Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 7 - Dito Mendatangi Darwin


__ADS_3

Dito mendatangi kantor Darwin, begitu sampai di ruang kerja pria itu ia menarik kerah bajunya, "Kau benar-benar brengsek!" makinya.


Darwin tertawa mengejek.


"Kenapa kau mengubah rencana kita?"


"Karena aku tak sabar ingin mendapatkan uang itu dan menikmatinya!"


"Karena uang kau menyuruhku mendekati Nadine dan melakukan hal kotor seperti kemarin itu!"


"Bukankah kau menyukainya? Ini kesempatan bagus untukmu!"


"Aku memang menyukai Nadine, tapi tak menjatuhkannya seperti ini!" Dito melepaskan cengkeramannya.


"Nikmati saja yang sudah ada, Pradito Mahesa. Kau mendapatkan uang itu juga, kan. Lebih baik tutup mulut dan jangan sampai Nadine mengetahui kebusukanmu juga!" Darwin berkata seraya tersenyum.


"Baiklah, aku akan tutup mulut. Dan menjadi pahlawan baginya, tapi ingat jangan sampai kau mengemis padanya!"


"Hei, untuk apa aku mengemis padanya? Aku tidak pernah mencintainya!"


Dito tertawa sinis, "Kau melepaskan berlian demi perak."


"Maksudmu apa?"


"Kau pikir aku tidak tahu siapa wanita yang menjadi kekasih gelapmu?"


Mendadak wajah Darwin memucat.


"Kalian berdua memang pantas menjadi kekasih karena sama-sama licik!"


Darwin terdiam.


"Kita berdua sama-sama memiliki rahasia, jika salah satu terbongkar. Aku akan pastikan posisi kau juga takkan aman!" Dito tersenyum menyeringai.


Dito menepuk pundak kiri Darwin dua kali secara pelan. "Aku ucapkan selamat dan terima kasih telah memberikan Nadine padaku."


-


-


Dito yang juga merasa bersalah atas apa yang dialami Nadine, pergi menemui wanita itu di rumahnya.


Rencana untuk membuat Nadine dan Darwin berpisah tak sesuai kesepakatan di awal. Dito berpikir jika Darwin ingin berpisah dari kekasihnya karena tak menyukainya ternyata ada alasan lainnya yaitu kompensasi kegagalan pernikahan.


Dito menginginkan Nadine jatuh cinta terlebih dahulu padanya, baru kemudian Darwin menuduhnya selingkuh. Namun, kenyataannya pria itu mengubah taktik yang mereka rencanakan secara sepihak dan cepat.


Dito memberanikan diri mendatangi kediaman Malik Ikssa.


Kini ia telah berdiri di depan pintu dan mengetuk rumah besar itu. Seorang pelayan wanita yang sudah paruh baya menyambutnya, "Cari siapa, Tuan?"


"Nona Nadine."


"Tunggu sebentar, saya akan panggilkan!" ucap wanita itu kemudian berlalu.


Diawal masuk ke pintu gerbang, Dito juga diperiksa namun karena mereka mengenal dirinya adalah teman Nadine makanya mempersilakannya.


Tak lama kemudian, pelayan wanita itu pun menghampirinya, "Tuan, silahkan masuk!"


"Terima kasih!" Dito pun mengikuti langkah wanita pelayan.


Dito menaiki sebuah tangga menuju balkon.


Nadine berdiri menatap pemandangan dari lantai atas rumahnya.


Setelah mengantarkan Dito pelayan wanita pun pamit.

__ADS_1


Nadine membalikkan tubuhnya lalu melemparkan senyuman.


Dito tampak terkejut dengan perubahan sikap Nadine tunjukkan, kemarin tampak murung dan sedih.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Aku minta maaf!"


Nadine tertawa sinis.


"Nadine, aku serius!"


"Semua telah berakhir, jangan diperpanjang lagi. Dia juga telah mendapatkan apa yang kedua orang tua kami buat."


"Masih bolehkah aku berteman denganmu?"


"Ya, tentunya. Aku tidak terikat hubungan dengan orang lain."


Dito tersenyum.


"Apa tadi kamu bertemu dengan kedua orang tuaku?"


"Tidak."


"Jika kamu bertemu dengan mereka, yakinlah pasti akan diusir!"


"Ya, karena aku, kamu dan Darwin harus berpisah."


-


-


Sore harinya, Nadine dan Dito menghabiskan waktu berdua dengan berjalan ke mall. Ia tak memperdulikan tanggapan orang lain tentangnya yang berselingkuh.


Lagian dia dan Darwin belum menikah, hal apapun bisa terjadi. Dia juga akan mengatakan kalau pembatalan pertunangannya juga telah berakhir damai.


Dito mengajak Nadine bermain di wahana permainan yang berada di dalam mall. Wanita itu tampak begitu bahagia, karena selama bersama dengan Darwin dirinya tak pernah sebahagia ini.


Darwin selalu menolak jika diajak sekedar jalan-jalan dengan berbagai alasan.


"Buat kamu!" Dito memberikan boneka beruang yang cukup besar hadiah dari sebuah permainan kepada Nadine.


"Terima kasih, padahal tinggal beli saja gampang. Tapi, kenapa kamu mau bersusah payah mendapatkannya?"


