Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 12 - Menenangkan Diri Dengan Berlibur


__ADS_3

Dito mendatangi kantor Nadine, ia membawa sebuket bunga lily. Ia masuk ke gedung itu dengan mudah karena sang pemilik tempat telah memberikan izin.


"Buat kamu agar tidak sedih lagi," ucap Dito tersenyum.


"Terima kasih," Nadine tersenyum tipis.


"Kamu masih ingin menangis?" tanya Dito.


Nadine tertawa kecil.


"Siapa tahu kamu ingin menangis biar tanganku bisa menghapus air matamu," goda Dito.


Nadine lagi-lagi dibuat tertawa oleh sikap pria yang ada dihadapannya.


"Begitu 'kan kamu cantik!" pujinya.


"Kamu selalu saja merayuku dengan kata-kata menyebalkan itu."


Dito tertawa kecil, "Aku tuh serius denganmu."


"Iya, aku tahu. Tapi, ku belum bisa menerimamu."


"Tidak masalah, aku siap menunggu kamu."


Nadine kembali tersenyum simpul.


"Semalam aku, mama dan papa pergi ke rumah Darwin," ucapnya.


"Jadi mereka sudah tahu?"


"Iya, Darwin mengakui semuanya."


"Apa Darwin mengatakan kalau aku juga terlibat dalam hal ini?" Dito membatin.


"Aku masih sakit hati dengan perlakuan mereka berdua."


"Semua telah berlalu dan lihatlah masa depanmu ini!" Dito menunjuk dirinya sendiri.


Nadine tertawa kecil melihatnya.


Dito meraih tangan Nadine dan menggenggamnya, "Aku sangat menyayangimu, aku ingin menjadi pelindung untukmu. Aku janji takkan menyakitimu."


Nadine menarik tangannya. "Kata-katamu mengingatkan ku pada dia!"


"Aku berbeda dengan dia," ucap Dito.


"Semoga saja, tapi saat ini aku belum bisa menerimamu."


-


Sementara itu, Mitha tampak ketakutan ketika mendengar ancaman Selly dan Perrie keluar dari mulut Darwin.


"Jadi, kamu ingin kita putus?"


"Tidak, Mitha. Aku tetap akan bersamamu. Semua sudah terjadi, Nadine juga telah mengetahui hubungan kita. Namun, kedua orang tuaku tak merestui kita," jawab Darwin.


"Bagaimana kita mampu menjalankan hubungan tanpa restu?"


"Ini semua salah kita seharusnya bicara jujur dari awal."


"Salah kita kamu bilang? Kamu yang memaksa menerima pertunangan itu tanpa pernah memikirkan perasaan ku. Aku ingin berbicara pada Nadine, tapi kamu melarangnya dengan alasan kita jalani secara diam-diam. Di masalah ini, aku seakan-akan menjadi orang ketiga!"


"Aku minta maaf."


"Nadine sekarang membenciku karena keegoisanmu!"


"Kenapa kamu jadi menyalahkan aku?"


"Kan, kamu sendiri tak mau berkata jujur. Apa karena dia anak dari Malik Ikssa?"


Darwin pun diam.


Mitha menjatuhkan tubuhnya di kursi dan memijit pelipisnya.


"Apa mungkin Dito memberitahu hubungan kita?" tanya Darwin.


"Tidak mungkin, itu sama saja membuatnya dalam masalah."


"Andai kamu tidak melibatkan dia pasti kita akan aman-aman saja," tuduh Darwin.


"Kamu 'kan tahu kalau Nadine sangat mencintaimu, dia takkan mengkhianati hubungan kalian."


Darwin sejenak diam.


"Jadi, sekarang jabatanmu di turunkan?" tanya Mitha.


"Iya, termasuk beberapa rekening di blokir."


"Jadi, kamu tidak memiliki uang lagi?" tanya Mitha.


"Ya, hanya mobil dan satu rekening buatku."

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan toko cabang kue milikku? Eh, maksudnya milik kita?"


"Uang kamu 'kan ada."


"Uangku itu tabunganku, kamu tidak boleh menggunakannya."


"Mitha, toko itu juga buat kamu. Kenapa sekarang jadi perhitungan begini?"


"Aku lagi memikirkan masa depan kita, Darwin."


"Ya, dipakailah dulu. Nanti kalau aku ada uang ku ganti," ucap Darwin.


Mitha menarik napas.


Mitha lantas bangkit, "Aku harus berangkat ke kantor, hari ini ku berencana resign tapi karena jabatanmu di turunkan maka ku membatalkannya."


"Lalu siapa yang akan mengurus toko?"


"Ada beberapa karyawan ku, cepat pergilah dari sini."


"Biar ku antar kamu," Darwin menawarkan diri.


"Tidak, terima kasih."


Darwin ingin mengecup bibir Mitha, namun wanita itu menolaknya.


"Aku sangat buru-buru!" tolaknya.


****


Seminggu setelah mengetahui yang sebenarnya Nadine memutuskan pergi bersama Dito ke luar negeri. Keduanya akan melakukan perjalanan liburan selama 1 pekan ke depan.


Dito dan Nadine telah mendapatkan izin dari kedua orang tua masing-masing jika ingin melanjutkan hubungan yang serius.


Menaiki pesawat untuk pertama kalinya berdua, Nadine duduk bersebelahan dengan Dito.


"Aku senang dapat menemanimu jalan-jalan ke luar negeri," ucap Dito.


"Aku tidak punya pilihan lagi, selain kamu. Karena biasanya ku akan pergi dengan Darwin atau Mitha tetapi mereka malah menyakitiku."


