
"Tirani? Kamu Tirani bukan?" Seorang pria tampan berjas hitam berdiri tegap di depan Tirani, sepertinya ia mengenali wajah Tirani. Kala itu Tirani bersama juru masak tengah belanja bahan pokok di sebuah pusat perbelanjaan, jadi kesempatan Tirani terbebas dari sangkar terkutuk itu. Sejak berada di rumah mewah tersebut Tirani merasa berada dalam sebuah penjara. Hidup terkekang bagai seekor burung dalam sangkar, tidak ada kebebasan sama sekali dalam kehidupan Tirani. Memang begitulah nasib wanita si kupu kupu malam, hingga pada satu dahan justru tertahan. Hidup Tirani jauh lebih membosankan di banding sebagai kupu kupu malam. Meski duku dia bekerja dengan banyak pria tapi rasanya lebih nyaman dari sekarang, di tambah lagi pria yang membelinya adalah seorang paranoid yang memiliki dua kepribadian.
Tirani menatap heran pria tersebut, berusaha mengenali siapa pria tersebut "Iya, banar. Kamu siapa, ya?" Melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Baginya wajar saja ada yang mengelanya karena dia si kupu kupu malam siapa saja bisa mengenalinya, meski terkadang Tirani sendiri lupa dengan siapa dia berhadapan.
"Kamu lupa sama aku? Aku Fahmi teman kamu pas di panti dulu" Menyentuh lengan Tirani sembari menatapnya dalam.
Sekarang Tirani baru ingat bahwa pria tersebut adalah teman lamanya yang menghilang selama bertahun tahun karena di adobsi oleh orang kaya "Fahmi? Kamu beneran Fahmi?" Dengan mata berkaca kaca Tirani memeluknya erat. "Aku sangat merindukan kamu, Fahmi." Beberapa saat mereka saling berprlukan melepas kerinduan.
"Aku juga sangat merindukan kamu, Tirani. Sejak kita berpisah selama itu pula hidupku terasa hampa tanpamu. Dan selarang kita di pertemukan setelah dewasa, aku begitu senang sekali" Ucap Fahmi.
Menyentuh tepi wajah sembari mencubit kedua pipi Pria tersebut "Ini benaran nyata kan bukan mimpi, kan? Aku kira kita tidak akan pernah bertemu lagi...." Kembari memeluk Fahmi untuk kedua kalinya.
Bertahun tahun yang lalu selama Tirani berada di panti asuhan Fahmi adalah salah satu teman baiknya. Mereka berdua tumbuh sejak bayi dalam asuhan ibu panti, jadi mereka sudah sejak kecil beeteman baik. Hingga pada suatu pagi sepasang pasutri datang untuk mengadopsi Fahmi. Mereka lalu terpisah jarak dan waktu. Saat ini Fahmi baru saja tiba di kota tersebut setelah mengenyam pendidikan di luar negri. Penampilan nyaris sempurna tanpa ada satu kekurangan pun dalam dirinya.
"Kamu tidak sedang bermimi bintang kecilku" Sebutan kesayangan merek sedari kecil pun masih di ingat Fahmi sampai sekarang. Kini giloran Fahmi menyentuh tepi wajah Tirani "Kamu tau selama berpisah darimu hidupku terasa tidak bermakna. Setiap hari ingatan tentang kita selalu terbayang. Akhirnya aku bisa menemukan kamu lagi" Memeluk erat seolah tak mau lagi kehilangan. Beberapa hari lalu Fahmi sempat pergi ke panti asuhan sekedar mencari keberadaan Tirani, namun ibu panti mengatakan bahwa Tirani sudah lama pergi dari panti dan tidak tau ada di mana. Sejak hari itu harapan bertemu sangatlah minim, meski begitu takdir telah kembali mempertemukan mereka.
Mereks berdua saling melepas kerinduan tanpa perduli orang lain memandang mereka seperti apa, yang jelas rasa rindu mereka mengalahkan semua pandangan orang sekitar.
__ADS_1
Apesnya saat itu Willy melihat wanitanya memeluk pria lain "Berani sekali kamu menyentuh wanitaku" Dengan kasar Willy memukul Fahmi hingga beberapa kali.
