
Nadine juga mengalami luka-luka namun kecil dan telah diobati. Sedangkan, Dito masih terbaring lemah meskipun sudah sadar.
Nadine merasa bersalah, karena dirinyalah Dito harus mengalami luka-luka. Mobil yang dikendarainya, menabrak pembatas jalan.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Dito.
Nadine tersenyum tanpa menampakkan giginya.
"Kamu tidak mengalami luka serius, kan?"
"Tidak, tapi terima kasih telah menolongku," jawab Nadine.
Dito tersenyum hangat.
"Kenapa kamu menolongku?"
"Apa aku harus memberitahu alasannya?"
"Bagaimana jika kamu mati? Pasti mereka menyalahkanku dan menahanku. Orang-orang akan memaki aku." Nadine seperti menahan air matanya.
"Hei, cukup!" ucap Dito lembut. "Jangan menyalahkan dirimu, aku juga sekarang baik-baik saja!" lanjutnya.
Nadine duduk di kursi di samping Dito, ia pun akhirnya menangis.
Dito memaksakan bangkit, "Auww!" pekiknya.
Nadine mengangkat wajahnya dan segera berdiri mendekati Dito. "Kamu mau apa?"
Dito memegang tangan Nadine, "Aku ingin menghapus air matamu."
Menyeka air matanya, Nadine lantas berkata, "Meskipun begini, selalu saja menggodaku."
"Cantik, aku tidak mau kamu menangis."
"Kenapa semua orang selalu membuatku menangis? Apa aku tidak boleh mencintai dan dicintai?"
Dito memegang kedua tangan Nadine, "Kamu pantas bahagia, kamu layak dicintai dan mencintai."
"Tapi, kenapa kamu dan Darwin menyakiti aku?" Nadine kembali menangis.
"Maaf, jika caraku mendekatimu salah. Aku benar-benar mencintaimu, Nadine." Menatap bola mata wanita yang ada dihadapannya.
Nadine yang semakin sendu, memeluk Dito. "Terima kasih sudah mencintaiku!"
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Dito pada Nadine yang masih dalam pelukannya.
Melepaskan pelukannya lalu menatap pria yang ada dihadapannya. "Kamu tidak menyimpan sebuah rahasia, kan?"
"Kamu ingin bertanya apa tentang aku?"
"Apa kamu benar-benar tidak memiliki kekasih?"
"Kamu lihat sendiri 'kan, bagaimana Mama ku begitu suka denganmu," jawab Dito.
"Siapa tahu kamu memiliki kekasih tetapi kedua orang tuamu tidak merestui kalian," tebak Nadine.
Dito tertawa, "Apa aku memiliki tampang wajah pemain wanita?"
"Aku tidak tahu tentang kamu, kita baru beberapa bulan bertemu."
"Harus berapa kali ku bilang aku hanya mencintaimu seorang," ujar Dito.
"Jika aku mengetahui kamu berbohong maka ku takkan pernah memaafkanmu!"
"Iya, cantik. Aku rela jika kamu tidak memberikan maaf."
"Janji!"
__ADS_1
"Iya, aku janji. Tidak ada wanita lain dihatiku saat ini," ucap Dito.
"Bukan saat ini saja tetapi selamanya."
"Iya."
Pintu kamar terbuka, Nadine segera bangkit dari ranjang dan menjauh.
"Sepertinya kalian membicarakan sesuatu yang serius?" tebak Vina.
"Mama, mendengar kami bicara?"
"Tidak, sayang. Mama lihat wajah Nadine kelihatannya sedih. Apa kamu yang membuatnya begitu?"
Dito hanya menyengir.
Vina mendekati Nadine dan memeluknya, "Apa yang telah dilakukan dia padamu?"
"Dia membohongiku selama ini, Tante," jawab Nadine.
"Bohong?" Vina sekilas menatap putranya lalu tatapannya kembali pada Nadine.
Dito mulai panik.
"Dia sengaja mendekati aku, agar ku dan tunangan berpisah. Dia berhasil melakukannya itu," ucap Nadine.
"Jadi, dia yang membuatmu putus dengan tunanganmu itu?" tanya Vina sekali lagi.
