Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 16 - Melamar


__ADS_3

Seminggu berlalu....


Dito dan kedua orang tuanya datang berkunjung ke kediaman Malik. Selain bersilaturahmi, kedatangan mereka juga ingin membahas masalah pernikahan.


"Saya serahkan semuanya kepada putri kami, mana yang menurutnya baik," ujar Malik.


"Nadine ingin acara lamaran dilaksanakan tertutup tanpa media dan hanya keluarga inti yang hadir," jelasnya.


"Baiklah, kami setuju," ucap Vina.


"Dan pernikahan dilangsungkan dua bulan kemudian," jelas Nadine lagi.


"Apa kalian setuju dan memenuhi permintaan putri kami?" tanya Malik.


"Kami setuju saja, apalagi Dito. Benarkan, Nak?" tanya Leon.


"Iya, Pa. Apapun keputusan Nadine aku terima," jawab Dito semangat.


"Sepertinya kamu tidak sabar menikah dengan putri kami," celetuk Malik.


"Om tahu saja hati saya," ucap Dito.


"Kami telah melihat perjuangan Dito mendekati Nadine, dia selalu ada ketika putri kami sedang bersedih. Menyiapkan kejutan yang tak pernah disangka," ungkap Rita.


"Dito itu persis seperti saya, jika menginginkan sesuatu pasti akan berusaha untuk mendapatkannya," ujar Malik.


"Kami berharap Dito tidak mengecewakan Nadine," ucap Rita.


"Saya akan berusaha membuat Nadine bahagia, Tante, Om." Dito berkata penuh yakin.


"Semoga," ucap Rita dan suaminya serentak.


"Silahkan dimakan, tadi Nadine yang membantu saya memasak makanan ini," jelas Rita menunjuk gulai ayam pedas.


"Ternyata kamu pandai juga memasak," puji Vina.


"Masih belajar, Tante. Belum semahir Mama," ucap Nadine merendah.


"Kapan-kapan kita masak bareng, ya?" usul Vina.


"Boleh juga, tapi nanti setelah mereka menikah," jawab Rita.


Keenamnya menikmati makan malam bersama penuh keakraban.


****


Dua minggu berlalu...


Malam ini Dito akan melamar Nadine secara resmi di kediaman orang tua calon istrinya.


Tak ada papan bunga atau penjagaan ketat.


Hanya beberapa tamu yang diundang dari kedua pihak. Hal itu merupakan syarat dari Nadine.


Kendaraan para tamu memenuhi halaman rumah Malik Ikssa, bergegas penjaga keamanan menutup pagar setinggi 2 meter.


Tampak juga beberapa mobil terparkir di pinggir jalan.


Acara berlangsung selama 2 jam, tepat pukul 9 lewat 30 menit para tamu membubarkan diri.


Kini di dalam rumah tinggallah Dito dan kedua orang tuanya.


"Acara akan dilaksanakan sekitar dua bulan lagi, semoga kali ini dilancarkan," harap Rita.


"Kami tidak ingin kegagalan dialami Nadine untuk kedua kalinya," Malik menimpali.


"Makanya aku meminta acara berlangsung tertutup," sambung Nadine.


"Semua urusan kami serahkan kepada Nadine, kami hanya mengikuti apa yang kalian minta," ucap Leon.


"Terima kasih, Om."


"Sama-sama," ujar Leon.


Dito dan kedua orang tuanya berpamitan.


-


Malam harinya menjelang tidur, notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dito dengan wajah senang, meraih benda tersebut dan melihat isinya.


Senyumnya seketika memudar, ia berpikir jika itu adalah pesan dari calon istrinya ternyata bukan.


Dito mengernyitkan dahinya ketika membaca pesan singkat itu.


Karena penasaran, Dito lalu menghubunginya terdengar suara seorang wanita dari ujung telepon.


Seketika jantung Dito berhenti, ia sangat mengenal suara itu.


"Apa kabar?" sapa suara lembut namun terbata.


"Sita!" lirihnya.


"Kamu masih mengenal suaraku?" tanya wanita itu dengan senang.


"Aku mau tidur, apa yang ingin kamu katakan?"


"Dito, aku merindukanmu. Bagaimana kabar dirimu?"


"Aku baik."


"Seminggu lagi aku akan kembali, bisakah kamu menjemputku di bandara?"

