Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 22 - Dijodoh-jodohkan


__ADS_3

Keduanya tiba 1 jam kemudian, Naysilla membuka pintu dan berlari kecil menghampiri orang tuanya yang telah menunggunya tampak juga adiknya.


Keempatnya saling berpelukan dan melepaskan rindu, sementara Troy menurunkan barang-barang dari bagasi mobil.


"Siapa yang mengirimkan fotoku kepadanya?" tanya Naysilla pada keluarganya menunjuk Troy.


"Aku, Kak." Jawab Nadine.


"Kenapa kamu mengirimkan foto empat tahun lalu? Itu sudah terlalu lama, beruntung dia meneleponku!" omel Naysilla.


"Hanya itu foto yang sangat jelas wajahmu, Kak. Lainnya hanya separuh badan dan foto belakang. Rencananya aku mau mengirimkan foto ijazah sekolah," celetuk Nadine.


"Nadine!" Naysilla menyipitkan matanya.


Nadine yang mendapatkan tatapan dari sang kakak, berlari memasuki rumah dengan suara tertawa riang.


Naysilla lantas mengejarnya persis seperti bocah berusia 5 tahunan.


Troy yang sedari tadi telah selesai menurunkan barang memperhatikan kakak beradik begitu akrab.


"Maafkan putri kami, mereka selalu begitu jika bertemu," ucap Rita seraya tersenyum.


Troy menampilkan senyum singkatnya dan menundukkan kepalanya seakan memahami tingkah kedua wanita muda itu.


"Terima kasih telah menjemput dan mengantarkan putri kami ke rumah," ucap Malik.


"Sama-sama, Tuan." Troy membalas ucapannya.


"Bagaimana jika nanti kamu datang kemari dan kita makan malam bersama?" ajak Malik.


"Maaf, Tuan. Bukannya menolak, tetapi saya tidak pantas duduk bersama menikmati makan malam dengan keluarga anda."


"Kami tidak membeda-bedakan orang, Troy." Jelas Malik.


"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan." Troy menundukkan kepalanya.


"Baiklah, jika malam ini kamu menolaknya. Saya harapkan lain kali tak ada kata penolakan darimu," ujar Malik.


Troy hanya tersenyum kecil.


-


Malam harinya di kediaman keluarga Malik Ikssa...


"Kenapa Nadine memilih dengan cepat pengganti Darwin?" tanya Naysilla. Dia tak tahu cerita sebenarnya, setahunya adiknya bertunangan dengan putra Perrie kemudian berakhir.


"Karena Dito itu berbeda dengan mantan tunangannya yang itu," jawab Rita.


"Calon suamiku ini lebih perhatian, Kak. Dia mengerti tentang aku," Nadine menimpali.


"Semoga pilihanmu ini tepat," harap Naysilla.


"Pria yang menjemput Kakak di bandara itu asisten papanya Dito," ucap Nadine.


"Benarkah? Dia tak memberitahuku, lebih banyak diam dan fokus menyetir," ujar Naysilla.


"Dia memang begitu, Kak. Sangat dingin dan hanya berbicara seperlunya saja," jelas Nadine.


"Oh, pantas."


"Papa dan Mama ingin mengajak Troy makan malam bersama kita," ujar Malik.


"Dalam rangka apa, Pa?" tanya Nadine.


"Sebagai ucapan terima kasih kami karena telah membantu kita menjemput Naysilla," jawab Malik.

__ADS_1


"Oh, aku pikir Papa dan Mama ingin menjodohkan Kak Nay dengan Kak Troy," celetuk Nadine.


Naysilla menyipitkan matanya kepada adiknya.


Nadine hanya menyengir.


Malik dan istrinya tertawa melihat ekspresi wajah putri pertamanya.


"Aku tidak mau dijodohkan, apalagi dengan orang yang tak ku kenal," ujar Naysilla.


"Kami kenal dengan Troy dan kamu juga," sahut Rita.


"Aku dan dia baru sehari bertemu, Ma."


"Kalau begitu pertemukan saja tiap hari Kak Nay dan Kak Troy, Ma." Kata Nadine seraya cengengesan.


Lagi-lagi Malik dan istrinya tertawa kecil.


"Kalian ini kenapa suka sekali menggodaku?" Naysilla memanyunkan bibirnya.


"Kami tidak sedang menggodamu, Nak. Tapi, menginginkan kamu segera memiliki kekasih dan menikah," ungkap Rita.


"Ma, Pa, aku belum mau menikah dalam waktu dekat. Biarkan Nadine saja yang lebih dulu," ucap Naysilla.


