Terpaksa Menikahi Murid

Terpaksa Menikahi Murid
Tertangkap Kembali


__ADS_3

Arka mendatangi ruang perawatan di mana Mario, anak yang Arka pukul sebelumnya, sedang di obati.


Ketika Arka datang, Mario tampak ketakutan, karena sampai saat itu, Mario tidak mengerti mengapa Arka memukulnya.


Tadi, Arka tiba-tiba mendatanginya dan langsung memukulnya sangat keras sampai terjatuh.


Arka tidak mengatakan apa-apa, lalu Pak Julian langsung memanggil dan meminta Arka untuk ikut dengannya ke ruang guru. Sedangkan Mario di bawa oleh temannya ke ruang perawatan sekolah.


Arka berdiri di hadapan Mario yang masih duduk di atas tempat tidur. Ia mengulurkan tangannya.


“Aku minta maaf.”


Mario memandang uluran tangan Arka dan membalasnya perlahan dengan ragu-ragu.


Arka tidak segera melepaskan jabatan tangan itu dan malah menarik Mario mendekat. “Sekali lagi aku lihat kamu berani menatap Ibu Mikhaela seperti tadi, aku akan menghajarmu sampai kamu tidak sadarkan diri.”


Bisikan itu cukup membuat Mario ketakutan dan segera melepaskan jabatan tangan Arka. Mario langsung duduk menjauh. Untung saja Pak Julian sudah datang setelah ia tertinggal karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Saya sudah meminta maaf. Dan saya rasa kami sudah mengerti satu sama lain. Bukankah, begitu?”


Tatapan tajam Arka memaksa Mario untuk mengangguk. Tentu saja Mario tidak mau lagi berurusan dengan Arka yang tampak bukan tandingannya.


“Kalau begitu, saya sudah boleh pulang, kan?”


“Iya, kamu sudah boleh pulang,” jawab Julian.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Arka berbalik dan keluar dari ruang perawatan melewati koridor sekolah yang mengantarnya sampai pintu gerbang sekolah.


Arka berdiri di balik pagar tinggi sambil menyalakan rokok di tangannya. Ia menghisap dalam rokok itu dan mengembuskan asapnya perlahan.


“Tuan Muda tidak seharusnya merokok di lingkungan sekolah.”


Suara yang sudah ia kenal itu membuatnya berdecak kesal.


Arka menoleh dan mendapati salah satu pengawal ayahnya berdiri tidak jauh darinya.


“Aku berada di luar sekolah. Tidak akan ada yang mempermasalahkannya.”


“Kalau gurumu melihatnya, pasti mereka akan mempermasalahkannya. Terutama ....”


Ken, pengawal kepercayaan ayahnya menoleh ke dalam sekolah dan menemukan dua orang guru yang sedang bersenda gurau berjalan ke arah mereka.


Pandangan mata Arka pun mengikutinya. Dengan segera Arka membuang puntung rokok itu ke tanah dan mematikannya.


“Sial! Di mana mobilmu?” Arka melihat ke sekeliling mencari mobil yang seharusnya menjemputnya.


“Saya memarkirnya di ujung jalan. Tuan Muda sendiri yang melarang saya untuk menjemput Tuan langsung di depan sekolah.”


“Ck! Ayo cepat!”


Arka berlari menuju ujung gang karena tidak ingin Mikhaela melihatnya bersama seorang pria yang memakai jas, yang tampak jelas seperti seorang pengawal. Arka tidak ingin identitasnya sebagai seorang tuan muda diketahui oleh siapa pun.


Arka sudah menolak keinginan ayahnya, tetapi demi bisa pindah ke sekolah ini, Arka terpaksa mengikuti keinginan ayahnya. Membiarkan seorang pengawal mengawasi Arka agar ia tidak membuat masalah besar.


Dengan cepat Arka masuk ke dalam mobil hitam dengan kaca gelap yang tidak memungkinkan seseorang di luar sana melihat siapa yang berada di dalam.


Perlahan mobil yang di naiki Arka melewati Mikhaela yang sedang berjalan dengan Julian. Mereka tampak sangat akrab.

__ADS_1


Kalau saja saat ini Arka yang berada di balik kemudi, mungkin saja mobil ini sudah mengarah tepat ke tubuh Julian dan menabrakkannya tanpa ragu.


“Aku ingin tahu siapa pria itu. Berikan semua data tentangnya kepadaku sore ini juga.”


Tatapan menyayat pun Arka berikan ketika mobilnya perlahan melewati mereka, walaupun kedua orang itu tidak mengetahui keberadaan Arka di mobil itu.


“Baik, Tuan.”


Ken langsung melajukan mobilnya dengan cepat setelah mereka melewati Julian dan Mikhaela dan menuju ke rumah.


*****


“Apa yang sedang kamu lakukan?!”


Puntung rokok yang sedang Arka hisap di ambil tanpa seizinnya dan dilemparkan ke tanah.


Wajah murka Julian terlihat jelas ketika Arka menoleh untuk melihat siapa yang sudah berani menghentikan kegiatan santainya di sela-sela jam istirahat sekolah.


“Kemarin kamu sudah membuat masalah, dan hari ini, kamu berani merokok di lingkungan sekolah.”


“Selain Bapak, tidak ada yang melihatku.”


“Kamu pikir, bagaimana saya bisa tahu kalau kamu sedang merokok di sini?”


“Oh, jadi ada pengadu yang tidak berani menegurku langsung?”


Julian melihat penampilan Arka yang berantakan dengan beberapa kancing yang terbuka dan kemeja yang keluar dari celananya.


