Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 21 - Memenuhi Janji


__ADS_3

Beberapa hari kemudian....


Darwin datang kembali ke kantor Dito, sesampainya di sana dirinya diizinkan untuk bertemu.


Dito mempersilakan tamunya duduk.


"Ada apa kamu ingin menemuiku?" tanya Dito seraya menyilangkan kakinya.


"Aku ingin kamu mengembalikan nama baik usaha kami," jawab Darwin.


Dito tertawa sinis.


"Aku janji tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Nadine."


"Memang seharusnya kamu tidak perlu menyentuh hubungan kami!" Dito berkata tegas.


"Dito, aku mohon!"


"Hem, baiklah!"


"Kamu akan mengembalikan pelanggan toko kami?" Darwin berharap.


"Ya."


"Terima kasih!" Darwin berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Pergilah!"


Darwin dengan hati lega keluar dari ruangan kerjanya Dito.


Di dalam mobil, Mitha yang telah menunggunya lantas dipeluknya.


"Apa dia mau?" tanya Mitha.


Darwin melepaskan pelukannya, "Iya, dia sudah berjanji!"


Mitha tersenyum lega.


-


Pernikahan Dito dan calon istrinya tinggal menghitung hari. Keduanya kembali bertemu membahas tentang acara dan perjumpaan dirinya dengan Darwin.


"Jadi, kamu ingin membantu mereka?" tanya Nadine.


"Ya, aku ingin setelah kita menikah tidak meninggalkan masalah dengan orang lain."


Nadine tersenyum, "Aku senang mendengarnya."


"Aku juga telah memberikan peringatan kepada mereka jika berani menyenggolmu maka kutak tinggal diam."


"Sayang, terima kasih 'ya!"


Dito mengangguk tersenyum.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk mengembalikan nama baik toko mereka?"


"Aku juga tidak tahu."


"Bagaimana jika kita memborong jualan mereka lalu dibagikan kepada orang-orang di jalan?" saran Nadine.


"Boleh juga, aku akan menyuruh Kak Troy mengurusnya," jawab Dito.


Selesai makan siang keduanya pun pulang.


***


Sesuai janji Dito, dirinya memesan 30 kotak kue dari toko milik Mitha yang berada di Kota C sekaligus menyebarkan brosur diskon belanja.


Mitha tampak gembira ketika Dito dan Nadine menepati janjinya. Darwin yang tidak lagi bekerja di perusahaan memilih fokus membantu kekasihnya.


Seorang pria yang menjadi orang suruhan Dito menghampiri keduanya, "Kami telah menjalankan apa yang kalian minta. Saya ingatkan sekali lagi, jangan pernah berani menyentuh keluarga Mahesa dan Malik."


"Baik, Tuan." Darwin dan Mitha mengucapkannya serentak.


Pria tersebut kemudian berlalu.


Mitha dan Darwin tersenyum senang.


"Aku tidak akan mengusik mereka lagi, Win."


"Aku juga, cukup yang kemarin mereka menjatuhkan kita."


"Bagaimana tanggapan orang tuamu sekarang?" tanya Mitha.


"Sejak aku berhenti dari perusahaan itu seminggu lalu, mereka tidak mendiamkanku!"

__ADS_1


Mitha mengelus punggung kekasihnya, "Kita harus buktikan pada mereka bahwa bisa mandiri."


"Ya, aku janji akan segera menikahimu," ucap Darwin.


-


Troy memberikan laporan kepada Dito jika perintahnya telah ia laksanakan melalui anak buahnya.


"Semoga saja mereka menepati janjinya," ujar Dito.


"Iya, Tuan."


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama," ujar Troy. "Kalau begitu, saya permisi, Tuan." Lanjutnya.


"Kak, aku boleh minta bantuanmu lagi?"


"Bantuan apa, Tuan?" tanya Troy dengan sopan.


"Hari ini calon kakak ipar pulang dari Kanada, aku mohon untuk menjemputnya," jawab Dito.


"Saya tidak tahu bagaimana orangnya, Tuan."


"Aku akan mengirimkan fotonya lewat ponsel," ucap Dito.


Troy mengangguk mengiyakan.


Tak menunggu lama sebuah notifikasi pesan di aplikasi berwarna hijau Troy terima. Ia lalu membukanya dan mengamatinya.


"Dia akan tiba dua jam lagi, Nadine dan keluarganya tak sempat menjemputnya. Jadi, dia meminta tolong padamu," ucap Dito.


"Baiklah, Tuan. Saya akan ke bandara menjemputnya," ujar Troy.


"Terima kasih, Kak."


Troy menundukkan sedikit kepalanya, lalu berpamitan.


Troy berjalan ke parkiran dengan cepat karena dari kantor ke bandara membutuhkan waktu 1 jam belum lagi macet.


Troy tiba setengah jam sebelum jadwal kedatangan pesawat. Dia berdiri memperhatikan orang-orang yang hilir mudik.


Hampir sejam, dirinya menunggu akhirnya Troy menelepon Dito. "Tuan, pesawat dari Kanada telah tiba tapi saya tidak melihat kakaknya Nona Nadine."