__ADS_1


"Maaf, tidak bisa."


"Kenapa? Apa wanita yang bersamamu di Paris sebulan lalu menjadi alasannya?"


"Kenapa kamu tahu aku di Paris?"


"Kita pernah bertemu tapi kamu tak mengenalku, secepat itu melupakan semua hubungan diantara kita," jawabnya.


"Hubungan kamu bilang? Bukankah kamu sendiri yang memintanya untuk mengakhiri semuanya?"


Wanita itu pun terdiam.


"Dua bulan lagi aku akan menikah jadi ku mohon, jangan pernah muncul di kehidupan aku lagi." Dito menutup ponselnya.


"Aarrgh...kenapa dia harus datang lagi?"


***


Keesokan harinya, Dito menjemput calon istrinya. Ia akan mengantar wanita itu ke kantornya sekaligus membicarakan perihal pernikahan.


"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Dito berbasa-basi.


"Seperti biasa."


"Tak ada yang spesial?"


"Maksudnya?"


"Apa kamu tidak memimpikan aku?"


Nadine tertawa mendengar pertanyaannya.


"Apa salahnya memimpikan aku?"


"Memang tidak salah, hanya saja semalam ku terlalu nyenyak tidur. Jadi, tak sempat untuk bermimpi," jawab Nadine tersenyum.


Dito tertawa.


"Mama kamu tadi menelepon aku, dia menyuruh kita nanti sore melihat gedung pernikahan. Apa kamu memiliki waktu?"


"Apapun yang menyangkut tentang kita dan kamu, ku selalu ada waktu," jawab Dito.


"Semoga sampai kita menikah pun kamu selalu begini, ya."


Dito mengiyakan.


"Uh, sayang. Kenapa kamu begitu manis?" Nadine mencubit pipi calon suaminya.


Dito tampak kesakitan.


"Nanti jemput aku, kita makan siang bersama," ucap Nadine.


"Baiklah, cantik!"


-


-


Vina memperkenalkan pria dan wanita yang merupakan pemilik gedung, keduanya adalah teman sekolahnya.


"Kapasitas gedung bisa menampung lima ribu orang dan parkiran juga cukup luas. Lalu ada diskon lima belas persen untuk kita. Apa kalian mau?" tanya Vina.


"Bagaimana untuk ruang ganti pakaiannya?" tanya Nadine pada si pemilik gedung.


"Ruang ganti cukup luas dan tersedia AC juga, fasilitas di gedung ini cukup lengkap dan membuat nyaman para tamu yang hadir. Kami juga menyediakan katering dan dipastikan semua makanan yang kami sajikan langsung di masak koki handal," jelas wanita berusia 53 tahun.


"Bagaimana?" Nadine mengarahkan pandangannya pada Dito.


"Aku terserah kamu."


"Saya belum bisa memastikan, apa boleh bertanya pada orang tua saya terlebih dahulu?" tanya Nadine.


"Sebentar lagi mama kamu akan datang," jawab Vina.


Tak lama kemudian, Rita pun datang menghampiri putrinya.


"Mama, apa setuju dengan gedung ini?" tanya Nadine.


"Sebelumnya ada anak teman Mama mengadakan resepsi di sini. Tempatnya nyaman dan boleh juga kita menyewanya," ujar Rita.


"Baiklah, kami akan menyewa tempat ini," ucap Nadine.


Setelah melakukan transaksi pembayaran dimuka, keempatnya pun pamit pulang.


Di dalam mobil, Dito bertanya pada kekasihnya, "Kenapa tidak memakai ballroom hotel milik keluargamu saja?"


"Aku tidak mau, para media tahu dan satu lagi keluarga Darwin."


"Memangnya kenapa mereka tahu?"


"Ballroom hotel pernah dipakai buat acara tunangan kami dan ku tak mau kejadian yang sama terulang," jelas Nadine.


"Oh, begitu."


"Aku lapar, bisakah kita singgah makan bakso?" pinta Nadine.


"Boleh juga." Dito melajukan kendaraannya dengan kecepatan pelan seraya memperhatikan warung bakso yang akan mereka singgahi.


"Di sana saja!" menunjuk sebuah warung bakso dengan tempat tak terlalu besar tapi memiliki lahan parkir.


Begitu sampai di warung bakso, keduanya memesan 2 mangkok dan es teh manis.