“Betulkan bajumu. Setelah itu, berdiri di samping tiang bendera itu selama setengah jam.”


“Anak kurang ajar!”


Julian menahan dirinya untuk tidak menampar Arka. Ia seorang pendidik dan ia tidak ingin memberikan contoh mendidik dengan kekerasan.


“Ikut Bapak sekarang!”


Julian melangkah menuju ke arah ruang guru dan Arka mengikutinya. Sepertinya dalam dua hari ini dia sangat beruntung bisa melihat wajah Mikhaela dari dekat, walaupun disebabkan dengan ulah nakalnya.


“Arka?”


Mikhaela menatap bingung secara bergantian ke arah Arka dan Julian yang sedang berdiri di hadapannya.


“Coba kamu tanyakan apa yang baru saja ia lakukan,” ucap Julian sambil menatap kesal ke arah Arka.


“Apakah dia harus selalu ada setiap kita berbicara?” Arka menunjuk ke arah Julian.


“Arka, jaga bicaramu. Tidak sopan kamu berbicara seperti itu kepada gurumu,” Mikhaela berusaha untuk menasihati Arka dengan lembut.


“Saya rasa, kami bisa menyelesaikan masalah ini berdua. Bapak pasti harus segera mengajar, kan?”


Mikhaela melihat ke arah jam di tangannya. “Aku rasa Arka benar, Juls. Sebaiknya kamu segera kembali ke kelas.”


Julian menatap ragu ke arah Mikhaela. “Apakah kamu yakin?”


Mikhaela mengangguk. “Jangan khawatir. Aku rasa Arka tentu saja tidak akan berbuat kurang ajar kepadaku. Aku yakin dia masih tahu sopan santun. Benarkan, Arka?”


Arka hanya tersenyum dan mengangguk. Mungkin ia terlihat menyetujui kata-kata Mikhaela dari luar, tetapi apa yang ada di dalam pikirannya saat ini tentu saja jauh dari bayangan Mikhaela.

__ADS_1


Saat ini memang aku akan menahan diriku, tetapi nanti, ketika aku sudah berhak memilikimu, aku pastikan ruangan ini akan menjadi salah satu tempat favorit kita untuk bersenang-senang.


Julian pun tetap pergi dan meninggalkan mereka walaupun ada rasa ragu di dalam dirinya. Entah mengapa, Julian merasa kalau Arka seperti sedang merencanakan sesuatu. Terutama kepada Mikhaela. Perkataan aneh Arka kemarin pun terus terngiang di kepada Julian.


“Jadi, apa yang kamu lakukan hari ini sampai Juls .... maksud Ibu, Bapak Julian, mengantarkan kamu ke sini?”


Lagi-lagi dia menyebutkan nama pria itu dengan akrab.


“Saya merokok di belakang gedung sekolah.”


Kening Mikhaela berkerut. “Merokok? Apakah orang tuamu tahu kalau kamu sudah merokok?”


“Mereka tahu atau tidak, bukanlah masalah. Mereka tidak bisa melarang saya.”


“Kamu tahu kan kalau merokok itu tidak baik?”


“Setidaknya bisa membuat saya tenang dan berpikir dengan jernih.”


“Tenang? Apakah kamu sedang ada masalah?”


“Ada, tetapi saya tidak akan menceritakannya pada Ibu.”


Arka tersenyum sambil mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Mikhaela.


“Apakah Ibu mengkhawatirkan saya?”


Mikhaela merasa sedikit tidak nyaman dengan jarak yang Arka ciptakan. Terlalu dekat untuknya.


“Kamu murid saya.” Mikhaela memilih untuk berdiri dan menjauh dari Arka. “Wajar kalau saya mengkhawatirkan kamu.”


“Apakah Ibu tidak suka saya merokok?”


“Saya hanya bisa menasihati kamu. Apakah kamu mau tetap melakukannya, itu adalah pilihan kamu, tetapi saya berhak untuk meminta kamu tidak melakukannya di sekolah.”


“Ibu tidak menjawab pertanyaan saya.” Arka berdiri dan berjalan mendekati Mikhaela. “Yang saya tanyakan adalah, apakah Ibu tidak suka saya merokok?”


“Arka, berhenti.” Mikhaela bisa melihat kalau Arka berjalan semakin mendekat ke arahnya. “Kali ini saya harus menghukummu.”


Mikhaela sudah tidak mau lagi menoleransi sikap Arka yang seenaknya.


“Kamu bertugas piket setiap hari selama satu minggu. Dan Ibu harap, kamu tidak lagi merokok di lingkungan sekolah.”


“Apakah hanya itu hukuman saya?”


“Untuk kesalahanmu hari ini, iya. Hanya itu.”


“Baiklah. Apakah sekarang kita bisa kembali ke kelas? Kita sudah terlambat lima belas menit.”


Sesaat Mikhaela merasa kalau Arka lah yang menguasai percakapan di antara mereka. Seharusnya, Mikhaela lah yang menjadi penentunya, tentu saja karena Mikhaela adalah seorang guru dan Arka adalah muridnya.


“After you.” Arka membukakan pintu untuk Mikhaela dan berjalan di samping Mikhaela sambil tersenyum.


Nanti, kita akan selalu berjalan seperti ini, tetapi dengan jarak yang lebih dekat. Kamu berada di pelukanku dan semua orang akan tahu kalau kamu adalah milikku.


Angan-angan yang akan Arka wujudkan itu terus menemani pikirannya sampai mereka masuk ke dalam kelas.


- Eireen -

__ADS_1


__ADS_2