Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Satu Waktu Yang Menyenangkan


__ADS_3

Arka langsung bertindak cepat setelah Mikhaela benar-benar setuju untuk menikah. Arka langsung menyewa apartemen di sebelah Mikhaela dan ia langsung merencanakan pernikahan mereka.


"Apa saja yang kamu inginkan, aku akan mewujudkannya."


Itulah kata-kata Arka ketika seusai malam makan bersama mereka bersantai di sofa dan Arka mulai bertanya pernikahan seperti apa yang Mikhaela inginkan.


"Aku tidak butuh pernikahan yang besar. Bagaimana kalau hanya keluarga dekat saja? Aku hanya meminta Julian dan Marco sebagai undangan dari pihakku."


"Tentu saja! Aku memang akan mengundang Juls." Arka sengaja menekankan pada sebutan yang selalu membuat Arka cemburu. "Aku ingin dia melihat kalau akulah yang berhasil memilikimu."


"Serius, Arka? Kamu masih saja cemburu pada Juls?"


"Terus saja memanggilnya begitu. Kamu punya sebutan mesra dengannya, sedangkan kamu tetap memanggilku sama seperti orang lain."


Mikhaela tertawa. Arka memang akhir-akhir ini berhasil membuatnya merasa lebih bahagia. Bersama Arka, Mikhaela bisa sejenak melupakan semua kepedihan di dalam hidupnya.


"Kamu juga bisa memanggilnya Juls. Aku tidak keberatan." Mikhaela menjawab dengan asal sambil mengangkat kedua bahunya.


"Kamu tidak akan cemburu?"


"Kenapa harus cemburu? Kalau kamu lebih tertarik pada Julian, aku bisa apa?"


"Tidak mungkin! Mana mungkin aku lebih menyukainya daripada kamu." Arka langsung memeluk Mikhaela dengan manja. Ia saat ini sedang berbaring di atas pangkuan Mikhaela.


"Aku juga mau punya panggilan sayang darimu. Dan hanya kamu yang boleh memanggilku dengan nama itu."


Arka masih membenamkan wajahnya di perut Mikhaela sambil sesekali menggesekkan wajahnya dan hal itu membuat Mikhaela merasa geli.


"Sudah, Arka. Kalau kamu seperti ini, rasanya geli."


"Aku suka seperti ini. Rasanya kamu sedang memanjakan aku."


"Benar-benar bayi besar." Dengan lembut Mikhaela mengelus Surai legam Arka sambil tersenyum.


"Jangan lakukan ini kepada orang lain selain aku, ya?" Tiba-tiba saja pelukan Arka semakin erat. "Aku akan sangat cemburu."


"Melakukan apa?"


"Seperti ini. Aku memelukmu dan kamu mengelus rambutku."


Wajah Arka kini terangkat menoleh ke arah Mikhaela dengan tatapan penuh harap. Aku ingin hanya ada aku di pandanganmu. Aku ingin bersikap egois dalam memilikimu."


"Memangnya aku bisa melakukan ini pada orang lain? Aku Hany memanggil Julian dengan nama sebutan khusus saja kamu sudah cemburu, apalagi aku menyentuh orang lain."

__ADS_1


"Bagus kalau kamu tahu!" Arka langsung bangun dan duduk di samping Mikhaela. "Kamu harus ingat kalau hanya aku yang berhak mendapat semua perhatian dan kasih sayangmu. Termasuk anak kita kelak. Aku harus tetap nomor satu di matamu."


"Anak? Kamu sudah memikirkannya?" Beralih dari inti percakapan sebelumnya, kali ini Mikhaela cukup terkejut dengan Arka yang bahkan menginginkan anak darinya.


"Tentu saja! Nanti, aku ingin memiliki anak-anak yang lucu darimu. Tapi, kalau kamu menginginkannya segera, kita bisa mulai menghemat waktu dengan melakukannya sekarang."


Tanpa memberikan waktu kepada Mikhaela untuk menolak, tiba-tiba saja Arka dengan wajah usilnya sudah mengungkung tubuh Mikhaela di bawah kuasanya.


"Arkaaa!! Jangan macam-macam!" Dengan sigap juga Mikhaela langsung menendang Arka tepat di bagian tubuhnya yang berharga. Itu pun Mikhaela bermaksud untuk menendang perut Arka, tetapi tampaknya, kakinya memilih bagian yang lain.


"Arggghh!!"


Arka pun tersungkur di lantai dengan memegang bagian berharganya yang saat ini terasa ngilu.


"Te--tega .... Apakah kamu tahu kalau masa depan kebahagiaan pernikahan kita ada padanya?" Arka masih meringis kesakitan di lantai. Sedikit dilebihkan agar Mikhaela merasa iba padanya.


"Itu adalah sebuah pelajaran untukmu agar tidak macam-macam denganku." Mikhaela berdiri dan melangkah ke arah dapur untuk mengambil minum. "Sebaiknya kamu kembali ke apartemenku. Ini sudah malam."


"Aku tidak bisa berjalan. Kamu harus bertanggung jawab dan merawat ku."


