
Keesokan paginya, Dito terbangun. Ia melihat Nadine juga telah mandi.
"Ayo bangun, kita sarapan!"
"Iya, tunggu sebentar."
Beberapa menit kemudian, Dito telah bersiap. Keduanya pun pergi ke restoran hotel.
Sesampainya di sana, mengambil makanan lalu menikmatinya.
"Jangan lupa nanti tanyakan, apa ada kamar kosong lagi?"
"Ya."
"Aku tidak mau melihatmu tidur di sofa."
"Makanya ajak aku tidur di ranjang," goda Dito.
Nadine segera menyipitkan matanya.
Dito tertawa melihat wajah Nadine yang kesal.
"Kamu sengaja 'ya agar ku dengan mudahnya menyerahkan tubuhku?"
"Bukan begitu, siapa tahu kamu mau kita segera menikah."
"Aku tidak kepikiran ingin menikah dalam waktu dekat."
"Masih memikirkan dia?" tanya Dito.
"Tidak juga."
"Lalu apa?"
"Aku masih fokus berkarir."
"Biar aku yang bekerja, kamu di rumah menungguku pulang dengan senyuman," ucap Dito.
Nadine tersenyum mendengarnya.
"Aku serius, aku ingin istriku kelak begitu," ujar Dito.
"Jadi kamu tidak suka kalau istrimu pekerja?"
"Aku tidak mau saja, urusan rumah terbengkalai karena istrinya sibuk bekerja," jelas Dito.
"Jika pun aku nanti menikah kelak, rumah tangga tetap nomor satu. Aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik," ucap Nadine.
"Kenapa mendengar ucapanmu itu membuatku ingin segera melamarmu," ungkap Dito.
"Mulai deh merayuku," singgung Nadine.
Dito tertawa.
"Cepat selesaikan sarapannya, kita lanjut berkeliling."
"Iya, aku akan mengajakmu ke tempat yang lumayan jauh dari sini. Apa kamu mau?"
"Boleh."
Mereka mempercepat sarapannya, sebentar kembali ke hotel lalu melanjutkan perjalanannya.
Saling menggenggam tangan keduanya menaiki bus, tak sampai 15 menit mereka turun.
Keduanya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Tanpa sengaja, Dito menyenggol lengan seorang wanita sehingga membuat barang yang dipegangnya terjatuh.
Secara sigap, Dito memungut barang yang jatuh begitu juga dengan Nadine.
Wanita itu hanya memandangi wajah Dito dari tempatnya berdiri.
Dito lalu menyerahkan barang-barang tersebut, ia lalu mengucapkan permintaan maaf dalam bahasa Prancis.
Nadine dan Dito sedikit menundukkan kepalanya tanda permintaan maaf.
Wanita yang menggunakan masker itu pun bergegas pergi tanpa mengucapkan kata-kata.
Nadine dan Dito saling pandang dan mengernyitkan keningnya.
"Apa warga sini seperti itu?" tanya Nadine.
__ADS_1
"Entahlah, aku rasa tidak juga."
Keduanya kembali melanjutkan perjalanannya.
Sementara wanita yang menabrak tubuh Dito berjalan cepat menuju rumahnya, begitu pintu ia meletakkan barang belanjaannya di atas meja.
Menarik kursi ia menangis sesenggukan, "Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?"
"Kenapa dia di sini?"
"Lalu dengan siapa dia tadi?"
"Mereka sepertinya sangat akrab."
Pertanyaan itu muncul dipikirannya membuatnya mengencangkan tangisannya.
****
Seminggu berlalu....
Nadine dan Dito telah kembali ke tanah air, kedua orang tua mereka menyambutnya.
"Kenapa kalian datang menjemput kami?" tanya Dito pada papanya.
"Kami hanya ingin memastikan kalau kalian telah jatuh cinta," jawab Vina jujur.
Dito mengernyitkan dahinya.
"Sayang, di sana sangat menyenangkan 'kan?" tanya Rita pada putrinya.
"Ya, Ma." Nadine tersenyum.
"Syukurlah, Mama senang jika kamu senang dan tidak bersedih lagi," ucap Rita.
Vina mendekati Nadine lalu bertanya, "Dito tidak menyakitimu, kan?"
"Tidak, Tante."
"Kita baru pertama kali bertemu, ternyata kamu sangat cantik. Pantas saja Dito tergila-gila padamu," puji Vina.
