
"Katakan siapa yang melakukan ini, Mikhaela. Kamu tidak sedang melindungi bocah itu, kan? Kalau memang dia, aku akan melemparnya keluar jendela."
Mikhaela menggelengkan kepala. "Bukan dia."
"Lalu?"
"Berjanjilah kamu tidak akan mencarinya."
"Katakan padaku siapa!"
"Berjanjilah dulu."
"Maaf. Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Apakah kamu melihat dirimu saat ini? Siapapun yang melakukan ini padamu akan aku pastikan untuk membayarnya."
"Kalau begitu, aku tidak akan mengatakannya padamu."
"Dewa tahu? Apakah dia sudah ke sini?"
Mikhaela terdiam ketika mendengar nama Dewa di sebut.
Melihat perubahan raut wajah Mikhaela, Julian pun akhirnya menyadari sesuatu.
"Jangan katakan kalau Dewa yang ...."
Julian langsung berdiri dan keluar dengan cepat dari kamar Mikhaela. Ia bahkan mengabaikan panggilan Mikhaela untuk berhenti.
Sampai di ruang tamu, langkah Julian langsung di hentikan oleh Arka yang menghadangnya.
"Kakakku adalah urusanku. Aku akan pastikan dia membayar setiap rasa sakit yang Mikhaela rasakan." Wajah Arka tampak begitu menahan rasa amarah yang sangat besar. Ia tidak akan membiarkan kakaknya lolos begitu saja.
Memar di wajahnya masih terlihat dan itu cukup membuat Julian puas walaupun ia tidak pantas untuk menerima pukulan itu, tetapi pukulan itu cukup untuk membayar semua tingkah lakunya yang merepotkan Mikhaela di sekolah.
"Kakakmu?" Wajah Julian terlihat bingung. "Dewa adalah kakakmu?"
"Sayangnya iya."
Jawaban Arka justru diterima dengan tidak baik oleh Julian. Julian kembali meraih kerah baju Arka.
"Apakah kalian merencanakan semua ini? Kalian ingin mempermainkan Mikhaela?"
Julian sudah siap untuk memukul Arka. Dan gerakan tangannya terhenti mendengar pengakuan Arka.
"Aku tidak mempermainkannya. Aku mencintai Mikha!"
"Mencintai dia? Kamu hanya anak ingusan yang hanya ingin mempermainkan dia! Kamu bahkan baru mengenalnya, dan kamu bilang kalau kamu mencintai dia? Apakah kamu pikir kamu bisa menipuku?"
"Terserah. Tapi aku akan pastikan kalau kakakku tidak akan pernah menyentuhnya lagi."
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pulang. Aku yang akan menjaga Mikhaela."
"Tidak! Dia adalah tanggung jawabku sekarang."
"Tanggung jawabmu?"
"Ah, pasti Mikhaela tidak mengatakannya padamu. Kami akan segera menikah. Apakah kamu tidak melihat ada cincin yang melingkar di jari manisnya?"
"Menikah? Mikhaela tidak akan segila itu! Selama ini dia bersama Dewa. Bahkan ketika Dewa menikah dia tidak pernah pergi. Mana mungkin dia mau menikah denganmu."
"Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu. Aku rasa, sebaiknya kamu yang pulang. Dia bukan tanggung jawabmu."
"Aku akan tetap di sini, kecuali Mikhaela yang memintaku untuk pergi."
Pertengkaran mereka terhenti karena suara bel yang terdengar.
"Itu pasti obat Mikhaela." Arka bergegas membuka pintu.
"Ini obat yang Tuan pesan," ujar Ben sambil memberikan bungkusan obat.
"Oke. Terima kasih, Ben. Jangan katakan apapun pada keluargaku."
"Baik, Tuan."
Ben segera pergi dan Arka kembali menutup pintu apartemen Mikhaela.
"Silahkan bermimpi! Aku tidak akan mengizinkanmu menyentuh Mikhaela."
Dengan cepat Julian merebut bungkus obat dari tangan Arka, lalu berlari masuk ke dalam kamar Mikhaela dan menguncinya.
Tidak lama kemudian terdengar suara gedoran pintu dan teriakan kesal Arka yang meminta Julian untuk membukakan pintu.
"Kalian kenapa lagi?" tanya Mikhaela sesaat setelah Julian berhasil mengunci pintu kamar Mikhaela dan Arka mulai berteriak.
"Aku tidak akan mengizinkannya melihat tubuhmu. Enak saja!"
