Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 24 - Aku Ingin Mengganggumu


__ADS_3

Dito tak hentinya melahap tubuh istrinya meskipun seluruh badannya telah merasa letih.


"Sayang, aku sudah sangat mengantuk!" bisik Nadine dengan mata tertutup.


"Sebentar lagi, sayang!"


"Berapa lama lagi?" tanya Nadine.


"Sedikit lagi, sayang!" Dito mempercepat ritme gerakan tubuhnya.


Beberapa detik kemudian, Dito mengakhiri kerja kerasnya. Dia berhenti sejenak di atas tubuh sang istri lalu menjatuhkan tubuhnya di samping.


Menarik selimut, Dito memiringkan tubuhnya menghadap istrinya dan mengecup pipinya. "Selamat tidur, sayang!"


Nadine membalasnya hanya dengan berdehem karena matanya tak sanggup terbuka.


Ponsel Dito berdering membuat Nadine berdecak kesal.


Sang pemilik benda tersebut malah masih mendengkur.


Nadine membuka matanya dengan malas dan menggoyangkan tubuh suaminya. "Sayang!"


"Hmm.."


"Ponselmu berbunyi, cepat angkat!"


"Biarin saja, sayang!" ucap Dito dengan mata terpejam.


"Bunyinya sangat berisik, sayang. Aku masih ingin tidur!" ujarnya.


Dito dengan mata terpejam, menyentuh nakas dan meraba keberadaan ponselnya. Setelah di dapatnya, segera membuka mata dan menatap layarnya.


Dito lalu berkata, "Ini hanya alarm saja!"


"Memang ini jam berapa?"


"Jam tujuh."


"Setiap hari kamu bangun jam tujuh?" tanya Nadine dengan suara parau.


"Iya." Jawab Dito dengan mata terpejam.


"Kenapa lama sekali bangunnya?"


"Aku selalu tidur jam satu kadang jam dua."


"Ckk.... ternyata kamu mempunyai kebiasaan buruk!"


"Mungkin sekarang kita sudah menikah, kebiasaan itu akan menghilang!"


"Semoga saja!"


-


Sementara dilain tempat, Naysilla yang telah bangun pagi dan juga kebetulan tidak mempunyai pekerjaan memilih berolahraga lari.


Seorang diri Naysilla mengelilingi jalanan tempat tinggalnya. Baru beberapa putaran, kakinya tersandung sesuatu sehingga membuatnya menghentikan larinya.


Naysilla duduk di pinggir trotoar untuk memijit tumit kakinya yang sakit.


Troy yang kebetulan lewat meminggirkan kendaraannya. Pria itu keluar dan berjalan mendekati Naysilla dan berjongkok dihadapannya. "Kenapa, Nona?"


Naysilla mendapatkan sapaan terhenyak apalagi Troy kini ada dihadapannya.


"Nona!"


"Kakiku mungkin terkilir," ujar Naysilla.


"Mari saya antar pulang!" Troy berdiri lalu mengulurkan tangannya.


Naysilla menyambut uluran tangannya dan berdiri.


Karena kakinya sakit, tubuhnya tak dapat menopang dengan baik. Tangan Troy gegas memeluk pinggang Naysilla yang hampir jatuh.


Jantung Naysilla berdegup kencang saat tangan Troy memeluk pinggangnya.


"Biar saya papah!" Troy meletakkan tangan kanan Nay di leher dan tangan kirinya memeluk pinggang wanita itu.


"Maaf merepotkanmu!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nona!"


Begitu sampai di kediaman Malik, Troy kembali merangkul dan memapah Naysilla memasuki rumahnya.


Rita yang melihatnya putrinya dipapah Troy bergegas menghampirinya. "Kenapa denganmu, Nay?"


"Kakiku terkilir, Ma."


"Ayo kita ke dokter sekarang!" ajak Rita yang khawatir.


"Tidak, Ma. Panggilkan saja terapis langganan keluarga kita," ucap Naysilla.


"Iya, Mama akan panggilkan."


Troy mendudukkan Naysilla di kursi di ruang tamu.


"Terima kasih telah membantu putri kami, Troy." Malik muncul setelah mendengar bahwa Naysilla dipapah.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi!" pamit Troy.


"Bagaimana kalau kita sarapan bersama?" ajak Malik.


"Maaf, Tuan. Saya sudah memiliki janji dengan seseorang, lain kali saja. Permisi!" Troy menundukkan kepalanya kemudian berlalu.


"Seseorang? Siapa? Apa wanita yang sama di acara pernikahan Nadine?" beberapa pertanyaan menari di hati Naysilla.


"Dia kenapa selalu menolak ajakan kita, Pa?" tanya Rita pada suaminya.