"Tidak usah banyak alasan. Tidak perlu waktu lama untuk tahu kalau kamu punya banyak cara untuk menipuku."


"Kali ini aku serius, Mikha. Kamu benar-benar menendangnya dengan seluruh kekuatanmu. Setidaknya, izinkan aku untuk tidur di sofa. Kamu boleh mengunci kamarmu kalau kamu takut aku akan mengendap masuk."


"Baiklah. Hanya malam ini. Jangan membuat alasan lagi besok malam."


Arka langsung mengangguk senang dan tiba-tiba saja Arka langsung naik ke atas sofa dan berbaring dengan nyaman di sana.


Mikhaela hanya bisa menghela napas karena ia tahu kelemahan dirinya adalah sulit untuk berkata tidak bila seseorang sudah memohon padanya, dan hal itu juga yang membuat Mikhaela selalu luluh dengan semua permohonan maaf Dewa kepadanya yang membuat Mikhaela sulit melepaskan diri karena masih ada sisa bayang-bayang kebahagiaan mereka dulu. Meskipun alasan lainnya adalah karena Dewa mengancamnya.


Mikhaela masuk ke dalam kamar dan mengambil bantal serta selimut untuk Arka.


"Pakailah ini. Aku tidak mau besok kamu terkena flu dan aku harus merawat mu seharian."


"Terima kasih, Sayang." Arka menampakkan wajah terimut nya kepada Mikhaela yang membuat Mikhaela harus memalingkan wajahnya untuk menutupi hatinya yang sedikit berdebar. "Ciuman selamat malamnya belum."


"Cium saja bantal ini sepanjang malam!" Mikhaela menutup wajah Arka dengan bantal yang tadi ia bawa dan langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Arka hanya tertawa mengikuti langkah cepat Mikhaela.


Aku akan mendapatkan hatimu, Mikha. Selama apa pun itu, aku akan mengisi hatimu dengan seluruh cinta yang aku punya.


Sedangkan di dalam kamar, Mikhaela mencoba untuk menenangkan dirinya. Segala tingkah laku Arka yang sering menggodanya atau bersikap manja sudah mulai membuat Mikhaela merasakan sesuatu di dalam hatinya.

__ADS_1


Di saat Mikhaela sedang melangkah untuk berbaring di atas tempat tidurnya, ponselnya berdering. Satu nama yang tidak pernah ia harapkan, kembali muncul di layar ponselnya.


Mikhaela hanya menatap panggilan itu dan membiarkannya. Mikhaela tidak ingin berurusan lagi dengan Dewa. Untuk hal apa pun.


Tiga panggilan terlewatkan, dan akhirnya sebuah pesan masuk.


[Aku tahu kamu belum tertidur. Lampu kamarmu masih menyala. Apakah aku harus mengetuk pintu kamarmu dan mengganggu kemesraan kalian?]


Mikhaela sangat mengenal Dewa. Dewa akan benar-benar naik dan datang ke apartemennya jika Mikhaela terus mengabaikan panggilannya.


Saat ponselnya berdering kembali, Mikhaela pun mengangkat panggilan itu.


"Ha--halo ..."


"Akhirnya kamu mengangkat panggilanku. Aku benar-benar merindukan suaramu."


"Tolong jangan hubungi aku lagi. Aku mohon, Dewa. Tolong lepaskan aku."


"Turunlah dulu. Kita bicara baik-baik, oke? Aku juga punya sesuatu untukmu sebagai permintaan maafku karena kejadian kemarin. Aku tidak bisa menjenguk mu karena sepertinya adikku tidak bisa jauh darimu."


"Jangan, Dewa. Aku tidak mau. Arka sedang tidur di ruang tamu."


Mendengar kalau adiknya masih berada dan tidur di apartemen Mikhaela, tangan Dewa mengepal dengan kuat.


"Apakah dia sudah menyentuhmu? Kamu tahu kalau kamu hanya milikku, kan? Aku akan mengabaikannya kalau kamu turun sekarang dan menemui ku."


"Aku tidak mau, Dewa. Tolong jangan paksa aku."


"Karena adikku?"


"Ka--kami akan menikah."


Terdengar suara tawa yang keras dan cukup membuat Mikhaela ketakutan.


"Sepertinya, aku kurang memberikan kamu pelajaran waktu itu. Baiklah. Kita lihat apakah kamu akan mampu berjalan di altar di hari pernikahanmu nanti. Aku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari kemarin, padamu dan juga Arka."


"Arka? Dewa, Arka tidak ada hubungannya dengan kita. Jangan libatkan dia!"


"Dan sekarang kamu mencoba melindunginya? Benar-benar sebuah kisah yang sangat romantis."


Tanpa Mikhaela sadari, Arka sudah berdiri di belakangnya dan mengambil ponsel dari tangan Mikhaela.


"Aku harap ini adalah terakhir kalinya kakak mencoba menghubungi calon istriku. Kak Sisca tentu saja tidak akan senang kalau tahu suaminya tertarik dengan calon adik iparnya sendiri."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2