"Hey siapa kamu? kenapa tiba tiba mengjar saya seperti itu?" Ucap Fahmi keheranan. Sembari mengusap darah pada salahsatu sudut bibirnya.
Dengan tatapan membunuh Willy tidak akan melepaskan Fahmi begitu saja,ia kembali hendak memukulnya tapi Tirani menghalanginya dengan memeluk Willi dari belakang "Saya mohon jangan sakiti dia..."
Ucapan Tirani justru semakin membuatnya kesal "Jadi kamu lebih belain dia?" kemarahan Willy begitu mrmbuat Tirani ketakutan. Hal paling menyeramkan selama hidup adalah tatapan penuh amarah ssng Pria.
"Sekarng juga kita pulang...." Dengan sangat kasar Willy menyeret Tiranu keluar dari mall tersebut.
Brukkk.....
Menutup pintu mobil dengan kasar. Tirani tidak berani berkata kata lebih, sebab dia tau Willy tengah dalam kemarahan besar. Tak lama kemudian mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Tirani memejamkan mata sembari berpegann pada sabuk pengaman. Saat ini nyawanya tengaj di pertaruhkan.
Sepanjang jalan pulang tidak sepatah kata keluar dari mulut keduanya. Mereka terlarut dalam pemikiran masingmasing. Jika Tirani terhanyut dalam ketakutan, berbeda dengN Willy, justru dia tidak punya rasa takut sama sekali. Hatinya telah terbakar api cemburu.
Setelah beberapa lama kemudian sampailah mereka depan runah mewah. Dengan kasar ia menyeret Tirani masuk.
__ADS_1
"Astaga, kesalahan apa laginyang Nona muda itu lakukan sampai membuat Tuan marah besar" Seorabg supir pribadi Willu yang tengah berdiri samping pak satpam dengan membungkukkan setengah badan tanda hormat mereka.
Setelah sang majikan masuk, mereka saling melempar pandang "Kalau tuan marah begitu pasti nona Muda itu berbuat masalah besar" Tutur pak satpam. Sudah lama mereka berdua bekerja dengan Willy, jadi mereka bisa tau semua tentang taunnya.
"Mulai berani kamu bertemu pria lain" Membuka pintu kamar mandi lalu mengguyur kepala Tirani dengan air dingin. Seketika saja Tirani gelagapan nyaris tidak bisa bernafas.
"Bersohkan tubuh kamu dari aroma pria itu...." Tanpa rasa iba Willy terus mengguyur seluruh tubuh Tirani. Tirani hanya bisa terdiam dan meringkukkan badan karena hawa dingin telah merayapi sekujur tubuh.
"Aarrrrrgghhhh....." Kemarahan Willy tidak berhenti begitu saja, ia semakin menjadi. Memaksa Tirani membuka seluruh pakaian lalu membawanya kedalam bat up. Di sana ia menggosok hampir seluruh tubuh Tirani dengan kasar sampai badannya memerah. Tirani hanya bisa menangis mendapat perlakuan kasar dari Pria yang telah membelinya itu.
"Saya tekankan sama kamu (Mendongakkan kepala Tirani seraya mencengkeram erat) Jangan pernah bertemu pria lain lagi, mengerti?! Atau kamu akan tau akibatnya" Tegasnya sembari menengelamkan perlahan kepala Tirani di bat up berisikan air dingin. Jelas Tirani gelagapan hampir mati.
Dalam hatinya ia berpikir bahwa ini adalah akhir kehidupannya.
Tuhan....jika memang ini akhir kehidupanku, maka aku titipkan kedua bayi kenbarku pada-MU.
Setelah perlahan nafas Tirani melemah dan hanya bisa pasrah, akhirnya setelah beberapa saat kemudian Willy sadar bahwa tingkahnya akan menyakiti sang wanita. "Hey bangun jangan pura pura mati kamu ya" Tirani sudah tak sadarkan diri lagi. Entah hidup atau mati yang jelas dia sudah pasrah.
__ADS_1