Terjerat Cinta Pria Bertopeng

Terjerat Cinta Pria Bertopeng
Episode 06


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Tirani berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit. Air matanya tak dapat di tahan lagi. Hatinya mulai tidak karuan memikirkan bagaimana kondisi sang buah hati "Tuhan.... jagakan kedua bayi kembarku jangan sampai mereka mendapat hukuman dari semua dosa dosaku, tolong gantikan rasa sakitnya kepadaku" Harapan terbesar seorang ibu selalu melihat anaknya dalam lindungan sang kuasa.


Bagi seorang ibu nyawa sekali pun akan di berikan demi menebus rasa sakit putra putri mereka. Seorang ibu adalah garda terdepan ketika seorang anak membutuhkan bantuan. Tempat kembalinya seorang anak adalah pelukan dari ibunya. Bahkan seorang ibu rela menggadaikan harga dirinya demi menutupi kesalah anak mereka, maka dari itu hormati ibumu selama masih ada tampat ternyaman untukmu. Benar kata pepatah jika surga seorang anak berada pada telapak kaki ibu, karena memang jasa seorang ibu tak terbilang tak terbatas. Luasnya samudra lebih luas hati seorang ibu membuka pintu maaf untuk anaknya, besarnya bumi tak besanding dengan kasih sayangnya. Bahkan nyawa sekali pun tidak akan sanggup membayar semua budinya.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita paruh baya tengah duduk berpangku tangan. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, tatapan nampak kosong seperti banyak beban.


"Bu Siti, bagaimana kondisi si kembar?"Dengan nafas terengah engah ia menghampiri seorang wanita paruh baya "Mereka baik baik saja kan, buk?" Menyentuh tangan ibu Siti dengan cemas.


Beberapa orang berkasak kusuk melihat penampilan Tirani, baju mini seatas lutut berwarna merah cerah, lengan baju pendek sebatas ketiak dan kerah baju berbentuk huruf V, menonjolkan belahan dada. "Dih pasti dia cewek nggak bener itu? Masa iya sih ke rumah sakit pake baju begituan nggak sopan banget deh. Berpakaian tidak lihat tempat"


"Benar juga apa kata kamu, gadis itu tidak bisa menghargai dirinya sendiri sampai tubuhnya di umbar depan umum" Sambung yang lain. Mereka banyak menghujat Tirani, sebab memang cara berpakaian terlalu terbuka. Mungkin jika penampilan minim di kota sudah biasa tapi jika di desa penampilan seperti itu hanya akan mengundang fitnah saja.


Tirani begitu mencemaskan kedua buah hatinya. Sampai ia tidak menghiraukan bagaimana orang memandangnya karena baju yang ia kenakan terlalu minim bahan. Ia terlalu terburu buru sampai lupa berganti pakaian. Hampur semua orang melihatnya darinujung kepala hingga ujung kaki. Rasa risih tentu ada tapi mau bagaimana dia sendiri lupa berganti pakaian karena terburu buru.


Melihat penampilan Tirani membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Ibu Siti.


Ibu Siti menyentuh lengan Tirani "Kondisi mereka sudah membaik, mbak. Lebih baik kita masuk lihat kondisi mereka" ajak beliau menemui si kembar. Dengan banyak pasang mata menatap penuh jijik membuat Ibu Siti tidak enak hati. Beliau langsung mengajak Tirani masuk melihat si kembar.

__ADS_1


"Seharian mereka menangis terus tidak mau minum susu, mbak. Badan mereka demam sejak dua hari lalu. Saya sudah mencoba menghubungi mbak Rani tapi kenapa mbak behutu susah di hubungi?"


Tirani tidak bisa menjawab, ia merasa gagal menjadi seorang ibu, ketika buah hatinya membutuhkan dia justru saat itu dia malah harus melayani pria bertopeng tersebut.


Maafkan mama sayang semua terjadi karena keadaan. Andai kalian tidak lahir dari rahim mama, mungkin hidup kalian tidak akan seburuk sekarang.


"Beberapa hari saya begitu sibuk, buk. Ada banyak hal yang harus saya kerjakan" Tuturnya sembari membuka pintu.