"Iya, Tante."
"Ma, aku melakukannya karena mencintainya," jelas Dito.
"Tapi, kamu telah merusak kebahagiaannya," ucap Vina.
"Maaf, Ma." Dito tampak tertunduk lesu.
"Jadi, kamu telah memaafkan Dito?" tanya Vina.
"Iya, Tante."
"Nadine menginginkan aku menikahinya," sahut Dito.
"Benarkah?" tanya Vina.
"Iya, Tante. Aku mau menikah dengan Dito," jawab Nadine.
Vina tersenyum mendengarnya lantas kembali memeluk gadis itu.
"Ma, aku ingin memeluknya juga!" ucap Dito.
Vina menatap tajam putranya.
"Aku bercanda, Ma." Dito tersenyum nyengir.
"Kapan kami bisa bertemu dengan orang tuamu?" tanya Vina.
"Setelah kesehatan Dito pulih, Tante."
"Kalau begitu, aku harus cepat sehat. Biar segera menikah denganmu," ujar Dito.
Nadine dan Vina tertawa mendengarnya.
Sementara itu di lain tempat, di waktu yang sama. Sepasang kekasih sedang bergumul di ranjang, keduanya hanya berbalut selimut.
Suara erangan terdengar dari kain tebal.
Napas saling memburu dari sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Darwin menjatuhkan tubuhnya di samping Mitha setelah 1 jam aksi panas yang mereka lakukan.
"Oh, kamu sungguh luar biasa!" ucap Darwin kelelahan.
"Kapan kamu akan menikahiku?" tanya Mitha di samping tubuh kekasihnya.
"Waktunya belum tepat."
"Belum tepat, bagaimana? Kita sudah melakukannya berkali-kali, bagaimana jika aku hamil?"
"Kamu harus minum pil itu lagi!" jawab Darwin tenang.
"Apa kamu sudah gila?" sentaknya.
"Mitha, kita melakukannya karena sama-sama suka jadi kamu menanggung resikonya juga."
"Dasar licik!"
"Hei, kita sama-sama licik. Lagian juga Dito dan Nadine telah mendapatkan yang sama seperti kita rasakan."
"Harusnya aku tuh tak mudah percaya denganmu," ujar Mitha.
Darwin memiringkan tubuhnya menghadap Mitha yang menatap langit kamar.
"Semua sudah terlanjur tidak perlu disesali, harusnya sekarang aku juga telah bahagia dengan Nadine!"
Mitha mengalihkan pandangannya kini kepada Darwin, "Jadi, kamu mencintainya?"
"Tidak, aku hanya ingin hartanya."
"Jika ingin kembali padanya, aku rela asal kamu memberikan apa yang ku inginkan," ujar Mitha.
"Kamu mau aku duakan?"
"Ya, kenapa tidak? Aku butuh uang, bisnis ku harus berjalan. Kita bisa menikah diam-diam setelah itu."
"Aku tidak mau!" Darwin menolaknya.
"Kenapa?"
"Aku tidak mungkin menyakiti hati Nadine lagi."
"Berarti kamu telah jatuh cinta padanya!"
"Aku hanya mencintaimu, Mitha."
"Lalu kapan kamu akan memperkenalkan aku kepada orang tuamu?" tanya Mitha.
"Jika waktunya tepat, ku akan menikahimu!"
Mitha tersenyum senang, ia mencium pipi lalu lanjut mengecup bibir kekasihnya itu. Mereka kembali melanjutkan permainan panas.
Sejam berlalu, Darwin yang telah lelah hanya berbaring di ranjang dan memejamkan mata begitu juga dengan Mitha.
Ponsel Darwin berdering membuat pria itu membuka matanya dan bergegas menjawab ponselnya. "Halo, Ma!"
"Darwin, kamu di mana?"
Bukannya menjawab, Darwin malah balik bertanya, "Ada apa, Ma?"
"Pulanglah!"
"Baiklah, Ma." Darwin menutup ponselnya.
Mitha terbangun karena mendengar suara orang berbicara. "Mama kamu?"
"Iya, dia menyuruhku pulang."
__ADS_1