
Semua persiapan pesta sudah selasai, Hari yang di tunggu-tunggu semua orang pun tiba. Bukan pihak keluarga yang tiddak sabar menanti pesta itu, tapi para tamu yang mendapat undangan.
Pesta yang meriah itu diadakan di Hotel bintang lima, Diama semua tamu sudah banyak yang hadir, baik itu dari kalangan yang biasa maupun dari kalangan atas.
Tamu yang hadir sudah sangat menunggu kehadiran sang pepilik acara, mereka sangat penasaran dengan Kaizal yang tidak pernah di ketahui sosoknya.
Selama ini mereka berpikir kalau Derkan lah pemilik perusahaan KZA Grup, padahal Derkan selalu menyebut nama Kaizal, di setiap urusan yang ada di KZA Grup.
Di dalam kamar Andini sudah di make up mua yang propesional, Andin terlihat sangat cantik saat mengenakan gaunnya.
"Nyonya terlihat sangat cantik," ucap mua itu, setelah ia selesai mendandani Andini.
"Terimakasih Mbak," jawab Andini tersipu.
Sedangkasn Kaizal, dia juga tak kalah tampan, lengkap dengan Jasnya membuat pria terlihat lebih tampan dari biassnya.
"Sayang, apa semuanya sudah selesai?" tanya Kaizal, mendekati istrinya.
Kaizal melongo saat melihat kecantikan Andini, mengenakan gaun yang ia pilihkan.
"Ya sayang, Sudah selesai. bagai mana dengan mu?" jawab Andini, balik bertanya pada suaminya.
Kaizal sudah meminta Andini memanggilnya sayang, begitu juga sebaliknya, mau tidak mau Andini harus setuju, walau pun dia masih kaku saat menyebut sayang pada Kaizal, tapi dari kemarin ia sudah belajar, agar tidak menyebut nama Kaizal lagi.
Karna semua sudah selesai, Kaizal dan Andini turun, Mereka berjalan sambil bergandengan. dengan Anggunnya Andini berjalan berdampingan dengan Kaizal, membuat mereka benar-benar menjadi pusat perhatian.
"Sungguh Pasangan yang sangat cocok, cantik dan tampan," ucap para tamu yang melihat mereka.
Semua orang mperhatikan mereka berdua, Kaum adam dan hawa itu menatap kagum pada keduanya, mereka juga berbisik-bisik. Ada yang mengagumi keduanya, ada juga yang terkejut melihat siapa pemikil perusahaan KZA Grup.
Melihat tamu yang datang begitu banyak, Andini merasa kesulitan mencari Ayahnya, di tambah lagi Kaizal terus mengejaknya dan mengenalkannya pada semua orang.
Semua orang menberi selamat dan doa yang baik bada mereka berdua, termasuk juga Clara dan Andra. Clara benar-benar merasa malu saat bertemu kakaknya.
Dia hanya diam, tidak bicara selain mengucapkan selamat pada kakak dan kakak iparnya.
"Clara, kakak mohon bersikaplah biasa saja, layaknya kita sebagi adik dan kakak," ucap Andini.
Clara melihat Andini, dia menangis lalu memeluk kakaknya itu.
__ADS_1
Apa aku masih pantas di sebut adik, aku sudah keterlaluan, harusnya aku membelamu, saat ayah marah padamu, bukan malah sebaliknya," balas Clara menyesali perbuatannya.
"Sudah, itu semua sudah berlalu, dan kita masih tetap adik kakak, itu tidak akan berubah sampai kapanpun," ujar Andini, membalas pelukan Clara.
Di pelukan Andini Clara mengangguk. sedangkan Kaizal mendekati Andini, ia kembali mengajak istrinya, karena sudah waktunya mengumumkan pernikahan mereka.
Pirmisi semuanya, para tamu yang hadir saya minta peehatian semuanya," ucap seorang protokol yang sudah berdiri di manggung.
Semua para tamu menghadam ke arah perotokol itu, perotokol itu mengummumkan maksud dan tujuan pesta yang di adakan, ia juga meminta Andini dan Kaizal, memasuki lokasi dansa.
"Sayang!"
Kaizal berlutut, mengulurkan tangannya, mengajak Andini berdansa.
Andini tersenyum, lalu mengangguk menerima uluran tangan Kaizal.
Lalu musik pun menyala, Andini dan Kaizal berdansa, mbuat semua orang mencari pasangan masing-masik dan berdansa bersama.
Dari tadi seseorang memperhatikan Andini dan Kaizal, Pria itu mengepalkan tangannya, saat melihat Andini berdansa, Pria itu tak lain ada lah Zidan.
