
Saat ini Andra duduk di depan ruangan yang Clara tempati, ia duduk termenung memikirkan apa yang telah dokter katakan. Andra benar-benar tidak menyangka akan jadi seperti ini.
"Nak Andra! dimana Clara? sebenarnya apa yang terjadi? mengapa dia bisa jatuh pingsan?, " tanya ibu Annis beruntun.
Buk Annis mendekati Andra,
Ko sadarkan diri.
"Kamu kenapa Nak? kok bisa sampai pingsan gini sih?, " tanya ibu Annis, begitu melihat putrinya yang membuka mata.
"Gak papa buk, tadi Clara cuma lagi pusing aja, " jawab Clara, tersenyum pada ibinya.
"Permisi Pak, Buk, suaminya mbak ini dimana ya?, "tanya dokter yang memeriksa Clara.
"Suami, " beo ayah, ia menatap puntrinya.
"Iya Pak, su_. "
"Tapi puntri saya belum menikah, dia baru akan menikah tiga hari lagi, " seru ayah langsung memotong ucapan sang dokter.
"Lalu, pria yang bersa mbaknya tadi, katanya suami mbak ini, " jelas dokter itu.
Dia calon suami anak saya Dok, " balas ibuk, sedangkan ayah sudah mulau merasa ada yang gak beres dengan puntinya.
__ADS_1
"Masf pak, kalau begitu saya terpaksa menyampaikan ini pada Bapak dan ibuk, kalau saat ini putri bapak dan ibuk sedang mengandung, " jelas dokter iti dengan berat hati.
"Apak Dok hamil, " seru ayah tetkejut.
Sedangkan ibuk sudah tidak sanggup lagi membendung air matanya, ia merasa sudah gagal memjadi orangtua, tidak bisa menjaga putrinya denan baik.
"Buk, urus anakmu ini! Ayah akan menemui Andra, mungkin dia masih didepan, " ucap ayah, setelah itu ia langsung keluar dari ruangan itu.
Di mana anak itu, " gumam ayah. Kitika ia tidak menemukan Andra diluar.
Ayah mengambil ponselnya, ie menghubungi Andra, dan nomer pria itu sudah tidak aktif, ahirnya ayah kembali kedalam menemui istri dan putrinya.
"Ayo kita pulang, " ajak ayah dingin, sorot mstanya benar-benar tajam.
"Tapi yah, di mana Andra? " tanya Clara, yang berahir mendapat tatapan ayahnya.
Hanya butuh waktu lima belas menit , spailah nereka di rumah ayah Raja, ia menyeret puntinya kedalam rumah, sama sekali tidak mperdulikan putrinnya yang sedang hamil.
"Ayah pelan-pelan, Clara itu sedang ha_. " ucapan ibu Annis terhenti karna mendapat tatapan dari suaminya.
Sekali lagi ibu menyebut itu! aku juga tidak akan segan-segan menampar ibu! " hardik Ayah,memotong ibu yang sedang bicara, karna ayah benar-benar kecewa.
Ibu diam, tidak lagi berani bicara, begitupun dengan Clara, ia hanya bisa menunduk, tidak berani melihat ayahnya.
__ADS_1
Ayah kembali keluar dari Raja rumah, ia mengendarai mobilnya, mencari keberadaan Andra, ayah juga menelpon orang membantunya untuk mencari Andra.
"Sedangkan Andini, hari ini sangat sibuk, mengemadi barang-barang meteka, ia juga marah pada suaminya yang mengajak pindah rumahbsecara mendadak, yang lebih parahnya ia tidak tahu mereka akan pindah kemana.
"Semua sudah selesai?, " tanya Kaizal, melihat Andini kekarnya.
"Sudah, " jawabnya saja.
"Baik lah, ayo kita berangkat, " ajak Kaizal keluar lebih dulu.
"Tapi Kai, aku boleh ya ketemu ibu dulu, " ucap Andini, ingin menemui ibunya untuk yang terahir kalinya.
Percuma Din, kamu akan di larang masuk, " ujarnya mengingatkan istrinya.
"Baik lah, ayo kita berangkat, " ujarnya Andini lemas tak bersemangat.
Andini dan Kaizal pun keluar dari rumah itu, Andini merasa heran, melihat ada dua orang menunggu mereka diluar.
"Mereka itu siapa?, " tanya Andini, sambil melihat ke arah orang yang mendekati mereka.
"Mereka ituKaizalKaizal pemilik baru rumah ini?, " jawab Kaizal, lalu menyapa dua orang itu.
"Ini Pak, kunci rumahnya kami akan pergi sekarang, semiga bapakbdan ibik betah tinggal disini, " ucap Kaizal, memberikan kunci rumah itu.v
__ADS_1
"Baik Mas, saya merima ya, " balas orang itu, menerima kuncinya.
Kaizal pun membawa istrinya pergi dari rumah itu.