Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Kepergian Julian


__ADS_3

Ponsel Mikhaela berdering.


“Hai, Juls. Ada apa?”


“Kamu ada di rumah? Aku butuh pendapat kamu.”


“Iya. Mau ke rumah?”


“Oke. Aku ke sana, ya?”


“Okee.”


Tidak sampai setengah jam Julian sudah sampai di rumah Mikhaela.


“Malam, Om.” Julian menyapa ayah Mikhaela yang sedang bersantai di teras rumahnya.


“Mikhaela sudah menunggu kamu di dalam. Langsung masuk saja,” balas Bima, ayah Mikhaela.


“Baik, Om. Saya masuk dulu, ya?”


Hubungan Julian dan ayah Mikhaela memang baik. Julian sudah menjadi sahabat Mikhaela sejak beberapa tahun ini.


“Masuk, Juls. Aku di ruang makan.”


Julian langsung melangkah ke arah dapur dan melihat Mikhaela sedang asyik menikmati makan malamnya. “Makan, yuk! Aku buat nasi goreng.”


Julian duduk dan langsung mengambil nasi goreng di atas meja. Ia tidak akan menolak masakan Mikhaela yang sangat cocok dengan lidahnya.


“Om Bima tidak ikut makan?”


“Papa sudah makan di luar tadi. Jadi kami bisa menghabiskannya.”


Senyum lebar langsung mewarnai wajah Julian. “Lumayan. Malam ini aku tidak perlu keluar uang untuk makan malam.”


“Setidaknya belajar masak, Juls. Kalau kamu sedang di tinggal oleh Marco, kamu tidak terlantar.”


“Aku lebih memilih merepotkanmu saja kalau Marco tidak ada.”


“Cih! Lalu, kamu mau cerita apa?” Mikhaela ingat kalau tujuan Julian datang ke rumahnya bukan untuk makan malam.


Julian berhenti mengunyah makanannya. “Ada sesuatu yang aneh terjadi. Kamu ingatkan kalau aku pernah melamar di salah satu universitas untuk melanjutkan S3?”


Mikhaela mengangguk. Tentu saja ia ingat. Dua bulan lalu Julian terlihat begitu berapi-api ketika membayangkan jika saja ia bisa di terima di universitas ternama itu.


“Aku mendapatkan email sore tadi, mengatakan kalau aku dapat beasiswa penuh. Mereka bahkan menyediakan tempat tinggal dan uang saku untukku. Aku bahkan tidak pernah mendaftar untuk beasiswa.”


“Kamu sudah coba konfirmasi ke sana? Mungkin saja ada kesalahan.”

__ADS_1


“Sudah. Dan tidak ada kesalahan. Mereka benar-benar memberikan beasiswa itu kepadaku. Tapi ....”


“Tapi apa? Kamu tidak bodoh untuk menolaknya, kan?”


Julian tertawa. “Apa kamu kira aku sudah gila? Hanya saja, mereka memintaku untuk pindah ke sana besok. Bahkan mereka sudah menyediakan tiket pesawatku. Aneh, bukan? Seakan aku harus secepatnya meninggalkan Jakarta.”


“Ah, jangan terlalu banyak berpikir. Ini adalah cita-citamu, dan sepertinya Tuhan menjawab doamu, bahkan dengan cara yang tidak kamu sangka.”


“Tapi bagaimana dengan kamu? Aku mengkhawatirkanmu. Terutama soal Arka.”


“Ah! Tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.”


“Kamu yakin?” Julian menatap curiga ke arah Mikhaela.


“Memangnya kamu mau melewatkan kesempatan ini demi menjagaku?”


“Ya, tidak sih.” Julian tertawa. Demi apa pun Julian tidak akan melewatkan tawaran emas itu. Kalau perlu ia akan membawa Mikhaela dengannya demi membuat Mikhaela jauh dari Arka.


“Lalu untuk apa kamu basa-basi seperti itu!” Mikhaela melempar kerupuk ke arah Arka.


“Aku kan tidak mau dituduh tidak perhatian.”


“Lalu, kapan kamu akan berangkat?”


“Besok subuh.”


Julian mengangguk. “Aku membawa barang-barang pentingku dulu. Sisanya aku minta Marco untuk membawanya nanti. Dia akan ikut pindah denganku.”


“Baguslah kalau begitu. Kamu tidak akan kesepian di sana.”


