
Sampai di rumah Kaizal dan Andini keluar dari mobil, Andini melihat ke rumah ayahnya sudah ada beberapa mobil yang ber jejer di halaman depan.
"Pasti keluarganya Andra sudah datang, " ucap nya tanpa sadar.
"Memang nya kenapa? keluarga Andra itu datang?, " tanya Kaizal yang mendengar ucapan Andini.
Kaizal tidak tahu Andra itu siapa, walaupun tetanggan Kaizal tidak tau menau, siapa-siapa orang yang sering berkunjung kerumah tetangga nya yang sekarang menjadi mertua nya, karna dia memang orang nya cuek dan tidak perduli sekitar.
"Ya mau melamar Clara lah untuk apa lagi, " jawab nya kesal.
"Oo, melamar ya, " gumam nya berjalan masuk kedalam rumah.
Sedangkan Andini, ia masih saja memandangi rumah orangtuanya.
"Ada apa? kenapa kau masih di luar?, " tanya Kaizal kembali keluar dari rumah.
"Tidak aku hanya rindu rumah itu, juga rindu Ibu, " jawab nya sendu.
Kaizal merasa kasihan mendengar Andini berkata merindukan Ibu, membuat ia juga merindukan Ibunya.
"Ya sudah datang saja, toh rumah nya dekat kok, Ibu juga pasti ada di rumah, " lanjut Kaizal.
Andini menggeleng lalu berjalan ingin masuk ke dalam rumah.
"Nak Andini!
panggil salahvsatu tetangga mereka.
"Kok malah di luar sih? Ayo tunggu aoa lagi!, " tanya seorang Ibuk-ibuk sekaligus mengajak Andini.
"Iya buk, duluan saja!, nanti saya menyusul!, " ucap nya saja, setelah itu ia melanjutkan langkah nya masuk kedalam rumah.
"Kau tidak papa?, " tanya nya mengejar langkah Andini.
"Hmm, " jawab nya mendehem.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Kaizal memperhatikan Andini, ia melihat istri nya itu sedang menangis.
Malam hari nya.
Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu yang sudah di hias menjadi sedikit mewah, ternyata bukan hanya lamaran saja tapi juga pertunangan Andra dan Clara.
Selamat ya Nak Clara, " ucap beberapa ibuk-ibuk memberi ucapan selamat pada Clara, gadis itu pun mersa sangat bahagia.
"Di mana Nak Andini? kok gak ada kelihatan?, " tanya Buk Tien, istri dari salah satu karyawan di kantor gubernur.
Buk Tien memang sudah mengenal Andini, karna sering datang bersama Ayah nya bila ada acacara perkumpulan atau undangan pesta.
Clara terdiam tidak tau harus menjawab apa. Clara malah memandang Andra calon suami nya.
"Andini sdah tidak ada lagi di rumah ini, jangan terlalu banyak bertanya, " Ayah menjawab dengan marah.
__ADS_1
Buk Tien pun terdiam, karna pak gubernur langsung yang bicara pada nya. Acara pun berlanjut.
Semua acara pun sudah selesai, dan tinggal keluarga lah yang ada di situ. Karna mereka akan membicarakan kapan hari pernikahan Andra dan Clara.
Diluar rumah, Andini hanya bisa memandangi runah orangtuanya, melihat orang-orang yang hilir hulur, keluar masuk rumah itu.
Kalau Andini memperhatikan rumah orangtuanya, lain hal nya dengan Kaizal yang memperhatikan Andini.
:Apa kau baik-baik saja?, " ia bertanya sambil mendekati istrinya.
"Aku baik-baik saja, " jawab Andini, lalu ia menghapus air mata nya.
"Kalau kau butuh bantuan katakan saja pada ku. " tawar Kaizal, di balas anggukan kepala oleh Andini.
Setelah itu mereka berdua masuk ke kamar masing-masing.
Untuk saat ini mereka sepakat untuk tidur terpisah, lebih tepatnya Andini yang meminta, dan Kaizal pun menyanggupi nya.
Pagi hari nya
seperti hari kemarin, pagi-pagi Andini sudah bangun, menyiap kan sarapan mereka lalu siap-siap untuk pergi bekerja.
Ceklek
Andini memasuki kamar Kaizal, kamarnya memang sengaja tidak ia kunci agar Andini mudah keluar masuk kamar nya.
