Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 6- Memberikan Kejutan Buat Nadine


__ADS_3

(Flashback)


Pagi harinya Dito telah berada di rumah Nadine, tepatnya ia berdiri di depan pagar.


"Non, temannya Tuan Darwin dari tadi sudah menunggu di depan. Apa sebaiknya di suruh masuk saja?" saran pelayan yang telah lama bekerja dengan keluarga Nadine.


"Suruh dia masuk, Bi."


"Baiklah, Non."


Pelayan wanita itu pun pergi memanggil Dito yang sudah lebih 30 menit menunggu di luar.


Dito berjalan memasuki istana mewah milik keluarga Nadine, pria itu sempat takjub.


"Aku yakin kamu memang putri yang baik, sehingga tak mau membuat seorang tamu menunggu terlalu lama."


"Kenapa kamu pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Nadine tanpa basa-basi.


"Kamu tidak menyuruhku untuk sarapan?"


Nadine menghela napas lalu menjawab, "Karena semalam kamu telah menolongku, silahkan duduk!"


Dito tersenyum senang, "Terima kasih!" ia mengambil roti dan mengoleskan selai di atasnya.


Dito juga menuangkan susu ke dalam gelasnya.


"Sepertinya kamu memang sengaja tidak sarapan dari rumah."


"Kenapa kamu tahu?"


"Aku melihat dari cara sarapanmu, aku curiga sebenarnya kamu bukan seorang petinggi di perusahaan properti."


Dito tertawa kecil.


"Kenapa kamu selalu mengejarku? Apa perusahaan tempatmu bekerja tidak mempertanyakan dirimu yang selalu bolos?"


"Jawabannya cukup sederhana, aku bisa melepaskan semuanya agar bisa mendapatkanmu."


Nadine tertawa sinis.


"Jika kamu berhasil mendapatkan aku, lalu bagaimana kamu bisa mencukupi kebutuhan ku?" tanya Nadine.


"Apapun akan ku lakukan, selama pekerjaan itu tidak melawan hukum."


"Ingat, Dito. Aku ini adalah putri kedua dari Malik Ikssa. Aku tidak mau hidup miskin karena harus menikah denganmu."


"Tapi, aku orangnya yang tulus, Nona."


"Apa hebatnya kamu dari kekasihku?"


"Suatu hari nanti kamu akan tahu."


Nadine terdiam ia menatap Dito.


-


-


Siang harinya...


Dito mengajak Nadine buat makan siang bersama, ia memesan makanan favorit wanita itu.


Nadine sempat dibuat kagum dengan pria itu yang tahu semua kesukaannya.


"Apa Darwin sering menghubungimu sehingga kamu tahu semua tentangku?"


"Tidak, aku tak pernah berkomunikasi lagi sejak pertama kali kita bertemu di restoran."


"Kenapa kamu begitu paham tentang aku?"


"Aku menyukaimu makanya tahu semuanya."


"Apa kamu menyewa seorang mata-mata?" tanya Nadine menyelidik.


"Bisa jadi begitu," jawab Dito.


"Sepertinya aku tak boleh menganggapmu remeh!"


"Ya, kamu memang tidak boleh menganggap remeh orang lain."


Dito dan Nadine melanjutkan obrolan sembari menikmati makanan.


"Apa kamu memiliki waktu nanti malam?"


Nadine sejenak berpikir lalu berkata, "Ya."

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu menonton mini konser, apa kamu mau?"


"Boleh juga."


"Baiklah, aku akan menjemputmu pukul tujuh malam."


-


Malam harinya...


Dito menepati janjinya, ia datang menjemput Nadine di rumahnya. Pria itu pun bertemu dengan kedua orang tuanya Nadine.


"Kamu siapa?" tanya Malik.


"Perkenalkan, Om, Tante. Nama saya Pradito Mahesa, temannya Darwin dan Nadine," jawabnya dengan sopan.


"Sepertinya kami baru mengenalmu," ucap Rita.


"Saya baru beberapa bulan ini tinggal di kota ini," ujar Dito.


"Oh, begitu."


Nadine muncul di tengah percakapan antara kedua orang tuanya dan Dito di ruang tamu.


Dito sempat terpesona dengan penampilan Nadine malam ini.


"Pa, Ma, aku dan Dito mau pergi," izin Nadine.


"Nadine, ingat kamu dan Darwin telah bertunangan. Jangan sampai mengecewakan dia," Rita mengingatkan putrinya.


"Iya, Ma. Aku bisa jaga hati, lagian Dito dan Darwin saling kenal."


"Ya sudah, pergilah. Selesai acara, segera pulang!" pinta Malik.


"Om, Tante, tenang saja. Nadine aman bersama saya!" janji Dito.


Malik dan Rita mengiyakan.


-


Dito dan Nadine tiba di sebuah gedung serbaguna namun tidak terlalu besar. Tampak sepi hanya beberapa mobil yang terparkir diluar area.


"Kamu yakin di sini ada mini konser?"


"Tapi, kenapa sepi sekali? Kamu tidak ingin berbuat jahat padaku, kan?" tanya Nadine curiga.


Dito hanya tertawa kecil.


"Aku tidak mau masuk!" Nadine menghentikan langkahnya.


