Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 10 - Tak Sengaja Bertemu Dengan Darwin dan Mitha


__ADS_3

Seminggu berlalu....


Ketika mengadakan rapat dengan seorang klien di sebuah kafe. Nadine melihat sesosok punggung pria yang dikenalnya berjalan dengan seorang wanita.


Nadine tak dapat melihat jelas wajah sang wanita karena terhalang tembok dan orang-orang berlalu lalang.


Dan ia pun sedang melakukan pertemuan dengan salah satu kliennya jadi tak sempat mengejar sosok yang membuatnya penasaran.


Sejam setelah bertemu kliennya, Nadine lantas menelepon Dito.


Namun, Dito kali ini tak dapat menuruti keinginan Nadine bertemu karena ia sedang berada di luar kota dengan alasan pekerjaan.


"Tumben sekali dia bekerja," gumam Nadine.


Nadine pun segera meninggalkan kafe dan kembali ke kantornya.


Ditengah perjalanan ia melihat mobil Darwin berhenti di sebuah minimarket, lalu turun seorang wanita muda.


Nadine lantas menghentikan laju mobilnya, ia kemudian keluar dan menghampiri mantan tunangannya.


Nadine begitu terkejut ketika melihat Mitha bersama dengan pria yang beberapa waktu lalu di sukainya itu. "Kalian!"


Darwin dan Mitha lalu menoleh, keduanya pun juga sama-sama terkejut.


"Aku bisa jelaskan!" ucap Mitha.


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Nadine.


"Kami kebetulan bertemu di jalan, Darwin menawarkan tumpangan padaku," jelas Mitha gugup.


"Kalian tidak memiliki hubungan, kan?" Nadine menuding.


Darwin lantas menjawab, "Jika kami memiliki hubungan kenapa? Kamu bisa mengkhianati aku dengan tidur bersama dia!"


"Aku dan Dito tidak memiliki hubungan apa-apa." Nadine berkata tegas.


"Nadine, aku dan Darwin tidak memiliki hubungan apa-apa. Kamu jangan salah sangka," ujar Mitha.


"Aku percaya padamu, Mitha. Tapi, aku tidak suka dia menuduhku!" mata Nadine mengarah kepada Darwin.


Mitha menarik tangan Nadine menjauh dari Darwin, "Malu dilihat orang-orang, sekarang aku pulang bersamamu saja. Tunggu sebentar di sini aku mau bicara dengannya!"


Mitha lalu menghampiri Darwin dan mengatakan akan pulang dengan Nadine, pria itu pun mengiyakan.


Di dalam mobil, Nadine terus mengoceh, "Kenapa dia selalu menuduh begitu? Jelas-jelas Dito juga membantahnya, apa perlu aku membuktikan padanya!"


"Membuktikan apa?" tanya Mitha.


"Apa perlu aku tidur dengannya biar tahu tudingannya itu tidak benar?"


"Nadine, jangan gila. Kalau kamu tidur dengannya, terus hamil. Belum tentu dia mau bertanggung jawab!"


"Tapi, aku sangat kesal dengannya!"


"Kalian 'kan sudah berakhir, lebih baik fokus dengan karirmu. Aku berharap semoga suatu hari nanti kamu menemukan pria penggantinya."


"Ya, kamu benar," ucap Nadine. "Kamu mau ke mana? Biar ku antar," lanjutnya.


"Eh, aku mau pulang ke rumah," jawab Mitha.


"Memangnya kamu tadi dari mana?"


"A...aku tadi dari rumah temannya mama," jawabnya lagi.


"Oh."


-


-

__ADS_1


Malam harinya...


Nadine menghubungi Dito.


"Halo, cantik!"


"Kapan kamu akan pulang?"


"Apa kamu begitu merindukan aku?"


"Jangan besar kepala Pradito Mahesa Aksavi!"


"Hei, dari mana kamu tahu nama belakangku?"


"Aku sudah tahu bahwa kamu itu putra dari Leon Mahesa Aksa dan cucu dari Mahesa Kay."


Dito yang diujung telepon tertawa.


"Kapan kamu pulang?"


"Lusa."


"Jika kamu pulang kabari aku segera," ucap Nadine.


"Iya, Nona Cantik. Kita seperti sepasang kekasih saja 'ya, jika ingin apa-apa harus melapor," ledek Dito.


"Anggap saja iya. Mama ku telah merestui kita," ucap Nadine.


"Ini kabar yang sangat bagus, tinggal menunggu hatimu yang terbuka, cantik!"


"Ya, kamu harus sabar untuk yang satu itu."


