
Tidak butuh waktu lama, Arka sudah menjadi murid yang terkenal di sekolah. Bukan hanya karena kenakalannya, tetapi juga harus di akui kalau sosok Arka memang mencuri perhatian, khususnya bagi para siswi di sana.
Wajah Arka yang bisa di bilang mirip aktor korea yang sedang di gemari oleh hampir seluruh makhluk ber-gender wanita, dengan tinggi di atas rata-rata, dan juga postur tubuh yang hampir sempurna, rasanya adalah sebuah anugerah untuk dapat melihat pemandangan itu setiap harinya.
Mulai banyak siswi yang mulai mencoba mendekati Arka, dari yang malu-malu, sampai yang cukup agresif. Bahkan mereka sudah mempunyai satu grup WhatsApp beranggotakan para fans Arka.
Semua kenakalan Arka pun sudah menjadi hiburan setiap hari, bahkan mereka tidak segan untuk mendukung semua kenakalan Arka dan rela untuk menemani Arka selama ia menerima hukuman.
Seperti siang ini, hukuman membersihkan kelas yang diberikan oleh Mikhaela justru dijadikan kesempatan oleh para siswi untuk menemani Arka, bahkan ada yang membantu Arka.
Mengetahui hal itu, Mikhaela terpaksa ikut mengawasi Arka sampai selesai. Hal ini tentu saja membuat Arka senang. Ia bisa melihat Mikhaela dari dekat yang senantiasa memperhatikannya, walau sekedar untuk memastikan apakah Arka melakukan hukumannya dengan benar atau tidak.
Sementara Mikhaela di sana, para siswi itu justru merasa terganggu dengan keberadaannya. Mereka menjadi segan untuk menggoda Arka, yang akhirnya memutuskan untuk pulang.
“Akhirnya mereka semua pergi.” Arka menghela napas lega.
“Ibu kira kamu senang ditemani oleh teman-teman wanitamu.”
“Mereka? Mereka hanya pengganggu yang membuatku gerah setiap hari.”
“Tidak ada satu pun yang menarik perhatianmu? Bukankah seusiamu biasanya sudah tertarik dengan lawan jenis?”
“Sepertinya Ibu tertarik dengan kehidupan pribadiku.” Arka tersenyum dan menarik kursi yang ada di hadapan Mikhaela. Arka duduk di sana. “Aku tidak keberatan. Ibu bebas bertanya apa pun padaku.”
Mikhaela memandang Arka yang terlihat serius dengan ucapannya. “Ibu rasa, Ibu tidak perlu tahu.”
“Aku lebih tertarik pada wanita yang lebih dewasa, bukan anak ingusan seperti mereka.”
Tanpa diminta, Arka mengatakan mengenai sosok gadis impiannya. Ia lagi-lagi memandang ke arah Mikhaela dengan pandangan yang membuat Mikhaela tidak nyaman, tetapi berusaha ia abaikan.
“Apakah kamu sudah selesai?” Mikhaela berusaha mengalihkan perhatian Arka.
“Belum.” Arka masih memandangi Mikhaela sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Lalu, kenapa kamu hanya duduk saja?”
Suasana tidak nyaman itu berlangsung beberapa saat sampai suara ketukan pelan terdengar dari arah luar kelas.
“Mikhaela, sudah mau pulang?”
Suara yang membuat Arka kesal kembali terdengar.
Pria itu lagi!
__ADS_1
Mikhaela menoleh dan ada rasa lega terlihat di wajahnya. “Hai, Juls. Iya sebentar lagi.”
“Oke, aku tunggu di luar, ya?”
Mikhaela mengangguk dengan senyuman, dan Arka tidak suka melihatnya.
“Apakah Ibu selalu seperti itu?”
“Seperti apa?” Mikhaela bisa merasakan ada aura menusuk yang terpancar dari diri Arka.
“Tersenyum kepadanya?”
Tentu saja Mikhaela mengerti siapa yang Arka maksud.
“Ibu akan tersenyum kepada siapa saja yang memang pantas mendapatkannya.”
“Kalau begitu, tersenyumlah kepadaku. Aku pantas mendapatkannya juga, kan?”
Mikhaela memang sedikit tidak mengerti dengan kata-kata Arka, tetapi ia ingin segera pergi dari ruang kelas itu. Maka Mikhaela menuruti keinginan Arka.
“Terima kasih karena hari ini kamu sudah melakukan tugas kamu dengan baik. Ibu harap kamu bisa menyelesaikan hukumanmu dan tidak lagi berulah.”
