
Troy menjawab, "Bukan, Nona."
"Lalu dia siapa?"
"Sekretarisnya Tuan Dito, kebetulan kami masuk ke perusahaan di tahun yang sama." Jelas Troy.
"Oh, begitu."
Kembali hening.
"Dia sangat cantik," puji Nay.
"Dia memang sangat cantik, pekerja keras dan lembut," Troy berkata seraya tersenyum.
"Kamu menyukainya?"
"Entahlah, Nona."
"Apa dia sudah memiliki kekasih?" tanya Nay lagi.
"Belum, Nona."
"Kenapa kalian tidak jadian saja?"
"Lebih baik menjadi teman saja, Nona."
"Begitu, ya. Apa kamu pernah memiliki trauma dengan wanita lain?" Nay penasaran.
Troy tak menjawab.
"Sorry," Nay jadi merasa bersalah.
Troy tersenyum tipis.
Keduanya saling diam.
Nay sedari tadi terus melihat jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam.
"Nona, ingin tidur?"
"Aku memang sudah mengantuk, tapi kamu masih di sini tidak mungkin tinggal tidur 'kan?" Nay menatap pria dihadapannya dengan mata mengecil.
"Saya tidak apa-apa di sini jika Nona ingin tidur."
"Aku akan tetap di sini menemanimu," ucap Nay berulang kali memijit pangkal hidungnya.
Troy pun tak bisa memaksa.
Nay tak mampu menahan matanya akhirnya tertidur di sofa.
Troy hanya memperhatikan dari ujung meja, karena tak berani menyentuh atau memindahkannya ke kamar tidur. Akhirnya ia mengirimkan pesan kepada Dito.
Tak lama pesannya dibalas Dito yang mengatakan jika 10 menit mereka tiba.
Benar saja 10 menit kemudian, Dito beserta istri dan mertuanya pun sampai di rumah.
Malik melihat putrinya telah tidur di sofa.
"Nona baru saja tertidur, Tuan." Troy menjelaskan sebelum bertanya.
"Tidak mungkin kita biarin tidur di sini, Troy tolong kamu angkat putri saya ke kamarnya," titah Malik.
Troy tampak terkejut.
"Suami saya mana kuat lagi mengangkat tubuh Nay, tidak mungkin juga menyuruh Dito," jelas Rita.
"Kan, bisa dibangunkan," celetuk Nadine.
Rita memberi kodenya dengan melebarkan matanya ke arah putri keduanya.
"Memang benar, Kak Troy saja yang angkat Kak Nay," Nadine menyetujui ucapan ibunya. Lalu mengarahkan pandangannya kepada suaminya, "Ayo kita ke kamar, sayang. Aku sudah mengantuk!" menarik tangan Dito.
Troy dengan terpaksa mengangkat tubuh Nay yang telah pulas ke kamar, dibelakangnya ada Rita mengikutinya.
Troy membaringkan tubuh Nay dengan hati-hati, Rita segera menyelimuti putrinya.
"Terima kasih, maaf merepotkanmu."
"Sama-sama, Tante. Kalau begitu, saya permisi. Selamat malam!" Troy pun berlalu.
****
Esok paginya, ketika sarapan Naysilla bertanya kepada kedua orang tuanya siapa yang telah memindahkan tubuhnya ke kamar.
"Tebak saja sendiri," ucap Rita.
"Tidak mungkin Papa atau Dito," Naysilla berusaha menebak.
__ADS_1
"Memang bukan kami," sahut Malik.
"Lalu siapa?" Naysilla penasaran.
"Kak Troy," jawab Nadine.
"Apa!"
"Iya, Troy yang mengangkatmu. Sebenarnya ingin membangunkan kamu tapi kami kasihan apalagi dia bilang kalau dirimu baru saja tertidur," ungkap Rita.
"Kenapa harus dia, sih?" Nay jadi malu.
"Mau kamu siapa? Karena tubuhnya juga besar dan para pelayan pada tidur. Ya sudah, kami suruh saja dia," jawab Rita.
"Pasti....."
"Dia tahu berat badan Kak Nay yang berat," ledek Nadine.
Naysilla memanyunkan bibirnya.
"Kamu harus mengucapkan terima kasih padanya, Nak," ujar Rita.
"Kenapa harus mengucapkan itu, Ma?" tanya Naysilla.
"Karena dia sudah menemani dan membantu kami membopongmu," jawab Rita.
"Aku tidak mau, itu sangat memalukan," Nay menolaknya.
"Cih, memalukan tapi menikmati digendong," sindir Nadine.
"Aku tidak memintanya untuk melakukan itu," ujar Naysilla.
"Ikuti saja mau Mama kamu," sahut Malik.
"Kakak sebentar lagi mau balik ke sana, anggap saja sebagai tanda perpisahan," ucap Nadine.
"Aku masih seminggu lagi di sini," ujar Nay.
"Tumben betah, biasanya cuma seminggu saja," singgung Nadine.
"Aku ingin melihat rumah baru kalian," ujar Nay beralasan.
"Kamu kerja di sini saja, Nay." Pinta Malik.
"Tidak, Pa." Nay menolaknya.