Dito menundukkan kepalanya karena malu.
"Bagaimana kalau kita pergi makan? Kalian pasti lapar, kan?" tanya Rita kepada Nadine dan Dito.
"Iya, Tante. Perjalanan begitu sangat melelahkan," ujar Dito.
"Kalau begitu, ayo kita ke restoran!" ajak Rita.
Sesampainya di restoran Vina terus berada di dekat Nadine. Ya, dia akan membujuk wanita itu agar mau menerima Dito sebagai calon suaminya.
Bagi wanita paruh baya itu kebahagiaan Dito adalah nomor satu.
"Nadine, kalau Tante boleh tahu makanan kesukaan kamu apa?" tanya Vina berbasa-basi.
"Donat dan keripik kentang, Tante."
"Sangat sederhana, ya." Ucap Vina.
"Nadine sebenarnya kalau makan tidak pilah pilih, hanya sekarang saja mengurangi porsinya. Dia tak mau gendut," celetuk Rita.
"Mama, kenapa jadi membongkar rahasia anaknya sendiri, sih?" Nadine protes pada Rita.
Vina yang mendengarnya tertawa.
"Walaupun Nadine gendut, aku tetap suka, Ma." Sahut Dito dengan senyuman.
Nadine yang tak suka, menatap Dito.
"Oh, putraku. Ternyata kamu seperti aku yang berkata jujur!" Leon memeluk dan mengacak rambut putranya.
"Dito memang seperti itu, selalu berkata apa adanya. Dia ini sebenarnya anak yang sangat tulus," jelas Vina.
"Ya, saya melihat kalau Dito anak yang bertanggung jawab dan begitu mencintai putri kami," sahut Malik.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Kapan kita menikahkan mereka?" tanya Leon.
"Aku tidak mau menikah dalam waktu dekat ini," jawab Nadine dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Vina.
"Ma, beri waktu Nadine untuk berpikir," sahut Dito menjelaskan.
__ADS_1
"Hem, apa yang dikatakan Dito benar. Nadine baru beberapa waktu lalu mengalami kegagalan," Rita menimpali.
"Ya, biarkan putri kami yang menentukannya," ucap Malik.
"Baiklah, kami akan menunggu Nadine," ujar Leon.
****
Keesokan harinya, menjelang makan siang. Nadine meminta Dito bertemu dengannya.
"Aku tahu kamu sangat rindu padaku," Dito berkata dengan bangga.
"Jangan terlalu percaya diri!" sinisnya.
"Cepat katakan kamu ingin bicara apa?" tanya Dito lembut.
"Aku tidak suka kedua orang tua kita menjodohkan ku denganmu!"
"Memangnya kenapa? Bukankah waktu orang tuamu menjodohkanmu dengan dia, kamu setuju saja."
"Itu jelas berbeda karena lebih dahulu mencintainya."
"Oh, jadi kamu masih cinta dengannya. Pantas saja tak bisa membuka hati untuk orang lain."
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya trauma, ku takut kamu akan seperti dia!"
"Aku dan dia itu jelas berbeda."
"Ya, aku tahu tapi ku memang tak suka dijodohkan lagi."
"Baiklah, aku akan memberitahu kedua orang tuaku jika memang kamu tidak suka."
Dito beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nadine.
"Aku harus kembali ke kantor, kamu hanya ingin mengatakan itu saja, kan?"
"Iya," jawabnya ragu.
Dito pun lantas pergi meninggalkan kafe.
Nadine memperhatikan punggung Dito, "Dia kenapa, sih?" batinnya.
Nadine akhirnya menikmati makan siang seorang diri, selesai mengisi perutnya ia pun bergegas pergi dari tempat itu.
Di parkiran ia bertemu dengan Mitha.
Nadine yang begitu sakit hati, gegas membuka pintu mobil.
"Nadine, ada yang ingin aku bicarakan padamu!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, anggap saja kita tak pernah bertemu apalagi menjadi sahabat," Nadine memasuki mobilnya kemudian berlalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Berikan Like 😊
Bolehlah Singgah Ke Karyaku Lainnya....
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
- Melupakan Sang Mantan
- Marsha, Milik Bara
- Marry The Star
- Fall in Love From The
- Bisnis, Benci dan Cinta
- Ibu Pilihan Aku
- Bertahan Walau Terluka
- Pria Kejam Dan Gadis Jujur
- Cinta Asisten Dingin
__ADS_1