"Kai Bangun!, aku mau berangkat kerja, " ucap Andini mendekati suami nya yang ada sibatas ranjang.
Dehem Kaizal, dengan mata yang masih terpejam.
:Apa kau tidak bekerja? mengapa kau hanya tidur saja?, " lanjut Andini bertanya pada suami nya.
"Aku tidak perlu bekerja, kan kau sudah bekerja," jawab nya kali ini ia sudah membuka matanya.
"Terus kalau aku bekerja, apa hubugangang nya dengan mu?, " tanya Andini lagi. lalu ia melihat Kaizal yang sudah duduk di tepian janjang.
Hububungan nya dengan mu, karna kau adalah istri ku, jadi sku juga berhak atas dirimu dan uang mu, " jawab nya enteng, menarik tangan Andini mendudukan nya di pangkuan nya, Lalu memeluk nya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan?!, " tanya Andini membentak juga memberontak di atas pangkuan suami nya.
"Kau lupa, kalau aku ini suamimu aku berhak atas segala yang ada padamu, " ucap nya lagi mengingatkan.
Andini merasa geram mendengar ucapan Kaizal, dan nenyikut perut suami nya. Kaizal merasa kesakitan, tapi tetap tidak melepas kan istri nya.
Kaizal malah membaringkan tubuh nya, membawa Andini di pelukan nya.
"Kau berani menyakiti ku,! kau mau aku memperkosa mu di sini, " ucap nya menatap Andini dengan tajam.
Gelek
Andini menelan ludah mendengar ucapan dan melihat tatapan Kaizal pada nya, ia takut kalau Kaizal akan memangsa nya saat itu juga.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bermaksud menyakitimu, " balas nya meminta maaf. Bahkan tubuh nya sudah gemetaran.
Wahahahahaha!
Kaizal tertawa lepas, ia merasa lucu melihat wajah Andini yang ketakutan, di tambah lagi gadis yang bersetatus istri nya itu sampai gemetaran.
"Aku hanya becanda, " ucap nya enteng, lalu melepaskan Andini.
Kaizaaaal! teriak Andini mengambil banral memukulkan nya pada suami nya yang masih tertawa.
Tok tok tok
Suara ketokan pintu terdengar dari luar.
"Bentar aku buka dulu, " ucap Andini, saat ini mereka sudah di meja makan.
Ceklek
Andini membukakan pintu, ia menangis melihat siapa yang datang hertamu ke rumah mereka.
Ibu
Andini langsung memeluk Ibunya.
"Apa ibu boleh masuk?, " tanya sang ibu.
"Boleh buk, " balas Andini melepaskan pelukannya.
Ibu pun masuk, setelah sampai di dalam, gantian Ibu yang memeluk Andini, karna ia juga sudah merindukan putri nya.
"Kenapa kau tidak datang ke acara pertunangan Adikmu?, " tanya Ibu Annis, sambil menangis.
"Andini gak berani Buk, kan Ayah masih marah, " jawab nya, ia juga menggelengkan kepala nya.
Kalu kau datang!, siapa tau Ayah akan memaaf kan mu, " lanjut Ibu Annis lagi.
"Baik lah buk, nanti akan aku coba menemui Ayah, " ucap nya tersenyum.
:Siapa Din?, " tanya Kaizal datang menemui Andini kedepan.
"Kenal kan buk, ini suami ku, " ucap nya mengenalkan suami nya, bukannya menjawab pertanyaan suaminya.
Tapi Kaizal tetap mengulur kan tangan nya, Ibu Annis mun menerima uluran tangan menantu nya.
"Ibu gak bisa lama-lama, kamu segeralah temui Ayah mu dan meminta maaf lah Nak!, " ucap Ibu Annis berpamitan, lalu ia kembali memeluk Andini.
Walaupun baru beberapa hari ini tidak bertemu, ia sudah sangat merindukan putri nya itu. itulah seorang Ibu, selalu merindukan anak-anak nya setiap saat.
Jangan lupa dukungan krya mak ya 🙏🙏🙏🤗🤗
Seperti like komen favorit dan vote nya 🙏🙏🙏🙏😘😘😘
__ADS_1
Love you 💓💓💓💓💓💞💞💞💞💞💞💞