
Beberapa hari kemudian, tranfusi darah berjalan dengan lancar. Namun, Willy belum juga melihat kondisi sang buah hati. Sejak saat mendonorkan darah ia tidak lagi menampakkan diri sedikit pun. Bahkan kedua orang tuanya tidak mengetahui keberadaan Willy sekarang ini. Seperti hilang di telan bumi.
Meski begitu Tiranu tidak begitu perduli yang penting anaknya sudah melewati masa terburuk, dan sekarang tinggal pemulihan. Dengan setia Fahmi selalu berada di samping Tirani meski dia tau cintanya tidak akan pernah terbalas. Sejak awal semua nampak jelas baginya jika memang wanita yang di cintai tidak menaruh hati padanya. Dari cara Tiani menatap Willy jelas jika antara mereka ada cinta tapi saling sungkan mengutarakan semua rasa.
Tiba saatnya salah satu bayi kembarnya di perbolehkan pulang karema kondisi sudah membaik, sedangkan salah satu harus tetap baradadi rumaj sakit untuk masa pemulihan setelah melakukan tranfusi darah. Kanker yang di derita bayi malang tersebut membuat hati setiap orang pilu. Semua cobaan silih berganti tiada henti seolah dunia tengah memberikan hukuman.
"Kamu tenang saja semua pasti akan lekas membaik" Ucap Fahmi sembari menatap bayi yang saat ini tergeletak lemas di atas ranjang rumah sakit. Hampir semalam penuh bayi tersebut terus menangis, mungkin dia mencari kembarannya yang telah pulang lebih dulu di bawa oleh keluarga Fernandes. Dengan sangat terpaksa Tirani menyerahkan bayi itu kepada mereka dengan alasan hanya mereka yang dapat membantu merawat bayinya.
Mengusap lembur lengan bayi kecilnya sembari sesekalli menciuminya "Aku menyesal, Fahmi"
__ADS_1
Seketika saja Fahmi mengerutkam dahi "Bicara apa kamu ini? Semua adalah musibah jangan pernah sesalkan apa yang telah terjadi, semua hanya percuma"
"Aku menyesal kenapa mereka lahir dati rahim seorang kupu kupu malam sepertiku, seharusnya mereka berhak mendapat keluarga utuh dan jauh lebih baik dariku" Menyeka air mata berusah kuat depan orang lain meski hati tak sekuat kelihatannya "Kenapa merela harus merasakan hukuman atas dosaku? Kenapa tidak aku saja..."Isak tangis membuat sang bayi terbangun dan menangis kencang. Sigap Tirani menggendong bayinya tapi teyap belum mau diam. Fahmi pun mencoba menggendong bayi tersebut tapi justru tangisannya semakin kencang.
"Biarsaya coba menggendongnya"
Suara seseorang membuat mereka menoleh "Kamu?" Tirani terkejut melihat sosok Willy sudah berdiri tegap di hadapan mereka "Saya memang membenci tangisan bayi tapi tetap saja saya adalah ayah dari mereka, maka dari itu biar saya coba bantu diamkan" Mengambil alih sang bayi dari tangan Fahmi. Dengan tangan gemetaran Willy berusaha menimang lembut sang bayi penuh kasih sayang. Benar saja setelah di gendong oleh sang ayah sangbayi tidak lagi menangis.
Tanpa sadar sentum Tirani mengembang sempurna. Hatinya terasa tenang setelah sang anak tak lagi menangis dan tertidur dalam gendongan sang ayah. Rasa bencinya terhadap Willy perlahan sirna.
__ADS_1
"Kenapa kedua bayi kembar kita begitu mirip denganmu? Mereka begitu manis sekali" baru pertama kalinya Willy menyentuh seorang bayi setelah beberapa tahun silam.
Sebenarnya ia menghilang selama beberapa hari bukan melarikan diri atau apa pun itu, tetapi ia tengah berusaha menyembuhkan trauma dalam dirinya,demi untuk bersama kedua buah hatinya.
Tirani hanya bisa tersenyum "Apa pun itu mereka tetap darah dagingmu"
Willy menatap wajah Tirani dengan penuh kesungguhan "Maukah kamu menikah denganku?"
Seketika saja jantung terponpa dengan kencang "Menikah?"
__ADS_1
"Kita harus menikah agar mereka bisa mendapatkan keluarga yang utuh" Berusaha meletakkan bayi kembai ke tempatnya. Setelah itu ia meraih tangan kanan Tirani lalu berlutut sambil menengadahkan wajah manatap sang pujaan hati "Jujur saya sangat mencintai kamu. Mari kita jalin hubungan lebih jauh dari sebelumnya. Saya mau kita menjadi suami istri dan merawat kedua bayi kembar kita sampai maut memisahkan kita"