
Empat hari kemudian....
Hari ini adalah akad nikah Dito dan Nadine. Acara di sebuah gedung, dekorasi pesta dan pelaminan berwarna hijau dan ungu mendominasi sesuai dengan kesukaan kedua calon mempelai pengantin wanita.
Nadine sedang dirias di sebuah kamar tampak juga Naysilla di sana.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Nay.
"Gugup, Kak."
"Setelah ini kamu akan sepenuhnya menjadi seorang istri. Pergi kemanapun harus izin pada suami."
Nadine mendengarnya tersenyum.
"Aku serius, Nadine." Nay menyakinkan adiknya.
"Kakak bicara begitu seakan pernah menikah."
"Teman-temanku yang mengatakannya," ujar Naysilla.
"Oh, memangnya teman Kak Nay semua sudah menikah?"
Naysilla mengiyakan.
"Kak Nay tidak ingin menikah?"
"Ya, aku ingin menikah tapi tidak dengan waktu dekat."
"Semoga nanti bunga yang aku lempar Kak Nay yang mendapatkannya, ya!"
"Aku malu harus mengikutinya."
"Tidak apa-apa Kak Nay buat seru-seruan saja."
-
Waktu pengucapan janji pernikahan pun digelar, Dito kini duduk berhadapan dengan Malik.
Pria paruh baya itu secara lantang berkata menikahkan putrinya dengan seorang pemuda.
Dito secara tegas dan jelas membalas ucapan Malik lalu diiringi kata 'Sah' dan kata syukur dari para tamu undangan.
Tepukan dan senyuman terpancar dari para tamu yang hadir. Dito menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebagai tanda kelegaan yang resmi menjadi suami dari Nadine Malika.
Naysilla memeluk adiknya yang juga menyaksikan ikrar suci pernikahan dari layar televisi khusus. "Selamat, Nadine!"
"Terima kasih, Kak!" tangis haru lolos dari matanya Nadine.
Naysilla mengarahkan tisu di wajah sang adik, membantunya menghapus air mata agar tak menetes di pipi.
Panitia pernikahan mengetuk pintu kamar Nadine, menyuruh sang pengantin wanita untuk keluar menemui pengantin pria.
Nadine berjalan pelan diapit beberapa sahabat, sepupu dan kakaknya.
Nadine memasuki gedung, seluruh mata tertuju padanya yang terlihat sangat cantik seperti putri dalam negeri dongeng.
Dito terus tersenyum menatap istrinya yang berjalan mendekatinya.
Nadine tersenyum tipis, jantungnya berdegup kencang ketika sang suami menggapai tangannya.
Dito memeluk pinggang istrinya dan berbisik, "Senyumlah, sayang. Jangan gugup begitu!"
Nadine kembali tersenyum.
Dito menarik kursi dan mempersilakan istrinya duduk.
Karena gaun yang digunakan Nadine kembang dan panjang 2 orang panitia pernikahan membantunya duduk.
Malik tersenyum di depan putrinya.
Keduanya menandatangani berkas pernikahan sebagai bukti sah hubungan mereka.
Setelah itu, memasang cincin di jemari masing-masing dan menunjukkannya kepada para tamu.
Jepretan lensa kamera mengabadikan setiap momen dan ekspresi kedua mempelai.
Dito menggandeng tangan sang istri menuju pelaminan. Keduanya kembali berswafoto bersama keluarga dan tamu undangan.
__ADS_1
Dito tak hentinya melemparkan senyum begitu juga dengan Nadine.
Para tamu satu persatu meninggalkan tempat, Nadine dan Dito sejenak bisa duduk untuk menghilangkan rasa pegal kakinya.
"Nanti malam aku butuh terapis pijat," Nadine berkata pelan di telinga suaminya.
"Aku yang akan menjadi terapisnya," ujar Dito.
"Memangnya kamu bisa memijat aku?"
"Kamu mau bagian mana yang dipijat?" goda Dito.
Nadine menjawabnya dengan menyipitkan matanya.
Dito tertawa kecil menutupi mulut.
Nadine mencubit pelan pinggang suaminya, "Kamu tuh selalu saja menggodaku!"
"Aku akan memijatmu, sayang. Karena kutak sabar ingin tidur seranjang denganmu." Dito tersenyum menggoda.
Candaan keduanya berhenti ketika ada tamu yang menghampiri mereka.
Sementara itu, Naysilla mengobrol dengan beberapa keluarga dan saudaranya. Dari tadi ia memperhatikan para tamu yang hadir. Namun, tidak menemukan sosok Troy di tengah-tengah keramaian.
"Di mana dia? Apa dia tak datang? Bukankah ini hari spesial putra atasannya?" Beberapa pertanyaan muncul di kepalanya.
Naysilla akhirnya pamit pergi ke toilet.
Selesai dengan urusan toilet, Naysilla melihat Troy dan seorang wanita berdiri di pintu masuk acara tampak berbicara begitu sangat akrab.