__ADS_1


"Sepertinya ini tempat baru," ucap Dito.


"Entahlah, aku belum pernah melewati jalan ini," ujar Nadine.


"Aku sering makan di daerah jalan ini," ungkap Dito.


"Benarkah? Dengan siapa?"


"Dia," ceplos Dito.


"Oh, pantas kamu tahu kalau tempat ini baru," kata Nadine dengan raut wajah cemburu.


"Itu hanya masa lalu, lagian juga rumahnya dekat sini," ujar Dito.


"Oh, jangan-jangan ini usaha miliknya," tebak Nadine.


Dito tertawa kecil.


"Lain kali kita tak perlu ke sini lagi," celetuk Nadine.


"Kan, belum tentu ini miliknya," ujar Dito.


"Aku tak mau kamu bertemu dia di sini, apalagi tempat tinggalnya di jalan ini," ucap Nadine.


Dito mencubit pipi kanan dan kirinya calon istrinya, "Kenapa kamu kalau cemburu, sangat menggemaskan?"


"Dito, sakit tahu!" Nadine mengerucutkan bibirnya.


Dito tergelak.


"Kamu bilang dia tinggal di luar negeri, apa sekarang dia telah kembali?" tanya Nadine.


Seketika Dito tak menjawab.


"Apa kalian tidak pernah berkomunikasi?"


"Tidak," jawab Dito dengan cepat, padahal semalam ia baru saja menerima telepon dari mantan kekasihnya.


"Baguslah, seharusnya memang begitu. Agar tak menyakiti pasangan masing-masing," ucap Nadine.


"Ya, kamu harus begitu juga."


"Bagiku mantan adalah masa lalu, biarkan dia menjauh dan segera tutup pintu dengan rapat jangan memberi cela sedikitpun."


Dito merasa tersindir.


"Baksonya sangat enak, aku mau membungkusnya untuk di bawa pulang," ucap Nadine.


"Oh, boleh saja. Apapun buat kamu akan ku berikan!"


"Kalau aku minta kamu membeli warung ini?"


"Boleh saja, apakah tempat usaha ini akan dijual?" Dito balik bertanya.


Nadine menjawab seraya tersenyum, "Mungkin saja tidak."


"Apa kamu ingin aku membangun usaha atas namamu?"


"Tidak perlu, aku mau kamu memborong dagangan pemilik warung ini lalu kita bagikan," jawab Nadine.


"Boleh juga, aku akan memborongnya. Kamu tunggu di sini, ya!" Dito lantas beranjak dari tempat duduknya.


Melangkah ke arah sang pemilik warung, ia pun mengatakan akan membeli bakso 50 porsi.


Pemilik warung tampak tak percaya.


"Saya serius, Bu."


"Sekarang, Tuan?"


"Iya, bagikan sekarang juga!" Dito menyerahkan 15 lembar uang berwarna merah. "Sekalian bayar makan saya tadi!" lanjutnya.


"Baik, Tuan. Saya akan bagikan, terima kasih. Tapi, ini kebanyakan."


"Sisanya bagikan kepada karyawan saja," Dito tersenyum.


"Baiklah, sekali lagi terima kasih!"


"Sama-sama."


Setelah membayar, Dito kembali ke meja menghampiri calon istrinya dan berkata, "Aku sudah melakukan apa yang kamu minta."


"Terima kasih, sayang!" Nadine tersenyum.


"Sekarang, ayo kita pulang!"


"Ayo!" Meraih tangan Dito dan menggenggamnya.


Keduanya berjalan ke arah parkiran.


Ketika hendak membuka pintu mobil, Dito menoleh karena ada seseorang yang memanggilnya begitu juga dengan Nadine.


"Kamu Dito, kan?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Iya, Tante. Apa kabar?" sapa Dito tersenyum.


"Tante dan Om baik, Sita juga. Katanya sebulan lalu kalian pernah bertemu di Paris?" tanya wanita itu.


Nadine mendengar kata Paris mengernyitkan keningnya.


"Tante, maaf. Saya dan kekasih harus buru-buru pulang, salam buat om. Permisi!" Dito pun bergegas membuka pintu mobil.

__ADS_1


Nadine menyempatkan tersenyum walau singkat kepada mamanya Sita sebelum memasuki mobil.


__ADS_2