
Keesokan harinya di sore hari, Darwin menghubungi ponsel Nadine menggunakan nomor baru karena seluruh kontaknya telah dihapus dan diblokir wanita itu.
"Halo, ini siapa?"
"Halo, ini aku."
Nadine sangat mengenal suara mantan tunangannya itu.
"Nadine, ada hal serius yang ingin aku bicarakan!"
Nadine yang benar-benar kecewa lantas segera menutup teleponnya.
Tak henti, Darwin pun mengirimkan pesan kepada Nadine yang isinya sebagai berikut, 'Aku ingin memberitahumu siapa Dito sebenarnya.'
Nadine lantas kembali menghubungi Darwin, "Jelas kamu tahu siapa Dito. Karena kamu adalah temannya."
"Selain itu ada rahasia besar yang harus kamu ketahui," ucap Darwin dari ujung telepon.
"Aku tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulutmu!"
"Kali ini kamu harus mendengarnya, apalagi kalian berdua sangat dekat," ujar Darwin.
"Memangnya kenapa kalau kami dekat, apa kamu cemburu?"
Darwin terdiam.
"Jangan menggangguku lagi, urus saja kekasihmu itu!" ucap Nadine.
"Tolong berikan aku kesempatan sekali ini berbicara setelah itu ku berjanji tidak akan mengganggumu lagi."
Nadine menarik napas lalu ia hembuskan.
"Aku mohon!" pinta lelaki dari ujung telepon.
"Baiklah, kalau begitu kita bertemu di restoran depan kantorku sejam lagi."
-
Sejam kemudian, Darwin lebih dahulu tiba pria itu telah memesan minuman untuknya dan Nadine.
"Silahkan diminum!"
"Ya," ketusnya.
"Aku senang akhirnya kita bisa bertemu lagi," ucap Darwin.
"Cepat katakan, aku tidak memiliki waktu lagi untukmu."
"Baiklah, Nadine aku akan memberitahu kamu mengenai Dito," ujar Darwin.
"Aku dan Dito bukanlah sahabat, kami bertemu di sebuah acara ulang tahun salah satu klien perusahaan ku. Sebelumnya kalian sudah pernah berjumpa, namun kamu tak menghiraukannya karena fokus kepadaku."
Mendengar pengakuan Darwin, Nadine hanya tersenyum sinis.
"Dia selalu bertanya mengenaimu, namun ku tak pernah menggubrisnya. Bisa dikatakan dia menyukaimu saat pertama kali bertemu."
"Lalu?" tanya Nadine.
"Malam pertunangan kita, aku mendengar Om Malik dan Papaku berbicara tentang uang pengganti. Dari sanalah, aku berpikir untuk menjebakmu agar pertunangan kita berakhir. Aku minta maaf tidak berkata jujur, aku dan Mitha telah menjalin hubungan sangat lama dan ingin mengakhirinya tetapi ku mengubah semuanya. Aku memfitnahmu berkhianat," ungkap Darwin.
Mendengar penuturan mantan tunangannya itu, Nadine mengeraskan rahangnya. Ia mengepalkan tangannya.
"Lalu aku menemui Dito dan menawarkannya sebuah pekerjaan karena ku sama sekali tidak tahu tentangnya. Aku bertanya apa dia memiliki perasaan padamu dan ia menjawab ya. Lalu ku menyuruhnya untuk merayumu dan membuatmu jatuh cinta," jelas Darwin.
__ADS_1
"Ternyata, kamu sulit untuk mencintai orang lain. Akhirnya aku mempercepat rencana kami, yaitu menjebakmu dan Dito di kamar hotel itu," lanjutnya berucap.
Nadine yang telah tersulut emosi begitu marah, "Kamu memang jahat!"
"Aku harus memberitahumu, selama ini Dito hanya pura-pura. Aku membayar dia juga," ungkap Darwin.
"Kalian berdua sama-sama, brengsek!" Nadine menekankan kata-katanya.
"Sekali lagi aku minta maaf!"
Nadine yang sangat marah, bergegas pergi dari tempat itu.
Darwin yang melihat api amarah di wajah Nadine tersenyum senang, "Akhirnya kamu hancur juga Pradito Mahesa." Gumamnya.
Nadine segera melajukan kendaraannya menuju gedung kantor Dito.
Sesampainya di sana ia melaporkan kedatangannya kepada resepsionis. Setelah mendapatkan izin Nadine melangkah ke ruangan Dito.
Pintu terbuka, Dito berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum.
Nadine yang sangat marah lantas bertanya, "Apa selama ini kamu bekerja dengan Darwin untuk menjatuhkan aku?"
