
Oeeee....
Sepanjang perjalanan kedua bayi kembar silih berganti menangis, membuat kepala Willy hampir pecah. Berulang kali ia menutup telinga dan berusaha baik baik saja. Meski berulang kali ia kerap melirik kedua bayi kembar dalam pengkuan Tirani, tapi tetap saja rasa trauma terus mengusik ketenangan.
Suara bayi membuat kepalaku mau pecah....
Rasa sakit kian lama kian bertambah sampai Willy tidak mau lagi menatap bayi tersebut. Tirani menyadari hak aneh dalam diri Willy "Maafkan saya jika kedua bayi ini mengganggu ketenangan kamu" Lirihnya sembari terus menimang salah satu bayi kembar dan yang satunya di bawa oleh salah satu anak buahnya.
Melempar pandang "Lain kali jangan buat mereka menangis atau kepala saya bisa pecah" memijat kening sambil sesekali memejamkan mata.
Tirani merasa tidak enak hati setelah begitu banyak bantuan yang di lakukan Pria tersebut. Mungkin kalau bukan karena dia hari ini Tirani beserta bayi kembarnya menjadi bulan bulanan warga.
"Baik, saya akan berusaha membuat mereka tenang"
Melirik bayi mungil dalam dekapan sang wanita lalu kembali mengalaihkan pandang. Meski hati ingin sekali melihat lebih dekat dan menggendongnya, akan tetapi rasa trauma masih membekas dalam ingatan "Kamu boleh membawanya ke rumah tapi ingat, jangan sampai mereka memberi jarak antara kita"
Tirani mengangguk sembari terus menenangkan kedua bayi kembarnya. Tak berapa lama sampailah mereks di depan rumah mewah bak istana. Willy turun lebih dulu lalu masuk tanpa memperdulikan bagaimana Tirani kerepitan membawa dua bayi kembarnya.
__ADS_1
"Urus kedua bayi itu jangan biarkan saya mendengar tangisan mereka" Titah Willy pada bibi bertubuh gemuk yang baru saja keluar dari dapur.
"Baik, tuan"
Ketika menaiki anak tangga sekilas ia melihat kedua bayi kembar tersebut. Rasa hati ingin mendekat tapi tubuh tak mengijinkan. Melihat kedua anak kandungnya kini tinggal satu atap dengannya membuat Willy bingung harus bagaimana.
Setelah sampai di kamar ia duduk sambil berusaha menenangkan hati "Saipa pun tidak boleh tau kalau saya lemah dengan suara tangis bayi" Buru buru Ia membuka lemari dan mengambil satu batang rokok.
Berjalan menuju balkon lalu duduk bersantai "Kenap dunia ini harus ada tangisan bayi...." Kepala terasa semakin sakit dan seakan berdenyut cepat. Tak lama kemudian ia menyalakan pemantik api lalu menikmati sebatang rokok.
"Tuan...." Lirih Tirani ketika baru saja memasuki rumah. Bola matanya mencari cari keberadaan sang pria yang entah di mana dia sekarang "Di mana dia?" Berjalan masuk dan melibat pintu balkon terbuka lebar. Dari jauh terlihat kepulan asap putih "Kenapa bau rokok, sejak kapan dia merokok?" Heran Tirani. Selama ini tidak sekali pun ia melihat pria tersebut merokok walau sekali pun.
"Kalau saja malam itu saya tidak bertemu dengannya maka saya tidak akan pernah mempunyai anak. Suara bayi itu membuat kepala saya hampir pecah" Ucap Willy dengan seseorang dalam penggilan telepon. Benar, ia menghubungi Robby selaku sahabat dekatnya.
Mengerutkan dahi "Maksud dari ucapannya itu apa?"Tirani belum bisa mencerna semua ucapan Willy dengan seseorang dalam percakapan via Video call.
"Makanya lain kali jangan asal seret cewek di jalan jadi begini kan akibatnya. Coba kalau dua tahun lalu kamu milih salah satu cewek yang sudah saya siapkan mungkin kamu tidak akan mempunyai anak, apa lagi harus anak kembar" Terdengar jelas suara dari layar ponsel milik Willy.
__ADS_1
"Saya juga tidak tau bahwa wanita pada malam itu sampai hamil karena saya. Dan sekarang anak itu sudah bersama denganku, apa yang harus saya lakukan sekarang?"Dari cara bicaranya jelas sekali kalau Willy sedang dalam kondisi tidak baik baik saja
Sekarang Tirani baru sadar jika pria yang telah menodainya beberapa tahun lalu adalah pria yang sekarang ada bersamanya.
Memundurkan langkah dengan berderai air mata "Tidak, tidak mungkin itu dia" Segera berlari keluar kamar. Hatinya hancur seketika mengetahui kebenaran yang tersemat selama ini.
Dengan cepat Tirani membaw akedua putrinya keluar dari rumah megah tersebut. Kebetulan runah sedang sepi karena bibi sibuk di dapur, pak supir juga sedang keluar entah kemana. Dengan berhati hati ia menyelinap keluar lalu berjalan puluhan kili untuk menemukan angkutan umum. Tirani memutuskan untuk pergi dari pria tersebut, karena hatinya begitu skait setelah tau semuanya.
"Aku harus pergi dari kehidupan pria itu" Sambil berderai air mata ia terus berjalan tertatih tatih.
"Tirani...." Kebetulan sekali Fahmi melintas lalu dia menrpikan mobil "Tirani...." Lantangnya sembari berlarian menghampiri Tirani dan kedua bayi kembar.
Tirani menoleh "Fahmi..." Berusaha menyeka sisa air mata.
"Kamu kenapa? Saya dengar dari ibu siti kalau kamu...."
Tirani langsung menyela ucapan Fahmi "Nanti aku jelaskan semua sekarang juga bawa aku pergi dari sini, kalau perlu dari kota ini sekalian. Bawa aku dan bayiku pergi sejauh mungkin"
__ADS_1
Melihat Tirani behitu ketakutan membuat Fahmi bergegas membawa mereka pergi dari tempat tersebut. Entah apa yang sedang di alami Tirani sekarang, tapi Fahmi ingin selamatkan mereka terlrbih dulu.