Sedari masuk kepesta ia sudah memperhatikan Andini, awalnya ia pikir hanya kebetulan mirip saja, tapi saat mendengar protokol menyebut namanya, dia yakin itu adalah Andini mantan karyawannya.
"Selamat ya Din, ternyata kau sudah menikah," ucap Zidan tersenyum, setelah ia berhasil mendekati Andini.
"Pak Zidan," ucap Andini, tidak membalas ucapan Zidan.
"Ya, ku kira kau tidak mengenalku lagi," lanjutnya masih dengan senyuman.
"Mana mungkin saya lupa sama Bapak, karna bapak sudah membantu saya mendapatkan pekerjasn yamg saya sukai." Kali ini Andini membalas ucapan Zidan.
Hal itupun membuat Kaizal marah, ia menatap Zidan, membawa istrinya menjauh dari situ, tapi masih di lokasi dansa.
Zidan kembali mendekat, kali ini ia mengajak Kaizal mengobrol, dan pura-pura tidak mengenal pria itu, padahal mereka sudah lebih dari saling mengenal.
Kaizal menyudahi dansanya, tapi ia tetap meminta para tamu lanjut berdansa, lalu Kaizal mengajak Andini duduk.
Zidan tidak menyerah, ia mengikuti Kaizal dan Andini, dengan tidak sopannya ia duduk di samping Andini, membuat wanita itu ada di tengah-tengah Kaizal dan Zidan.
"Jadi ini yang membuatmu berenti bekerja dari perpustakaan? padahal dari dulu kau sangat menginginkan pekerjaan itu," tanya Zidan, mengingatkan Andini, pada pekerjaan yang sangat di sikainya.
__ADS_1
"Iya, memang karna akulah dia berhenti dari perpustakaanmu itu, karna tanpa bekerja, aku sanggup membeli apapun yang dia inginkan," Bukan Andini yang menjawab melaikan Kaizal.
"Aku tau kau sasnggup membeli segalanya, tapi asal kau tau, dulu ayahnya Andini juga mampu, tapi dia tetap kekeh bekerja, karna membaca dan mengurus buku memang sudah menjadi hobbi Andini," balas Zidan, ia tersenyum seolah-olah mengejek Kaizal.
"Kau tau, dia itu bekerja bukan karna tidak mampu, tapi dia melakukan itu karna dia suka," lanjut Zidan lagi, setelah mengatakan itu Zidanpun pergi.
Kau bilang dia hanya atasanmu, tapi mengapa dia tau segalanya tentangmu!" seru Kaizal menatap Andini.
Dia memang atasanku, cuma kami sudah lama saling mengenal, jadi dia tau banyak hal tentang aku," balas Andini, memang benar adanya.
Iya memang mengenal Zidan sudah lama, hanya saja Zidan selalu memanfaatkannya.
Kaizal mencoba menahan diri, agar tidak marah pada istrinya itu, karna pesta masih berlangsung.
"Ingat ini belum selesai," bisik Kaizal. Dia memang tersenyum pada Andini, tapi tatapannya sudah berubah.
Andini Menelan ludah, saat melihat tatapan suaminya, dia sudah mulai mengerti, setiap kali suaminya marah pasti akan berujung dengan urusan ranjang dan buka-bukaan.
Kaizal Kembali mengajak Andini, mereka kembali berjalan, sambil sesekali menyapa para tamu. Kaizal menghentikan langkah nya, saat melihat Laras berdiri di hadapannya.
Sudah lama dia tidak melihat wanita itu, semenjak kejadian di rumahnya, yang berujung membuatnya terikat pernikahan dengan Andini.
Andini yang melihat Laras ada di hadapan mereka, Andini segera pergi meninggalkan keduanya. Tapi Kaizal mengejarnya, menarik tangannya membawanya kehadapan Laras.
"Oh, jadi sekaramg kalian sudah menikah ya," ucap Laras, sambil menatam Kaizal.
"Ya, seperti yang kau tau, Andini adalah istriku," balas Kaizal.
Laras tersenyum, dia mendekatkan wajahnya pada Kaizal, lalu berbisik kan sesuatu.
"Kau tauβ¦, aku masih meyimpan setiap kenangan manis kita, jadi tetaplah menjadi Kaizal ku, yang ada setiap kali aku membutuhkan dirimu, sama seperti janji kita dulu, kita adalah panner di RANJANG," bisik Laras menekan kata ranjangnya.
Setelah itu Laras pergi dari hadapan Kaizal dan Andini. Ia menoleh ke belakang, tersenyum pada pria itu.
Mohon dukung krya mak yaπππ
Dengan like komen favorit dan vote nyaπππ
Love you sekebun buat kalian semua ππππππ
__ADS_1