
Pagi harinya, Clara kembali mendatangi KZA Grup, iya datang dan kangsung masuk keruangan calon suaminya.
"Clara!
"Ya, kenapa…? kau terkejut melihat aku datang lagi, jangan kau kira bisa lari dari tamggung jawabmu, " cacar Clara, sebelum Andra bicara.
"Enggak Cla…, aku nggak lari, cuma semalam aku syok aja mendengar apa kata dokter kalau kau_, " ucapan Andra terhenti, ia tidak samngup lagi melanjutkannya.
"Tapi kenapa kau mengabaikan panggilanku, dan ayah sudah mencarimu, tapi dia tidak menemukanmu, " sangut Clara yang sudah kesal pada Andra.
"Maaf untuk itu, kemarin aku benar-benar tidak menyangka, padahal kita melakukannya hanya sekali, " ujarnya pula, seolah tak percaya.
"Jadi kamu tidak percaya, kalau ini adalah anakmu, darah dagingmu! " serunya, marah sekaligus kecewa pada Andra.
"Gak Cla, aku percaya kok, kita juga akan tetap menikah, " balasnya mbuat hati Clara merasa tenang.
"Benaran ya An, aku gak mau kehilangan kamu, aku sangat mencintaimu, An, " ujar Clara, lalu ia memeluk Andra.
"Ya, kita akan tetap menikah, sku juga mencintai ksmu, " balasnya, balas memeluk Clara.
"Ya Agar kedua orangtuaku tidak malu, karna aku gagal menikah, " lanjut Andra didalamhati.
Dia memutuskasn tetap menikah dengan Clara, karna ia tidakmau menjelekan nama baik orangtuanya.
"Makasih An, aku tau kamu laki-laki yang bertanggung jawab, " serunya, mengeratkan pelukannya.
Andra hanya mengangguk, menanggapi ucapan Clara.
Di Perpustakaan.
Pagi itu Andini, kembali tidak masuk bekerja, Jenny benar-benar kehilangan informasi tentang Andini.Jenny juga sudah melihat kerumah yang di tempati Andini, tapi rumah itu sudah ditempati orang lain.
Ahirnya Jenny menghubungi Bosnya, untuk memberitahu, sudah dua hari ini Andini tidak masuk bekerja.
Jenny: "Bos_."
__ADS_1
Ucapan Jenny langsung terhenti.
Dayus: "Kok bisa kau tidak tau dimana keberadaan Andini, Aku kan sudah bilang padamu terus awasi dia, dasar tidak becus, " marah Dayus, Bosny Jenny.
Padahal ia baru berniat, melapor pada bosnya, tapi bosnya itu sudah tau semuanya.
Janny: "Maaf Tuan, Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba dia tidak masuk kerja, " jelas Jenny, ia menununduk.
padahal saat ini ia hanya bicara dibdalam sambungan telvon, tapi ia bicara seolah-olah ia bertatap muka langsung.
"Jenny!…, kamu lagi ngapain disin? Dan sedang bicara dengan siapa?, " tanya Fahri, merasa heran.
"Aku gak ngomong sama siapa kok, lagian bukan urusan kamu juga, " cetusnya, setelah itu ia meninggalkan Fahri yang kebingungan.
"Itu anak kenapasih, sensi amat sama aku, " gerutu Fahri, memandang punggung Jenny yang menjauh darinya.
"Maaf Bos, tadi itu orang iseng, " ucap Jenny lagi, sambil nerjalan ke meja tempatnya bekerja.
Jenny juga berpamitan, karna beberapa orang sudah memperhatikannya.
"Ayo makan, kok malah liatin aku terus, " ujar Kaizal.
Saat ini mereka sedasng ada di mejamakan.
"Benaran Kai, ini itu rumah kamu?, " tanya Andini untuk yang kesekian kalinya.
"Bukan cuma aku, tapi ini juga Rumah kamu, Rumah kita," jawab Kaizal, menatatap Andini.
"Tapi aku labih suka tinggal di rumah yang kecil Kai, ini terlalu besar, " ungkap Andini, dari kemaren dia memang merasa tidak nyaman.
Nikmatilah hidupmu saat ini, dan satu lagi. kau tidak perlu lagi bekerja, " seru Kaizal, ia bertekat ingin membahagiakan Andini.
"Maksudmu aku bernti bekerja?, " tanya Andini.
"Iya, " jawab Kaizal singkat.
__ADS_1
"Tapi Kai, aku gak betah dirumah, apalagi hanya berdiam diri. aku mohon biarkan aku tetap bekerja, " protes Andini, memohon pada Kaizal.
"Siapa, bilang kau akan berdiam diri, mulai sekarang kau akan menjadi seorang istri dan tugasmu mengurus suami, " sambung Kaizal menatap Andin dengan tajam.
"Mengirus suami, " beo Andini.
"Iya, kau ini kan isriku, jadi_. "
"Tidak usah diteruskan, " serunya memotong ucapan Kaizal.
"Satu lagi, mulai sekarang kita juga harus tinggal satu kamar, aku tidak mau di bantah, " perintahnya mutlak.
Malihat Kaizal yang berkata serius, Andini pun tidak berani membantah. ia hanya diam, tidak mengatakan iya ataupun tidak.
Selesai sarapan Kaizal mengajaknya naik ke lantai dua, untuk memilih kamar mana yang akan mereka tempati.
Kaizal menyuruh Andini untuk memilih kamar, tapi dia jiga yan memutuskan mereka akan tidur dikamar mana.
"Untuk apa kau menyuruhku memilih kalau ujungnya keimginanmu yang harus dituruti, " perotes Andini,
"Tadinya aku pikir kau akan memilih kamar yang paling bagus, ternyata tidak, " balas Kaizal.
Andini yang sudah kesal pada suaminyapun mengejek, meniru gaya bicara Kaizal dari belakang, dengan memanyunkan bibirnya. Tanpa ia ketahui kalau sudah di peegoki oleh Kaizal.
Kaizal memperhatikan bibir Andini yang mereh, di lapisi sedikit lifstik.
Cup
Kaizal mengecup bibi Andini, bibir yang menyerocos mengejeknya.
Mendapat kecupan memndadak dari Kaizal, Andini diam mematung, dengan degup jantung yang sudah tidak karuan.
"Lain kali, itu bibir dijaga, agar tidak membuat orang yang melihatnya khilaf, " ujar Kaizal lalu keluar dari kanar itu.
Sampai diluar, Kaizal juga memegang jantungnya yang berdegup kencang.
__ADS_1
"Kaizal, Apa yang kau lakukan, " gumamnya ia benar-benar tergoda melihat bibir milik Andini.