Terpaksa Menikah Karena Salah Paham

Terpaksa Menikah Karena Salah Paham
kesuksesan yang di bantu oleh papa


__ADS_3

Kaizal mengurus Jenazah ayahnya, acara oemakaman sudah selesai, Kaizal mensemayamkan ayahnya tepat di samping ibunya. Melihat adiknya yang terus menangisi ayah, sambil memeluk gundukan tanah yang sudah menjadi peristirahatan ayahnya.


Sudah ya Raka! kamu harus kuat, biar papa juga tenang di sana" bujuk Andini, mengelues punggung adik iparnya.


"Raka sendiri kak, mama sudah pergi, sekarang papa juga pergi," balas Raka masi terus memeluk gudukan tanah yang di depannya.


Kamu gak sendiri Ka, kan ada kakak sama Kak Kaizal." Andini membalas, membawa Raka kedalam pelukannya.


Di pelukan Andini Raka masih terus menangis, sampai ia mendengar suara yang sangat ia kenal.


"Raka, ayo ikut Mama! di sini kamu sudah tidak punya siapa-siapa selain Mana," ucap Iren. menarik Raka dari yang ada di pelukan Andini.


"Siapa bilang, Dia masih punya aku..., kakak nya," balas Kaizal. ia memegang tangan Iren lalu melepaskannya dari tangan Raka.


"Sejak kapan kau menganggapnya adik? Apa karna kau menginginkan harta miliknya! dasar tidak tau malu," cetus Iren. kembali menarik tangan Raka, tapi Kaizal menepis tanggannya agar tidak menyentuh Raka.


"Heh, apa tidak terbalik, bukankah kau yang selama ini tidak memperdulikannya," balas Kaizal. ia menatap Iren dengan tajam.


"Din, Bawa Raka ke mobil! aku ingin bicara dengan wanita ini! perintahnya. Andini pun menurut. mereka masuk ke mobil.


"Kenapa? sekarang baru kau datang menjeput Raka, bukankah kau sudah bahagia dengan pilihanmu," ucap Kaizal bertanya. Ia menatap sinis pada Iren.


"Kemarin aku juga mengajak Raka, tapi dia tidak mau, itu karna dia ingin tinggal bersama papanya. tapikan mas Dayus sudah tiada, itu artinya dia harus tinggal bersama ku," jawab Iran, sedikit takut melihat tatapan Kaizal.


"Benarkah, tapi aku ko gak percaya, atau kematian papa itu ada hubungannya denanmu!" balas Kaizal menuduh. membuat Iren merasa takut. den Kaizal semakin yakin, kalau ibu sambungnya itu terlibat dialam kecelakaan ayahnya.


"A_Apa maksudmtu! kau menuduh ku!" seru Iren terbata. membuat Kaizal semakin yakin.


"Aku tidak menuduhmu! tapi kalau sampai terbukti kau yang melakukannya, maka aku tidak akan melepaskanmu untuk yang kedua kalinya," balas Kaizal mengancam. Ia menatap Iren dengan tajam denngan menuh kemarahan.


Setelah itu ia pergi meninggalkan Iren yang terdiam mematung, masuk kedalam mobilnya yang sudah di isi Andini Raka dan Derkan.


"Der, awasi terus wanita itu!" perinrahnya pada Derkan. yamg di balas anggukan oleh asistennya itu. Meninggalkan pemakaman, mereka pulang kerumah yang di tempati Raka, ya itu kediaman Ayah Dayus.

__ADS_1


Untuk sementara meraka akan tinggal di rumah itu, karna mereka akan mengadakan pengajian yang memang sudah menjadi tradisi di komplek itu.


Kaizal masuk ke ruang kerja Ayahnya, di mana ia pernah melihat kejadian ibunya yang terbunuh. Kalau mengikuti hatinya, sejujurnya Kaizal tidak sangggup untuk datang ke rumah itu, tapi Andini selalu meyakinkannya kalau semuanya akanbm baik-baik saja.


Kaizal tidak masalah asal Andini selalu ada di sampingnya, itu membuatnya mampu untuk menghadapi semuanya. terlebih lagi sudah tidak ada yang akan membantu Raka, selain dia.


Kaizal mulai membuka beberapa berkas yang ada di meja ayahnya, sampai ia menemukan berkas yang memang tidak asing baginya, di mana ia mendapatkan bantuan dari seseorang yang sampai saat ini tidak ia ketahi siapa orangnya.


"Jadi, semua itu ayah yang melakukan, dan aku selalu menghinanya, mengatakan kalau dia tidak menyayangi ku. Setelah ia memeriksa semua nya, ia baru tau segala ke suksesan yang ia dapatkan tak luput dari bantuam ayahnya.


