
Satu minggu kemudian, Willy tidak lagi pernah menghubungi Tirani bahkan juga tidak lagi datang kerumah. Ia memilih menepi sejanak kala hati tidak selaras dengan pikiran. Rasanya begitu sulit untuk dijelaskan dengan posisi Willy sekarang ini. Sebuah trauma masa lalu membuatnya harus menanggung ketakutan selama hampir puluhan tahun. Dahulu pernah sekali ketika Willy masih kecil ia melihat seorang ibu muda tengah menggendong seorang bayi, ketika itu usia Willy masih sekitar tujuh tahun, ia bersama kedua orang tua tengah belanja di suatu pusat perbelanjaan. Di tempat itu juga sebuah tragedi membuatnya trauma sampai saat ini. Sang ibu muda tanpa sengaja terpeleset dan bayi dalam gendongannya lepas hingga terjetuh dari lantai atas, dan yang paling membuatnya ketakutan adalah bayi tersebut jatuh tepat di depan mata Willy hingga tangisan terakhir sebelum bayi menghembuskan nafas terakhirnya. Dari kejadian itulah Willy begitu membenci suara tangisan bayi. Apa yang di lihatnya membuat trauma berkepanjangan.
"Seharusnya aku senang dia tidak lagi mengusik kehidupanku, tapi entah kenapa hati ini seperti kehilangan sesuatu..." Lirihnya sembari menatap jendela kamar. Angin perlahan menyentuh tepian tirai membelai lembut wajah nan sunyi.
Menggeleng kepala "Tidak, apa sih yang ada dalam pikiranku ini. Semua tidak boleh terjadi, tidak" Beru saja menampik aliran rasa yang ia sendiri tak ingin tenggelem di dalamnya. Seiring berjalan waktu rasa mulai tumbuh dengan sendirinya tanpa terkendali.
"Saya tidak tau harus bagaimana ketika nanti berhadapan dengannya...." Lirih Willy sembari terus menatap ponsel miliknya yang memperlihatkan cctv rumah tempat Tirani berada.
Bangkit sembari berjalan ke arah jendela kantor, bayangan kedua bayi itu terus menggangu pikirannya sampai hasrat dalam diri tertutup sementara waktu. Jujur saja ia begitu merindukan si wanita kupu kupu malam tersebut, akan tetapi setelah mengetahui bahwa kejadian beberapa tahun silam telah membuat sang wanita hamil.
"Sekarang saya tidak tau harus berbuat apa? Saya paling tidak suka dengan bayi" Sampai kapan pun trauma akan terus mengisik kehidupan seseorang, sebelum diri mereka sendiri berusaha mengobati trauma tersebut.
"Bosen juga sih setiap hari terus begini...."Lirih Tirani sembari meluruskan tangan. Dalam hati merasa senang tapi juga mulai bertannya tanya, kenapa pria itu tidak lagi datang atau sekedar mencoba menghubunginya. Rasanya ada yang aneh ketika Tirani hidup tanpa ganguang darinya. Beberapa kali Tirani sempat membuka ponsel dari sang pria untuk memastikan sebuah panghioan atau pun pesan singkat. Namun, tidak ada satu pun kabar darinya. Entak kenapa Pria tersebut bagai hilang ditelan bumi. Sudah sejak seminggu mereka tidak saling bertemu, tidak tau hal apa yang membuatnya menjauh begitu saja.
__ADS_1
Sembari duduk bersandar di atas ranjang Tirani terus menatap layar ponsel, hatinya tergerak ingin menghubungi sang pria, tapi berulang kali niatnya pupus begitu saja. "Kalau sampai dia berpikir macem macam tentang gue gimana, ya? Ah, nggak usah lah kalau dia butuh pasti nanti datang sendiri" Ucapnya sembari meletakkan kembali ponsel tersebut. Jujur saja ia ingin tau alasan apa sehingga membuat sang Pria menjauh sampai seminggu penuh tidak berkabar sama sekali.
Tok, tok, tok....
"Masuk..." Ucap Tirani sembari merapihkan rambut, berharap itu adalah sang pria.
"Permisi Non bibi mengganggu waktu istirahat non. Bibi hanya mau mangantar sarapan untuk non Tirani" Hari ini Tirani memang belum keluar kamar sebab ia merasa kurabg enak badan. Mungkin akibat cuaca beberapa hari menjadi tidak menentu, kadang panas dan kadang hujan lebat. Seperti hatinya sekarang ini.
Kenapa gue berharap dia yang datang bukan bibi....
"Terika kasih, bi. Oh iya bi kalau boleh saya mau tanya Pria itu kenapa tidak datang?" Dengan ragu ragu akhirnya Tirani membuka suara tentang sang pria.
Bibi merasa terkejut bagaimana bisa Tirani menanyakan keberadaan sang majikan, padahal ketika bersmaa maka dia akan terkena masalah, bahkan bisa sampai celaka.
__ADS_1
Sambil memegang nampan kosong setelah meletakkan sarapan Bibi berkata "Saya tidak tau non kemungkinan Tuan sedang banyak kerjaan jadi beliau tidak bisa datang minggu ini. Atau non mau saya telepon Tuan untuk beliau segera datang? Mungkin non mau bicara dengan Tuan?"
Tiba tiba saja kedua pipi Tirani memerah seperti buah tomat matang "Tidak, tidak, tidak perlu Bi. Saya hanya....." Seketika pandangan mata Tirani menunduk seperti malu sendiri.
Bibi mulai curiga Tirani mukai menaruh hati pada majikannya "Maaf, non kalau begitu bibi peemisi ke belang dulu ya mau nyuci baju"
Setelah Bibi keluar kamar dia merasa kasihan melihat Tirani "Lebih baik nona muda itu tidak menaruh harapan kepada Tuan, atau dia akan merasa sakit sendiri nantinya" Seraya berjalan menuju dapur.
Di dalam kesunyian pagi, Tirani hanya bisa bertemankan sepi. Hari demi hari ia lalaui tanpa ada warba sedikit pun. Tak berapa lama ia memutuskan untuk berjalan menuju balkon "Pagi ini matahari terbit lebih cepat daei biasanya" Lirihnya sembari melipat kedua tangan. Sekarang badannya masih berbaluk kimono putih seatas lutut. Pandangan mata menatap langit piri yang mulai menampakkan kilau indahnya. "Seharusnya gue bahagia pria itu tidak lagi datang, tapi kenapa hati gue kaya nggak rela begini, ya?" Tanpa ia sadar akar cinta mulai tumbuh dalam dirinya, meski berukang kali ia pun berusaha membunuh perasaan itu sendiri.
"Sementara waktu saya hanya melihat kamu dari kejauhan saja...." Dari pantauan Cctv Willy selalu melihat setiap apa pun yang dia lakukan.
"Saya belum siap jika harus berhadapan langsung dengannya (Sembari menutup laptop lalu berjalan menuju jendela kantor) Entah kenapa perasaan ini begitu menyiksa" Kanyataan begitu membuatnya bingung harus mengambil jalan seperti apa, setelah tau dari perbuatannya dulu seorang gadis sampai mengandung anaknya dan melahirkan tanpa ada siapa pun di sampingnya. Sekarang ini Willy berada dalam fase bimbang antara kebenciannya terhadap tangisan bayi dan menyesali perbuatannya.
__ADS_1