
“Jadi, kamu yang membuat Julian pergi?” tanya Mikhaela kembali sambil meminta sebuah jawaban jelas.
“Butuh biaya besar untuk membuat dia pergi dari sisimu, tetapi semua itu pantas untuk memisahkan kalian.”
“Kenapa kamu melakukan itu? Aku dan Julian tidak ada apa-apa dan tidak akan mungkin ada apa-apa.”
“Kamu memanggilnya Juls. Sebuah panggilan yang terdengar mesra di telingaku.”
“Julian sudah memiliki kekasih!”
“Jangan bohong padaku. Aku tahu semua tentangnya.”
Mikha menatap tajam ke arah Arka. “Kamu tahu semuanya? Kamu menyelidiki tentang Julian?”
Arka tidak membantah. Ia tersenyum dan mendekat ke arah Mikhaela. “Menurutmu, dari mana aku bisa mengetahui apa yang sangat dia inginkan? Aku tadinya ragu apakah dia mau meninggalkanmu demi cita-citanya itu. Ternyata dia tidak secinta itu padamu.”
“Dia memang tidak mencintai saya. Saya sendiri bingung kenapa kamu bisa berpikiran sejauh itu. Usaha dan uangmu terbuang sia-sia kalau kamu mengira dia mencintai saya dan berusaha untuk menjauhkannya dari saya.”
“Kamu pikir kalian bisa membohongiku? Aku melihat cara kalian berinteraksi.”
“Julian sudah memiliki kekasih! Dan mereka sudah tinggal bersama selama dua tahun!”
Arka terdiam. Ia sedang mengingat-ingat semua laporan yang Ken berikan padanya. Tidak ada satu pun yang menyebutkan kalau Julian memiliki kekasih dan tinggal bersama.
“Julian tinggal bersama seorang pria bernama Marco. Jangan membohongiku.”
Mikhaela hanya menatap Arka. Menunggu sampai Arka menyadarinya.
“Sebentar. Kamu bilang Julian tinggal bersama dengan kekasihnya?” Arka menatap Mikhaela sambil berpikir. “Hah? Berarti?”
“Selamat! Akhirnya kamu menyadarinya. Sekarang kamu mengerti kenapa Julian tidak mungkin jatuh cinta padaku?”
“Itu salah kalian! Mengapa kalian terlihat seperti sepasang kekasih!”
“Itu hanya pikiran kamu sendiri. Julian dan saya tidak pernah terlihat mesra.”
“Kamu memanggilnya dengan Juls! Bagaimana aku tidak curiga?”
“Lagi pula itu bukan urusanmu. Kalaupun saya mesra dengan Julian, apa hak kamu?”
Arka melangkah mengimpit Mikhaela di antara tubuhnya dan tembok sekolah. “Aku berhak atasmu, Mikha. Kamu adalah calon istriku.”
Mikhaela merasa risih dengan sebuah panggilan yang baru saja Arka berikan untuknya, dan juga posisi tubuh Arka yang sangat dekat.
“Panggil saya dengan cara yang sopan. Saya adalah guru kamu. Dan tolong jaga sikap kamu. Murid lain bisa melihat kita!
Mikhaela mendorong tubuh Arka.
“Aku ingin memiliki panggilan khusus untuk calon istriku. Atau, mungkin kamu lebih suka aku memanggilmu dengan panggilan yang lebih mesra?”
__ADS_1
Mikhaela melangkah meninggalkan Arka. Ia merasa lelah untuk melanjutkan percakapan di antara mereka.
“Terus saja menghindar dariku. Aku mau lihat sejauh apa kamu mampu berlari dariku. Aku akan membuatmu lelah sampai akhirnya kamu menyerah, Mikha.”
Arka membiarkan Mikhaela pergi darinya, karena Arka tahu, sejauh apa pun Mikhaela pergi, ia akan tetap menjadi milik Arka.
*****
Hari itu Mikhaela pulang agak lebih sore karena ia membantu untuk membereskan pekerjaan Julian. Sekolah belum sempat untuk mencari penggantinya. Jadi, untuk sementara waktu, Mikhaela akan membantu untuk mengisi kekosongan itu.
Arka, tentu saja sengaja menunggu Mikhaela. Keadaan sekolah yang sepi akan membuatnya mudah untuk memaksa Mikhaela untuk ikut dengannya.
Hanya akan ada satpam penjaga sekolah dan penunggu sekolah di sore hari seperti ini.
“Ada banyak yang harus kita bicarakan.”
Arka tiba-tiba saja muncul dari belakang Mikhaela ketika ia keluar dari ruang guru.
“Sore ini kamu ikut denganku, dan aku akan mengantarmu pulang.”
