
“Lepaskan saya, Arka! Kamu semakin lama semakin tidak punya sopan santun.”
Mikhaela menghempaskan tangan Arka. Ia menatap tajam ke arah Arka sambil menahan emosinya.
Sepertinya, Arka semakin berani untuk bertindak sesuka hatinya.
“Kita punya perjanjian dan aku ke sini untuk menagihnya. Aku sudah memenuhi janjiku, dan sekarang kamu harus memenuhi kewajiban mu.”
“Sudah saya katakan, kita bicara besok.”
Dengan mengabaikan kata-kata Arka, Mikhaela melangkah keluar dari ruangannya dan menghampiri Julian.
Mata Arka terus memandang ke arah Mikhaela yang memilih untuk meninggalkannya demi pria lain. Kemarahannya rasanya sudah pada puncaknya. Ia sudah tidak bisa lagi menoleransi kedekatan Mikhaela dan Julian, meskipun Mikhaela berkata kalau tidak ada ada apa-apa di antara mereka.
“Ini pilihanmu. Jangan salahkan aku.”
Arka mengepalkan tangannya dan memukul keras salah satu dinding ruang guru. Ia akan menyingkirkan pria itu dari samping Mikhaela.
“Aku tidak akan merelakanmu lagi. Kali ini, kamu akan menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan ada orang lain yang menghalangiku.”
Arka melangkah keluar dari ruang guru menuju gerbang sekolah. Ia langsung masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya seperti biasa.
“Ken. Urus pria itu. Pastikan di tidak akan berada di sekitar Mikhaela lagi.”
Arka menatap tajam ke arah Julian yang sedang berjalan bersama Mikhaela. Mobil Arka perlahan melewati mereka.
“Tuan ingin saya menyingkirkannya? Maksud Tuan, membunuhnya?” Ken menyimpulkan sendiri kata-kata Arka.
Arka memukul belakang kepala Ken yang dinilai memiliki pemikiran yang bodoh dengan buku.
“Kamu pikir, kamu sedang bekerja dengan mafia? Bodoh! Kamu cukup membuat dia pindah dari Jakarta. Terserah kamu mau lempar dia ke mana, asal tidak di Jakarta.”
Arka tidak tahu bagaimana Ken bisa menarik kesimpulan sejauh itu, walau sepertinya itu bukanlah ide yang buruk.
“Oh. Baik Tuan. Saya kira ....”
“Bagaimana bisa papa bertahan dengan ajudan sebodoh kamu.”
Mereka berdua pun terdiam. Setengah jam perjalanan, Arka pun sampai di rumah kedua orang tuanya. Selama ini, Arka lebih sering tinggal di apartemen seorang diri.
__ADS_1
Hubungan Arka dan keluarganya tidak ada masalah, kecuali dengan kakaknya, Dewa. Sejak kecil Arka sudah dikirim ke luar negeri dan tidak terlalu dekat dengan kakaknya.
Perbedaan usia yang cukup jauh di antara mereka juga membuat mereka tidak terlalu akrab. Ketika Arka lahir, Dewa sudah berusia 8 tahun.
Sifat mereka pun bertolak belakang. Arka lebih banyak diam dan tidak suka diusik oleh siapa pun, sedangkan Dewa lebih mudah bergaul dan ramah kepada semua orang.
Sebenarnya, Arka sendiri yang membatasi diri. Ia membangun benteng yang tinggi agar kakaknya tidak bisa masuk ke dalam kehidupannya. Dan Arka memiliki alasan kuat untuk itu.
“Sepertinya, Tuan Dewa sedang berkunjung,” ucap Ken sebelum Arka turun dari mobil. Ia melihat ada mobil hitam yang biasa digunakan Dewa terparkir di samping taman.
Arka menoleh dan menemukan mobil Dewa yang terparkir.
“Ck! Kalau tahu sejak awal, aku lebih baik kembali ke apartemenku dan datang ketika makan malam. Sepertinya mama sengaja memintaku untuk pulang agar aku bisa bertemu dengan Dewa.”
“Tuan, tahan emosi Anda. Sebaiknya jangan buat keributan. Tidak ada gunanya bertengkar dengan Tuan Dewa.”
