Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Bersiap Menikah


__ADS_3

"Arka?" Mikhaela menoleh dengan cepat karena terkejut ketika Arka merebut ponselnya dari belakang.


Arka langsung menutup panggilan itu secara sepihak, lalu memeluk Mikhaela. "Kamu baik-baik saja?"


Reaksi Arka begitu berbeda dengan apa yang biasa Mikhaela terima dari Dewa. Kalau Dewa tahu ia menerima panggilan dari pria selain Julian, Dewa pasti akan meledak dan bila beruntung, Mikhaela hanya akan mendapatkan kata-kata kasar dari Dewa.


Mikhaela yang sesaat tadi sempat takut akan reaksi Arka setelah melempar ponselnya ke atas tempat tidur, langsung ditenangkan dengan sebuah pelukan hangat.


Arka justru mengkhawatirkannya, bukan marah karena Mikhaela mengangkat panggilan Dewa.


"Apakah kakak masih sering mengganggumu setelah kejadian itu?"


Mikhaela menggelengkan kepala. "Baru malam ini. Semula aku mengabaikan semua panggilannya, tetapi dia mengancam akan naik ke atas. Aku takut kalian bertengkar. Jangan marah, ya?"


Arka mengecup lembut puncak kepala Mikhaela. Ia bisa mengerti mengapa Mikhaela meminta maaf dan tampak gusar. Pasti Dewa sering memperlakukannya dengan buruk ketika Mikhaela melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Dewa.


"Kamu tidak salah. Kalau dia menghubungimu atau mencoba mengancam mu, jangan ragu untuk langsung memberitahuku. Aku tidak akan membiarkan dia bisa mendekatimu lagi."


Mikhaela memeluk Arka lebih erat sambil mengangguk. Rasanya begitu aman berada di dalam pelukan Arka. Mikhaela pernah merasakan ini dulu, tetapi Dewa kemudian berubah dan menjadi sosok yang sangat menakutkan untuknya.


"Mikha, bagaimana kalau kita langsung menikah di catatan sipil, lalu kita bisa mengadakan resepsi beberapa hari setelahnya, atau kapanpun kamu mau? Aku khawatir kak Dewa akan merusak hari pernikahan kita kalau kita menikah dengan sepengetahuannya."


Mikhaela hanya mengangguk. Mungkin akan aman bagi Mikhaela setelah mereka menikah. Seharusnya, Dewa tidak akan mengganggunya lagi bila ia dan Arka menikah.


"Besok?"


Kali ini, Mikhaela langsung mengangkat wajahnya menatap Arka yang juga sedang menatapnya dengan penuh harap.


"Seharusnya kita sudah menikah, kan? Kalau saja ...."


"Baiklah. Besok kita menikah."


Kali ini, Mikhaela kembali memeluk Arka. Rasanya ia siap untuk menyerahkan hidupnya untuk bersama dengan Arka. Hati kecilnya memiliki keyakinan kalau Arka memang sosok yang Tuhan kirimkan untuk melindunginya. Mikhaela akan berusaha untuk memberikan hatinya kepada Arka.


Sepanjang malam Arka tidak bisa tidur. Ia bahkan bersikeras untuk tetap berada di apartemen Mikhaela untuk menjaganya. Lagi pula, besok, mereka menikah dan akan tinggal satu atap.


Ia tidak menyangka, pada akhirnya, Mikhaela akan menerimanya dan bersedia menikah dengannya, walau pada awalnya ia harus menggunakan taktik untuk mencapai tujuannya.


Berkali-kali Arka melihat ke arah jam di dinding. Waktu terasa begitu lama dan ia benar-benar tidak dapat memejamkan matanya.

__ADS_1


Sesekali ia melihat ke arah pintu kamar Mikhaela yang tertutup sambil bertanya-tanya apakah Mikhaela pun merasa gelisah sepertinya.


"Mulai besok aku bisa memeluknya kapanpun aku mau."


Arka membenamkan wajahnya kepada bantal di hadapannya. Wajahnya menjadi memerah ketika membayangkan kalau ia akan bisa bermanja-manja kepada Mikhaela tanpa batas.


Dengan sibuknya segala bayangan di kepala Arka, tanpa ia sadari ia tertidur ketika waktu menjelang jam empat pagi, sedangkan mereka seharusnya berangkat jam 6 pagi.


Mikhaela yang keluar kamar setelah bersiap-siap, menemukan Arka yang masih tertidur lelap di atas sofa dengan wajah yang terlihat bahagia.