Naysilla berniat menegurnya namun diurungkannya.
Naysilla kembali bergabung dengan keluarga dan saudaranya.
Beberapa menit kemudian perutnya terasa lapar, Naysilla bangkit dari duduknya dan melangkah ke meja yang menyediakan makanan.
Naysilla berpapasan dengan Troy yang sedang mengambil minuman.
"Hai!" sapa Nay.
"Kenapa baru kelihatan tadi ke mana saja?" tanya Naysilla berbasa-basi.
"Nona, maaf. Saya buru-buru!" Troy pun berlalu sembari membawa dua gelas minuman.
Naysilla memiringkan bibirnya, sedikit kesal karena dicuekin. Tak mau ambil pusing, ia lantas mengambil makanan yang diinginkannya.
Naysilla membawa beberapa kue dalam piring berukuran kecil dan segelas minuman buah menuju mejanya.
Matanya lagi-lagi melihat kebersamaan Troy dengan seorang wanita yang sama dilihatnya selepas dari toilet.
"Apa mungkin wanita itu kekasihnya?" batinnya.
"Nay, kenapa melamun?" tegur seorang wanita paruh baya.
"Eh, Tante. Tidak melamun hanya sedang mengingat sesuatu apa tadi yang lupa," jawab Naysilla memberikan alasan berbohong.
"Masih muda tapi sudah pelupa," ujarnya. "Tante, pamit pulang 'ya!" lanjutnya.
"Eh, iya Tante. Hati-hati, terima kasih sudah datang," ucap Nay.
"Iya, Nay. Semoga kamu segera menyusul Nadine ke pelaminan," do'anya.
"Semoga, Tante. Terima kasih do'anya," ujar Nay tersenyum.
Di meja makan sembari menikmati kue, ia kembali berpikir dan membatin, "Kenapa semua orang yang kutemui bicaranya selalu sama? Kapan nikah dan semoga segera menyusul."
Tepat jam 6 sore, acara telah selesai dilaksanakan. Tamu dari kalangan keluarga dan saudara satu persatu meninggalkan tempat.
Dito dan Nadine juga sudah pergi menuju hotel tempat mereka menginap.
Tinggal panitia acara yang tersisa.
Naysilla belum juga pulang padahal kedua orang tuanya serta mertua adiknya telah kembali ke rumah.
Naysilla masih mengobrol dengan beberapa orang temannya.
Hingga Troy datang menghampirinya, "Nona, tidak pulang?"
__ADS_1
Nay dan kedua temannya menoleh.
"Dia siapa, Nay?" tanya salah satu wanita.
"Dia asisten adik iparku."
"Oh," ucap kedua tamu wanita.
"Sebentar lagi, aku akan pulang."
"Baiklah," Troy kemudian berlalu.
Selang 5 menit kemudian, kedua temannya Nay juga pamit pulang.
Naysilla berpisah dengan temannya di pintu masuk gedung.
Tinggal Nay seorang diri memperhatikan langit yang hampir gelap. "Aku naik taksi saja!" gumamnya.
"Nona, biar saya antar pulang."
Nay yang terkejut menoleh ke belakang, "Kamu?"
Troy sedikit menundukkan kepalanya.
"Kenapa masih di sini?"
"Saya menunggu Nona."
"Hah!"
"Tuan Dito meminta saya untuk mengantarkan Nona Naysilla pulang."
"Tidak perlu mengantarku, aku bisa naik taksi," tolak Naysilla.
"Nona, saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Dito saja."
Nays menghela napas.
"Mari Nona saya antar!"
Nay pun mengangguk.
Keduanya kini berada di dalam mobil, Nay duduk di samping Troy karena sungkan jika harus di bangku penumpang belakang.
Troy hanya diam.
Naysilla melirik pria di sampingnya tanpa mengajaknya mengobrol.
Jalanan yang macet membuat Troy melajunya dengan pelan.
"Aku turun di sini!"
"Nona, ingin membeli sesuatu?"
"Tidak, aku hanya ingin jalan. Jika di sini mungkin setengah jam lagi sampai," jawab Nay.
"Nona, tidak boleh keluar dari mobil sebelum tiba di rumah."
"Kamu bisa putar arah menghindari macet, jadi aku turun di sini saja!"
"Saya akan tetap mengantarkan Nona sampai tujuan."
Nay pun diam.
Dan benar saja mereka tiba di kediaman Malik Ikssa 25 menit kemudian padahal dengan berjalan kaki hanya butuh waktu 10 menit dari tempat terjebak macet.
Naysilla berusaha membuka safety belt namun sepertinya sangat kesulitan.
Troy tanpa perintah bergegas membantu membukanya.
Naysilla dapat mencium rambut Troy yang wangi serta wajah pria itu dari samping.
Safety belt terbuka.
"Terima kasih!" Nay berkata gugup.
"Sama-sama, Nona."
__ADS_1