Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Menemukanmu


__ADS_3

Arka melangkah dengan percaya diri ke arah ruang guru sambil menyelipkan tangannya di dalam kantung celana panjangnya yang berwarna abu-abu. Ia mengikuti langkah seorang guru yang menangkap basah dirinya sedang memukul seorang siswa lain.


Kepalan tangannya sedikit memar. Bagaimana tidak? Ia memukul wajah siswa itu dengan cukup keras sehingga hidung siswa itu mengeluarkan darah.


Murid itu berakhir di ruang perawatan dan Arka harus menghadapi wali kelasnya yang mungkin akan memberikan hukuman kepadanya.


“Masuk.” Guru pria itu membuka pintu dan ada seorang guru lain yang sedang duduk di balik meja kerjanya.


“Mikhaela, tadi aku menemukan siswa ini memukul temannya di belakang sekolah.”


Arka langsung menoleh ke arah guru itu yang memanggil dan berbicara dengan Mikhaela dengan cara yang begitu akrab. Arka tidak menyukainya.


Mikhaela berdiri dan mempersilahkan Arka duduk, sedangkan Julian, guru yang tadi membawanya berdiri beberapa langkah di belakang Arka. Berjaga-jaga kalau saja Arka melakukan sesuatu kepada Mikhaela.


Arka duduk tanpa ragu atau pun takut dengan apa yang mungkin menantinya. Sebuah hukuman.


Ia memandang Mikhaela yang hari itu memakai sebuah kemeja berwarna salem dengan aksen ikatan di bagian kerah yang membuatnya terlihat manis. Riasan tipis dengan lipstik berwarna senada dengan kemejanya, membuat Arka rasanya ingin merasakan lembutnya bibir itu dan segera memilikinya.


“Arka?” Mikhaela menatap Arka mencoba mengingat nama anak baru yang baru saja tiba pagi ini di kelasnya.


Khayalan Arka terhenti ketika ia mendengar namanya di sebut dengan suara lembut yang sudah lama tidak ia dengar.


“Betul, Bu. Saya lega Ibu tidak melupakan nama saya.” Arka tersenyum.


Mereka bertemu tadi pagi ketika Arka diperkenalkan sebagai anak baru yang pindah dari luar negeri. Banyak yang bertanya-tanya mengapa Arka justru kembali ke Jakarta setelah sebelumnya menempuh pendidikan sejak kecil di luar negeri.


“Kenapa kamu memukul temanmu? Apakah kalian berselisih tentang sesuatu?” tanya Mikhaela sambil melihat tangan Arka yang berada di atas mejanya. Terlihat memar.


“Saya hanya tidak menyukainya,” jawab Arka asal sambil menunjukkan tangannya yang terluka. “Bisakah Ibu mengobati tangan saya?”


Arka bisa melihat kalau ada segurat raut khawatir ketika Mikhaela melihat kepalan tangan Arka.


Mikhaela mengabaikan kata-kata Arka. Memilih untuk kembali membahas apa yang sudah Arka lakukan.

__ADS_1


“Kamu tidak bisa seenaknya memukul siapa saja hanya karena kamu tidak menyukainya. Apa alasanmu tidak menyukainya?”


“Dia melihat wanita yang saya suka.” Arka menatap tajam ke arah Mikhaela yang membuat Mikhaela merasa tidak nyaman. Pandangan Arka menegaskan siapa wanita yang ia maksud, tetapi tentu saja hanya Arka yang dapat mengerti.


“Hanya karena dia melihat wanita yang kamu suka? Apakah dia melihatnya dengan cara yang tidak sopan? Tapi, tetap saja, apa yang kamu lakukan tidak bisa dibenarkan.”


“Saya tidak menyesalinya. Dia pantas mendapatkannya.” Arka tetap pada pendiriannya.


“Ini adalah hari pertamamu. Apakah kamu ingin semua teman menjauhimu karena mereka takut padamu? Cobalah untuk bersikap bersahabat dengan yang lain. Jangan memukul orang sembarangan.”


“Saya hanya memukul orang yang mengganggu pemandangan saya.”


Mikhaela menarik napas dalam dan memajukan posisi duduknya. Ia menangkap kalau tidak ada gunanya berdebat dengan Arka. Yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang keras kepala yang sepertinya sedang jatuh cinta.


