Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 25 - Masih Berusaha Menjodohkan


__ADS_3

Sebelum pindah ke rumah yang di bangun Dito, keduanya pun tinggal sementara di kediaman orang tuanya Nadine.


Begitu sampai, Rita menyambut kedatangan putri bungsunya dengan pelukan. "Mama, rindu sekali denganmu."


"Diih, Mama terlalu berlebihan. Nadine itu baru pergi sehari sudah dirindukan. Lah aku, berapa tahun di luar negeri tak pernah berkata begitu," singgung Naysilla.


"Kamu sendiri yang memaksa ingin sekolah dan bekerja di sana. Kenapa jadi menyalahkan Mama?" Rita protes.


"Ma, Kak, jangan berdebat. Kalian tidak malu dilihat Dito dan Kak Troy," ujar Nadine.


Kedua wanita itu melihat pria yang dibelakang Nadine dan tersenyum nyengir.


"Tuan, saya izin balik ke kantor!" pamit Troy.


"Tunggu!" panggil Rita.


Troy menoleh.


"Kamu makan siang di sini bersama kami!" ajak Rita.


"Tapi, Nyonya..."


"Ayo, Troy. Jangan menolak!" ucap Dito.


Troy akhirnya mengiyakan.


Kelimanya menikmati makan siang bersama tanpa Malik karena sedang berada di kantor.


"Troy, ini semua masakan Naysilla. Sejak di luar negeri dia jadi mandiri dan sangat pintar memasak," Rita membanggakan putrinya di depan asisten menantunya.


"Pasti pria yang menikahinya sangat beruntung," lanjutnya.


Nadine dan Dito hanya mengulum senyum, sedangkan Naysilla menahan malu.


"Nay dan Nadine memang berbeda tapi dua-duanya sangat kami sayangi," ujar Rita.


Troy hanya tersenyum tipis.


"Kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Rita pada Troy.


"Mama, kenapa bertanya hal itu?" tegur Naysilla dengan nada suara pelan.


"Belum, Nyonya." Jawab Troy.


"Kebetulan sekali, Naysilla juga belum," ucap Rita.


"Troy sedang dekat seseorang, Ma." Dito akhirnya berbicara.


"Benarkah? Bagaimana orangnya? Apakah lebih cantik dari Naysilla?" cecar Rita.


"Ma, biarkan Troy menjelaskan," ujar Naysilla.


"Kami hanya sekedar teman, Nyonya."


"Oh, hanya teman. Tapi, saya harap jangan terlalu dekat-dekat dengannya," ucap Rita.


"Ma, kenapa melarang dia dekat dengan orang lain?" Naysilla mulai kesal.


"Biar dia dekat denganmu," jawab Rita.


Naysilla memijit pelipisnya.


Selesai makan siang, Naysilla mendekati Troy yang hendak pergi.


"Tunggu sebentar!" panggil Nay.


Troy menoleh dan melepaskan pegangan kenop mobil.


"Maafkan perkataan Mama tadi."


"Nyonya tidak melakukan kesalahan apapun, Nona."


"Eh, maksudnya perkataan tentang rencana perjodohan kita," jelas Naysilla.


Troy hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mama memang suka begitu...." Naysilla terdiam karena sangat gugup berbicara dengan pria yang di depannya.


Troy masih mendengar ucapan Nay tanpa menyela.


"Sekali lagi maaf!" Nay menundukkan kepalanya.


Troy menggerakkan dagunya.


"Kalau begitu saya permisi, Nona. Selamat siang!" Troy membuka pintu mobil dan berlalu.


Naysilla menarik napas lalu dihembuskannya.


"Kalian sangat dekat, ya!"


Naysilla terjengat kaget mendengar suara dari belakangnya.


"Mama, Kak Nay mau dijodohkan dengan Kak Troy!"


Naysilla mendelikkan matanya lalu menoleh ke belakang, menatap tajam sang adik.


"Suamiku, Kak Nay ingin memarahiku. Tolong aku!" Nadine berkata manja dan menggoda mengejek sang kakak.


"Nadine!" pekik Kak Nay.


Sang adik malah tertawa lepas.


Naysilla ingin mencubit pipi Nadine namun wanita itu bergegas kabur.


"Awas kamu, ya!"


Nadine semakin tertawa.


"Nadine, Nay, kalian itu sudah dewasa. Kenapa seperti anak kecil yang kejar-kejaran?" tegur Mama Rita menghampiri kedua putrinya di ruang tamu.


"Kak Nay ingin menyiksaku, Ma." Nadine berkata sembari tersenyum.


"Hei, kamu duluan yang menggangguku!" Naysilla tak mau kalah.


"Apa yang telah dilakukan Nadine padamu?" Rita mengarahkan wajahnya dihadapan putri sulungnya.