Mikhaela terkekeh. "Dan apa yang membuatmu berpikir kalau aku juga akan mengizinkanmu?"
"Hei! Aku dan dia berbeda. Kalau dia melihat tubuhmu, akhir ceritanya bisa berbeda. Kalau aku? Kamu tahu aku, kan? Jadi, tidak perlu khawatir dengan aku."
Mikhaela tertawa. Rasanya, setelah apa yang terjadi, ia lega Julian ada di dekatnya.
"Putar tubuhmu." Julian menarik kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur Mikhaela.
Mikhaela menurut. Ia duduk sambil membelakangi Julian. Mikhaela membuka atasannya yang berbentuk kimono dan membiarkan bagian punggungnya polos di hadapan Julian.
Julian hanya bisa menarik napas dan menahan emosi melihat jejak luka tubuh Mikhaela, dan tidak hanya luka baru. Ada beberapa luka lama yang membekas di sana.
__ADS_1
Semua luka itu hampir menutupi punggung Mikhaela. Sekarang Julian mengerti mengapa Mikhaela selalu memilih pakaian yang tertutup. Ada banyak luka yang ia sembunyikan selama ini.
"Apakah semua ini perbuatan Dewa?" Julian mulai mengoleskan obat di bagian tubuh Mikhaela yang terluka, sedangkan teriakan Arka masih terdengar.
Mikhaela hanya mengangguk.
"Aku kira, dia memperlakukanmu dengan baik, meskipun dia mengkhianatimu. Aku tidak tahu kalau selama ini kamu menderita. Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku? Aku pasti akan membawamu bersamaku dan tinggal bertiga bersama Marco."
"Mana mungkin aku mengganggu kalian. Lagipula, aku tidak mungkin bisa meninggalkannya, Juls."
"Kenapa? Dia mengancam mu?"
"Dia akan menghentikan pengobatan Kayla kalau aku meninggalkannya. Sedangkan kamu tahu, pengobatan Kayla benar-benar jauh dari jangkauanku."
"Aku punya tabungan. Aku belum membutuhkannya. Marco juga masih punya tabungan dan cukup untuk kita."
"Tidak, Juls. Ini adalah masalahku. Aku tidak akan menarik mu masuk ke dalamnya."
Mikhaela meringis ketika Julian mengobati lukanya yang sedikit terbuka.
"Tahan sebentar." Dengan lembut Julian mengolesi obat ke luka itu. "Aku benar-benar bodoh selama ini tidak pernah bisa melihat kalau kamu menderita. Aku benar-benar tidak tahu."
"Bukan salahmu, Juls. Aku memang menutupinya serapi mungkin agar tidak ada yang tahu."
"Ikut denganku, ya?"
Mikhaela menggelengkan kepala dan memakai kembali bajunya. Ia berbalik menghadap Julian.
"Aku baik-baik saja. Setidaknya ada dia yang mungkin bisa melindungi aku sementara ini dari Dewa." Mikhaela melirik ke arah pintu kamarnya yang sudah terbebas dari amukan Arka.
"Bocah ingusan itu?" Julian teringat kata-kata Arka dan langsung meraih tangan Mikhaela. "Apa yang ada di pikiranmu Mikhaela? Kamu menerima lamarannya? Kakaknya menyiksamu, dan sekarang kamu menjerumuskan dirimu ke dalam pelukan adiknya?"
"Aku baru tahu kemarin kalau mereka adalah kakak beradik. Dan Dewa marah besar ketika tahu aku akan menikah dengan Arka."
"Jadi, dia datang dan melakukan semua ini? Gila!! Benar-benar gila! Kenapa hidupmu serumit ini."
Julian membersihkan tangannya dengan tisu. "Kamu mau mengobati bagian depan di depan kaca?"
Mikhaela mengangguk dan Julian membantunya untuk berjalan ke kamar mandi. Julian membiarkan pintu kamar mandi terbuka dan ia menunggu di pinggir tempat tidur.
"Bagaimana bisa aku melewatkan semua ini? Selama beberapa tahun ini aku berusaha untuk menjaganya, dan aku gagal."
Di tengah penyesalannya, tiba-tiba saja Julian dikejutkan dengan suara keras dari arah pintu.
Arka mendobrak pintu itu dan dengan wajah merah padam menahan amarah kepada Julian, Arka melangkah masuk dengan cepat.
"Di mana Mikha?"
__ADS_1
- Eireen -