Jujur saja Mikhaela merasa sedih karena harus tiba-tiba kehilangan sahabatnya, tetapi ia bahagia, karena apa yang Julian impikan dapat terwujud.


“Besok aku antar kamu ke bandara, ya?” pinta Mikhaela. Ia ingin mengucapkan perpisahan, walau hanya sementara.


Julian mengangguk dengan penuh semangat. Tentu saja ia akan sangat bahagia kalau Mikhaela bisa mengantarnya.


*******


-Di bandara-


“Kamu harus menghubungiku setiap hari. Dan katakan padaku kalau anak nakal itu terus mengganggumu.”


Julian memeluk Mikhaela dan melepaskan pelukan itu dengan tidak rela.


“Dan kamu akan langsung datang ke sini?”


“Aku hanya akan mendoakanmu supaya lebih tabah menghadapi anak itu.”

__ADS_1


Mikhaela memukul Julian dengan keras.


“Aduh!”


“Tapi aku serius, Mikhaela. Kamu harus mengatakan padaku kalau dia terus mengganggumu.”


“Iya, Juls. Kamu fokus saja pada pendidikanmu di sana. Aku pasti akan mengunjungimu nanti.”


“Harus! Awas saja kalau kamu sampai melupakan aku.”


Julian memeluk Mikhaela sekali lagi. “Aku benar-benar mengkhawatirkanmu, Mikhaela.”


Mikhaela membalas pelukan Julian. “Aku sayang padamu, Juls. Kamu teman terbaik yang aku punya.”


“Dan satu lagi, aku harap kamu menghentikan hubunganmu dengan pria itu. Dia hanya tidak rela kamu dimiliki pria lain. Karena itulah dia masih terus mengikatmu.”


Mikhaela hanya terdiam. Hanya Julian yang tahu hubungan terlarangnya dengan seorang pria yang telah beristri. Seorang pria yang adalah cinta pertama Mikhaela, tetapi pada akhirnya menikahi wanita lain karena sebuah kesalahan, tetapi tidak mampu melepaskan Mikhaela.


Sudah beberapa kali Mikhaela mencoba melepaskan diri, tetapi pria itu juga memiliki banyak cara untuk menarik Mikhaela kembali kepada pelukannya, dan semua itu hanya karena sesuatu yang dinamakan perasaan.


“Aku serius, Mikhaela. Dia tidak pantas untuk terus membuatmu menunggu.”


Mikhaela tetap tidak dapat mengatakan apa-apa. Setiap pembahasan ini muncul, Mikhaela hanya bisa terdiam.


“Baiklah. Aku tahu ini hal yang sulit. Kamu juga sudah dewasa dan aku percaya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Aku masuk dulu, ya? Aku akan terus mengabarimu.”


“Safe flight, Juls. Jangan khawatirkan aku.”


Mikhaela dan Julian pun akhirnya berpisah. Mikhaela tidak langsung kembali, tetapi ia naik ke tingkat atas bandara sambil menatap deretan pesawat yang siap naik landas.


“Goodbye, Juls. Aku harap suatu hari nanti aku akan menemukan jalan untuk kebahagiaanku juga. Seperti kamu pun telah menemukan kebahagiaanmu.”


Setelah setengah jam berlali, Mikhaela pun segera melanjutkan kendaraannya ke arah sekolah. Hari ini tidak ada pelajaran, tetapi para murid akan menerima rapor tengah semester mereka yang akan diberikan langsung pada masing-masing siswa.


“Apakah dia sudah pergi?”


Setelah semua siswa menerima rapor mereka, Mikhaela keluar dari kelas dan menemukan Arka sedang berdiri di depan kelas.


“Dari mana kamu tahu?” Mikhaela menoleh dan menatap ke arah Arka dengan tatapan curiga.


Tidak ada murid yang tahu tentang kepindahan Julian. Kepala sekolah belum mengumumkannya karena berita ini sangat mendadak.


Arka hanya tersenyum mendengar pertanyaan Arka.


“Jangan-jangan, kamu?” Mikhaela langsung berpikir kalau Arka yang melakukan semua itu agar Julian menjauh darinya.


“Sekarang kamu tahu kalau aku bisa melakukan apa saja, termasuk membuatmu menikah denganku, kan?”

__ADS_1


- Eireen -


__ADS_2