
Hari ini hari terahir Raka di sekolah, ia baru saja selesai menghubungi kakak iparnya, mengatakan kalau kakaknya itu harus datang, untuk menghadiri kelulusannya di sekolah. padahal hanya lulus-lulusan SD, tapi Rska hebohnya minta ampun. ia sudah meminta ayahnya untuk datang, ia juga meminta kakak iparnya untuk datang.
Raka yang sedang menunggu kedatangan ayahnya, yang katanya sudah ada di perjalanana. Sadangkn Rere, dari tadi gadis kecil itu sudah mengekori Raka, kemanapun ia pergi maka Rere juga akan kesitu, "Re, bisa tidak jangan ikuti kakak!" pinta Raka. tapi gadis kecil itu menegeleng.
"Ini itu hari terahir Kakak di sekolah! bisa jadi ini juga hari terahir kita untuk bertemu," balas Rere. yang ikut mondar-mandir, sama seperti Raka.
Tapi Kakak disini lagi nungguin Papa kakak Re, sebentar lagi acara di mulai, tapi dia kok belum datang juga, padahal tadi bilangnya sudah di jalan," ucap Raka. Entah mengapa ia merasa tidak enak tentang ayahnya.
"Mungkin kejebak macet Kak! kenapa gak berengan tadi kesininya?" Rere membalas sekaligus bertanya.
"Katanya tadi ada hal penting yang harus dia urus, tapi sudah selesai kok. Cuma kok gak nyampek-nyampek ya," ujar Raka, merasa heran. Tapi Rere mencoba meyakinkan Raka kalau sebentar lagi ayahnya akan segera sampai.
"Kakak!
Raka berlari saat melihat kakak dan kakak iparnya.
"Loh, kok ninggu di luar? acaranya belum di mulai ya?" Tanya Andini. saat Raka berlari ke arahnya.
"Sudah kak, tapi Papa belum datang, Raka gak mau di situ gak ada temannya, semua orang sudah duduk dengan keluarga masig-masing, " jawab Raka menjelaskan.
Sudah kita kesana ya, kan sudah ada kakak dan kakamu," balas Andini. Raka pun mengangguk.
Saat ingin masuk, langkah Kaizal terhenti karna ponselnya berbunyi, "Kalian duluan lah, aku angkat telpon dulu," ucap Kaizal. Andini pun mengamghuk, ia menggandeng Raka dan Rere masuk kedalam.
Kaizal "Ya Der, Ada apa? aku kan sudah bilang, siang nanti baru aku ke kantor." ucap Kaizal, setelah mengangkat telponnya.
Derkan "Maaf Tuan, ini bukan masalah kantor, tapi Tuan besar..., tuan besar kecelakaan dan sudah di bawa kerumah cinta medika," balas Derkan dari dari sebrang sana.
Kaizal terdian, ia sangat terkejut. Begitu Derkan mengatakan kalau ayahnya di bawa kerumah saki. Kaizal pun mematikan sambungan teleponnya. Masuk ke delam, mencari keberadaan adik dan istrinya, setelah menemukannya Kaizal langsung membawa keduanya keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Kaizal melaju dengan kencang, saat Andini bertanya ia tidak menjawab, ia tetap pokus menyetir agar segera sampai di rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, Kaizal meminta adik dan istrinya segera turun. Raka yang dari tadi tadi merada sudah tidak enak, merasa semakin cemas, ia takut terjadi sesuatu pada ayahnya.
Masuk kedalam, Derkan sudah menunggu mereka. Derkan membawa Tuannya ke ruangan di mana Dayus berada, "Der, apa yang terjadi pada Papa?" tanya Kaizal. sudah belas tahun, ini kali pertama ia menybut ayaynya drngan sebutan Papa.
__ADS_1
"Saya tidak tahu tuan, kata anak buah kita, Tuan besar marah-marah saat bicara pada orang yang sedan menelponnya, dengan keadaan marah Tuan mengemudi dan melaju dengan kecepatan tinggi, tapi sast mereka mengikuti Tuan, mobilnya sudah tabrakan dengan mobil Truk," jawab Derkan menjelaskan pada tuannya.
Kaizal menyimak penjelasan yang Derkan berikan, ia pun meminta asistennya untuk menyelidiki masalah ini. Derkan pun pengamgguk, mengiakan perintah tuannya.
"Ada yang bernama Tuan Kaizal?" tanya se orang perawat.
"Ada, Saya Kaizal," jawab Kaizal.