"Aku tidak punya niat buruk padamu, ayo masuk!" ajaknya.


Nadine pun akhirnya memasuki gedung tersebut.


Begitu menginjakkan kakinya, lampu warna warni pun menyala begitu terang. Suara dentuman musik pun terdengar.


Seorang penyanyi wanita muncul di atas panggung dan menyapa dua penonton.


Nadine dibuat takjub dengan kejutan yang diberikan Dito kepadanya.


Penyanyi wanita itu pun mulai bernyanyi.


Nadine menutup mulutnya ia tak menyangka, dia dapat menonton secara langsung penyanyi idolanya sendirian.


"Apa kamu suka?" bisik Dito.


Nadine mengangguk mengiyakan, matanya berkaca-kaca.


Penyanyi wanita itu pun turun dari panggung, mengajak Nadine bernyanyi bersama.


Tentunya Nadine pun ikut menyanyikan, bahkan ia naik ke atas panggung.


Salah satu panitia memberikan kursi untuk Dito dan pria itu tersenyum menyaksikan 2 orang wanita di atas panggung.


Lagu pertama selesai dibawakan, penyanyi wanita itu pun bertanya kepada Nadine. "Apakah dia kekasihmu?"


Nadine menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak dijadikan kekasih?"


"Saya sudah memiliki kekasih," jawab Nadine.


"Oh, itu sangat menyakitkan. Artinya dia mencintaimu tapi bertepuk sebelah tangan?"


"Kami hanya teman."

__ADS_1


"Hanya sekedar teman saja?"


"Ya, tapi dia pria pertama yang memberikan kejutan seperti ini."


"Berarti dia begitu mencintaimu dan sangat romantis. Seharusnya kamu menerimanya, tapi aku salut dengan kamu tetap kekasihmu itu," ucap sang penyanyi.


Nadine tersenyum haru.


"Apa yang ingin kamu katakan pada dia?" Penyanyi wanita menunjuk ke arah Dito.


"Aku cuma mau bilang, terima kasih!" Nadine tersenyum dengan melambaikan tangannya pada pria yang sedang duduk.


Dito menjawabnya dengan senyuman.


Penyanyi wanita itu pun lanjut bernyanyi lagi bersama dengan Nadine.


Tak terasa sudah 1 jam lebih mereka bernyanyi. Acara pun selesai, Nadine memeluk penyanyi idolanya dan mereka berfoto bersama sebelumnya ia juga memvideokan aksinya di atas panggung.


Nadine turun dari panggung dan menghampiri Dito, ia lantas memeluk pria itu, "Terima kasih, hari ini aku bahagia sekali!"


Dito tak membalas pelukannya.


Nadine melepaskan pelukannya, ia menyeka air matanya, "Kamu tahu saja penyanyi kesukaan ku."


"Aku pernah katakan, apapun tentangmu semua ku tahu."


"Apa sebenarnya kamu adalah penggemarku?"


"Bisa dikatakan begitu."


-


Di dalam mobil, Dito bertanya pada Nadine, "Aku lapar, apa kamu mau kita makan?"


"Boleh."


"Jika aku ajak di pinggir jalan, tidak masalah 'kan?"


"Tidak."


"Baiklah, kalau begitu kita ke sana!"


Mobil meluncur ke penjual sate langganan Dito. Sesampainya keduanya turun dan memesan makanan. Mereka duduk di kursi plastik.


Dito terus memandangi wajah Nadine.


Wanita yang dipandang menjadi salah tingkah, mengatasi kegugupannya ia pun bertanya, "Kenapa kamu bisa menyewa gedung bahkan mendatangkannya?"


"Karena aku kenal dengan manajernya dan gedung itu milik keluargaku."


"Benarkah?"


"Apa kamu tidak percaya?"


"Aku percaya."


Dua porsi sate daging kambing pun datang, setelah Dito mengucapkan terima kasih. Mereka pun mulai menikmatinya.


"Bagaimana rasanya? Enak, kan? Tak kalah dengan restoran bintang lima."


"Kamu pintar sekali mencari makanan seperti ini dan sate juga salah satu kesukaan ku juga."


Dito tersenyum.


-


Tepat jam 12 kurang 15 menit, mobil yang dikendarai Dito berhenti di depan rumahnya Nadine.


Sebelum keluar, Nadine berkata, "Terima kasih buat malam ini, ku sangat senang sekali. Mulai sekarang kita teman!" menunjukkan jari kelingking kanannya di depan wajah Dito.


Pria itu pun menyatukan kelingkingnya dengan Nadine.


"Sampai jumpa, selamat malam!"


"Ya, selamat malam!"


Nadine pun turun dari mobil dengan wajah sumringah. Meskipun kabar dari kekasihnya tak ia dapatkan, tetapi malam ini Dito mampu menghibur hatinya.


Dito meninggalkan kediaman Nadine, ia lalu menghubungi seseorang. "Aku sudah melaksanakan apa yang kamu mau? Kapan kalian akan mengakhiri ini?"


"Jangan lupa transfer uang yang kamu janjikan, ku tak mau dicicil!"


Dito pun mematikan ponselnya.


Rahangnya mengeras, matanya memerah. "Apa yang aku inginkan harus menjadi milikku!"

__ADS_1


__ADS_2