"Aku hanya bilang kalau Kak Nay menyukai Kak Troy," jawab Nadine tersenyum puas.


"Aku tidak pernah mengatakan jika menyukainya," ucap Naysilla.


"Hari ini bilang tidak, siapa tahu besok berubah," ledek Nadine.


"Mama senang jika kamu menyukainya," Rita tersenyum.


"Ma... jangan dengerin kata Nadine," ucap Naysilla.


Dito muncul di tengah-tengah keluarga istrinya.


"Sayang, Kak Nay suka dengan Kak Troy. Apa kamu setuju jika mereka serius?" Nadine menatap suaminya.


"Tentunya, aku senang jika asisten papa menikah dengan kakak iparku," Dito tersenyum seakan ikut menggoda.


"Kalian, sungguh menyebalkan!" Naysilla pun pergi dengan wajah merah karena malu.


Tidak dipungkiri, jika berdekatan dengan Troy jantungnya berdetak lebih cepat. Seketika rasa gugup serta segan hinggap dihatinya.


Di dalam kamar Naysilla menarik napas perlahan lalu ia hembuskan agar tenang. Menghilangkan perasaan yang sulit dijelaskan.


"Dia memiliki kekasih, aku tidak boleh berharap lebih karena itu akan menyakitkan!" gumamnya.


-


Malam harinya, Troy datang ke kediaman Malik. Tentunya atas perintah Dito yang menyuruhnya membelikan sebuket bunga mawar merah.


Begitu sampai rumah tampak sepi hanya ada beberapa karyawan yang kebetulan melintas dan menyapa dirinya.


"Apa Tuan Dito di rumah?" tanya Troy kepada pelayan yang membukakan pintu.


"Tuan Dito, Nona Nadine, Tuan dan Nyonya Besar sedang keluar, Tuan."


"Keluar?" Troy mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Iya, mereka ke rumah mertuanya Nona Nadine."


"Lalu bunga ini?"


"Nona Naysilla ada, Tuan. Biar saya panggilkan!"


"Tidak usah, terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" pamit pelayan wanita tersebut.


Troy mengambil ponsel di saku celananya dan menelepon Dito tak lama ia menutup panggilannya.


Beberapa menit kemudian, Naysilla dengan memakai piyama tidur, tanpa riasan dan rambut di cepol turun menghampiri Troy.


"Buat, Nona!" menyodorkan buket bunga.


"Buat saya?" Naysilla tampak bingung, walau tangannya telah memeluk buket bunga.


"Iya, Nona. Saya disuruh Tuan Dito dan istrinya untuk memberikan ini kepada anda."


"Nadine bilang kalau kamu akan menitipkan sesuatu untuk mereka," ujar Naysilla.


"Kata Tuan Dito, ini bunga buat Nona."


"Mereka sungguh buat pusing saja," Naysilla menggerutu.


"Kalau begitu...."


Ponsel Troy berbunyi ketika hendak berpamitan.


"Halo, Tuan."


"Tapi, Tuan..."


Panggilan berakhir.


Naysilla masih berdiri memperhatikan pria yang ada dihadapannya.


"Saya ditugaskan oleh Tuan Dito untuk menjaga Nona."


Hah.


"Saya akan di sini sampai mereka pulang," ucap Troy.


"Aku tak perlu ditemani, lagian di rumah ini tidak tinggal sendirian."


"Saya hanya menjalankan tugas, Nona."


"Apa lagi yang mereka rencanakan?" Naysilla menggumam.


Troy lalu duduk di kursi yang ada di teras.


"Kamu duduk di dalam saja, aku tidak bisa menemanimu dengan pakaian ini kalau diluar."


"Saya di sini saja, Nona."


"Tidak mungkin kamu sendirian sedangkan aku berada di dalam. Ayo masuk!" ajaknya.


Troy masih enggan masuk ke rumah.


"Kamu tidak perlu khawatir, di dalam rumah bukan hanya ada aku. Ada pelayan juga," jelas Naysilla.


Troy akhirnya mau diajak untuk duduk di ruang tamu.


"Aku mau meletakkan ini!" menunjukkan bunga. "Dan menyuruh pelayan membuat minuman untukmu," lanjutnya.


Troy mengangguk.


Setelah meletakkan bunga, Naysilla duduk bersama menemani Troy. Keduanya saling berhadapan dan diam.


Pelayan membawa 2 cangkir teh hangat.


"Silahkan diminum!" ucap Nay.


Troy mengambil cangkir teh perlahan menyeruputnya, meletakkan kembali dan menundukkan pandangannya.

__ADS_1


Hampir 10 menit dalam keheningan, akhirnya Naysilla bertanya, "Wanita yang dekat denganmu di pesta pernikahan adikku apakah kekasihmu?"


__ADS_2