
Di dalam mobil menuju restoran sebelum kembali ke kota A, Dito lantas bertanya, "Sepertinya Mitha menyembunyikan sesuatu dari kamu?"
"Menyembunyikan apa?" tanya Nadine.
"Aku tidak tahu. Dia kelihatan sangat gugup, apalagi ketika mematikan ponselnya."
"Mungkin saja memang benar kalau yang menelepon tadi pria iseng."
"Ya, mungkin saja."
"Kita mau makan di mana?" tanya Nadine.
"Terserah kamu."
"Bagaimana kalau di sana?" Nadine menunjuk ke arah restoran ayam dan ikan bakar.
"Baiklah, cantik!"
"Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu?" Nadine merasa tidak nyaman.
"Kamu memang cantik, Nadine. Wajar dong aku memanggilnya begitu."
"Aku sadar jika diriku memang cantik, tapi kutak suka saja," jelasnya.
"Baiklah, aku akan coba untuk tidak memanggilmu dengan sebutan itu," janji Dito.
-
Mobil pun terparkir di halaman restoran, kedua turun dan melangkah ke dalam. Nadine segera memesan makanan untuk dirinya dan Dito karena sangat lapar.
Tak sampai 15 menit, pesanan mereka pun telah terhidang di atas meja.
Nadine mulai menikmati makanan yang mereka pesan, ia tampak begitu semangat.
Hal yang sama juga dilakukan Dito.
"Coba ini deh, rasanya sangat enak sekali!" Nadine menyuil ikan gurami bakar lalu ia arahkan tangannya ke mulut pria yang ada dihadapannya.
Dito memperhatikan tangan Nadine.
"Ayo makan!"
Dito membuka mulutnya.
Nadine pun menyuapkan daging ikan ke mulut Dito.
"Lumayan enak!"
Nadine tersenyum, "Apa yang ku katakan benar, 'kan?"
"Lidahmu pintar juga merasa," puji Dito.
"Tentunya," ucap Nadine.
Dito menikmati makan siang sesekali menatap wanita yang ada dihadapannya.
"Dito, apa sebelumnya kamu memiliki kekasih?" Nadine bertanya seraya mengunyah nasi.
"Ya."
"Kenapa kalian putus?" tanya Nadine lagi.
"Karena dia memilih melanjutkan sekolahnya di luar negeri."
"Bukankah kamu juga sekolah di luar negeri?"
"Ya, tapi beda negara. Dia tidak mau berhubungan jarak jauh."
"Oh, begitu."
"Apa kamu mencintainya?"
"Sebelum kami putus, aku sangat mencintainya."
"Kalau sekarang?" tanya Nadine.
"Aku mencintaimu."
Nadine terdiam.
Dito malah tertawa melihat wajah Nadine terpelongo.
__ADS_1
Nadine segera membuang wajahnya.
"Apa aku tidak boleh mencintaimu?" Dito menatap wanita yang selalu menghindari matanya.
Nadine menghela napas.
"Aku terlalu terburu-buru, ya. Tidak apa-apa, suatu saat kamu pasti akan menerimaku," Dito berkata sembari menikmati makanannya.
-
Di sepanjang perjalanan pulang, Nadine yang lelah akhirnya memilih tidur.
Sesampainya di kediaman orang tuanya Nadine sore harinya, Dito membukakan pintu buat wanita itu.
"Tak usah repot-repot," Nadine tersenyum.
"Aku tidak akan repot jika berurusan dengan kamu, cantik!"
"Kamu selalu saja menggodaku," ujarnya.
"Karena aku begitu senang bisa menggodamu."
"Aku harus masuk, pulanglah dan istirahat."
"Iya, cantik. Sampai jumpa, jika ingin teman mengobrol hubungi aku."
"Iya," Nadine tersenyum lalu menarik kopernya ke dalam rumah.
Dito gegas masuk ke mobil dan melesat ke rumah.
"Kalian sudah pulang, kenapa cepat sekali?" tanya Rita menyindir.
"Karena aku dan Dito tak mau menginap di hotel takut kalian akan datang menjemput paksa."
"Nadine, kamu kenapa, 'sih?"
"Harusnya Nadine yang bertanya dengan Mama, pulang cepat pun salah."
"Mama tidak menyalahkanmu," ucap Rita.
"Ma, perjalanan tadi sangat melelahkan. Aku mau mandi, nanti kita lanjut mengobrol lagi."
-
Sementara itu Dito telah tiba di rumahnya, begitu sampai sang ayah menghadangnya.
"Tugas apa yang kamu berikan pada Troy?" tanya Leon.
