
Mikhaela membiarkan Arka memeluknya sampai Arka merasa cukup. Setidaknya, itu yang bisa Mikhaela lakukan untuk Arka.
Bagaimanapun, Arka telah menolongnya setelah apa yang terjadi pada dirinya.
"Apakah dia sering menyakitimu?"
Tiba-tiba saja pertanyaan itu memecah keheningan di antara mereka. Suara Arka tampak sedikit parau dan terasa kalau Arka pun ikut merasakan kesakitan Mikhaela.
"Aku telah menjadi pelampiasan emosi dan hasratnya setelah dia menikah."
Jawaban Mikhaela cukup untuk membuat tangan Arka memeluk tubuh Mikhaela semakin erat.
"Mengapa kamu tidak meninggalkannya? Apakah kamu sangat mencintai dia?"
Arka kembali mengangkat wajahnya menghadap untuk memandang Mikhaela dengan tatapan sendu.
Perlahan Mikhaela menggelengkan kepala. "Aku sudah lama mematikan perasaanku."
Arka tersenyum dan membelai pipi Mikhaela. "Kalau begitu, izinkan aku yang menempati tempat kosong di hatimu."
Mikhaela memandang Arka sambil terdiam beberapa saat. "Dulu, kakakmu juga sama seperti kamu. Mengejar sampai akhirnya aku menyerah dan jatuh hati, tetapi kemudian, semua berubah. Bagaimana aku bisa yakin kalau aku membuka hati, kamu tidak akan melakukan hal yang sama. Kalian kakak beradik, kan? Kalian memiliki darah yang sama."
"Aku bukan kakakku. Kamu akan menjadi yang pertama dan terakhir untukku."
Mikhaela tertawa kecil sambil melepaskan diri dari pelukan Arka. Ia berjalan perlahan ke arah dapur. "Kakakmu pun berkata hal yang sama, dan kamu lihat apa yang terjadi sekarang, kan?"
Arka terdiam. Dia memang tidak bisa membuat Mikhaela yakin hanya dengan kata-katanya. Setelah apa yang Mikhaela alami, tidak mungkin Mikhaela dapat mempercayai seseorang dengan begitu mudah.
"Bagaimana kalau dimulai dengan kita menikah? Apakah hal itu belum cukup untuk membuktikan kalau aku serius dan tidak seperti kakakku?"
Arka melangkah mendekat dan memeluk Mikhaela dari belakang. "Kamu sudah setuju untuk menikah denganku, dan kamu masih tetap memakai cincin itu." Arka lalu memutar tubuh Mikhaela untuk menghadap ke arahnya. "Kamu memiliki harapan agar aku bisa membebaskan mu dari kak Dewa, kan? Meskipun kecil, aku akan mengambil kesempatan itu untuk mengisi hatimu, Mikha."
Mikhaela memandang ke arah Arka. Logika dan hatinya sedang berperang.
Apa yang Arka katakan memang benar. Sebagian dari dirinya berharap kalau semua janji Arka akan terwujud, tetapi sebagian lagi tidak dapat mempercayai kata-kata itu karena rasa takut. Takut kalau suatu saat Arka telah dewasa, ia akan menemukan seseorang yang lebih menarik dan meninggalkan Mikhaela.
"Aku tahu kalau kata-kataku sulit untuk kamu percaya, terlebih karena usiaku, kan?"
__ADS_1
"Kamu baru mengenalku beberapa bulan, Arka. Apa yang membuatmu yakin untuk menikah denganku."
Aku mengenalmu seumur hidupku, Mikha.
Kebenaran itu belum juga Arka ungkapkan. Ia tidak ingin Mikhaela berpikir kalau apa yang Arka lakukan adalah sebagai bentuk balas budi, bukan murni karena perasaan yang telah Arka pendam sekian lama.
"Kata-kata cinta memang klise, tetapi memang itu kenyataannya. Perasaan yang aku miliki, membuatku sangat egois ingin menjadikan kamu sebagai milikku. Apakah itu salah? Bahkan jika aku harus mencapainya dengan cara memaksamu, aku bisa melakukannya."
"Kamu tidak memberikan aku kebebasan untuk memilih?"
"Kamu sudah memiliki kebebasan untuk memilih ketika aku belum hadir, dan sekarang, aku yang akan memilihnya."
"Itu bukan cinta, Arka. Kamu terobsesi."
"Mungkin itu benar. Aku tidak peduli. Bukankah lebih baik? Obsesi menjadikanku hanya memandang kepada kamu. Seperti katamu, cinta bisa berubah kapan saja, tetapi obsesi? Bukankah hal itu bertahan?"
"Kamu benar-benar gila, Arka." Mikhaela menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria yang tidak juga menyerah.