Ibu Siti menatap penuh tanda tanya "Semoga saja lelah mbak Rani menjadi berkah untuk keluarga ya mbak" Sebelum mengetahui kebenaran, ibu Siti hanya bisa mengira ira saja.


Semoga apa yang saya takutkan tidak terjadi pada mbak Rani. Semoga saja dia benar bekerja di pabrik bukan seperti yabg sekarang saya pikirkan.


Kenapa mbak Rani berp**enampilan seperti itu, emang dia tidak risih pake pakaian terbuka? Udah kaya cewek nggak benar saja dia


Ibu Siti menatapnya penuh selidik. Melihat cara berpakaian dan lipstik tebal seperti bukan Tirani yang dulu. "Maaf mbak mungkin saya lancang, tapi kenapa mbak Rani memakai baju terbuka seperti itu? Tidak baik di lihat orang mbak"


Seketika Tirani menoleh menatap wajah Ibu Siti "Saya lupa soalnya dari kerja langsung ke sini" Dustanya menyembunyikan kebenaran.

__ADS_1


Ibu Siti mengerutkan dahi "Kerja? Memang mbak Rani kerja apaan? Kenapa pake pakaian minim begini?"


Memejamkan mata sejanak lalu melempar pandang ke arah lain "Emm....itu di perusahan tadi ada acara pameran baju mini terus saya belum sempat genti baju udah langsung ke sini, buk. Pikiran saya hanya tertuju kepada si kembar itu saja."


Alasan Tirani bisa mengubah kecurigaan Ibu Siti, sebab selama yang beliau tau Tirani memang bekerja di sebuah pabrik baju, meski tidak tau jelas baprik memproduksi pakaian macam apa"Oh jadi begitu ya mbak, maaf ya saya jadi lancang"


"Tidak apa apa, buk. Justru saya banyak terima kasih kepada ibu Siti yang sudah menjaga si kembar dengan penuh kasih sayang. Mungkin jika tidak ada ibu, saya pasti kebingungan mau nitip anak pada siapa" Kedua mata berkaca kaca mengingat bagaimana kehidupan telah membuatnya menderita. Awalnya Tirani mengira menjadi dewasa itu menyenangkan, bisa merasakan banyak hal, mempunyai banyak teman dan lain sebagainya. Namun, kenyataan tidak sesuai bayangan. Selagi masih kecil nikmati saja masa kecil kalian sebelum dunia mengajarikan kalian cara bertahan.


Menyentuh pundak Tirani "Mbak Rani tidak usah cemas saya sudah menganggap kalian seperti anak ibu sendiri. Dengan adanya kalian hidup ini menjadi berwarna, ibu jadi mempunyai keluarga yang utuh. Meski sebenarnya ibu juga sangat merindukan anak ibu" Seketika wajah beliau menunduk mengingat anak kandungnya tak kunjung pulang. Sudah sejak lama sang putra tidak pulang seperti kacang lupa kulitnya.


Oeeee.....


Salah satu bayi kembarnya menangis. Sigap Tirani langsung menggendongnya "Cup, cup. Sayang mama di sini nak. Pasti kamu rindu sekali sama mama ya, nak? Maaf sayang mama tidak bisa selalu ada di dekat kalian berdua" Menciun kening putrinya dengan berderai air mata.


Melihat seorang ibu menangis depan buah hatinya membuat siapa saja tidak akan tega melihatnya. Di tambah Tirani hanya seorang ibu tunggal bagi kedua bayi kembarnya. Dia harus berjuang sendirian mengais pundi pundi rupiah demi mencukupi kebutuhan buah hatinya.


Menyentuh pundak Tirani "Mbak Rani harus sanar dan kuat menghadapi cobaan hidup. Semua perjuangan mbak Rani suatu saat nanti akan terbalaskan dengan sesuatu yang indah"

__ADS_1


Tirani menatap ibu Siti dengan berderai air mata "Terima kasih ibu Siti sudah mengauatkan saya dan mau merawat mereka. Sekali lagi saya berhutang banyak kepada ibu"


__ADS_2