Dito menampilkan senyumnya, "Sekarang aku akan selalu ada di sisimu."


"Terima kasih," Nadine tersenyum.


Pesawat pun terbang ke kota Paris. Nadine ingin sekali ke sana bersama Darwin setelah menikah namun semua takkan mungkin terjadi lagi.


Pengkhianatan yang dilakukan kekasih dan sahabatnya membuatnya tak mau memaafkan keduanya.


Nadine mencoba menjauhi keduanya agar rasa sakit hati itu menghilang namun terasa semakin sakit.


Malik berpendapat sama, jika ingin melupakan seseorang kita harus membuka lembaran baru.


Ya, perjalanan Nadine dan Dito agar keduanya semakin dekat serta saling jatuh cinta.


Perjalanan cukup panjang membuat Nadine lebih dahulu tidur.


Dito menyelimuti Nadine, menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga.


Meletakkan kepala wanita itu dibahunya. Setelah dirasanya Nadine nyenyak dan nyaman, ia pun memejamkan matanya.


Hampir dua jam tertidur, Nadine membuka matanya. Ia memperhatikan wajah Dito yang terlelap.


Menarik sudut bibirnya, Nadine kembali menjatuhkan kepalanya di bahu Dito.


Nadine malah memeluk tubuh samping pria itu, ia pun kembali memejamkan mata.


Sejam kemudian, Dito terbangun. Mengucek matanya, ia melihat ke arah samping kirinya.


Nadine sedang menatap awan dari kaca jendela.


"Kamu sudah lama bangun?" tanya Dito membuat Nadine menoleh.


"Baru beberapa menit lalu," jawabnya.


"Apa kamu sudah pesan makanan?"


"Sudah, itu ada di depanmu. Makanlah, tadi ku lebih dahulu makan," jelas Nadine.


"Baiklah, kalau begitu aku akan makan."


-


-


Tepat jam 2 lewat 15 menit waktu negara setempat, keduanya tiba di bandara kota Paris.


"Akhirnya aku ke sini juga!" ucap Nadine.


"Semoga kedatangan kita ke sini tidak membuatmu mengingatnya," ujar Dito.


Nadine tertawa.

__ADS_1


"Kamu cemburu?" tanya Nadine.


"Ya, aku cemburu."


"Hei, kita ini tak ada ikatan kenapa harus cemburu?"


"Karena sekarang aku yang menemanimu."


"Ya, aku seharusnya sadar bahwa pria yang menemaniku bukan Darwin."


"Sekarang kita cari hotel, ku tak mau kamu menyebut nama pria itu!" Dito mendorong kopernya.


Begitu juga dengan Nadine.


Dito menyetop taksi, mereka akan menuju hotel terdekat.


Begitu sampai, hotel yang mereka datangi hanya ada 1 kamar.


"Tidak mungkin satu kamar, Dito."


"Bukankah kita pernah tidur seranjang?" bisik Dito.


Mata Nadine melotot, jari telunjuknya ia arahkan ke wajah Dito.


Pria itu hanya tertawa.


"Aku tidak mau satu kamar denganmu."


"Tak ada pilihan lagi, sementara kita harus satu kamar. Besok pagi baru kita berpisah," jelas Dito. "Bagaimana?" tanyanya.


"Baiklah," jawab Nadine.


"Begitu dong."


Diantar pelayan hotel, Dito dan Nadine kini berada di kamar.


Dito membuka bajunya di depan Nadine.


"Hei, kamu mau apa? Jangan macam-macam!"


"Aku mau mandi, kamu tidak mau mandi bersamaku?"


"Jangan gila!"


Dito malah tertawa.


"Pergilah sana mandi, aku mau tidur!" Nadine menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


Beberapa menit kemudian, Dito keluar dengan hanya menggunakan handuk, ia lalu membangunkan Nadine.


Air dari rambutnya menetes di wajah wanita itu dan membuatnya tersentak bangun.


"Apa yang kamu lakukan?" sentaknya.


"Aku hanya ingin membangunkanmu."


"Jangan ambil kesempatan, ya!" hardiknya.


Dito hanya tertawa.


Nadine bangkit dari ranjang lalu berlari kecil ke kamar mandi.


Selesai mandi keduanya menikmati waktu sore hari.


Nadine dan Dito berjalan mengelilingi kota Paris.


Tak ingin Nadine menghilang, Dito mengenggam jemari tangan wanita itu, "Aku tidak mau kamu nyasar dan kita terpisah."


Nadine pun menuruti apa yang dikatakan Dito.


Lelah berkeliling, keduanya menikmati makan malam bersama.


Setelah itu mereka kembali ke hotel.


-


Nadine yang sangat kelelahan bergegas mengganti pakaiannya lalu naik ke ranjang.


"Aku tidur di mana?"


"Terserah yang penting jangan di ranjang!" Nadine memejamkan matanya.


Dito pun tersenyum.


Mengambil selimut, Dito tidur di sofa.


Dito yang tak dapat tidur dengan nyenyak, melihat selimut yang menutupi tubuh Nadine tersingkap.


Dito segera memperbaikinya, namun tangannya malah di tarik sehingga membuat tubuhnya jatuh di atas tubuh Nadine.


Jantung Dito berdegup kencang, apalagi melihat wajah Nadine yang memejamkan mata begitu jelas.

__ADS_1


Dito yang tak ingin hal buruk terjadi dengan cepat bangun dan memperbaiki selimut wanita itu.


Ia lalu kembali melangkah ke sofa.


__ADS_2