"Anda bisa masuk! pasen ingin bertemu dengan Snda," lanjut perawat itu. Kaizal pun mengngguk, tapi saat ingin masuk. Raka memaksa untuk ikut, jadilah mereka berdua masuk ke dalam.
"Papa!
Raka berlari mendekati ayahnya yang terbaring lemah di atas brangkar.
"Raka! bukankah kamu harusnya ada persembahan di sekolah? kenapa Raka ada di sini?" dengan suara yang lenah Dayus bertanya pada putranya.
"Gak, Raka gak mau di sekolah, Raka mau nemanin Papa di sini," balas Raka. menangis sambil memeluk ayahnya.
Raka nengagguk, bergeser sedikit, membawa kakaknya mendekati Ayah mereka.
"Kai, Papa minta maaf, papa tau kalau kesalahan papa itu tidak bisa termaafkan, Papa sadar kesalahan Papa terlalu besar, tapi Papa mohon, jangan lampiaskan kearahan itu pada adikmu, karna dia tidak bersalah. Satu lagi..., Papa minta kamu untuk menjaganya!" ucap Dayus panjang lebar.
Kaizal diam, ia memper hatikan ayahnya, "Tidak...! aku tidak mau menjaganya..._." ucapan Kaizal terhenti saat Dayus memotongnya.
"Papa mohon Kai..! Papa tidak mau dia tinggal bersama Iren, kamu tau sendiri bagai mana sifat Iren, jadi Papa tidak mau Raka jadi korban keserakahannya, karna sudah pasti setelah ini dia akan mengejar Raka," lanjut Dayus lagi. dengan nafas yang semakin lemah.
"Tapi aku tidak mau menjaganya sendiri, aku mau menjangnya bersama Papa," balas Kaizal. membuat Dayus tersenyum, saat mendengar Kaizal menyebutnya Papa.
"Bisa kau ulangi ucapanmu yang terahir!" pinta Dayus. menarik nafasnya yang semakin melemah.
"Sudah! Papa jangan banyak bicara, sekarang istirahatlah!" balas Kaizal. membuat Dayus merasa bahagia.
Kaizal meminta ayahnya berbaring, sang ayah pun menurut dengan tersenyum Dayus berbaring, dan memejamkan matanya, saat Kaizal memegang tangan ayaynya, tangan itu sudah tidak bertenaga dan sudah lemas, berulang kali Kaizal mencuba menegang dan tangan itu kembali terjatuh.
__ADS_1
"Kak, ada apa dengan tangan Papa?" tanya Raka. saat ia melihat kakaknya memegang tangan ayahnya.
Kaizal tidak menjawab pertanyaan adiknya, ia mencoba membangunkan ayahnya, "Pa, bangun, Papa bangun!" Kaizal terus menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya, yang sudah tidak meresponnya.
Kaizal Meminta dokter untuk memeriksa ayahnya, ia juga memeluk adiknya yang menangis.
Dokter pelihat ke arah Kaizal, lalu ia menggelengkan kepala nya, yang Kaizal sudah tau artunya. Kalau sang ayah sudah tiada.
Kaizal benar-benar menangis. Andini yang melihat itu, segera memeluk suaminya, "Papa Din, dia pergi, padahal aku belum memaafkannya." Racau Kaizal, di dalam pelukan istrinya.
"Papa!!! Papa gak boleh tinggalin Raka, Papa bilang kita akan hidub bahagia tanpa mama! tapi Papa ningglin aku juga, terus sekarang sak harus kemana? papa yang Raka punya!" ucap anak itu. ia menangis, meletakan kepalanya di dada Ayahnya yang sudah tidak bernyawa.
Andini melihat Kaizal, ia meminta suaminya itu intuk bicara psda Adiknya, tapi Kaizal menggeleng, ia tidak sanggum untuk bicara pada adiknya, karna ia juga merasa bersalah dan menyesal, tidak memaafkan Ayahnya.
"Raka, kamu jangan sedih ya, kan ada Kakak, dan Kak Kaizal, kita kan keluarga. Raka harus kuat," Andini mendeksto adik iparnya, bicara sambil memeluk adik iparnya itu.
*
*
*
*
*Bersambung
Yang sabar ya Raka, maafin Mak yang sudah membuatmu kehilangan ayahmu.😭😭😭😭
*Mohon dukung krya mak ya🙏🙏🙏🙏
Dengan like komen favorit dan vote nya🙏🙏
LOVE YU sekebon buat kalian semua yang sudah baca novel receh mak❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1