
Keesokan harinya....
Sore hari, Dito mendatangi kediaman Nadine ia memenuhi janji mengajak wanita itu pergi jalan-jalan berkeliling kota.
Dito mengajak Nadine ke taman tempat favorit wanita itu.
Setelah membeli cemilan dan minuman, mereka duduk memperhatikan orang berlalu lalang bersama orang terkasih.
"Kemarin sore aku tidak sengaja lewat kantornya Darwin dan kamu tahu apa yang aku lihat?"
"Ya."
"Aku melihat Mitha di sana, apa sebenarnya mereka berdua memiliki hubungan?"
"Aku tidak tahu, selama berteman dengan Darwin yang kutahu cuma kamu kekasihnya."
"Aku yakin sekali jika itu dia," jawab Nadine.
"Apa kamu sudah menghubungi Mitha?"
"Belum."
Sejam berada di taman, Dito mengajak Nadine kembali berkeliling dengan mengendarai mobil.
Dito sengaja melewati sebuah rumah yang menjadi kos-kosan.
Lagi-lagi Nadine melihat mobil Darwin di tempat itu.
"Dito, tolong berhenti!" titahnya.
Dito pun menghentikan laju kendaraannya.
Nadine menoleh ke belakang, "Itu mobilnya Darwin!"
Dito pun ikutan menoleh, "Ya, benar."
"Kenapa dia di sini?" tanya Nadine.
"Aku juga tidak tahu."
"Aku harus bertanya padanya!" Nadine bersiap-siap keluar dari mobil.
Dito segera mencegahnya, "Jangan!"
"Aku ingin bertanya saja, sedang apa dia di sini," ujarnya.
"Untuk apa? Kalian sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi!" Dito mengingatkan.
Nadine mengurungkan niatnya.
Tak lama kemudian, sepasang pria dan wanita keluar dari pagar.
Mata Nadine membulat ketika melihat sahabatnya mengenggam tangan mantan tunangannya begitu erat.
Nadine mengeraskan rahangnya, ia pun bergegas turun dari mobil.
"Nadine, kamu mau ke mana?" panggil Dito pura-pura.
Nadine berjalan menghampiri keduanya.
Darwin dan Mitha terkejut melihat kehadiran Nadine, keduanya pun melepaskan pegangan tangannya.
"Jadi, begini kelakuan kalian selama ini dibelakang ku?" tanya Nadine penuh emosi.
"A... aku...bisa jelaskan!" jawab Darwin terbata.
"Jelaskan apa?" tanya Nadine lantang.
"Nadine, aku minta maaf..." ucap Mitha.
"Aku tidak menyangka sahabatku sendiri tega mengkhianatiku seperti ini!" Nadine berkata dengan marah.
"Nadine....." Mitha ingin bicara.
"Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Nadine dengan nada tinggi.
"Kami sudah menjalin hubungan setahun lalu," jelas Darwin.
"Apa!" Nadine tampak terkejut.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus menjelaskannya?" bisik Mitha di telinga Darwin.
"Jadi, selama ini kalian mengkhianati aku!" Mata Nadine berkaca-kaca.
"Nadine, aku minta maaf!" ucap Mitha.
"Cukup! Kamu bukan sahabatku lagi. Aku benci kalian!" teriaknya.
Nadine lantas berlari menuju mobil, di dalam ia menangis.
Dito memberikan tisu, lalu bergegas pergi dari tempat itu.
"Aku benci mereka!" ucap Nadine sesenggukan.
"Aku tidak menyangka jika sahabatmu itu tega menyakitimu," ujar Dito seraya menyetir.
"Aku harus memberitahu Om Perrie dan Tante Selly."
"Apa kamu ingin balikan lagi dengan Darwin?"
"Tidak."
"Lalu untuk apa kamu menemui mereka?"
Nadine terdiam.
"Lebih baik kamu beritahu kedua orang tuamu saja!"
Nadine pun menyetujuinya.
-
Sesampainya di kediaman Malik Ikssa..
Nadine lantas memeluk Rita sesampainya di rumah.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Rita khawatir.
"Darwin, Ma."
"Kenapa dengan Darwin?" tanya Malik.
"Dia membohongi kita selama ini," jawab Nadine.
"Selama ini dia dan Mitha memiliki hubungan," jawab Nadine terisak.
"Mitha dan Darwin berpacaran?" tanya Rita.
"Iya, Ma. Bahkan sebelum kalian menjodohkan kami," jelas Nadine.
Malik mengepalkan tangannya, "Brengsek!"
"Kita harus memberitahu ini pada Perrie, Pa!" ucap Rita.
"Iya, kita selama ini telah dibohongi!" ujar Malik.
"Berarti Darwin tahu tentang uang kompensasi itu!" tebak Rita.
"Iya, padahal selama ini dia yang telah mengkhianati putri kita!"