"Aku memang sebentar lagi akan menikah, Kak."


"Setelah Nadine, kamu yang harus menikah," timpal Rita.


"Jika ada yang cocok dan pas untukku, pasti aku akan menikah," ucap Naysilla percaya diri.


***


Esok siangnya, menjelang hari pernikahan Nadine dan Dito. Kedua calon pengantin itu bertemu di gedung untuk persiapan akad.


Dari mulai cara jalan, penyambutan pengantin dan lain-lain. Karena setelah rangkaian persiapan, Nadine dan Dito dilarang bertemu hingga hari pernikahan tiba.


Naysilla duduk dari kejauhan melihat adik dan calon iparnya sedang mengikuti arahan panitia acara.


Troy mendatangi wanita itu menyodorkan sebotol air mineral.


Naysilla mendongakkan wajahnya, sejenak memandang pria yang berdiri di hadapannya dan botol air mineral.


"Saya disuruh Nona Nadine untuk memberikan ini," kata pria dengan tinggi 178 cm.


"Oh, makasih." Naysilla meraih botol tersebut.


Troy membalikkan badannya dan hendak berlalu.


"Tunggu!"


Troy menoleh ke belakang.


Naysilla berdiri mendekatinya lalu menyodorkan botol air mineral kepada Troy dan tersenyum, "Tolong, buka!"


Troy segera membuka botol air mineral itu.


"Terima kasih," Naysilla kembali melemparkan senyuman.


Troy hanya menggerakkan dagunya pelan. Ia kemudian berlalu.


Naysilla duduk kembali lalu menenggak air mineralnya.


Hampir 2 jam berada di gedung tersebut, Nadine dan Dito pun selesai juga persiapan acara pernikahannya.


"Kak Nay, duduk di depan. Aku dan Dito di belakang," ucap Nadine memegang kenop pintu.

__ADS_1


"Aku denganmu saja di belakang, biar Dito di depan," ujar Nay.


"Aku mau berduaan dengan Dito di belakang," Nadine berkata seraya tersenyum kepada calon suaminya.


"Troy tidak menggigit, Kak. Jadi, tak perlu khawatir," ucap Dito.


Naysilla menghela napas pasrah, ia membuka pintu depan dan masuk.


Keempatnya kini sudah berada di dalam mobil, Troy menyalakan mesin dan melaju.


Di perjalanan, Nadine bergelayut manja di lengan calon suaminya sembari memperhatikan jalanan. Dan di bagian depan hanya diam tanpa suara.


"Kak Nay, ajak Troy bicara!" goda Dito.


"Tak ada yang perlu kami bicarakan," ketusnya.


"Kalian bisa bertukaran nomor ponsel atau saling follow akun sosmed," timpal Nadine.


"Sayang, Troy tidak memiliki akun sosmed kecuali aplikasi pesan berwarna hijau," ungkap Dito.


"Benarkah? Dia hanya ada itu, sayang?" Nadine tak percaya.


"Iya," jawab Dito. "Tanya saja kalau tidak percaya?" lanjutnya.


"Apa benar, Kak Troy?" Nadine penasaran.


"Iya, Nona." Jawab Troy sambil menyetir.


"Kenapa tidak punya akun sosmed?" tanya Naysilla.


"Tidak terlalu suka, Nona."


"Padahal zaman sekarang, orang-orang memiliki akun sosmed," ujar Naysilla.


"Tidak untuk Troy, Kak!" sahut Dito.


-


Setibanya di kediaman Malik Ikssa, kedua wanita itu pun turun dan Nadine melambaikan tangan kepada calon suaminya.


Mobil perlahan berjalan, di dalam hanya ada Dito dan Troy yang menyetir.


"Menurutmu Kak Nay cantik atau tidak?" tanya Dito dari kursi belakang penumpang.


"Keduanya cantik, Tuan."


"Nadine memang cantik, makanya aku jatuh cinta padanya," Dito tersenyum bangga seraya membayangi wajah calon istrinya.


"Iya, saya tahu, Tuan."


"Kak Nay belum memiliki kekasih, kamu tidak mau dengannya?" tanya Dito lagi.


Troy tak menjawab hanya diam.


"Sepertinya kalian cocok," celetuk Dito.


"Itu hanya menurut Tuan saja."


"Bagaimana kalau kamu dekati Kak Nay? Aku yakin pasti keluarganya sangat setuju."


"Nona Nay pasti tak suka dengan perjodohan ini, Tuan."


"Kamu belum mencobanya," ujar Dito.


"Terima kasih tawarannya, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2