“Saya bisa pulang sendiri. Terima kasih.”
Arka berjalan cepat dan berdiri di hadapan Mikhaela, yang membuat Mikhaela menghentikan langkahnya.
“Kamu sudah menjadi tanggung jawabku mulai hari ini.”
“Tidak perlu repot-repot. Saya bukan anak kecil lagi.”
Arka memegang pergelangan tangan Mikhaela dan tidak mengizinkan Mikhaela berjalan meninggalkannya.
“Lepaskan saya, Arka.” Mikhaela mencoba melihat sekitar untuk meminta pertolongan, tetapi tidak ada siapa pun di sekitar mereka.
“Baiklah! Kamu memilih cara yang tidak baik-baik rupanya.”
Tiba-tiba saja Arka sudah menggendong Mikhaela di pundaknya. Tubuh kecil Mikhaela dapat dengan mudah Arka angkat.
“Arka! Turunkan saya! Apakah kamu sudah gila!” Mikhaela mencoba meronta dan menendang ke segala arah, tetapi Arka tidak memedulikannya.
“Aku sudah memberikanmu pilihan.”
Arka terus berjalan menuju ke gerbang sekolah. Satpam yang menjaga sekolah pun tidak dapat berbuat apa-apa karena Ken sudah menjelaskan untuk sebaiknya tidak ikut campur.
Tubuh Mikhaela langsung di dudukkan di bangku belakang penumpang dan Arka ikut ke dalamnya.
“Jalan, Ken.”
Mobil yang membawa mereka pun melaju dan Mikhaela masih mencoba memberontak.
“Kamu mau membawa saya ke mana? Ini penculikan!”
__ADS_1
“Kamu bebas melaporkanku setelah ini. Tapi, ada urusan yang harus kita selesaikan.”
“Kalau mau bicara, kamu bisa bicara sekarang! Setelah selesai saya ingin pulang!”
Mikhaela akhirnya berhenti meronta. Ia memilih untuk menyimpan tenaganya kalau saja Arka bersikap kurang ajar padanya.
“Aku ingin kita bicara baik-baik. Bisakah?”
Mikhaela memandang Arka dan menghela napasnya. “Baiklah. Kamu mau bicara apa?”
“Tentang pernikahan kita.”
“Pernikahan kita?”
“Apakah saat ini kamu masih berusaha untuk menghindar? Kamu sudah menandatangani surat perjanjian itu. Kamu tidak dapat mengelak.”
Mikhaela menarik napas untuk menenangkan diri. Ia tidak ingin membahas hal ini dengan emosi, apalagi ada seseorang yang dapat mendengar mereka dari balik kemudi.
“Usiamu masih sangat belia untuk memikirkan pernikahan, Arka. Jalanmu masih sangat panjang. Apakah kamu tidak mau untuk bertemu dengan seseorang yang seusia denganmu lalu jatuh cinta?”
“Aku lebih suka wanita yang lebih tua dariku, dan aku sudah menemukannya.”
“Saya benar-benar tidak mengerti mengapa kamu bersikeras untuk menikah denganku. Kamu bahkan baru mengenalku. Bagaimana kalau ternyata ada banyak hal yang tidak kamu sukai dari saya?”
“Aku sudah cukup mengenalmu.”
“Apakah kamu mau menikah dengan seseorang yang bahkan tidak mencintaimu.”
“Belum.”
Mikhaela mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan perkataan Arka.
“Kamu belum mencintaiku. Bukan tidak mencintaiku, karena aku akan mengubahnya.”
“Jangan terlalu percaya diri.”
“Kenapa? Apakah saat ini ada seseorang di hatimu?”
Arka menatap dalam ke arah Mikhaela dan hal itu membuat Mikhaela tidak tahan. Mikhaela langsung membuang wajahnya ke arah luar jendela.
Melihat hal itu, Arka sudah tahu jawaban dari pertanyaannya. Ia pun meraih dagu Mikhaela agar wajah cantik itu kembali mengarah kepadanya.
“Aku akan membuatmu melupakan pria itu, karena hanya boleh ada aku di hati dan pikiranmu.”
Mikhaela menepis tangan Arka dan kembali memalingkan wajahnya.
Ada ketakutan yang coba Mikhaela sembunyikan dari Arka mengenai seseorang yang ada di dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki kuasa besar dalam hidup Mikhaela yang membuat Mikhaela tidak memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang ia inginkan.
“Aku ingin kita segera menikah. Kamu boleh meminta pernikahan semegah apa pun. Aku akan mengabulkannya.”
__ADS_1
“Kamu tidak akan bisa menikahiku, Arka. Sebaiknya kamu melupakan aku, karena aku tidak akan pernah bisa menjadi milik kamu.”
- Eireen -