"Mungkin memang dia sudah berjanji dengan orang lain," jawab Malik.


"Kenapa Mama selalu ingin dia makan bersama kita?" tanya Naysilla memijit kakinya.


"Mama ingin kamu dan dia semakin dekat," ceplos Rita yang mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.


"Mama mau menjodohkan kami?" tanya Naysilla.


"Tidak, Nak." Jawab Rita cepat.


"Ma, bawa Nay ke kamar. Suruh sopir panggilkan Mbok Ta," titah Malik.


"Iya, Pa." Rita membantu putrinya berdiri.


Dito dan Nadine baru membuka matanya karena perut terasa lapar.


"Sayang, bangunlah!" Nadine menggoyang tubuh suaminya.


Dito bangkit dan duduk. "Aku sudah bangun!"


"Bantu aku berdiri!"


"Kenapa?"


"Entahlah, aku rasa sulit sekali berdiri!"


Dito turun dari ranjang dan membantu sang istri berdiri. "Kamu mau ke mana?"


"Aku mau mandi, perutku sangat lapar."


"Kita mandi bersama, ya?" goda Dito


"Tidak!"


"Kenapa, sayang?"


"Bisa-bisa kita keluar dari kamar mandi nanti sore!" jawab Nadine.


Dito tertawa.


"Ayo bawa aku ke kamar mandi!"


"Iya, sayang!" Dito memapah istrinya.


Sesampainya di depan kamar mandi, Nadine lantas berkata, "Pesankan makan siang sekarang juga!"


"Kita belum sarapan, sayang."


"Kamu lihat jam, sekarang!"


Dito mengarahkan pandangannya pada jam di dinding, "Itu tidak salah, sayang?"

__ADS_1


"Tidak, suamiku. Hari ini kita melewati sarapan pagi karena kamu!"


Dito tersenyum nyengir.


Nadine memasuki kamar mandi dan menutup pintunya.


Selesai keduanya mandi, mereka menikmati makan siang di dalam kamar karena Nadine malas jika harus mengisi perutnya di restoran.


"Kapan kamu ingin kita pindah rumah?"


"Mungkin seminggu lagi."


"Kenapa lama sekali?"


"Aku belum menyusun barang-barang yang akan kita bawa ke rumah baru."


"Jadi, setelah dari hotel kamu mau tinggal di mana?"


"Di rumahku. Apa kamu setuju?"


"Tidak masalah."


"Oh, ya. Kak Naysilla kapan akan kembali ke luar negeri?"


"Katanya dua minggu lagi."


"Kenapa tidak kerja di sini saja?"


"Aku tidak tahu."


Selesai makan siang bersama, keduanya kembali ke ranjang. Menikmati waktu istirahat berdua dengan orang terkasih. Karena besok mereka akan pulang dan selanjutnya pekerjaan kantor telah menunggu.


Nadine memainkan ponselnya begitu juga dengan suaminya yang rebahan.


"Sayang!"


"Ya." Mata Nadine masih fokus membalas pesan chat teman-temannya.


Dito mengelus perut istrinya, "Kira-kira apa yang kita lakukan semalam menuai hasil apa tidak?"


Nadine menurunkan ponselnya dan menundukkan kepalanya menatap wajah suaminya. "Aku tidak tahu, tunggu saja nanti sebulan."


"Kamu ingin anak kita pertama lahir laki-laki atau perempuan?"


"Sayang, aku belum hamil. Kamu sudah menanyakan hal itu? Bagaimana jika tidak sesuai harapan?"


Dito lantas duduk dan menatap istrinya.


"Aku tidak mau kamu terlalu banyak berharap padaku."


"Apapun yang menyangkut tentang kamu, aku akan selalu ada di dekatmu."


"Semoga kita diberikan kepercayaan untuk memiliki anak. Jangan bahas hal itu lagi, karena baru sehari menikah."


"Mumpung kita di dalam kamar dan tak ada kegiatan lainnya. Bagaimana kalau lanjut?"


Nadine mengernyitkan keningnya.


"Sayang..."


"Aku masih lelah, Dito."


"Kamu mau aku pijat?" Dito menawarkan diri.


"Tidak."


"Jadi, kamu mau apa?"


"Jangan banyak bicara, lebih baik kamu istirahat. Aku masih membalas pesan dari teman dan keluargaku."


"Aku ingin mengganggumu!" Dito mengecup pipi istrinya lanjut ke leher.


"Dito..." tegurnya.


Tak peduli, Dito segera membenamkan ciuman di bibir sang istri.


Nadine pun pasrah.


Meletakkan ponselnya ke sembarang tempat, Nadine akhirnya melayani suaminya yang terus menggodanya. Pergumulan pun tak dapat dielakkan terjadi di siang hari.

__ADS_1


__ADS_2