
"Aku tidak pernah ingin melakukan ini kepadamu, tetapi kamu yang memintanya. Aku sudah memperingatkan mu, Kelinci Kecilku ...." Dewa memberikan sebuah kecupan kecil di pelipis Mikhaela dan menutupi tubuh Mikhaela dengan selimut.
Dewa sudah puas dan langsung mengenakan pakaiannya kembali. Sebelum ia meninggalkan kamar itu dengan kondisi berantakan dan Mikhaela yang tidak sadarkan diri, Dewa menoleh sesaat dan tersenyum.
"Setelah ini, aku yakin kamu tidak akan berani membiarkan ada orang yang menyentuhmu selain aku."
Dewa langsung melangkah pergi meninggalkan apartemen Mikhaela tanpa ada rasa iba sedikitpun.
Sementara di sisi lain, Arka merasa gelisah tanpa sebab. Ia mencoba mengirimkan pesan pada Mikhaela, tetapi karena sudah malam, Arka mengira kalau Mikhaela sudah tertidur.
Arka masih berjalan mondar-mandir dengan perasaan gelisah.
"Apakah aku gelisah karena besok aku akan menikah dengan Mikhaela? Aku sudah memimpikan hal ini sejak aku kecil."
Arka mencoba meyakinkan dirinya kalau semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Arka pun memutuskan untuk tidur dan melupakan kegelisahannya.
Kegelisahan Arka berlanjut setelah ia bersiap menjemput Mikhaela. Arka sudah mencoba menghubungi Mikhaela sejak jam enam pagi, tetapi Mikhaela tidak merespon sama sekali.
Sebelum Arka berangkat, ia mencoba sekali lagi menghubungi Mikhaela dan kali ini panggilannya terjawab, tetapi suara yang ia dengar di seberang sana membuat Arka langsung melajukan kendaraannya secepat mungkin.
****
Pagi hari di apartemen Mikhaela.
Mata Mikhaela perlahan mengerjap ketika sayup-sayup ia mendengar suara deringan ponselnya.
Mikhaela mencoba menggerakkan tubuhnya untuk meraih ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya, tetapi seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.
Perlahan Mikhaela mencoba untuk bergerak. Panggilan itu sudah berdering untuk yang ke empat kalinya setelah beberapa kali terputus.
Pada akhirnya Mikhaela sanggup untuk meraih ponselnya dan panggilan itu adalah dari Arka. Perlahan Mikhaela mengangkat panggilan itu.
"Mikha! Apakah kamu baik-baik saja?" Suara Arka terdengar sangat khawatir. "Aku sudah menghubungimu dari jam enam pagi."
"Arka .... Jangan datang ...." Suara Mikhaela terdengar begitu lemah dan terbata. Arka langsung bisa merasakan kalau Mikhaela tidak baik-baik saja, apalagi setelah itu panggilannya langsung terputus.
"Mikha! Buka pintunya!" Ketukan Arka semakin keras setelah ia berkali-kali menekan bel dan tidak ada jawaban apapun. "Aku akan dobrak pintunya kalau kamu tidak buka!"
Setelah tetap tidak ada jawaban dari Mikha, Arka nekad mendobrak pintu apartemen Mikha dan apa yang Arka lihat ketika ia datang membuatnya terkejut.
Ruang tamu Mikhaela tampak berantakan. Beberapa barang berjatuhan ke lantai. Arka segera berlari sambil memanggil Mikhaela, sampai Arka menemukan Mikhaela yang terkulai lemah di pinggir tempat tidurnya dengan ponsel yang sudah terjatuh di lantai.
__ADS_1
"Mikha!!!"
Arka langsung berlari dan mencoba membangunkan Mikhaela. Arka sadar kalau saat itu Mikhaela tidak memakai sehelai benangpun. Kondisi kamar Mikhaela pun tampak lebih kacau dibandingkan ruang tamunya.
"Mikha bangun! Apa yang terjadi padamu? Semalam kamu baik-baik saja. Siapa yang melakukan ini?"
Perlahan akhirnya mata Mikhaela mulai terbuka. Ia mendapati Arka sedang terlihat panik berusaha untuk membangunkannya.
"Mikha! Aku akan antar kamu ke rumah sakit sekarang."
Arka sudah mulai berdiri dan akan menggendong Mikhaela, tetapi Mikhaela langsung mencegahnya. "Jangan rumah sakit ...." Mikhaela menggenggam lemah lengan Arka.
"Tapi kamu terluka."
"Aku mohon, Arka ...."
"Baiklah! Aku akan menghubungi dokter pribadi keluargaku."
Mikhaela tidak menolaknya. Ia tahu siapa dokter pribadi keluarga Arka. Setiap Dewa mengamuk dan melampiaskan semua kepada Mikhaela, dokter itu juga yang selalu datang dan merawat Mikhaela.