"Jadi, apakah kamu mau menikah dengan pria gila ini?" Dengan pantang menyerah Arka tetap meminta Mikhaela untuk menikah dengannya.
"Kamu sadar dengan kondisiku, kan? Masa lalu dan apa yang masih terjadi sekarang?" Mikhaela mencoba untuk mencari apakah Arka betul-betul tahu apa yang akan dia hadapi.
"Kalau seperti ini, semua sikap dewasamu hilang seketika." Mikhaela kembali menggelengkan kepala dan kali ini di tambah dengan sebuah senyuman--yang membuat Arka semakin jatuh cinta pada Mikhaela.
"Berarti kamu mendapat paket lengkap. Kalau kamu butuh seorang pria dewasa yang mengayomi mu, aku bisa. Dan kalau kamu sedang ingin merasa seperti muda kembali, aku juga bisa."
Senyuman Mikhaela seketika menghilang berganti dengan sebuah tatapan horor mengarah pada Arka.
"Muda katamu? Memang kamu pikir berapa umurku sekarang?"
"Aku bercanda, Sayaaang." Arka langsung menarik Mikhaela ke dalam pelukannya. Ia tidak ingin kehilangan moment ini. Moment di mana Mikhaela bersikap apa adanya dan tidak membatasi diri.
Mungkin bagi Mikhaela, Arka hanya seorang bocah yang tidak dapat dijadikan sebagai sandaran hidup, tetapi Arka ingin membuktikan kalau usia bukanlah tolak ukur satu-satunya yang menjadikan seseorang dewasa dan dapat melindunginya.
"Arka, sudah lepaskan aku." Mikhaela mencoba mendorong Arka.
"Tidak sebelum kamu berjanji tidak akan berubah pikiran."
__ADS_1
"Ayolah, Arka. Jangan seperti anak kecil."
"Aku memang masih kecil."
"Dan kamu tadi bilang sudah mau menikah?"
"Kekuranganku hanya di usia, kan? Aku memiliki otak yang cemerlang, masa depan yang cemerlang, wajah yang memukau, dan aku juga cinta mati sama kamu."
Mikhaela langsung memutar bola matanya mendengar semua kata-kata Arka yang memuji dirinya sendiri.
"Ah satu lagi! Kamu jangan ragukan soal keperkasaanku. Di usia belia ini, kamu bisa memanfaatkan ku selama kamu mau," bisa Arka tepat di telinga Mikhaela.
"Arkaaaaa!!!!" Mikhaela pun mencoba meronta kembali agar Arka melepaskannya.
"Ma--maaf. Maaf. Aku hanya mencoba memberitahu mu nilai lebih untuk menikah denganku." Arka tertawa, tetapi enggan melepaskan Mikhaela. "Aku serius, Mikha. Beri aku kesempatan untuk membuatmu bahagia. Meskipun kamu menolak ku sekarang, aku akan terus mengganggu hidupmu sampai kamu muak dan akhirnya menyerah. Jadi, bukankah lebih baik kamu menyerah sekarang?"
Dia benar-benar tidak berniat untuk menyerah. Pasti ada yang salah dengan isi kepalanya. Apakah aku semenarik itu?
* Jangan gila Mikhaela! Kamu ingat siapa kamu dan apa yang sudah terjadi dalam hidupmu. Tidak mungkin kalau dia sungguh-sungguh mencintaimu! Pasti ada maksud di balik semua itu.*
Masih ada orang baik yang sungguh-sungguh bisa mencintaimu, Mikhaela. Mungkin Arka adalah orangnya. Kenapa tidak kamu berikan dia kesempatan?
Hei! Jangan bodoh! Sosok idaman seperti Arka itu hanya hidup di dalam dongeng. Tidak mungkin dia mau terima dengan semua masa lalu yang kamu punya tanpa ada maksudnya.
Ayolah! Tidak semua manusia itu jahat. Julian juga baik, kan? Sampai hari ini, dia selalu melindungi mu. Berikan dia kesempatan. Dia terlihat tulus.
Hati dan logika Mikhaela terus berperang.
"Baiklah!"
Satu kata itu cukup untuk membuat Mikhaela menghentikan perdebatan batinnya. Tapi kata yang keluar dari mulut Mikhaela di terima berbeda oleh Arka
"Baiklah? Jadi, kamu setuju? Aku benar-benar bahagia!!"
"Eh?"
Belum sempat Mikhaela menjelaskan kesalahpahaman itu, Arka sudah melompat kegirangan dan Mikhaela tidak sampai hati untuk menghentikannya.
__ADS_1
Lagi pula, pada akhirnya memang Mikhaela memutuskan untuk mencoba memberikan kesempatan pada Arka. Dan ia berharap keputusannya ini tidak salah.
To be continued