"Nadine baru mengabarkan aku, jika kakaknya menunggumu."


"Sebentar aku akan minta kepada Nadine," jawab Dito, lalu mematikan ponselnya.


Tak lama ponsel Troy bergetar, Dito mengirimkan nomor ponsel kakaknya Nadine.


Gegas, ia menghubungi nomor tersebut dan tersebut. "Halo, Nona Naysilla!"


"Halo, ini siapa?"


"Saya Troy, karyawan Tuan Dito yang akan menjemput Nona."


"Oh, jadi kamu yang akan menjemputku?"


"Iya, Nona. Kalau saya boleh tahu, anda menggunakan pakaian warna apa?"


"Apa kamu tidak diberi fotoku?" tanyanya kesal.


"Saya memiliki foto Nona tapi di perhatikan dari tadi tak ada penumpang yang memiliki wajah sesuai foto."


"Kamu pakai baju apa?" tanya Naysilla.


"Kaos berwarna merah, Nona."


"Celana panjang atau pendek? Dan warna apa?"


"Celana panjang berwarna hitam."


"Aku di belakangmu!"


Troy membalikkan badannya, sejenak terdiam memandang wajah Naysilla yang lebih cantik dari fotonya.


Naysila memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berjalan mendekati Troy yang masih mematung. "Apa kamu tahu aku menunggumu setengah jam?"


Troy tersentak dengan cepat ia menundukkan kepalanya dan menjawabnya, "Maaf!"


"Coba lihat, foto mana yang dikirimkan mereka padamu!" pinta Naysilla padanya.


Troy lantas menunjukkan foto Naysilla.


"Astaga, ini foto empat tahun lalu. Jelaslah berbeda," omelnya.

__ADS_1


"Nona memakai topi jadi saya tidak mengenalinya," ucap Troy.


"Aku begini cantik, kamu tidak mengenalnya. Dasar!"


"Maaf, Nona."


"Cepat bawa koperku!"


Troy mengiyakan.


Keduanya memasuki mobil, Naysilla duduk di kursi penumpang belakang memandangi langit ibukota yang sudah lama tak dirinya lihat.


Naysilla tinggal di luar negeri hampir 7 tahun, ia sekolah sekaligus mencari pekerjaan di sana sebelum memimpin perusahaan keluarganya.


Kepulangannya karena adiknya ingin menikah dan kebetulan juga dirinya tak belum pernah pulang sama sekali.


Keluarganya saja yang selalu mengunjunginya di sana.


Selama perjalanan Troy lebih banyak diam, dia akan menjawab jika ditanya.


"Kamu karyawannya Dito, bagaimana sikap dan sifat asli calon adik iparku itu?" tanya Naysilla.


"Tuan Dito sosok bertanggung jawab, saya yakin jika Nona Nadine berada di tangan yang tepat."


"Kamu berkata seperti itu karena bawahannya, kan?"


"Itu yang pertama, Nona. Dan kedua semoga jadi kenyataan," jawab Troy.


"Aku tidak menyangka jika Nadine akan lebih dahulu menikah," ucap Naysilla.


Troy hanya diam.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Naysilla.


"Belum, Nona."


"Memangnya berapa usiamu?"


"Tiga puluh tiga tahun, Nona."


"Sudah pantas untuk menikah," celetuknya.


Troy kembali diam.


"Aku lapar, bisakah kita singgah di restoran terdekat?"


"Nona, mau makan di mana?"


"Terserah."


Troy akhirnya mengarahkan mobilnya di sebuah warung soto ayam.


"Kenapa kita ke sini?" Naysilla tampak heran.


"Nona tadi bilangnya terserah," jawab Troy.


"Memang, tapi apa di sini makanannya enak?"


"Sangat enak, Nona. Keluarga Tuan Leon Mahesa sering kemari," jawab Troy.


"Baiklah, kalau begitu aku akan coba!" Naysilla memegang kenop pintu lalu berkata, "Kamu temani aku makan, ya!"


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa!" tolak Troy secara halus.


"Aku tidak mau makan sendiri. Ayo lekas turun!" titahnya.


Dengan terpaksa, Troy lantas keluar dan menemani calon kakak iparnya makan.


"Kamu harus pesan juga karena tak bisa melihat orang lain menungguku makan!"


"Saya masih kenyang, Nona."


"Ini waktunya makan siang, jangan menolaknya!"


Troy menghela napas pasrah.


Selang beberapa menit, hidangan 2 mangkok soto dan nasi tersaji di depan mereka.


Naysilla mencium aroma soto yang sangat menyengat dan mampu membuat cacing di perutnya memberontak. Perlahan ia mencicipi kuahnya yang segar dan menikmati seluruh isi dalam mangkok.


Troy juga memakan soto yang telah ada di depannya.


"Sangat enak!" puji Naysilla.


Troy tak berkata apapun.

__ADS_1


Tak sampai 30 menit, keduanya mengakhiri makan siangnya. Naysilla yang membayarinnya.


Troy melajukan kendaraannya menuju kediaman Malik Ikssa.


__ADS_2