"Aku sudah memanggil dokter Budi. Dia akan segera datang."
Arka duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap kepala Mikhaela. Mikhaela memalingkan wajahnya agar Arka tidak melihat wajahnya yang menahan malu.
Pertanyaan itu membuat Mikhaela menarik selimut ya dan membalikkan tubuhnya membelakangi Arka.
"Apakah Kak Dewa?"
Mikhaela bisa merasakan aura berbeda keluar dari diri Arka. Suara Arka terdengar dingin dan menusuk. Mikhaela tidak menjawab. Kalau Arka tahu kakaknya yang telah menorehkan beberapa luka dan memar di tubuhnya, Arka pasti akan mencari Dewa dan menghajarnya meskipun Dewa adalah kakaknya, tetapi Mikhaela juga tahu kalau ia tidak akan bisa menyembunyikannya.
"Aku akan membunuhnya!"
Mikhaela memejamkan mata sambil menahan air matanya. "Arka, sudah cukup. Jangan mengejar ku lagi. Kita akhiri saja semua ini."
Tubuh Arka membeku mendengar kata-kata Mikhaela.
Kemarin ia meninggalkan apartemen ini dengan perasaan bahagia. Seharusnya hari ini ia menjemput Mikhaela dan menikah, tetapi apa yang Arka temukan pagi ini benar-benar membuatnya menahan amarah di dalam dirinya yang sudah mendesak untuk meledak.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kak Dewa akan membayar semua ini."
"Jangan, Arka. Kamu jangan berselisih dengan kakakmu karena aku. Aku sudah terbiasa dengan semua ini."
__ADS_1
"Terbiasa?" Arka langsung meraih pundah Mikhaela dan memutar tubuh Mikhaela agar menghadap ke arahnya. "Dia sering melakukan ini padamu?"
Mikhaela tidak pernah melihat wajah Arka yang semarah saat ini seolah ia sudah siap membunuh Dewa.
Percakapan yang semakin menegang itu reda karena bunyi bel apartemen. Arka langsung keluar dari kamar dan membuka pintu.
"dr. Budi. Dia ada di dalam kamar."
"Baiklah aku akan segera memeriksanya."
Arka memilih menunggu di ruang tamu. Ia tidak bisa meninggalkan Mikhaela, meskipun saat ini ia ingin sekali mencari Dewa.
- di kamar tidur -
Dr. Budi yang baru masuk ke dalam kamar hanya bisa menghela napas. Ini bukan pertama kalinya ia memeriksa Mikhaela, tetapi ia benar-benar berharap kalau setia kali ia datang, itu akan menjadi kali terakhir ia memeriksa Mikhaela dalam keadaan seperti ini.
"Apakah Dewa yang melakukannya? Tidak mungkin Arka, kan?"
Mikhaela hanya menggigit bibirnya. Hanya dr. Budi yang tahu apa yang selama ini terjadi antara dirinya dan Dewa.
"Kali ini, apa yang membuatnya marah?" Dr. Budi bertanya sambil memeriksa Mikhaela. "Sepertinya ada yang sangat mengganggunya sampai dia sejauh ini. Banyak luka di tubuhmu."
"Dia marah karena Arka ingin menikahi ku."
"Hah?" Dr. Budi langsung melihat ke arah luar kamar. "Arka? Tapi, bagaimana bisa? Apakah selama ini kalian berpacaran?"
Mikhaela menggelengkan kepala. "Aku belum lama bertemu dengan Arka. Dia murid baru yang pindah ke sekolah tempat aku mengajar. Dan sejak itu dia mengejar ku dan memintaku untuk menikah dengannya. Aku sendiri tidak mengerti."
Mungkinkah Mikhaela adalah gadis yang selama ini Arka cari? Kalau benar, sungguh tragis.
Dr. Budi bergumam dalam hati. Ia cukup tahu cerita tentang Arka yang bersikeras ingin menunggu seorang. Dulu Arka pernah tinggal bersamanya selama sekolah di luar untuk satu tahun sebelum dr. Budi akhirnya kembali ke Jakarta.
"Mungkin, Arka adalah jalan keluar mu agar bisa lepas dari Dewa?"
"Aku tidak ingin mereka bertengkar karena aku. Aku hanya ingin hidup tenang."
"Saya rasa, Arka tidak akan melepaskan mu. Saya cukup tahu bagaimana sikap Arka."
"Aku sudah berulang kali menolaknya, tetapi dia tidak juga menyerah. Bahkan Arka tahu tentang hubunganku dan Dewa, hanya saja Arka tidak tahu sedalam apa."
"Dan sekarang dia mulai tahu bagaimana Dewa memperlakukanmu. Pasti dia sedang menahan diri untuk tidak membunuh kakaknya."
__ADS_1
- Eireen -