"Maksudnya apa, Nadine?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" sentaknya.
"Tenanglah!" Dito mendekati Nadine.
Dengan cepat Nadine memundurkan langkahnya. "Selama ini kamu tahu kebusukan Darwin tapi menutupinya dariku, ternyata kamu juga sama saja dengan dia. Sama-sama pengecut!"
"Nadine, aku bisa jelaskan!"
"Jelaskan apa? Kamu dan dia bekerja sama agar orang lain memandang buruk aku, kan?" tanya lantang.
"Nadine, aku akan berkata jujur. Aku memang menerima tawaran Darwin untuk menggodamu dan menjadikan ku selingkuhanmu."
"Aku jatuh cinta padamu."
"Omong kosong dengan cinta! Kamu menghancurkan semuanya. Aku pikir kamu itu tulus ternyata sama saja!" makinya.
"Nadine, tolong maafkan aku!" Dito ingin menenangkan hati wanita yang ada dihadapannya.
"Mulai hari ini, jangan pernah muncul di kehidupan ku lagi!" Nadine mempertegas perkataannya.
Dito memegang tangan Nadine, "Tolong, jangan seperti ini!"
Nadine mendorong tubuh Dito dengan kasar, "Aku benci kamu!"
Nadine segera pergi dari ruang kantornya Dito.
-
Sore harinya selepas dari kantor, Dito meluncur ke rumah Nadine. Begitu sampai Malik dan Rita menyambutnya begitu hangat.
Mendengar Dito datang, Nadine pun bergegas pergi.
"Kamu mau ke mana?" tanya Malik.
"Aku ingin keluar sebentar, Pa."
"Dito temani sana dia," ucap Rita.
"Tidak perlu, Ma. Aku ingin sendiri," Nadine berkata lalu lanjut melangkah.
__ADS_1
"Dito cepat kamu susul Nadine!" perintah Rita.
"Iya, Tante!" Dito berlari kecil mengejar langkah kaki Nadine.
Dengan cepat ia membuka pintu dan duduk di sebelah Nadine.
"Keluar dari mobil ku sekarang!" Nadine berkata dengan nada dingin dan tanpa menatap.
"Aku tidak mau, orang tuamu menyuruhku untuk menyusulmu!"
"Aku tidak ingin diganggu, aku katakan cepat keluar!" desisnya.
"Aku tetap tidak mau!"
Nadine yang kesabarannya telah habis menyalakan mesin mobilnya, ia melaju dengan kecepatan tinggi.
"Nadine, kurangi kecepatannya!"
Nadine tak memperdulikannya.
"Nadine, ini sangat berbahaya!" Dito berkata lantang.
Nadine menghentikan laju kendaraannya secara mendadak.
Dito yang memakai safety belt segera melepasnya. "Biar aku yang menyetir!"
"Jika kamu tidak suka, silahkan keluar!"
"Nadine, kami tidak boleh menyetir dalam keadaan marah. Itu hanya membuat kamu dan orang lain dalam bahaya!" ucap Dito.
Nadine tak menghiraukannya, ia kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Dito melihat situasi tak memungkinkan di depan sana, dengan cepat melindungi bagian depan tubuh Nadine.
Suara jeritan keduanya sangat nyaring.
Tabrakan pun tak terhindar, serpihan kaca bagian depan mobil mengenai punggung Dito.
Seketika Dito pun memejamkan matanya.
Nadine yang masih syok, hanya bisa terdiam.
Suara ketukan di jendela membuat Nadine segera sadar.
Ia membuka pintu mobil dengan posisi tubuh Dito menimpanya.
Orang-orang datang menolongnya dan menurunkan Dito.
Nadine tampak kebingungan, ia ingin menangis namun tak bisa. ia menatap tubuh Dito berdarah. Sedang dibopong dan dibawa ke rumah sakit menggunakan kendaraan pengendara lain.
"Nona, ayo ikut kami!"
Nadine naik di kendaraan yang membawa Dito.
"Nona, kabari keluarga kalian!" titah seorang pria yang merupakan pengemudi mobil.
Dengan panik, Nadine lalu menelepon kedua orang tuanya.
Di rumah sakit, Nadine mulai menangis. Beberapa menit lalu ia dan Dito baru saja terlibat percekcokan.
Tak sampai 30 menit, kedua orang tuanya Nadine pun datang.
Dipelukan Rita, Nadine menangis sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Sayang, tenanglah. Dito pasti akan baik-baik saja!" Rita menenangkan putrinya.
"Harusnya aku mendengar perkataannya, Ma!" isaknya.