“Tergantung apa yang ia lakukan. Kalau dia mulai menggangguku, aku tidak akan segan-segan.”
Arka turun dari mobil setelah Ken membukakan pintu untuknya. “Jangan lupa apa yang aku perintahkan. Aku tidak mau melihat wajah pria itu besok di sekolah.”
“Baik, Tuan.” Ken membungkukkan kepala.
Dewa memang tidak ada di sana, tetapi Dewa sedang berdiri membelakanginya menghadap ke arah kolam renang. Ia sedang berbincang dengan seseorang menggunakan ponselnya.
Arka semakin mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Dewa, apalagi dengan suasana hatinya yang sedang buruk.
Setidaknya, sampai acara makan malam keluarga, Arka tidak perlu berbasa-basi dan bisa tetap berada di dalam kamarnya. Tetapi, acara makan malam ini tidak bisa ia hindari. Suka tidak suka, Arka harus keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan keluarganya.
Sebuah keharusan bagi keluarga Sagara untuk berkumpul minimal satu bulan sekali. Dan karena Arka sedang berada di Jakarta, mau tidak mau ia pun harus mengikuti tradisi itu.
Para pelayan telah selesai menghidangkan makan malam di atas meja. Seperti biasa, Arka memilih untuk duduk di samping ibunya, sedangkan Dewa duduk berdampingan dengan Sisca, istrinya.
“Bagaimana petualanganmu di sekolah yang baru? Papa dengar kamu mendapatkan hasil tertinggi di ujian tengah semestermu.”
“Tidak ada yang terlalu istimewa, tetapi aku menemukan apa yang aku cari.”
Dewa menoleh ke arah Arka. Jujur saja, Dewa tidak tahu alasan Arka kembali ke Jakarta di tengah-tengah pendidikan yang sedang ia tempuh.
“Kamu sedang mencari apa, Arka?” tanya Dewa.
__ADS_1
Arka menoleh sesaat ke arah Dewa. “Mencari kebahagiaanku,” jawabnya singkat. Sebenarnya Arka tidak ingin menjawab, tetapi ia tidak ingin merusak suasana makan malamnya.
“Apakah maksudmu, kamu sedang mencari seorang gadis? Tidak aku sangka kamu sudah dewasa sekarang.”
Arka tidak menanggapi kata-kata Dewa.
“Aku akan segera membawanya ke sini.”
“Astaga! Apakah kamu seserius itu? Setahu Kakak, kamu tidak pernah terdengar memiliki seorang kekasih.”
“Aku akan segera menikahinya.”
“Menikah?” Semua yang ada di ruangan itu serentak mempertanyakan keputusan Arka.
“Kenapa? Kalian berpikir aku terlalu muda?”
“Sayang, apa kamu sudah memikirkannya baik-baik?” Sonya, ibu Arka mencoba untuk meminta Arka memikirkan keputusannya yang dianggap terlalu terburu-buru.
“Mama dan Papa tahu alasan aku pulang adalah untuk mencarinya dan tentu saja menikahinya. Aku sudah menyetujui semua persyaratan dari Papa.”
“Tapi, Sayang ....”
Bram, ayah Arka menggenggam tangan Sonya. “Kita sudah tahu dari awal tujuan Arka kembali. Dan saat itu kita sudah setuju. Jadi, biarkan dia menentukan masa depannya. Dia sudah cukup dewasa.”
“Dia baru 18 tahun.”
“Ketika kamu menikah denganku, usiamu juga 18 tahun, Sayang. Kamu tahu kan betapa kerasnya keinginan Arka? Tidak akan ada yang bisa mengubahnya.”
“Iya, aku tahu. Hanya saja ....”
“Jangan khawatir. Aku yakin pilihan Arka sudah tepat.”
“Kakak jadi penasaran. Siapa gadis pilihanmu yang sampai membuatmu seyakin ini untuk menikah.”
“Oh, Papa rasa kamu ....”
“Sebaiknya kita tidak usah membahasnya lagi.” Arka memotong kalimat Bram. Ia tidak ingin kakaknya mengetahui siapa gadis yang akan ia nikahi. Semua akan menjadi sebuah kejutan ketika Arka membawanya ke rumah ini.
- Eireen -
__ADS_1