Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 20 - Mitha Dan Darwin Memohon


__ADS_3

Keesokan paginya Darwin mendatangi kantor Nadine. Ya, kedatangannya untuk memberitahu wanita itu jika Dito telah mengancam kekasihnya.


"Aku tidak mau bertemu dengannya, silahkan usir dia dari sini!" perintah Nadine.


"Baik, Nona."


Darwin tampak kesal jika resepsionis kantor menyuruhnya untuk pulang.


Darwin membuang rasa malunya lantas mengirimkan pesan kepada Nadine, dia memohon kepada mantan tunangannya itu untuk mengembalikan semua pelanggan toko kue milik Mitha.


Nadine hanya membaca pesan tanpa menjawabnya.


Darwin tak ingin menyerah menunggu Nadine keluar dari kantor di mobilnya.


Dan benar saja, Nadine keluar dari gedung berjalan seorang diri.


Darwin segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri mantan kekasihnya itu. "Nadine!" panggilnya.


Nadine menoleh, lalu melanjutkan langkah kakinya.


"Nadine, tunggu. Aku perlu bicara padamu," ucap Darwin.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," Nadine berkata tanpa menatap.


"Tapi, aku perlu kita bicara!"


Nadine menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, "Kamu mau membicarakan apa?"


"Aku mau kamu mengembalikan pelanggan toko kue Mitha," jawab Darwin.


Nadine mengernyitkan keningnya.


"Calon suamimu telah memfitnah Mitha," ujar Darwin.


"Oh, baguslah!" Nadine malah tersenyum.


"Nadine, aku mengaku salah. Tapi, tolong jangan hancurkan bisnis kami!" mohonnya.


"Apa kamu lupa jika kalian yang telah menghancurkan aku?"


"Aku tidak lupa, tolong maafkan aku dan Mitha!"

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan kalian, maka pergilah dari kehidupanku!"


"Aku janji tidak akan mengganggumu lagi!"


"Baiklah, kalau begitu aku juga tidak berjanji akan mengembalikan pelanggan kalian!"


"Nadine hanya dirimu yang dapat berbicara kepada Dito," ucap Darwin.


"Aku tidak bisa membantu karena pernikahan kami sebentar lagi terlaksana. Lebih baik, temui saja dia!" Nadine lanjut melangkah dan memasuki mobilnya.


-


Darwin lantas menuju gedung kantor Dito. Begitu sampai dirinya ditolak penjaga keamanan.


"Saya ingin berbicara sebentar dengan Tuan Pradito," ucap Darwin.


"Maaf, Tuan. Anda dilarang masuk ke gedung ini. Lagian Tuan Pradito tidak ada di sini. Dia sedang di luar kota," jelas pria itu.


"Kalian tidak berbohong, kan?"


"Untuk apa kami berbohong, Tuan."


Darwin kemudian berlalu.


Sejam kemudian, keduanya pun bertemu di sebuah kafe.


"Bagaimana?" tanya Mitha tak sabar.


"Aku belum berhasil."


"Kenapa?"


"Nadine menyuruhku untuk menemui Dito tapi dia lagi di luar kota."


"Berapa lama dia di luar kota?" tanya Mitha.


"Aku tidak tahu."


Mitha tampak diam dan berpikir.


"Kamu saja yang menemui Nadine," saran Darwin.

__ADS_1


"Mau diletakkan di mana wajahku ini," ucap Mitha.


"Terserah kamu, mau pelangganmu kembali atau tidak!" Darwin tampak kesal.


-


-


Membuang rasa egonya, Mitha mendatangi kantor Nadine seorang diri. Ia berjalan memasuki gedung tersebut.


"Saya ingin bertemu dengan Nona Nadine Malika," ucapnya.


"Maaf, nama anda siapa?"


"Mitha."


"Baiklah, tunggu sebentar!" karyawan wanita itu lalu menghubungi sekretaris Nadine.


Tak lama kemudian ia menutup teleponnya dan berkata, "Maaf, Nona Nadine tidak ingin bertemu dengan anda."


"Saya ini temannya!"


"Maaf, saya hanya menjalankan perintah dari Nona Nadine."


Mitha yang kesal lantas pergi dari gedung itu. Di dalam mobil, ia menekuk wajahnya.


"Bagaimana?"


"Dia sama sekali tidak mau bertemu denganku," jawab Mitha.


"Lalu bagaimana lagi cara kita agar dapat bertemu dengan mereka?"


Darwin sejenak berpikir.


"Apa kita pergi ke rumah orang tuanya Nadine?" usul Mitha.


"Aku tidak mau!"


"Kalau begitu kita tunggu Dito pulang dari luar kota," ucap Mitha.


"Terpaksa, kita tidak punya pilihan lagi."

__ADS_1


"Semoga Dito mau memaafkan kita!"


"Ya, semoga saja!" imbuh Darwin.


__ADS_2