"Semua butuh perjuangan agar tidak gampang musnah, sama seperti aku ingin menaklukkan hatimu!"


"Rayuan kamu tidak ampuh untukku!"


"Apa kamu masih menginginkan Darwin?"


"Tak semudah itu melupakan rasa sakit, tapi hidup tetap harus lanjut dan tidak perlu mengingat masa lalu."


"Aku senang jika kamu secepat ini bangkit," ucap Dito.


"Kelihatannya begitu, tapi orang lain tak pernah tahu di dalam hati. Cukup membahas tentang perasaan, aku ingin senang-senang. Sekarang, ayo kita makan!"


Mereka akhirnya memilih restoran ayam goreng siap saji, karena Nadine sudah sangat lama tidak makan di tempat itu.


"Memangnya terakhir kapan kamu makan makanan seperti ini?" tanya Dito.


"Mungkin lima atau enam tahun lalu dengan Mitha."


"Mitha sahabatmu?"


"Ya."

__ADS_1


"Aku jarang melihatmu bersamanya," ucap Dito.


"Sejak aku memutuskan menerima perjodohan dengan Darwin hubunganku tak seperti biasanya. Meskipun ia menyempatkan sedikit waktunya menemaniku tetapi dirinya lebih banyak memberikan berbagai alasannya untuk menjauhiku."


"Mungkin dia tak menyukai kamu dengan Darwin."


Nadine tersenyum kecil, "Mitha itu selalu mendukung apapun yang ku mau. Jadi tak mungkin dia tak menyukai hubungan ku dengan Darwin."


"Sekarang kamu sudah memutuskan tak melanjutkan pertunangan, kenapa dia tidak pernah ada waktu untukmu?" tanya Dito menyelidik.


"Dari mana kamu tahu kalau dia tak memiliki waktu?"


Dito tampaknya salah bicara, dengan cepat ia menjawab agar Nadine tak curiga. "Kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama ku."


"Oh itu, dia kebetulan sedang memulai bisnis baru di kota C. Sampai sekarang ku belum sempat mengunjungi toko kue miliknya di sana."


"Bagaimana kalau aku temani kamu ke sana?" Dito menawarkan diri.


"Kamu serius?"


"Pastinya, tapi kamu jangan beritahu Mitha akan ke sana!" pintanya.


"Baiklah!" Nadine tersenyum senang.


Dito mengantarkan Nadine pulang ke rumahnya, pria itu hanya menurunkannya di depan pintu pagar. Tak mungkin lagi singgah karena sudah malam.


Nadine memasuki rumah yang lampunya masih menyala.


"Pergi dengan siapa kamu?"


Suara bariton terdengar dari belakang tubuh Nadine. Ia pun segera menoleh dan tersenyum tipis, seakan tak terjadi sesuatu.


"Apa yang kami lihat pagi itu ternyata benar, kamu memang memiliki hubungan spesial dengan dia!" Rita menuding.


"Terserah Mama mau menuduh aku seperti apa," ujar Nadine.


"Ma, jangan terus menyalahkan Nadine. Anggap saja mereka tidak berjodoh," ucap Isan.


"Papa ini bagaimana, sih? Putrimu tertangkap basah dengan seorang pria yang bukan suaminya di kamar hotel. Sekarang dia malah menunjukkan pada dunia kedekatan mereka," Rita mengeluarkan kekecewaannya.


"Ma, aku dan Dito tak melakukan apapun. Jika Papa dan Mama tak percaya tunggu saja sebulan atau dua bulan lagi. Apakah aku hamil atau tidak!" ungkap Nadine.


"Jadi, kamu ingin mempermalukan kami dengan kehamilanmu!" tuduh Rita.


"Bukan begitu, Ma. Aku hanya ingin Mama tidak terus-menerus menuding Dito," ujar Nadine.


"Kamu selalu membela dia, apa hebatnya dia. Kita tidak tahu siapa orang tua dan keluarga besarnya," Rita menyudutkan.


"Aku memang tidak tahu siapa kedua orang tuanya, tapi ku yakin jika Dito itu tulus," ujar Nadine.


"Apa kamu mencintainya, Nak?" tanya Malik.


Nadine menarik napas lalu ia hembuskan.


"Apa kamu mencintainya, Nadine?" tanya Rita dengan nada tinggi.


"Jangan teriak-teriak, Ma. Ingat kondisi kesehatanmu," Malik berkata pelan di samping istrinya.


"Iya, aku mencintainya. Sejak bersama Darwin, ku tak pernah mendapatkan perhatian. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Dito sebaliknya."


"Semua pria akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkan wanita incarannya, Mama tidak mau kamu tertipu dengan kebaikannya," ujar Rita.


"Tapi, aku percaya padanya, Ma."


"Apa yang dikatakan Mama kamu benar, Nadine. Berhati-hatilah, kamu dan Dito baru saja berkenalan. Kita belum tahu asal usulnya dari mana," Malik menyambung perkataan istrinya.

__ADS_1


"Iya, aku akan hati-hati dan mencari tahu siapa dia sebenarnya. Mama dan Papa tidak perlu khawatir, karena Dito juga diperkenalkan oleh Darwin."


__ADS_2