"Aku hanya menyuruh dia ke kantornya Tuan Malik." Jawab Dito dengan santai.
"Apa yang membuatmu ingin mengunjungi CEO Narima Grup sehingga menyuruh Troy ke sana?" tanya pria paruh baya itu lagi.
"Aku menginginkan putrinya, Pa."
"Kamu mencintainya?" Leon menatap wajah putranya.
"Ya, aku jatuh cinta padanya setahun yang lalu."
"Bukankah dia sudah bertunangan?"
"Mereka telah berakhir."
"Jangan bilang kamu yang membuat hubungan mereka kandas?" Leon menyelidik.
Dito tertawa kecil.
"Kan, pasti kamu telah ikut campur dalam urusan asmara mereka." Leon menebak.
"Memang lebih baik aku ikut campur, Pa. Nadine pantas mendapatkan pria yang baik."
"Oh, jadi namanya Nadine."
"Iya, Pa. Apa Papa akan merestui hubungan kami?" tanya Nadine.
"Kalau Papa setuju saja."
"Mama tidak setuju!" seorang wanita paruh baya berusia 53 tahun yang masih kelihatan segar dan bugar turun dari lantai atas.
"Kenapa Mama tidak setuju?" tanya Dito.
"Mama ingin menjodohkanmu."
__ADS_1
"Sayang, biarkan Dito mencari pasangan hidupnya. Kita jangan ikut campur," ucap Leon.
"Suamiku, putri dari temanku wanita pekerja keras. Aku kasihan dengan kehidupan mereka yang kini jatuh bangkrut. Aku hanya ingin menolongnya," jelas Vina.
"Jika Mama ingin membantu mereka, Mama bisa memperkerjakan putrinya di perusahaan Papa," ujar Dito.
"Dia tak mau bekerja di perusahaan kita karena putrinya itu telah memiliki usaha sendiri," ucap Vina.
"Baguslah kalau begitu, Mama tidak perlu menjodohkan aku dengan dia."
"Mama akan tetap menjodohkanmu," Vina berkata penuh yakin.
"Maaf, Ma. Aku harus menjadi anak yang durhaka, permintaan Mama kali ini tidak akan ku turuti." Dito lantas berjalan ke kamarnya.
"Pa, tolong beritahu putra kamu!" rengek Vina.
"Dito sudah dewasa biarkan dia menentukan kebahagiaannya," ucap Leon.
"Kenapa Papa tidak mendukung Mama, sih?" protesnya.
"Mama ingat ketika kedua orang tuamu tak menyetujui aku menjadi menantunya?" Leon menatap wajah istrinya.
Vina mencoba mengingatnya.
"Apa yang Mama lakukan saat itu?" tanya Leon lagi.
"Menolaknya."
"Mama menolak permintaan kedua orang tua dan bersikeras memilih Papa."
Vina mengangguk.
"Jadi, jangan paksa Dito seperti para orang tua kita dahulu lakukan. Biarkan dia mencintai wanita yang memang pantas dicintainya. Mama ingin dia bahagia, 'kan?"
Vina mengiyakan.
"Jadi, Mama harus merestui setiap keputusan yang diambil Dito."
"Iya, Pa."
"Begitu dong, Papa makin sayang dengan Mama!" Leon memeluk istrinya.
"Jadi, kapan dia memperkenalkan gadis itu kepada kita?" tanya Vina.
"Jika memang waktunya pasti Dito akan memperkenalkan dia kepada kita," jawab Leon.
-
Malam harinya di kediaman Malik Ikssa...
Nadine dan kedua orang tuanya menikmati makan malam bersama.
"Tadi pagi orang suruhan Dito datang ke kantor," ucap Malik membuka percakapan.
"Mau apa mereka?" tanya Rita.
"Mama ingin tahu 'kan tentang keluarga Dito sebenarnya," jawab Malik.
Nadine hanya mendengarnya saja.
"Iya, Pa," ucap Rita.
"Dito bukan dari keluarga sembarangan, dia calon pewaris VDL Group. Perusahaan yang bergerak di bidang properti dan wahana permainan."
"Benarkah, Pa?" Rita tampak tak percaya.
"Iya, Ma."
"Kalau Nadine mau menikah dengannya, Mama setuju saja," ujar Rita.
"Giliran sudah tahu baru direstui," singgung Nadine.
"Mama 'kan ingin yang terbaik untukmu, Nak!" Rita berkata lembut.
*****
Hai-hai semua, ini karyaku yang ke -19...
Aku harap kalian menyukainya...
Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Yang Lainnya..
__ADS_1
Terima Kasih 🌹
Sehat Dan Bahagia Selalu 🤗