Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 8- Mengunjungi Toko Kue Mitha


__ADS_3

Keesokan paginya, Nadine menarik koper kecil miliknya. Hal itu membuat kedua orang tuanya heran sekaligus bingung.


"Kamu ingin kabur dari rumah ini?" tanya Rita.


"Kalau aku mau kabur dari semalam, Ma. Mana mungkin juga bawa koper kecil begini," Nadine menarik kursi lalu duduk.


"Mama pikir kamu akan kabur bersama dia," celetuk Rita.


"Aku memang mau pergi dengan dia, Ma."


"Apa!" Rita tampak kaget. "Kalian ingin lari?" lanjut bertanya.


"Untuk apa aku lari, Ma. Lebih baik naik mobil," jawab Nadine mengoles roti dengan selai.


Malik yang mendengarnya tertawa kecil.


"Mama serius, Nadine!" kesal Rita.


"Aku serius juga, Ma."


"Memangnya kamu mau ke mana dengan Dito?" tanya Malik.


"Aku mau ke luar kota menemui Mitha, Pa. Sudah lama ku tak bertemu dan mengobrol dengannya."


"Kenapa tidak menyuruh Mitha ke sini saja?" tanya Rita.


"Mitha akhir-akhir ini sangat sibuk, terakhir kami bertemu di malam sebelum kejadian itu," jawabnya.


"Kamu sudah memberitahunya kalau akan datang?" tanya Rita.


"Belum, Ma. Ku ingin memberikan kejutan untuknya," jawabnya lagi.


"Bagaimana jika dia tak ada di sana?" tanya Malik lagi.


"Ya, aku dan Dito akan menghabiskan waktu berdua. Lagian juga kami tidak terikat pernikahan dengan siapapun."


"Kamu harus menjaga jarak dengan Dito, ingat karena pria itu hubungan pertunanganmu kandas," ucap Rita.


"Iya, Ma. Aku dan Dito bisa menjaga diri. Jika Papa dan Mama ingin dia melamarku, hari ini juga dia akan datang melaksanakannya," Nadine berkata dengan santai.


"Apa yang akan dikatakan keluarga Darwin padamu jika Dito melamarmu?" tanya Rita yang tak suka.


"Biarkan saja, Bu. Hubungan kami telah selesai, papa sudah memberikan sejumlah uang. Jika mereka berani mengungkit masa lalu aku dan putranya, ku akan memberitahu semua orang." Nadine berkata dengan senyuman.


Ponsel Nadine berdering.


"Suruh dia menemui Papa!" ucap Malik.


Nadine mengangkat telepon dan menjawabnya, "Papa menyuruhmu menemuinya, jadi silahkan masuk!"


Nadine lalu menutup teleponnya.


Tak lama kemudian Dito pun muncul, ia sangat begitu sopan menyapa kedua orang tuanya Nadine.


"Dito, kita sering bertemu tapi saya belum tahu tentang keluargamu. Apa kamu bisa menjelaskannya?" tanya Malik.

__ADS_1


"Pa, nanti saja meminta penjelasannya. Aku mau pergi ke luar kota," sahut Nadine menjawab.


"Papa hanya ingin tahu kamu berteman dengan siapa," ucap Malik.


"Papa kalau ingin tahu siapa Dito tanya saja Darwin, dia tahu semua tentangnya," jelas Nadine.


"Papa ingin mendengar langsung dari mulutnya, Nadine."


"Begini saja, Om. Saya akan menyuruh seseorang ke kantor Om Malik untuk menjelaskan siapa saya yang sebenarnya," ujar Dito.


"Kenapa harus menyuruh orang lain? Bisa saja mereka berbohong," tuding Rita.


"Ma, cukup. Aku dan Dito harus pergi. Besok sore kami akan kembali, kalian tenang saja. Tak ada sesuatu yang spesial di antara kami," ujar Nadine.


"Baiklah, Om akan tunggu orang suruhanmu itu di kantor," ucap Malik.


"Kalau begitu, kami berangkat. Ayo Dito!" ajak Nadine.


Begitu di dalam mobil, Dito mempertanyakan kenapa Nadine membawa koper.


"Aku tidak tahu kondisi cuaca di sana," Nadine memberikan alasan.


"Kita 'kan bisa menginap di hotel jika di sana panas," ujar Dito.


"Iya, aku tahu. Jangan banyak bertanya, cepat nyalakan mobilmu kita berangkat. Aku tak sabar ingin bertemu dengan Mitha dan mengobrol dengannya."


