
Pagi-pagi sekali Raka mendatangi kamar Kakaknya, tadi malam saat mengikuti kakaknya diacsudahbtaubdi mana kakak nya itu menginap di kamar yang mana.
Tok tok tok
Raka mengrtok pintunya.
Andini terbangun karna mendengar ketukan pintu, lalu ia turun dari ranjang berjalan ke arah pintu.
"Hei Adik tampan mengapa kau ada di sini?" sapa Andini lalu bertanya pada tamunya pagi ini.
"Aku ingin bertemu kakak, apa boleh?" balas anak itu bertanya.
"Kakak," beo Andini yang tidak mengerti maksud anak itu.
"Iya Kakak, suamimu itu adalah kakak ku," lanjut Raka memberi tahu Andini.
"Masuklah!" ucap Andini mempersilahkan Raka untuk masuk.
"Kai bangun, ada yang mencarimu, ayo bangun," Andini membangunkan suaminya itu.
"Siapa sih yang mencari ku pagi-pagi begini? kalau itu Derkan suruh saja dia keluar aku tidak mau di ganggu," balas Kaizal masih memejamkan matanya.
"Bukan Derkan, tapi Anak laki-laki, katanya kau utu kakaknya," lanjut Andini memberitahu.
"Anak laki-laki," gumam Kaizal membeo, berpikir siapa anak itu.
Kaizal turun dari janjang, lalu ia menemui anak yang di katakan istrinya.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Kaizal, dia sangat tau siapa anak itu, hanya saja anak itu yang tidak mengenalnya.
"Kakak, benarkah ini kau?" ucap anak itu berlari lalu memeluk Kaizal.
"Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku dan menjauhlah!" balas Kaizal mendorong Raka, membuat anak itu terjatuh.
Andini yang melihat itupun mendekat, lalu membantu Raka berdiri.
"Kaizal! apa yang kau lakukan?!" tanya Andini sedikit membentak.
Kaizal menatap Andini. Menarik tangan istrinya, agar menjaug dari Raka.
__ADS_1
"Keluar dari sini! jangan pernah temui aku lagi!" seru Kaizal menatap Raja dengan tajam.
"Kaizal, dia itu anak kecil, kenapa kau marah padanya," ujar Andini.
"Dia memang anak kecil, tapi dia itu anak dari wanita itu," ucap Kaizal memberi tahu.
Maksud mu dia anak dari...." ucapan Andini terhenti karna Kaizal menatapnya.
"Itu artinya dia itu adikmu Kai, jadi jangan kasar padanya," lanjut Andini yang memang selalu perduli pada semua orang.
"Aku benci dia dan ibunya, termasuk ayahnya juga," balas Kaizal, padahal ayah yang di sebutnya itu adalah ayahnya.
"Raka tau kakak membenci mama, bahkan aku pun membencinya, dia itu tidak pernah perduli padaku dan papa, tapi papa tidak bersalah Kak, makanya aku datang kemari, aku ingin tinggal bersama kaka," ucap Raka panjang lebar, dia mengatakan tujuannya menemui kakaknya.
"Itu bukan urusanku, sekarang keluarlah, aku tidak mau di ganggu, apa lagi dengan orang yang ku benci," balas Kaizal menatap Adiknya itu.
Bukannya pergi ataupun takut, Raka malah mendekati Kaizal, ia berlutut di depan kakaknya itu, dan memohon agar dia tidak di suruh pergi, dan di terima tinggal bersama kakaknya.
"Kalau kakak tidak mengijinkan aku tinggal mersama kakak, setidaknya kakak mau menyayangi aku seperti kakak-kakak lainnya, yang menyayangi adiknya," ucap Raka, dia masih berlutut dan mengetupkan kedua tangannya untuk mintak memohon.
Kaizal tidak menghiraukan ucapan adiknya, dia membelakangi Raka dengan mengepalkan tangannya, di dalam hatinya dia juga tidak ingin membenci adiknya itu tapi melihat Raka dia akan teringan wajah Iran, dan itu membuatnya kembali teringat tangisan ibunya saat malam itu.
"Aku mohon Kak, terima aku sebaga adikmu, tolong jangan benci aku," lanjut Raka lagi tetap memohon. Tapi Kaizal tetap tidak membalas ucapannya.
"Biarkan saja dia tetap seprti itu! paling juga sebentar lagi dia akan lelah dan pergi sendiri!" seru Kaizal, ia meninggal kan Raka yang masih berlutut.
Kaizal menelpon Derkan, meminta pria itu memesan sarapan pagi untuk mereka. Derkan yang mendapat perintah pun menggurutu dan mengumpati bosnya itu.
"Kenapa juga harus aku, padahal dia juga bisa memesannya sendiri," gerutu Derkan, sambil memesan makanan melalui pesan antar.
