
"Permisi.....keluarga pasien di harap segera mencari pendonor darah secepatnya karena waktu tidak banyak" Ucap salah seorang Dokter yang menangani kondisi si bayi kembar.
Semua orang di dalam ruangan menatap keheranan "Maksud Dokter?" Tirani selaku ibu dari kedua bayi tentu merasa sangat terkejut, sebelumnya Fahmi belum sempat memberitahukan padanya tentang penyakit yang di derita salah satu bayi kembar. Air mata terlihat menggenang di sudut netra.
Sang Dokter menatap ke arah Fahmi "Suami anda belum ada bicara padal kondiri bayi kembar anda?"
Fahmi berjalan perlahan dengan tatapan penuh kesedihan "Saya bisa jelaskan padamu" Meraih tangan Tirani, tapi keburu di tepis oleh Willy.
"Jangan pernah sentuh wanitaku" Dengan tatapan ganas ia memperingati Fahmi.
"Apaan sih lepas...." Melepaskan tangan Willy "Siapa yang kau panggil wanitaku? Ingat, kamu tidak lebih dari....."
Tiba tiba saja Willy membungkam mulutnya "Sekarang bukan saatnya membahas tentang setatus" Tatapan mereka salibg bertemu sehingga membuat Dokter merasa heran dan geleng kepala.
__ADS_1
"Ehem...." Berdehem sembari membuka selembaran kertas, melihat sikap kedua keluarga pasien membuat sang Dokter tersenyum sendiri. Kisah mereka bigitu lucu, antara benti tapi cinta. Setiap orang bisa menilai cibta seseorang dari tatapan mata mereka, meski dalam pertengkaran sekali pun, cinta tetaplah terlihat jelas.
"Kalau anda ingin mengentahui kondisi kedua bayi anda, maka saya mohon kedua orang tua bayi menghadap saya, nanti saya akan jelaskan semua dari awal" Sang Dokter bergegas keluar ruangan, namun ketika sampai di samping Fahmi pak Dokter terhenti sesaat. Dia merasa iba melihat seorang pria mengaku sebagai ayah dari kedua anak tersebut, ternyata tidak memiliki hubungan sepesial. Sambil tersenyum tipis sang Dokter meninggalkan ruangan.
Tirani menghampiri Fahmi, dari tatapan terlihat jelas bahwa Tirani begitu kecewa padanya "Sekarang bisakah kamu jelaskan semua padaku? kenapa kamu tidak langsung memberitahuku tentang kondisi kedua putriku" Air mata jatuh perlahan. Fahmi merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi.Bukan tidak mau memberitahu hanya saja menunggu waktu yang tepat, karena sesampainya di ruangan ia melihat Tirani tidak sendiri dan juga drama kecil terjadi.
Meraih kedua lengan Tirani "Tadinya saya mau memberitahu semua kepadamu tapi...."
Menepis kasar "Aku sangat kecewa samakamu, Fahmi." Segera keluar ruangan dengan di susul Willy.
Tak lama kemudian Tirani masuk ke ruangan Dokter. Setelah mendengar diagnosa medis Tirani begitu terpukul, dunia seolah runtuh "Tapi Anak saya masih bisa selamat kan Dok?"Dengan berderaiair mata.
"Secepatnya anda harus mencari donor darah secepatnya atau kemungkinan terburuk akan terjadi"Jelas sang Dokter.
__ADS_1
"Saya siap mendonorkan darah untuk mereka"
Seketika Tirani menolah "Kamu?" Untuk sekarang hanya dia satu satunya orang yang dapat menolong putrinya, sebab tidak mudah mundari pendonor darah dengan golongan langka.
Meski trauma terhadap bayi masih membuat kepala sakit tetap saja sebagai seorang ayah dia rela mengorbankan nyawa "Saya adalah ayah biologis dari anak itu, jadi ambil saja darah saya"
"Baiklah, kalau begitu mari kita lakukan beberapa tes terlebih dahulu"
Tirani tidak bisa melarangnya mendonorkan darah meski hatinya ingin sekali menolak. Biar bagaimana pun kondisi sang buah hati jauh lebih utama di banding dengan keegoisan diri.
Beberapa saat kemudian tes telah di lakukan dan benar saja darah mereka cocok.Tanpa tunggu lama mereka melakukan tranfusi darah.
"Biar pu. Saya menbenci bayi tapi kalian tetap anakku. Lambat laun trauma ini pasti akan hilang dengan sendirinya" Lirihnya sembari melihat salah satu bayi kembar yang tergeletak di ranjang sebalahnya. Tanpa sadar air matanya berguguran.
__ADS_1
"Sekarang kita akan mulai tranfusi darahnya"