya di usik oleh orang lain...." Tiba tiba Willy mencengkeram leher Pria tersebut sampai badan kurusnya terangkat.


"Katakan siapa yang menyuruhmu berbuat seperti ini?" Tekan Willy.


Pria tersebut nampak kesulitan berbicara akibat lehernya tercekik.


"Sudah tuan lepaskan dia" Pinta Tirani. Seketika saja Willy menghempas tubuh pria tersebut atas perintas wanita terkasih.


Menggandeng tangan Tirani kemudian menatap ke arah sepasang bayi kembar yang tengah menangis di atas meja "Asal kalian tau wanita ini milik Willyam Fernandes"


Ucapan Willy seketika membuat semua orang tercengang, pria di depan mereke ternyata bukan orang sembarangan melainkan raja dunia hitam dan anak dari seorang tetinggi negara.


Tirani sempat tersentak saking kaget "Willyam Fernandes? jadi selama ini anda adalah...." belum sempat berkata lain Willy lebih dulu membungkam mulutnya.

__ADS_1


Tak berapa lama tangisan bayi memecah keheningan mereka. Sontak Willy merasaskait kepala, tapi ia berusaha kuat "Bawa anak itu naik sekarang juga" Sambil berjalan menjauh.


__ADS_2