"Baiklah, Nona!" Dito menghidupkan mesin mobil kemudian melesat.


-


Perjalanan membutuhkan waktu 2 jam, akhirnya Nadine dan Dito tiba di toko kue milik Mitha.


Kedua wanita itu saling berpelukan.


"Kenapa tidak memberitahu aku jika kamu akan ke sini?"


"Aku ingin memberikan kejutan untukmu!" Nadine melepaskan pelukannya. "Aku tuh kangen sekali denganmu, sudah lama kita tak bertemu," lanjutnya berucap.


"Ta...tapi... harusnya ka... kamu bilang kalau akan datang, jadi aku bisa menyiapkan sesuatu," Mitha berkata dengan terbata.


"Kamu mau menyiapkan apa? Tidak perlu repot-repot, jika kami kemalaman bisa menginap di hotel, makan tinggal beli. Memangnya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Nadine.


Mitha tak segera menjawab.


"Hei!"


"Tidak ada yang ku sembunyikan, bukankah kita ini sahabat?" Mitha tersenyum.


"Ya, kamu benar. Sekarang cepat beri kami minum, aku sangat haus," pinta Nadine.


"Baiklah, tunggu sebentar!" Mitha melangkah ke arah dapur mini yang ada di dalam toko.


Nadine dan Dito duduk di kursi yang tersedia.


Dito memperhatikan sekeliling toko kue milik Mitha.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka Mitha mampu membuka toko kue seperti ini," ucap Nadine.


"Apa kamu ragu dengan kemampuannya?"


"Tidak, cuma setahun lalu dia mengatakan kalau orang tuanya bangkrut usaha rental mobil dan penginapan harus di tutup," ungkap Nadine.


"Jadi, menurutmu dari mana modal dia untuk membangun ini?" tanya Dito.


"Aku juga tidak tahu, nanti ku akan tanyakan," jawab Nadine.


Mitha datang dengan membawa 2 cangkir teh hangat dan beberapa potongan kue di piring keramik berukuran sedang.


"Maaf, aku hanya menyajikan ini saja. Jika ingin makan ku akan mengajak kalian di restoran depan sana!" ucapnya.


"Tidak apa-apa, kami makan kue buatanmu saja!" ujar Nadine.


"Kenapa kamu bisa pergi dengannya?" tanya Mitha.


"Aku harus pergi dengan siapa? Aku dan Darwin telah berakhir. Dia memiliki waktu, makanya ku mengajaknya," jelas Nadine.


"Oh," ucapnya singkat.


"Mitha, kamu pernah mengatakan kalau kedua orang tuamu mengalami kebangkrutan. Dari mana kamu mendapatkan modal membangun toko sebesar ini?" tanya Nadine.


Mitha melirik Dito lalu menjawab, "Dari tabunganku."


"Oh, begitu. Tapi, aku salut denganmu. Mampu menabung dan membangun toko ini, apalagi harga tanah di pinggir kota sangat mahal," ucap Nadine.


"Eh, iya Din. Lagian ini hanya sewa, ku tak sanggup untuk membelinya," ujar Mitha gugup.


Ponsel Mitha berdering, ia melihat nama si penelepon dengan hati-hati. Gegas ia menonaktifkannya.


"Siapa? Kenapa tidak dijawab?" tanya Nadine.


"Bukan, siapa-siapa. Hanya orang iseng saja!" jawab Mitha.


"Ternyata ada juga orang iseng yang mengganggunya, persis seperti aku!" Dito menyindir seraya tersenyum menyeringai menatap Mitha.


"Ya, benar." Nadine menimpali.


"Jika dia pria iseng, kenapa masih mau dekat dengannya?" tanya Mitha pada Nadine.


"Karena aku tidak punya pilihan lagi, dia selalu ada waktu dan siap siaga," ungkap Nadine.


"Sepertinya kamu dan dia cocok juga," celetuk Mitha.


"Jangan berkata seperti itu, nanti dia bangga," ucap Nadine membuat Dito menyibak rambutnya ke belakang.


"Kan, kalian sangat begitu akrab," ujar Mitha.


"Ini hanya kebetulan saja, entah kenapa dia berbeda dengan Darwin," tutur Nadine.


"Aku 'kan sudah pernah bilang, jika diriku terbaik," Dito berkata bangga.


"Lebih baik kalian menikah," saran Mitha.

__ADS_1


"Sepertinya kami harus menunggumu lebih dahulu menikah," sindir Dito menyeringai.


Mitha menelan salivanya.


__ADS_2