“Kali ini, Ibu tidak akan menghukummu, tetapi Ibu harap kamu akan meminta maaf pada temanmu. Kalau kamu tidak suka dengan apa yang dia lakukan, kamu bisa menegurnya bukan memukulnya.”


Kirana mencoba cara lain dengan memberikan Arka pilihan untuk berdamai.


“Kalau saya tidak bersedia?”


Arka memandang lekat ke arah Mikhaela. Apa pun yang Mikhaela minta akan Arka penuhi, termasuk meminta maaf kepada bocah yang sudah berani memandangi Mikhaela lebih dari lima detik ketika Mikhaela menuju ke ruang guru tadi.


Beruntung bocah itu hanya mendapatkan satu pukulan dan langsung roboh. Kalau tidak, Arka akan memberikan pukulan tambahan untuknya.


“Baiklah! Saya akan menuruti apa yang Ibu minta. Saya akan meminta maaf kepada anak itu. Tetapi, jika dia mencari gara-gara kembali, saya tidak segan-segan untuk memukulnya lagi. Dan saya pastikan dia tidak akan bisa berdiri lagi.”


Lagi-lagi Mikhaela menghela napas. Sepertinya, anak baru yang berada dalam pengawasannya akan memberikannya hari-hari sulit. Terlihat kalau Arka memiliki karakter pembangkang yang tidak mudah untuk dihadapi.


“Kamu boleh pergi sekarang. Tolong jaga sikapmu. Ibu tidak mau kamu mendapatkan kesulitan karena sikap kamu di sekolah.”


Arka berdiri dan berbalik. Walaupun ia ingin lebih lama memandang Mikhaela, Arka memilih menurut dan pergi untuk meminta maaf.


Ketika Arka sampai di ambang pintu, Julian, guru yang tadi mengantarnya membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Arka menatap Julian dengan tajam seakan tidak menyukai keberadaannya di ruang itu.


Ketika Julian ingin menutup pintu dan tetap berada di dalam bersama dengan Mikhaela, Arka berbalik. “Apakah Bapak tidak ingin mengantarkan saya untuk memastikan kalau saya benar-benar meminta maaf kepada bocah itu?”


Tentu saja Arka tidak ingin Julian berada berdua saja dengan Mikhaela di ruangan itu. Seseorang yang hanya memandang Mikhaela saja sudah membuat Arka kesal, apalagi ada pria lain yang berada satu ruang berdua saja dengan Mikhaela.


“Juls, aku minta tolong untuk memastikan Arka benar-benar meminta maaf, ya?” pinta Mikhaela.


Juls? Dan panggilan akrab itu langsung menyalakan alarm di kepala Arka kalau pria yang berdiri tidak jauh darinya adalah salah satu orang yang harus ia waspadai.


Julian mengangguk dan menutup pintu itu.


“Oke, Mikhaela. Aku akan mengantarkannya. Tunggu aku sebelum kamu pulang, ya?”


Menunggunya pulang? Apakah mereka selalu pulang bersama?


Arka bertanya-tanya di dalam hati. Ia tidak menyukai percakapan itu.


Dan dengan anggukan kepala Mikhaela yang menyetujuinya, Arka semakin merasa panas. Ia tidak suka melihat kedekatan antara Julian dan Mikhaela


“Apakah Bapak dan Ibu Mikhaela berpacaran?”


Arka langsung bertanya kepada Julian ketika mereka berjalan keluar dari ruang guru. Arka tidak suka menebak-nebak. Ketika ia membutuhkan jawaban, maka ia akan langsung bertanya.


Julian mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka kalau seorang anak baru akan bertanya segamblang itu.


“Bapak rasa, itu bukanlah urusanmu. Seharusnya kamu memikirkan nilai dan perilakumu, bukan para guru di sini.”


“Akan menjadi urusan saya kalau Bapak menghalangi langkah saya.”


Julian menangkap ada sebuah ancaman yang terbersit di dalam kalimat yang Arka ucapkan.


“Menghalangi langkah kamu? Sebentar “ Julian menarik bahu Arka dan menghentikan langkahnya. “Apakah kamu ...” Julian menoleh ke arah pintu ruang guru yang masih terlihat.

__ADS_1


Arka hanya tersenyum sambil melangkah kembali. Meninggalkan Julian dengan sebuah teka-teki yang mulai berkutat di kepalanya.


- Eireen -


__ADS_2