Sebuah senyuman tulus Mikhaela berikan untuk Arka. Kalau saja saat itu Mikhaela adalah kekasih Arka, bisa dipastikan, saat ini Arka sudah menarik tubuh Mikhaela mendekat kepadanya dan menyatukan bibir mereka.
Satu minggu berlalu sejak Arka tertangkap basah sedang merokok, dan ini adalah hari terakhir hukuman Arka untuk membersihkan kelas setelah jam pelajaran usai.
Selama satu minggu ini Arka tidak berhenti berulah. Ada saja yang ia lakukan yang membuatnya harus berakhir di hadapan Mikhaela.
Arka bahkan tidak terlihat menyesal dengan semua yang ia lakukan. Mikhaela sudah kewalahan mencoba mengendalikan Arka, tetapi ia tidak ingin menyerah.
Mikhaela melihat kalau Arka sebenarnya adalah anak yang cerdas, tetapi entah mengapa Arka tidak pernah mau memperlihatkannya.
Mikhaela beberapa kali menemukan Arka dapat menyelesaikan soal yang sulit dalam waktu singkat, tetapi setelah itu ia menghapusnya dan membiarkan kertas kerjanya kosong begitu saja.
Sang kepala sekolah pun tidak dapat melakukan apa-apa. Ayah Arka menyumbang dana begitu besar kepada yayasan sekolah yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Oleh karena itu sang kepala sekolah sangat berharap Mikhaela dapat menangani Arka dan dapat membuat Arka setidaknya tidak terlalu membuat masalah.
“Sepertinya saya sudah menjadi murid favorit Ibu sekarang. Bayangkan, tiada hari tanpa kita berbicara berdua seperti ini.”
Mikhaela menghela napas panjang. Arka memang selalu menguji kesabarannya.
“Arka. Sebenarnya apa yang kamu cari? Apakah kamu ingin perhatian? Atau mungkin kamu memang memiliki masa kecil yang kurang bebas sehingga kamu meluapkannya sekarang?”
Mikhaela benar-benar tidak mengerti mengapa Arka selalu berulah di usianya yang sudah hampir dewasa. Ia sedikit emosi karena kelakuan Arka yang benar-benar membuatnya kewalahan.
__ADS_1
Alasan Arka di panggil kali ini adalah karena Arka mencoret-coret tembok belakang sekolah, bukan dengan mural, tetapi dengan coretan asal yang hanya mengotori dinding sekolah.
“Aku hanya bosan. Banyak hal yang biasa aku lakukan ketika aku bosan, tetapi aku dilarang untuk melakukannya di sekolah.”
“Baiklah. Karena Ibu tahu sebanyak apa pun hukuman yang akan diberikan kepadamu, tidak akan membuatmu berhenti berulah, Ibu punya penawaran untukmu.”
Sebuah kalimat yang menarik perhatian Arka. Bukan. Bukan menarik perhatian, tetapi sebuah kalimat yang menjadi alasan mengapa Arka selama ini selalu berulah.
“Saya mendengarkan.”
Mikhaela menarik napas dalam sebelum ia mengutarakan apa yang sudah ia pikirkan selama beberapa hari ini. Sebuah ide yang ia harapkan dapat membuat Arka berhenti berulah.
“Kamu harus berhenti berulah dan mendapatkan nilai tertinggi di kelas untuk semester ini, dan sekolah ini akan memberikan apa yang kamu mau, selama itu tidak melanggar peraturan ataupun kode etik sekolah ini.”
Arka tampak tidak terlalu senang dengan penawaran itu.
“Bukan sekolah, tetapi Ibu.”
“Maksud kamu?”
“Saya ingin Ibu melakukan apa yang saya minta kalau saya berhasil memenuhi persyaratan yang Ibu berikan.”
“Saya?”
“Iya. Karena Ibulah yang harusnya bertanggung jawab sebagai wali kelas saya.”
Mikhaela terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya menyetujui keinginan Arka.
“Baiklah. Selama kamu tidak meminta hal yang melanggar hukum, dan masih dalam kesanggupan saya, akan saya penuhi.”
Dan saat itu juga wajah Arka pun dipenuhi dengan senyuman. Sebuah kemenangan sudah ada di dalam genggamannya. Apa yang ia kejar selama ini akhirnya akan segera terwujud.
Tubuh Arka condong mendekat ke arah Mikhaela walaupun mereka terhalang oleh meja kerja di antara mereka.
“Apakah Ibu yakin dengan penawaran Ibu?”
“Apa pun, asalkan kamu memenuhi persyaratan tadi. Jadi, apa yang kamu inginkan?”
Arka kembali tersenyum. “Menikah dengan saya.”
“Apa?”
“Saya ingin Ibu menikah dengan saya.”
__ADS_1
- Eireen -