
Sampai dirumah Andini buru-buru menyiapkan semua pekerjaan nya, seperti memasak, dan lain-lainnya. Karna ia berniat menemui adiknya, untuk memberitahu sang Adik, tentang kejadian tadi siang. Ia pun sangat berharap kalau adiknya percaya padanya.
Setelah semua pekerjaan nya selesai, ia pergi kekamarnya, lalu masuk kekamar mandi.
Tak berapa lama Andini sudah selesai mandinya, ia juga sudah berpakaian rapi, menurut nya, entah lah kalau menurut orang, Andini pun tidak perduli
Dari tadi Kaizal memperhatikan istrinya, ia melihat nya seperti sedang buru-buru.
"Kau mau kemana?, " tanya Kaizal begitu melihat istrinya keluar dari kamar nya.
"Aku mau kerumah ayah, " jawab Andini, apa adanya.
"Untuk apa? bukannya kau takut ya, kalau kehadiran mu di tokak Ayahmu, " ujar Kaizal mengingatkan.
Andini terdiam, ia menjadi bungung, juga takut apa yang di katakan suaminya itu benar.
Tapi kalau tidak kesana, bagaimana cara menyampaikanya, Andini benar-bunar bingung.
"Mengapa kau malah diam saja, " tegur Kaizal melihat istrinya diam bak patung.
"Ah ya, aku akan tetap kerumh Ayah, " lanjutnya, tetap pergi.
"Baik lah, Terserah kau saja, atauβ¦, perlu aku temani, " Kaizal benewarkan diri.
"Boleh kalau kau tidak keberantan, " terimanya dengan senang hati.
Ahirnya mereka berdua pun pergi kerumah Ayahnya.
Ting tong ting tong
Dengan perasaan yang tak menentu Andini menekan bel rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Eh Non Andini, Silah kan masuk Non!, " ucap Bik Iyem, begitu melihat siapa tamunya.
"Clara ada Bik?, " tanya Andini, tapi ia ragu untuk masuk.
"Ada Non, masuk saja dulu!, " jawab Bik Iyem, lagi-lagi ia mpersilahkan Nonanya masuk.
Andini penatap suaminya, seolah ia meminta persetujuan. Kaizal menganguk, ia mengerti arti dari tatapan istrinya.
Andini dan Kaizal pum ahirnya masuk. Bik Iyem mempersilahkan keduanya duduk, lalu prgi kedapur, sebelum itu iya mememui nyonyanya untuk memberi tahu, kalau ada tamu.
Bik Iyem yang tau permasalahan dirumah itupun tidak mengatakan siapa tamunya, karna ia takut majijannya tidak mau menemui putrinya.
"Sebentar ya Non, Tuan akan segera menemui Non Andini, " beritahunya, sambil membawakan minum untuk Kaizal dan Andini.
"Tapi Bikβ¦, aku kemari ingin bertemu Clara, " ujarnya, memang itulah tujuannya.
"Untuk apa kau menemui putriku?!, " tanya Ayah Raja, dengan wajah dingin nya.
"Ayah! " ucap Andini melihat ayahnya, setelah itu ia pun menunduk.
"Ayahβ¦, apa yang Ayah katakan, " timpal Ibu Annis, mendekati suaminya.
"Maaf Yah, tapi aku kemri ingin mengatakan sesiatu pada Clara, " lanjutnya, memcoba menahan agar tidak menangis.
"Itu tidak penting, keluar kalian dari rumahku, " tolaknya, lalu mengusir putrinya.
Andini pun menangis, tidak bisa lagi menahan air matanya, Kaizal yang melihat istrinya yang menangis pun merada marah.
Tapi ia masih diam, ingin melihat sejauh mana seorang ayah merah pada anaknya, apakah seperti ayahnya.
"Ini penting Yah, menyangkut kebahagian Clara, " Celutek nya lagi, berharap sang ayah akan percaya.
__ADS_1
Clara yang di dalam kamarnya pun terusik, begitu mendengar calon suaminya di sebut.
"Memangnya ada apa dengan Andra, " sela Clara tiba-tiba keluar dari kamarnya.
Rungtamu memang dekat dari kamar Clara, sehingga ia dapat mendengar semuanya, hanya tadi ia males menemui kakaknya.
"Tapi Cla_. "
"Sudah, lebih baik kalian pergi dari sini, " usir Ayah, memotong ucapan Andini.
Ia benar-benar tidak mau mendengar kan penjelasan Andini.
"Segitu bencinya kah Anda, pada putri Anda sendiri?, " ucap Kaizal, ia sudah tidak tahan lagi melihat istrinya di perlakukan seperti itu.
"Ya, karna aku paling benci pada orang yang telah berjinah, dan merusak nama baik ku, " jawab ayah Raja, yang selalu mementingkan nama baiknya.
"Hehβ¦, Anda pikir putri Anda setendah itu.
Apa Anda tidak mengenal putri Anda sendiri, " imbuhnya tersenyum.
Ayah Raja terdiam, ia tau betul bagaimana sifat puntrinya. tapi karna takut semua orang mencemoh keluarganya, terlebih lagi ia takut rekan-rekannya tau yang mengakibatkan ia kehilangan pekerjaanya.
Jadilah ia lebih memilih kehilangan putrinya, karna tinggalnya hanya beberapa metersaja dari rumahnya.
"Dan ya, asal Adna tau, kami tidak pernah berbuat apa-apa, " lanjut nya lagi, lalu memberikan amplop besar yang ada di tangan nya.
"Sudah ayo kita pulang. "
iya menarik tangan Andini, membawanya keluar dari rumah itu.
Mohon dukungan krya mak ya ππππ
__ADS_1
Seperti like komen favorit dan vote nya ππππ
Love you ππππππππππππππ