Kaizal merasa bersalah, seharusnya ia tau kalau ayahnya sangat menyayanginya, "Selama ini aku yang jahat padanya, kau tidak memperdulikan ayahmu sendiri Kai," gumanya bicara sendiri. Kaizal semakin bersalah saat ia melihat semua berkas-berkas kerja sama, di mana saat ia mualai mendirikan kantornya.


Raka memperhatikan kakaknya, "Kakak! apa aku boleh mengatakan sesuatu?" ucap Raka. ia mendatangi kakaknya yang duduk di kursi kebesaran ayahnya.


"Ada apa? katakan lah!" balas Kaizal. Raka membuka laci yang ada di bawah meja, ia mengeluarkan Album yang selalu di tunjukan ayahnya, jika sedang bercerita tentang kakaknya.


"Kakak tau, kenapa aku tidak pernah membenci kakak, dan aku selalu ingin menjadi seperti kakak," ucap Raka. yang membuat Kaizal menggeleng, karna ia memang tidak tahu.


Raka menunjukan Foto mada Kecilnya, di mana banyak kesamaan dengan kakaknya, dan Raka juga mengatakan jika ayahnya selalu tertidur dengan memeluk foto kakak dan ibu tertuanya.


Cukup lama Raka dan Kaizal ada di rung kerja, Raka mengajak kakaknya keluar karna hari sudah nulai malam, di mana mereka waktunya makan malam, setelah itu akan ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang datang untuk pengajian.


Di tempat lain, Derkan juga sudah mulai mengumpulkan bukti tentang kecelakaan yang di alami Dayus ayah dari tuannya itu.


Derkan sudah menemukan beberapa buktinya, dan semua itu mengarah kepafa Iren. Derkan juga sudah meminta orangnya untuk mengikuti Iren, karna mereka yakin kalau wanita itu tidak sendiri, ada orang yang membantu Iren.


Pagi harinya, Andini terbangun, ia berusaha tidak mengeluarkan suara saat ia merasakan mual dan ingin muntah. Kalau biasanya ia akan di bantu oleh suaminya, kali ini tidak, Andini berusaha sendiri, karna ia tidak mau mengganggu suaminya yang sedang tertidur.


Morning sickness nya memang sudah mulai berkurang, tidak seperti awal sampai membuatnya tidak bisa bergerak. Merasa lebih baik, Andini keluar dari kamar, ia berusaha turun ke bawah, biasanya kalau sudah meminum air hangat, ia akan merasa lebih baik.


"Raka! ada apa? kau sudah bangun padahal ini masih jam 6 pagi lo?" tanya Andini. yang melihat Adik iparnya duduk di pertengah tangga.


"Raka, gak bisa tidur Kak, ini baru krluar dari kamar Papa," jawab Raka. Andini mengurungkan niatnya yang ingin kedapur, jadilah ia duduk di samping Raka dan memeluk bocah itu.

__ADS_1


Kaizal yang baru bangun, terkejut saat mendapiti tempat tidur bagian istrinya kosong, ia mencari di kamar mandi tapi tidak ada, jadilah ia keluar untuk mencari istrinya, "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Kaizal, mengagetkan Istri dan adiknya.


"Kai, Kakak!" seru keduanya. Kaizal menggeser adiknya lalu duduk di antara Andini dan Raka.


"Kau jangan semakun melunjak ya! dari kemarin aku sudah mengijinkanmu untuk memeluk istri ku, tapi itu sudah cukup, sekarang jangan lagi!" cetusnya menatap sdiknya.


"Kai, apa yang kau katakan?" ujar Andini, menyikut merut suaminya.


"Maaf kak, aku tidak ber_."


"Sutttt, Kakak cuma bercanda, kakak tidak mau Raka terus bersedih, Raka kan seorang pria. jadi menangis itu tidak di ijinkan untuk seorang pria," ucap Kaizal. yang memolong ucapan adiknya.


Tadi Kaizal hanya ingin bercanda, tapi adiknya menanggapinya dengan serius dan meminta maaf, membuat Kaizal merasa tidak enak. Kaizal memeluk adinya, dan bocah itu kembali menamgis di pelukan kakaknya.


*


*


*


*


*


*Bersambung.


*Yang sabar ya Raka, kamu gak sendiri kok masih ada kakak dan kakak iparmu, mereka akan merawatmu dengan baik.


Mohon dukung krya mak ya🙏🙏🙏🙏


Dengan like komen favorit dan vote nya🙏🙏


LOVE YU sekebon buat kalian semua yang sudah baca novel receh mak❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2