"Kamu memang lebih baik tertidur daripada terjaga. Kamu tampak manis seperti ini."


Mikhaela sengaja tidak membangunkan Arka. Ia tahu kalau Arka semalaman tidak bisa tidur. Mereka mungkin akan sedikit terlambat dan pada akhirnya harus mengambil antrian lebih panjang, tetapi hal itu tidak menjadi masalah untuk Mikhaela.


Sambil menunggu Arka terjaga, Mikhaela memilih untuk membuat sarapan. Aroma masakan Mikhaela cukup untuk membuat penciuman Arka memintanya untuk segera bangun dan mengisi perutnya.


Mata Arka terbuka hal pertama yang Arka lakukan adalah loncat dari sofa dan langsung melihat ke arah jam di dinding.


"Jam berapa ini?" tanya Arka panik. "Astaga! Jam tujuh!"


Arka langsung berlari keluar dari apartemen Mikhaela untuk bersiap-siap, bahkan ia tidak menyadari kehadiran Mikhaela di dapur.


Tiba-tiba saja pintu apartemen Mikhaela terbuka dengan cepat dan ketika Mikhaela berbalik, tiba-tiba saja Arka sudah mengecup pipinya.


"Selamat pagi, Sayang!" Dan Arka kembali berlari keluar dari apartemennya.


Ternyata Arka tidak melupakannya. Tadi, karena panik, Arka langsung berlari, tetapi saat ia membuka pintu apartemennya, ia teringat kalau ia melewatkan Mikhaela begitu saja.


Mikhaela pun melanjutkan membuat sarapan setelah tertegun beberapa saat karena kecupan selamat pagi yang Arka berikan padanya. Rasanya hari ini telah ia mulai dengan hati yang bahagia.


"Aku sudah siap!! Mari menikah!"


Arka dengan terburu-buru langsung masuk ke dalam apartemen Mikhaela. Segala semangat yang ia miliki terlupakan begitu saja ketika melihat Mikhaela yang memakai gaun putih selutut berdiri di hadapannya. Ia tidak menyadari itu ketika tadi terburu-buru memberikan kecupan selamat pagi.


"Bagaimana aku bisa melewatkannya tadi? Kamu benar-benar terlihat sangat cantik."


Arka berjalan mendekat. "Biar aku melihatmu dari dekat." Arka pun memperhatikan Mikhaela dan tidak ada yang terlewat olehnya. "Aku benar-benar beruntung."


Mikhaela tersenyum. Seharusnya dia lah yang beruntung untuk dipilih oleh Arka. Dengan segala keadaannya yang sudah Arka ketahui, Arka tetap memilihnya.

__ADS_1


"Sudah siap untuk menikah denganku?"


Mikhaela mengangguk dengan mantap. Mereka pun berjalan keluar dari apartemen Mikhaela tanpa lupa membawa sarapan yang telah Mikhaela siapkan tadi.


"Aaaaa." Dengan manjanya, Arka meminta Mikhaela untuk menyuapinya. Semua sarapan yang mereka bawa habis tak bersisa.


"Aku bahagia bisa seperti ini. Rasanya semua mimpiku sudah jadi kenyataan." Arka menggenggam tangan Mikhaela dan mengecupnya dengan lembut.


"Mimpimu hanya menikah denganku?"


"Dan memiliki anak-anak yang lucu denganmu."


"Hei!" Mikhaela memukul pundak Arka. "Apakah kamu tidak memiliki cita-cita lain yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan?"


"Tidak ada yang sepenting hidup denganmu."


"Mulutmu benar-benar manis."


"Mau mencobanya?"


"Apa?"


"Ini." Arka menunjuk bibirnya yang sudah siap bila Mikhaela mau menciumnya.


"Kamu!!" Mikhaela membulatkan mata dan menatap horor ke arah Arka yang benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata.


"Kenapa? Kamu bebas melakukan apa saja dengan bibirku. Lagi pula, bibir ini memang milikmu."


"Sudahlah. Kamu menyetir saja. Jangan bicara lagi. Semakin banyak kamu bicara, semakin pusing kepalaku."


Arka tertawa. Saat-saat seperti inilah yang sangat membuat Arka bahagia. Berbicara dengan Mikhaela tanpa rasa canggung dan Mikhaela pun bersikap apa adanya.


"Kita sudah sampai."


Mikhaela menatap bangunan yang akan mengubah seluruh hidupnya.


"Ketika kita keluar dari sana, kamu akan menjadi milikku seutuhnya."


To be continued

__ADS_1


__ADS_2