"Tidak ada, Ma."
"Jangan-jangan Kak Nay ada pria yang ditaksirnya," celetuk Nadine.
"Itu semua bohong, Ma!"
-
Naysilla meminta bantuan Dito untuk bertemu dengan Troy karena jika di kantor akan mengundang perhatian karyawan lainnya.
Nay berkali-kali melihat kearah jalanan yang basah karena rintikan air hujan. Hatinya berdebar sangat kencang tak sabar ingin bertemu.
Troy keluar dari mobil, bergegas menutup pintu dan berlari kecil ke teras kafe.
Mendorong pintu kaca kafe, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Naysilla.
Troy berjalan menghampiri wanita yang telah menunggunya. "Maaf lama, Nona."
Nay menoleh dan mendongakkan kepalanya, melempar senyum dan berkata, "Tidak apa-apa, silahkan duduk!"
Mengitari Naysilla, Troy duduk dihadapannya.
"Silahkan pesan makanan!" Naysilla menyodorkan buku menu.
Troy melihat daftar menu dan seorang pelayan pria datang menghampiri mereka.
"Kopi susu hangat." Troy melihat ke arah pelayan.
"Saya juga." Nay melakukan hal sama.
"Baiklah, mohon menunggu." Pelayan itu tersenyum kemudian berlalu.
"Apa yang ingin Nona bicarakan?"
"Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu," jawab Naysilla.
"Terima kasih buat apa?"
"Kamu sudah menggendongku ke kamar," jawab Naysilla tersenyum tipis.
Troy menautkan alisnya.
__ADS_1
"Ini karena Mama yang menyuruhku meminta maaf padamu," ucap Naysilla.
"Nona menyuruh saya ke sini hanya untuk itu saja?"
Nay mengangguk pelan.
"Astaga, saya pikir ada hal penting sehingga buru-buru mengerjakan pekerjaan kantor," ucap Troy.
"Maaf!" lirihnya.
"Kenapa Nona tidak telepon saja?" tanya Troy dengan nada dingin.
"Mama melarangnya."
"Oh."
"Apakah kamu memiliki waktu dalam minggu ini?" tanya Naysilla.
"Tuan Dito dan Nona Nadine akan memasuki rumah baru," jawab Troy.
"Kamu yang mengurusnya?"
"Iya, Nona."
Percakapan keduanya berhenti kala pelayan menghidangkan 2 cangkir kopi.
"Aku juga berencana akan kembali ke sana setelah Nadine dan suaminya pindah."
"Kenapa tidak di sini saja?"
"Buat apa?" Naysilla balik bertanya.
"Tuan Malik memiliki perusahaan besar, kenapa tidak bergabung dan bekerja di sini?"
"Aku ingin mandiri dan tak suka diatur, tapi jika ada hal lain yang membuatku menetap kutetap di sini." Naysilla menatap dalam pria yang dihadapannya seraya menyeruput minumannya.
Troy menghindari tatapan Naysilla yang akan membuat salah paham.
"Tidak pesan makanan?" Naysilla menghilangkan kecanggungan keduanya.
"Belum lapar, Nona."
"Aku sudah lapar," ujar Naysilla.
"Silahkan, Nona."
"Aku tidak mau pesan jika kamu belum lapar," ujar Naysilla.
Troy melihat arlojinya, "Saya buru-buru, Nona!" menyesap kopi hingga setengah.
"Ada pekerjaan, ya?"
"Iya," jawab Troy.
Naysilla tahu jika pria yang dihadapannya sedang berbohong karena adik iparnya mengatakan kalau Troy tak memiliki pekerjaan penting semua diserahkan kepada karyawan lainnya.
"Silahkan, aku nanti naik taksi saja!" Naysilla berkata dengan sengaja.
Troy lalu berdiri, menundukkan sedikit kepalanya dan bergegas pergi.
Naysilla menoleh ke belakang memperhatikan punggung Troy dari kejauhan.
Naysilla meraih cangkir kopi lagi lalu menyeruputnya, ia tertawa kecil dan bergumam, "Kenapa aku bertindak bodoh seperti ini?"
Memesan makanan dan menikmatinya seorang diri.
Selesai mengisi perutnya, Naysilla menyetop taksi. Ia meminta sopir untuk membawanya ke sebuah danau buatan terletak di taman kota. Begitu sampai ia turun dan membayar ongkos.
Naysilla menjinjing tasnya, duduk menghadap danau. Ketika masih remaja dirinya dan Nadine sering mengunjungi tempat ini.
Malam harinya, Rita tampak mondar-mandir di teras rumah.
"Ma, kenapa?" tanya Malik ketika baru saja tiba di kediamannya.
"Naysilla tidak dapat dihubungi."
"Bagaimana bisa?" tanya Malik.
"Tadi siang dia masih menghubungi Mama, sampai sekarang ponselnya tak aktif."
"Coba hubungi Troy," usul Malik.
"Sudah, Pa. Katanya ketika dia pergi, Naysilla masih di kafe."
"Tunggu sejam lagi, Ma. Pasti dia pulang," Malik menenangkan istrinya.
"Iya, Pa."
__ADS_1