Malam itu juga, Malik dan keluarganya mendatangi kediaman Perrie.
Sesampainya di sana kebetulan ada Darwin juga.
"Kenapa kalian datang malam-malam begini tanpa ada memberitahu kami terlebih dahulu?" tanya Perrie keheranan.
"Kami datang tidak ingin berbasa-basi," jawab Malik.
"Maksudnya, bagaimana?" tanya Perrie.
"Putranya telah membohongi kita," jawab Malik lagi.
"Membohongi bagaimana?" tanya Selly.
"Darwin, kamu yang akan bercerita atau Nadine?" Malik mengarahkan pandangannya kepada mantan calon menantunya itu.
"Darwin, apa maksud dari pertanyaan Om Malik?" tanya Selly.
"Maafin aku, Pa, Ma," ucap Darwin.
__ADS_1
Jantung Perrie dan Selly berdegup kencang.
"Aku yang mengkhianati Nadine terlebih dahulu," ucap Darwin.
"Maksudnya apa?" tanya Selly tak sabar.
"Aku menjalin hubungan dengan seorang wanita di belakang Nadine," ucap Darwin lagi.
"Jadi selama berhubungan dengan Nadine, kamu menjalin hati dengan wanita lain?" tanya Selly.
"Iya, Ma." Darwin tertunduk.
Perrie lantas menarik kerah baju Darwin dan membuat pria itu berdiri. Perrie melayangkan tamparan ke wajah putranya.
"Kamu sudah mempermalukan kami!" geram Perrie.
"Aku tidak mencintai Nadine, Pa."
"Jika kamu tidak mencintainya, kenapa harus menerima pertunangan ini?" tanya Selly.
"Aku terpaksa karena kalian begitu menyukai Nadine," jawab Darwin.
"Tapi, kamu tidak harus melakukan ini? Membohongi kami!" ucap Perrie emosi.
"Sekali lagi aku minta maaf, Ma, Pa, Om, Tante."
"Kami sangat kecewa padamu!" ucap Selly.
"Kami akan mengembalikan semua uang kompensasi itu," kata Perrie.
"Tidak perlu, aku sudah mengikhlaskannya. Tetapi hubungan pertemanan kita cukup sampai di sini," ujar Malik.
"Malik, aku minta maaf. Jangan karena hal begini, pertemanan kita berakhir." Mohon Perrie.
"Aku benar-benar kecewa dengan putramu," ucap Malik.
"Sekali lagi maafkan kami, apa yang harus aku lakukan agar pertemanan kita tidak berakhir?" tanya Perrie.
"Maaf, Perrie. Aku harus berpikir lagi, apakah persahabatan kita lanjut atau tidak. Karena aku sangat menyayangi putriku!"
Sepulangnya Keluarga Nadine, Selly mendekati putranya.
"Siapa wanita yang telah membuatmu mengkhianati Nadine?" tanyanya.
"Mitha, Ma. Aku mencintainya sebelum ku dan Nadine bertemu."
"Mitha siapa?" tanya Selly lagi.
"Mitha sahabatnya Nadine."
"Kamu berpacaran dengan sahabat Nadine sendiri, apa kamu tidak mikir perasaan Nadine?" tanya Perrie kesal.
"Nadine yang telah menjadi orang ketiga diantara kami, Pa."
"Seharusnya kamu menolak perjodohan ini jika memang mencintai wanita lain!" ucap Perrie.
"Aku tidak ingin mengecewakan kalian, Pa, Ma. Aku berusaha mencintai Nadine, tetapi tawaran uang itu membuatku mengakhiri semuanya." Ungkap Darwin.
"Jadi, kamu juga yang telah memfitnah Nadine?" tebak Perrie.
"Iya, Pa."
Perrie dan istrinya menarik napas, ia tidak menyangka putranya bisa berbuat nekat itu hanya untuk mengakhiri pertunangan.
"Mama minta kamu putuskan Mitha!" pinta Selly.
"Tidak, Ma. Aku tak mau memutuskan Mitha!"
"Mama tetap tidak akan menyetujui hubunganmu dengannya!" Selly berkata tegas.
"Karena wanita itu kamu menjadi sosok pria pengecut!" ucap Perrie.
"Pa, Ma, aku minta maaf. Aku sangat mencintai Mitha."
"Jika kamu masih keras kepala, jangan harap kamu akan mendapatkan harta kami!" ucap Selly.
"Ma, aku ini anak kalian satu-satunya."
"Karena dialah membuat hubungan kami dan keluarga Nadine menjadi renggang!" ujar Perrie.
__ADS_1
"Ma, Pa, aku tetap tidak akan memutuskan Mitha," Darwin berkata tegas.
"Terserah kamu, tapi kami tetap tidak akan menyetujui hubungan kalian!" Selly mempertegas perkataannya.