Terjerat Cinta Si Penipu Hati

Terjerat Cinta Si Penipu Hati
Bab 17 - Mantan Kekasih Dito


__ADS_3

Sita yang telah berada di negara ini, mencoba mendatangi Dito di kantornya. Akan tetapi, usahanya gagal. Dito menyuruh karyawannya mengusirnya.


Sita merasa kesal dan kecewa, akhirnya pulang.


Di depan pintu gedung, ia tak sengaja bertemu dengan Nadine.


Gegas ia mendekati Nadine, "Hai!"


Nadine berhenti lalu menoleh, ia mengernyitkan dahinya.


"Kamu Nadine, kan?"


"Iya," jawab Nadine.


"Perkenalkan namaku Sita!" mengulurkan tangannya.


Nadine menyambut uluran tangan wanita yang sedang berhadapan dengannya.


"Apa kita bisa mengobrol berdua?"


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Nadine.


Sita memperhatikan sekelilingnya, "Bagaimana kalau kita mengobrol di kafe depan sana?" menunjuk kafe kecil pas di depan gedung kantor Dito.


Nadine melihat jam di ponselnya, lalu menjawab, "Baiklah, tapi aku tidak bisa lama."


Sita menyetujuinya.


-


-


Nadine menyesap tehnya lalu meletakkannya di meja, "Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Aku mantan kekasihnya Dito."


"Aku sudah tahu," ucap Nadine.


"Kami berdua saling mencintai, hanya karena jarak jauh membuat kami mengakhiri semua ini."


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Nadine dengan wajah dingin.


"Aku ingin Dito kembali padaku."


Nadine tertawa sinis mendengar keinginan wanita yang ada dihadapannya.


"Seharusnya kami menikah tahun ini, tapi semua berantakan setelah ia bertemu denganmu," ucap Sita.


"Dito mendekati ku karena sudah tidak memiliki hubungan denganmu dan anda sendirilah yang meminta mengakhiri semuanya. Kenapa menyalahkanku?"


Sita terdiam.


"Sebentar lagi kami akan menikah, lebih baik kamu pergi menjauh dari kehidupan kami berdua," Nadine memperingatkan.


"Kamu sudah merebutnya dariku!"


"Maaf, aku bukan wanita yang sukanya merebut atau merusak hubungan orang lain."

__ADS_1


Sita tak bisa berkata-kata.


"Aku harus menemui calon suamiku, dia pasti sudah menunggu," Nadine beranjak dari kursinya.


Nadine lalu melangkah keluar kafe.


Begitu sampai di area parkir, Dito bergegas menghampiri calon istrinya. "Kamu dari mana?"


"Aku dari kafe depan sana."


"Apa kamu menemui seseorang di sana?"


"Ya, aku menemui mantan kekasih kamu," jawab Nadine santai.


"Mantan?"


"Sita."


"Mau apa dia menemui kamu?" tanya Dito.


"Dia ingin aku menjauhimu, bukankah kamu sendiri yang selalu mengejarku," Nadine berkata dengan bangga.


Dito tersenyum lalu menyentil kening Nadine, "Aku memang yang tergila-gila padamu!"


"Benarkan? Lagian juga ku tak mau melepaskanmu," ucap Nadine.


"Oh, cantik. Aku makin sayang padamu!"


"Ya, aku tahu. Sekarang ayo kita pergi, Tante Vina dan mamaku sudah menunggu," ujar Nadine.


Keduanya pergi ke sebuah restoran, sesampainya di sana tampak 2 orang wanita telah menunggu.


"Iya, Ma." ujar Nadine.


Selesai makan, 2 orang wanita datang menghampiri mereka.


"Dito, Nadine, mereka ini dari percetakan. Kalian pilihlah contoh undangan yang akan dibagikan," ucap Rita.


Salah satu wanita menyodorkan satu buku berukuran tebal beserta contoh kertas undangannya.


"Kamu mau suka warna apa?" Nadine bertanya pada kekasihnya.


"Aku suka cokelat atau hitam, tapi terserah kamu mana yang paling di sukai," jawab Dito.


"Aku suka warna hijau dan ungu," ujar Nadine.


"Kami bisa menyatukan dua warna sekaligus," ucap wanita itu.


"Baiklah, aku pilih warna yang itu. Dan buat semenarik mungkin serta mewah," pinta Nadine.


"Baik, Nona." Ucap keduanya.


Dua jam berada di restoran, mereka pun pulang. Dito terlebih dahulu mengantarkan kekasihnya ke kantornya karena tadi Nadine di antar oleh sopir.


-


-

__ADS_1


Sore harinya, Dito pulang dari kantor. Di tengah jalan ia tak sengaja berpapasan dengan Mitha yang sedang memperbaiki mobilnya.


Dito lantas turun dari mobilnya dan menghampiri Mitha. "Kenapa?"


Wanita itu menoleh.


"Sudah menelepon orang bengkel?" tanya Dito.


"Belum."


"Aku akan menelepon mereka, kebetulan bengkel tak jauh dari sini juga," ucap Dito.


"Iya."


Dito lalu menelepon bengkel langganannya, setelah itu ia mengakhiri panggilannya.


"Dito, terima kasih!"


"Ya," ujar Dito.


"Aku dengar kamu akan menikah dengan Nadine," ucap Mitha.


"Ya."


"Akhirnya kamu jadi menikahinya," ujar Mitha.


"Karena aku sangat mencintainya, lagian juga kekasihmu itu telah mencampakkannya. Jadi, kesempatan bagus ini harus ku ambil," ucap Dito.


"Kalau begitu selamat," Mitha mengulurkan tangannya.


Dito hanya melihatnya saja.


Mitha menarik tangannya.


"Aku mau pulang, sebentar lagi pegawai bengkel akan datang. Semoga mobil kamu segera diperbaiki," ucap Dito.


"Iya, sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama, satu lagi aku harus memberitahu kamu," ujar Dito.


"Memberitahu apa?"


"Katakan pada kekasihmu jangan mengganggu calon istriku, kesempatan itu takkan ku lepas. Kamu paham 'kan maksud perkataan ku?"


"Darwin mengejar Nadine?" tanya Mitha.


"Ya, aku tak suka dia muncul dihadapan wanita yang paling ku cinta."


"Tidak mungkin Darwin mengganggu Nadine," kata Mitha tak percaya.


"Buat apa aku berkata sesuatu yang buang-buang waktu, jika berani mengulangi kesalahannya. Aku tidak akan segan, membuatmu dan kekasihmu itu," Dito mengangkat telapak tangan kanannya lalu perlahan mengepalkannya di hadapan wajah wanita itu.


Mitha menelan salivanya.


Dito kemudian melangkah ke mobilnya.


Mitha masih mematung.

__ADS_1


Dito kemudian berlalu.


__ADS_2