"Itulah seorang bos Derkan, selalu saja sesuka hati, jadi kau sebagai bawahan harus sabar," gumamnya lagi.
Karna baru selesai mendirikan pesta, Kaizal mwmang sengaja meliburkan semua karyawannya, memberi bonus pada semua karyawannya, mulai dari yang atas sampai wang paling bawah, agar bisa menikmati hari bahagianya.
Kembali kekamar Kaizal dan Andini, tak butuh menumggu lama makanan yang di pesan Derkan sudah sampai di kamar mereka.
Sekarang Kaizal dan Andini sedang menikmati sarapan, sesekali Kaizal melirik Raka, dia cukup salut dengan adiknya itu, cukup keras kepala.
"Sudahlah Kai, kasihan dia, lagiankan dia juga tidak bersalah dalam hal ini, jadi terimalah dia ajak juga sekalian sarapan siapa tau dia belum sarapan," pinta Andini.
__ADS_1
Kaizal menghembuskan nafasnya secara kasar, dia berdiri dari tempatnya duduk, berjalan ke arah Raka.
"Berdirilah, ayo kita sarapan bersama!" seru Kaizal mengajak adiknya.
"Kakak menerimaku sebagai Adik? tidak marah lagi padaku? aku bisa tinggal bersasma kakak?" cacar Raka dengan berbagai pertanyaan.
"Jangan semakin melunjak, aku mengajakmu makan karna permintaan istriku, tidak ada yang lain," balas Kaizal, membuat Raska kembali pada mosisinya berlutut.
"Aku mau Kakak melakukasnnya dengan iklas tanpa mermintaan siapapun, aku akan menunggu sampai wakutu itu tiba. Baru aku mau berdiri dari sini," ujar bocah itu.
"Huuuh…, kenapa kau sangat ketas kepala, baik lah aku menerimamu sanagai adikku, tapi tidak untuk tinggal bersamaku," ucap Kaizal ahirnya yang sudah mulai bosan melihat bocah itu.
"Terima kasih Kakak," ucap Raka melompat kepelukan Kaizal, dia sangat bahagia, apalagi kali ini Kaizal membalas pelukannya.
Kaizal dan Raka berjalan ke sofa, Andini pun tersenyum melihat itu, lalu mereka bertiga sarapan bersama.
Dilain tempat, tapi masih di hotel yang sama. Dari tadi Iren sudah lelah mencari putranya, dia bertanya pada bibik yang menemani putranya, tapi bibik itu tidak tau, jelas saja tidak tau, karna Raka meninggalkannya saat dia masih tertidur.
"Kenapa kau bisa tidak tau, aku kan menyuruhmu untuk menjaga putraku!" bentak Iren pada pembantu itu.
Tadi malam aku dan tuan muda sama-sama tidur disini Nyonya, tapi saat aku bangun pagi, tuan muda sudah tidak ada." ucap bibik itu menjelaskan.
"Kau juga! cepat cari dia! jangan cuma mengandalkan orang untuk mencarinya!" Iren gantian marah pada suaminya.
"Apa kau tidak lihat, kalau aku sedang mencarinya, kau harunya diam marahmu itu tidak akan membantu, malah membuat pusing kepalaku saja!" balas Dayus tak kalah marah pada isrtinya.
"Sudah lelah berkeliling, mencoba bertanya pada orang-orang, mereka kembali kekamar yang di tempari Raka dan bibik, mereka bertiga melongo bersama, melihat orang yang mereka cari tedur di atas kasur, dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Ya selesai sarapan, tadi Kakak dan kakak iparnya mengantarnya pulang kekamarnya, sebelum pergi Kaizal kembali memeluknya dan berjanji akan menemuinya untuk mengajaknya bermain. Walaupun itu semua atas permintaan kakak iparnya tapi cikup membuat Raka bahagia.
"Raka! dari mana saja kau? Pagi-pagi sudah membuat orang repot dengan mencarimu!" bentak Iren, membuat senyum di wajah Raka menghilang.
"Sudahlah Iren! dia sudah ada disini dan baik-baik saja, itu sudah cukup," ucap Dayus menghentikan istrinya yang selalu marah-marah.
"Anak ini selalu saja merepotkan," gerutu Iren, lalu keluar dari kamar itu.
Dayus mendekati puntanya dan memeluk putranya itu, dia sangat khawatir kalau putranya itu akan meningalkannya sama seperti Kaizal, bagi Dayus sudah cukup dia membuat kesalahan yang mengakibatkan putra pertamanya membencinya, dan dia tidak mau itu terulang lagi pada Raka.
Mohon dukung krya mak ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Dengan like komen favorit dan vote nya🙏🙏🙏
Love you sekebun buat kalian semua 💓💓💓💓💞💞