"Aku siap menunggumu, cantik!"


****


Dua hari kemudian, di kafe tak jauh dari kantornya Nadine.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dito sambil menyesap kopinya.


"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan Mitha dan Darwin."


"Benarkah?" Dito tampak semangat. "Apa yang mereka lakukan? Apa mereka menjalin sebuah hubungan? Atau mereka sebenarnya telah bermain hati di belakangmu?" lanjut mencecarnya.


"Kenapa kamu begitu semangat mendengar berita ini?" Nadine menatap dengan tatapan menyelidik.


"Hmm, bukan apa-apa."


"Mitha mengaku jika mereka tak sengaja bertemu dan Darwin memberikan tumpangan," tutur Nadine.


"Sepertinya kisahnya sangat menarik," Dito tersenyum menyeringai.


Nadine menarik napas lalu ia hembuskan, mengambil cangkir dan menyeruputnya.


Nadine meletakkan kembali cangkir lalu berkata, "Aku percaya bahwa Mitha takkan mengkhianatiku, tetapi ucapan Darwin membuatku kesal. Dia terus mengungkit kejadian malam itu."


Dito menghela napas.


"Kenapa dia selalu mengungkit hal itu? Padahal uang juga telah diberikan papa."


"Apa kamu ingin membalasnya?" tanya Dito.


"Tidak."


"Kenapa?" tanya Dito lagi.


"Hanya akan membuang waktuku saja."


Sejam lebih berada di kafe akhirnya keduanya pun pulang.

__ADS_1


Sebelum memasuki mobil masing-masing, Dito berkata, "Apa besok kamu memiliki waktu?"


"Jadwal sore aku kosong."


"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?" ajak Dito.


"Boleh juga."


"Baiklah, besok aku akan menjemputmu."


"Ya."


"Sampai jumpa."


"Sampai jumpa juga," Nadine tersenyum singkat lalu gegas pergi.


Di perjalanan pulang, ponsel Dito berdering tertera nama Darwin.


"Apa lagi?" tanyanya ketus.


"Bagaimana hubunganmu dengan dia?" tanya Darwin dengan santai.


"Sangat lancar, sepertinya sebentar lagi dia akan membuka hatinya untukku."


"Memang seharusnya dia membuka hati untuk pria lain agar tidak terus menggangguku."


Dito tertawa sinis, "Aku ingin memberikan pesan padamu. Berhati-hatilah!"


"Maksudmu apa?" tanya Darwin mulai tersulut emosi.


"Kalian sebentar lagi akan ketahuan."


"Jika kau berani buka mulut, bukan hanya aku saja yang hancur tapi dia takkan mungkin mempercayaimu!"


"Tapi, memang lebih baik dia mengetahui semua," ujar Dito.


"Jangan menakutiku!" sentaknya.


"Aku tidak mau menakutimu, aku hanya mengingatkanmu saja."


Dito lalu menutup ponselnya.


Darwin mengepalkan tangannya, "Aku akan pastikan kamu akan hancur juga Pradito Mahesa jika berani bersuara!"


-


Nadine yang pulang dari kafe terpaksa memutarbalik arah karena ada beberapa jalan yang diperbaiki.


Nadine mau tak mau melewati gedung kantor mantan tunangannya.


Nadine sempat sekilas menoleh ke arah gedung perkantoran tersebut. Tanpa sengaja bola matanya tertuju pada seorang wanita menjinjing tas tangan memasuki mobil mantannya itu.


"Bukankah itu Mitha? Kenapa dia ada disini?" Nadine bertanya pada dirinya sendiri seraya menyetir.


Karena begitu penasaran, akhirnya Nadine memutar setirnya menuju kantor Darwin.


Jalanan sore hari sangat macet sehingga Nadine harus sabar ketika membelokkan mobilnya di perempatan jalan.


Nadine memperlambat laju kendaraannya ketika berada di depan gedung Darwin dan mobil mantan kekasihnya itu pun sudah tak kelihatan lagi.


Nadine berdecak kesal.


Karena gagal memenuhi rasa penasarannya, Nadine segera memutar balik arah menuju rumahnya.


Di sepanjang jalan Nadine terus bermonolog, dia yakin jika wanita tadi yang dilihatnya adalah Mitha.


"Apa dia sudah pergi?"


"Sepertinya dia sudah berbalik arah."

__ADS_1


"Untung kamu segera memberitahu aku dan cepat ku memindahkan mobil ini. Kalau tidak kita akan ketahuan," ujar Darwin.


__ADS_2